For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 33 LORONG MISTERIUS


__ADS_3

Sinar cahaya mentari kembali menyapa pagiku. Di awali dengan beribadah kepada Sang Pencipta, barulah memulai aktivitas lainnya. Berjalan sambil memandangi jejeran pohon – pohon sambil menghirup udara segar.


Ku rentangkan kedua tanganku sambil memejamkan kedua mataku. Senyum tersungging dibibirku kala oksigen melalui rongga pernapasanku. Angin sepoi – sepoi pagi terasa sejuk menyentuh kulit di bawah langit pagi yang cerah. Ku tatap bangunan megah ini dengan sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiranku.


Kemana perginya laki – laki bertopeng itu?


Aku menghela napas sambil sebuah ide muncul di pikiranku.


Sudah seminggu lamanya aku di sini dan tubuhku sudah semakin membaik. Apa aku pergi aja ya dari sini? Terlebih, aku belum mendengar kabar dari Doni.


Baiklah, berhubung vila dalam keadaan kosong, karena pekerjanya belum datang, maka aku kabur aja dari sini.


Aku pun bergerak mencari kendaraan yang bisa aku pakai. Netraku menangkap ada sebuah motor yang terparkir di sana. Segera aku mengambil kunci motor tersebut yang kebetulan memang tengah terpasang di motor tersebut.


Sepanjang perjalanan, aku selalu berdecak kagum dengan pemandangan yang aku temui di sepanjang jalan. Padi yang masih hijau dengan jejaran bukit – bukit yang terlihat menawan diterpa sinar mentari pagi. Senyum dibibirku tidak pernah luntur dan terus mengagumi. Kicau burung ikut bersorak semakin menambah keindahan pagi ini.


Perjalanan dari vila menuju SMA Cakrawala berhasil ku tempuh dengan durasi satu jam. Berpedoman dengan menggunakan maps, akhirnya aku tiba di sekolah tersebut. Ku lihat keadaan sekolah berjalan seperti biasa. Aku pun memberanikan diri untuk masuk dengan ID Card sebagai bukti bahwa aku adalah siswa di sekolah tersebut.


Tujuanku saat ini adalah asramaku. Motor pun sudah aku parkir di tempat semestinya. Aku terus berjalan sambil mengagumi langit pagi yang selalu membuatku jatuh hati. Dari kejauhan, tatapanku jatuh pada seseorang yang tengah berjalan sambil melirik ke kanan dan ke kiri seolah sedang memastikan keadaan. Saat ini keadaan cukup sepi, karena jam pelajaran sudah dimulai. Hanya beberapa siswa yang berada di sana dan mungkin mereka juga tidak sadar akan kehadiran orang tersebut.


Aku memilih mengikutinya. Langkahnya cukup cepat hingga aku harus sedikit berlari agar tidak kehilangan jejaknya. Beberapa saat kemudian, aku terdiam ketika menyadari bahwa aku berada di tempat di mana aku pernah tersesat di hari pertama.


“Loh, inikan tempat waktu itu. Aku masih ingat, karena menyangka bahwa pintu ini adalah pintu toilet. Dan orang itu, apa yang ia lakukan di sini?”, gumamku pelan yang hanya bisa di dengar oleh diriku sendiri.


Aku melihatnya menuju lorong misterius itu. Aku pun kembali mengikutinya hingga ia masuk di sebuah pintu besi. Aku pun ikut masuk ke sana. Cahaya di dalam sana cukup gelap membuatku merinding.


Ya ampun, tempat macam apa ini, Ya Rabb?


Aku terus melangkah dan menuruni setiap anak tangga. Beberapa saat setelah menuruni anak tangga, jalan kembali datar. Langkahku semakin cepat dengan rasa penasaran semakin tinggi hingga aku berhenti tepat di depan sebuah lift yang terlihat cukup tua.


Lift? Ini bukan markas mafiakan?


Aku pun ikut masuk dengan perasaan takut. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Segera aku keluar dari lift dengan perasaan campur aduk. Orang yang aku ikuti pun terlihat masuk ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Dengan sedikit mengendap – endap, aku pun berusaha mengintip ruangan tersebut melalui jendela. Keningku berkerut ketika di dalam sana aku melihat ada pria paruh baya yang asing menurutku tengah berbincang serius dengan orang yang aku ikuti tadi.


Terlihat raut wajah pria itu yang tengah marah. Ia menghancurkan semua benda yang ada di ruangan tersebut. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Wajah pria itu tidak bisa aku lihat, karena ia posisinya membelakangiku.


Kenapa dengan orang itu? Mungkinkah dia juga ada hubungannya dengan apa yang menimpa ayahku?


Dia terlihat seperti seorang penjahat yang tengah gagal dalam menghabisi musuhnya. Emosinya kian meledak – ledak.


Apakah dia seorang pembunuh berdarah dingin? Pembunuh berdarah dingin?


Tanpa bisa aku dengar, pria itu masih terus meluapkan kemarahannya.


“Kenapa masih belum ketemu, hah?”, ia berteriak sambil melempar sebuah vas bunga yang ada di atas meja.


“Maaf, Bos. Saya sudah berusaha mencarinya, tapi saya merasa ada seseorang yang melindungi gadis itu”, sahut laki – laki yang merupakan suruhannya.


“Cari gadis itu dan jangan biarkan dia hidup. Lalu, ambil kalung itu”, ucap pria itu dengan nada dingin yang membuat suasana di dalam sana semakin mencekam.


“Dan satu lagi, pastikan Si Badir itu semakin sekarat. Penyerangan hari itu sangat menguntungkan, tanpa harus repot turun tangan. Jika dia mati dalam waktu dekat, maka ketua akan berpihak padaku”, lanjutnya disertai seringai jahat dibibirnya.


Hais, mereka ngomong apaan sih? Aku bisa mati penasaran ini.


Aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Mataku menatap ke sekeliling dengan harapan bisa menyusup ke dalam tanpa ketahuan. Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara tembakan dari dalam sana. Aku begitu terkejut ketika melihat ke dalam ruangan itu lagi.


“Cyra”, gumamku pelan sambil menutup kedua mulutku.


Kalian tahu apa yang aku lihat, begitu jelas aku melihat gadis yang aku tahu bernama Cyra itu tengah terkapar tak berdaya dengan peluru tengah bersarang dikepalanya. Aku mengenal gadis itu, karena ia merupakan salah satu teman Naya.


Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa mereka membunuh Cyra? Apa salahnya? Akankah aku juga berakhir seperti dia?Aku semakin yakin, jika ada yang tidak beres di sini.


Setelah memastikan gadis itu tak bernyawa, aku melihat laki – laki yang merupakan anak buah pria tersebut melempar gadis itu ke bawah. Lalu, tatapannya mengarah di mana aku berada. Aku pun segera bersembunyi.


Beberapa saat kemudian, aku mendengar pintu dibuka. Sebelum pria paruh baya itu pergi, ia mengatakan sesuatu pada orang suruhannya itu yang bisa ku dengar dengan sangat jelas.

__ADS_1


“Ingat, cari gadis itu dan dapatkan kalungnya”, setelah berucap, pria itu segera meninggalkan tempat tersebut dengan disusul oleh orang suruhannya.


Gadis itu? Kalung? Apakah gadis yang mereka maksud adalah aku?


Lalu, tanganku meraba kalung yang selalu ku kenakan. Dan apa kalung ini yang mereka incar?


Setelah kepergian mereka, aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana. Dengan jantung yang berdebar, aku langkahkan kaki menuju arah jendela di mana gadis itu dilempar.


Hah?


Aku terperangah ketika menyadari bahwa saat ini aku berada di tempat teratas gedung asramaku. Tempat yang keberadaannya tidak pernah disadari, karena aku berpikir bahwa asramaku hanya terdiri dari enam lantai.


Berarti masih ada lantai lain setelah lantai enam dan aku harus menemukan letak keberadaannya.


Cyra, sebenarnya apa yang membuat kamu harus terbunuh dengan cara tragis ini? Apakah kamu dibunuh, karena mengetahui rahasia sekolah ini?


Aku menatap nanar ke arah bawah di mana sudah banyak orang yang berkerumun di sekitar jasadnya Cyra. Sungguh malang nasib gadis itu.


Pria itu adalah selanjutnya.


Aku pun beralih menatap ke dalam ruangan. Menelisik setiap yang ada di ruangan tersebut. Ada sebuah ruangan yang sedikit mencurigakan di sana. Ketika aku hendak melangkah, aku mendengar ada seseorang yang masuk. Aku segera berdiri di belakang pintu sambil menutup kedua mulutku.


Ya Allah, aku mohon tolong aku. Jangan biarkan aku mati konyol di sini. Aku hanya bisa menjerit dalam hati.


“Maaf, aku terlambat”, ujar seseorang itu yang suaranya sangat aku kenal.


Naya?


Gadis bernama Naya itu pun segera keluar dari ruangan itu dengan ekspresi sendu. Aku terdiam berusaha mencerna apa yang baru saja aku dengar.


Teka – teki semacam apa ini, Ya Rabb.


Aku pun segera bergegas keluar dengan membawa segudang pertanyaan. Langkah kakiku gemetar menahan rasa takut. Aku berjalan dengan tergesa – gesa hingga tanpa aku sadari, aku menjatuhkan ID Cardku. Dan seseorang mengambilnya, lalu menyimpannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2