
Beberapa menit berlalu, terlihat Rauf begitu serius membaca berkas yang dibawa oleh Ghaly. Sesekali, ia terlihat mengerutkan keningnya dengan ekspresi datar miliknya.
Tidak lama, terdengar helaan nafas dari Rauf. Ia menatap ke arah Ghaly dengan senyum smirk miliknya.
“Jadi, gadis itu adalah keponakannya?”,
Ghaly hanya diam, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana miliknya.
“Di dalam flashdisk ini, terdapat bukti kejahatan yang pernah dilakukan oleh gadis itu. Gadis bernama Naya itu, awalnya ia tidak pernah berniat untuk melakukan tindak kejahatan” jelas Ghaly.
Rauf menyimak penjelasan temannya itu dengan begitu serius.
“Seseorang bernama Badir itu, memanipulasi kejadian hingga menjadikan Naya sebagai seorang pelaku. Dia yang awalnya hanyalah seorang korban berganti status menjadi seorang pelaku. Sejak saat itulah, ia mulai melakukan kejahatan demi melindungi dirinya”,
“Itu artinya dia hanyalah seekor tikus yang diperintahkan oleh tuannya untuk menggigit mangsanya secara perlahan tanpa disadari”, ucap Rauf sambil kembali melihat isi berkas tersebut.
Berkas tersebut berisi informasi tentang gadis bernama Naya. Seseorang yang selalu mencari masalah denganku.
“Rauf, untuk menangkap seekor beruang besar, maka kamu perlu menjinakkannya dengan mencari kelemahannya melalui apa yang ia sukai. Dan gadis itu, kita bisa menjadikannya senjata untuk melumpuhkan beruang besar itu”,
Rauf pun menyetujui pendapat sahabatnya itu. Ia juga berpikir untuk menangkap beruang besar itu haruslah dengan strategi yang matang.
“Sebentar lagi, mereka akan mulai muncul satu persatu. Tapi, aku benar – benar tidak sabar untuk segera mengetahui siapa sebenarnya beruang besar itu”, tukas Rauf yang rahangnya mulai mengeras.
Ia kembali teringat bagaimana nasib kedua orang tuanya. Peristiwa belasan tahun silam yang ia dengar dari sang kakek membuatnya harus pandai – pandai dalam berakting. Terlebih, terhadap pria paruh baya yang merupakan pemilik sekolah ini.
Tidak akan aku biarkan orang jahat seperti kalian bisa menikmati hidup tanpa rasa tanggungjawab.
Pak Badir, sayang sekali nasib, Anda. Hanya dijadikan sebagai pion atau pun bidak catur yang dimainkan oleh seseorang tanpa Anda sadari.
Kebodohan yang hakiki.
Ghaly bisa melihat dengan jelas perubahan raut wajah sahabatnya itu. Ia paham bahwa Rauf kini tengah menahan gejolak kemarahan yang sudah ia tahan, semenjak kepergian sang ibu.
“Tenanglah, Rauf. Untuk sekarang, kita ikuti dulu permainan mereka dan bertingkah seolah – olah kita tidak menyadari rencana mereka. Setelah kita mengetahui arah permainan mereka, barulah kita bisa mengambil tindakan untuk eksekusi.
Cukup kita lihat dan pantau saja dulu. Dan lihat, sampai mana mereka berperan dengan topeng kepalsuan. Ingatlah, kalau Pak Badir sudah mengetahui identitasmu dan akan mengancammu menggunakan kakekmu.
__ADS_1
Ikuti maunya dan bertingkahlah, seperti kamu tidak memiliki keberanian dan biarkan aku yang bergerak. Dan aku punya sebuah rencana”, kini Ghaly lah yang tersenyum smirk.
Rauf menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Bukankah besok akan ada acara amal? Bagaimana jika kita membuat sedikit keributan setelah drama mereka selesai. Terutama, gadis yang bernama Naya itu”,
“Baiklah, aku ikuti permainanmu, Ghal. Dan jangan lupa untuk mengirim orang – orang kita untuk mengawasi Sara dari kejauhan. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, terlebih Naya yang sudah tahu siapa Sara sebenarnya”, tegas Rauf yang kembali khawatir.
“Tenanglah, gadis itu akan aman”, sahut Ghaly yang segera meninggalkan laboratorium itu.
Rauf terdiam untuk beberapa saat. Bayangan ketika diriku yang hampir jatuh ke jurang kembali melintas dipikirannya.
Sungguh, aku begitu ceroboh hingga tidak menyadari bahwa Pak Badir akan menggunakan bidak catur. Ia begitu lihai menggunakannya untuk mengecoh fokusku.
Tapi, apakah itu artinya dia sudah tahu siapa Sara sebenarnya?
...***...
Di sebuah taman tempat biasa aku dan Doni berdiskusi, terlihat seorang remaja laki – laki yang tengah duduk di sebelah Doni. Posisiku tepat menghadap ke arah Doni. Aku tidak bisa menyembunyikan raut kebingungan hingga Doni memperkenalkan seseorang itu padaku.
“Dia Firman, Sa. Teman dan sahabatku yang selalu membantuku selama di sini”,
“Aku paham kalau kamu bingung, Sa. Kamu tenang saja, dia bisa dipercaya”,
“Tapi pembicaraan kita bersifat rahasia, Don”, ujarku dengan ekspresi datar.
Laki – laki bernama Firman itu malah tertawa ketika melihat ekspresiku yang membuatku merasa jengkel.
“Hei, tenanglah. Aku bukanlah musuhmu”, jawabnya sambil tersenyum mengejek ke arahku dan lanjut tertawa.
“Tapi, aku tidak menerima tamu tidak diundang”, tukasku sambil menatapnya tajam.
Bukannya berhenti tertawa, justru ia semakin tertawa terbahak – bahak. Doni pun segera menengahi perdebatan antara aku dengan laki – laki bernama Firman itu.
“Dia memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, Sa. Dialah orang yang memberikanku dua potongan video hari itu. Jadi, berhentilah menatapnya seperti ingin mengulitinya hidup – hidup”, jelas Doni yang membuat Firman semakin mengejekku.
“Kamu itu cantik dan idaman laki – laki, tapi sayangnya galak bin menakutkan. Siapa yang bakalan siap menghadapi singa laut sepertimu”, ujarnya yang reflek membuatku melemparnya dengan sepatu yang baru saja aku buka.
__ADS_1
“Aduh, sakit”, keluhnya yang mengusap keningnya yang terlihat memerah akibat kena lemparan sepatu milikku.
“Makanya, itu mulut jangan asal nyoblos, bablaskan jadinya. Masih untung itu sepatu nggak masuk ke lambung kamu”, sahutku yang semakin menatapnya tajam.
Doni pun hanya bisa menggeleng. Ia tahu betul bagaimana diriku. Memang, aku adalah pribadi yang ceria dan ramah, tapi bisa berubah menjadi sosok yang menakutkan, jika merasa terancam. Terlebih, sejak hilangnya Yira yang masih menyisakan tanda tanya bagiku.
“Kamu juga sih, Man. Sekarang, kita fokus dulu, nanti lanjut lagi kalau kalian mau ribut lagi”, Doni berucap sambil meletakkan berkas yang ia bawa.
“Dibaca, Sa”, perintah Doni ketika semua berkas itu sudah ada di depanku.
Tanganku segera meraihnya dan mulai membacanya tanpa ada yang terlewati. Beberapa menit kemudian, aku mengalihkan pandanganku ke arah Doni dengan ekspresi yang begitu terkejut.
“Naya?”, tanyaku sambil kembali melihat isi semua berkas tersebut.
“Iya, itu semua informasi tentang Naya yang berhasil kami dapatkan. Mungkin, masih ada yang kurang, tapi setidaknya informasi itu sudah lebih dari cukup”, ujar Firman dengan ekspresi serius.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku baca. Tidak pernah terpikirkan olehku, jika Naya adalah perempuan yang menyerangku hari itu.
“Tapi, mengapa dia bisa tahu dengan nama panggilan yang hanya keluarga dan orang terdekatku yang tahu? Dia memanggilku “Sara” seolah dia sangat mengenalku”,
“Untuk itu, masih sedang kami selidiki, Sa. Yang penting, kita harus lebih berhati – hati lagi dalam melangkah”, ujar Doni sambil menatapku dengan tatapan yang sulit aku definisikan.
“Kenapa, Don?”,
“Menurutmu, mengapa Naya begitu berani bertindak sejauh itu, padahal kamu belum menunjukkan taringmu?”, pertanyaan Doni membuatku meyakini satu hal.
“Pion pengalihan. Selayaknya bidak catur yang dimainkan oleh tuannya agar posisi tuannya aman bahkan nyaris tidak terdeteksi”, jawabku sangat yakin.
Firman menatapku dengan tersenyum aneh yang membuatku risih.
“Itu artinya Naya adalah bidak catur awal yang digunakan untuk mendeteksi dan memancing kedatangan mangsanya”, ujar Firman.
Aku terdiam sambil kembali mencerna rentetan peristiwa yang sudah aku alami selama di sini. Rasanya, kepingan puzzle dari misteri ini begitu rumit untuk aku pahami.
“Dan bidak catur terakhir yang akan dimainkan adalah Pak Badir”, sontak ucapan Firman membuat aku dan Doni menatapnya dengan raut kebingungan.
“Dia bukanlah dalang utamanya, melainkan dia hanyalah seseorang yang dimainkan oleh orang lain. Sejenis hubungan parasitisme yang berbalut mutualisme. Itulah yang aku dengar dari cerita ayahku”, lanjut Firman yang rahangnya mulai mengeras.
__ADS_1
“Ayahmu?”, aku bertanya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
...***...