For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 17 HIKING


__ADS_3

Sudah tiga hari acara festival berlangsung dan selama itu pula tidak ada hal – hal aneh yang patut dicurigai. Festival berlangsung seperti festival sekolah pada umumnya. Banyak tamu yang berdatangan dari luar sekolah.


Semua terlihat normal tanpa ada gerak – gerik yang mencurigakan. Hari ini adalah hari terakhir diadakannya festival. Di mana, hari ini akan diadakan kegiatan hiking dan yang menjadi peserta dari kegiatan hiking ini adalah seluruh panitia.


Di halaman sekolah yang cukup luas ini, aku dengan semua panitia persiapan festival dikumpulkan untuk menerima instruksi. Setelah menerima arahan dari Pak Badir selaku kepala sekolah, kami semua segera bergegas menuju sebuah bukit yang sudah dilakukan servei terlebih dahulu.


Setiap panitia diwajibkan mengenakan seragam olahraga khusus yang dibuat untuk panitia. Lengkap dengan ID Card dan sebuah topi yang dipakai di kepala masing – masing panitia. Tidak lupa dengan sarung tangan yang wajib dipakai oleh setiap peserta. Setiap kami akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang sudah ditentukan oleh pihak sekolah.


Total semua panitia ada seratus orang dengan dibagi menjadi sepuluh kelompok. Masing – masing kelompok beranggotakan sepuluh orang. Aku ditempatkan di kelompok enam dengan Doni yang satu kelompok denganku.


”Sa, perlengkapan untuk hiking udah ada semuakan? Makanan dan minuman ada kamu bawakan? Obat – obatan juga dibawakan?”, Doni bertanya tanpa jeda yang membuatku iseng menepuk bahunya dengan topi milikku.


“Kamu ini kalau nanya itu berjeda dikitlah, Don. Kebiasaan banget”,


“Kan aku khawatir, Sa. Nanti kalau terjadi sesuatu sama kamu gimana? Yang bakalan kena marah siapa lagi kalau bukan aku. Dan juga, kamu di sini adalah tanggung jawabku, Sa. Bisa – bisa, aku digebukin sama ibu kamu kalau putri kesayangannya kenapa – napa”, ujar Doni yang malah semakin membuatku gemas.


“Tenang aja, Don. Inikan cuma hiking. Jadi, nggak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Lagian, ini bukan kali pertama aku ikut hiking”, aku berusaha untuk menekan pikiran negatif Doni.


“Berjanjilah, Sa untuk hati – hati”,


“Iya – iya, Doni anaknya Paman Salman yang ganteng dan baik hati. Aku akan baik – baik aja, kan ada kamu yang jagain”, ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku.


Tidak jauh dari tempatku berada, seseorang menatap intens interaksi antara aku dengan Doni. Ia terus menatapku hingga tepukan dibahunya menyadarkan dirinya.


“Udah, jangan dilihatin terlalu lama. Ntar malah pengen juga dikedipin”, ujar seseorang itu sambil terkekeh sendiri dengan ucapannya.


“Apaan sih, Ghaly. Siapa juga yang pengen dikedipin. Aku cuma ingin memastikan dia aman atau tidak”, elaknya yang sebenarnya sedikit tidak nyaman melihat interaksi tersebut.


“Idih, nggak usah mengelak, Rauf. Jelas – jelas, raut wajah kamu itu menyiratkan ketidaksukaan. Lagian, merekakan saudara sepupu, jadi wajar saja jika mereka sangat dekat”,


“Tapi mataku nggak nyaman lihatnya”, sontak jawaban Rauf tersebut membuat Ghaly tertawa terbahak – bahak.


“Hahaha, tadi nggak mau ngaku. Eh sekarang, malah jujur”, Ghaly berucap sambil tersenyum mengejek ke arah Rauf.

__ADS_1


“Diam kamu”,


Ucapan tersebut semakin membaut Ghaly tidak bisa berhenti tertawa.


“Diamku bilang, Ghaly. Kalau tidak, aku bisa membuatmu menghilang dari sini”,


“Emang gimana caranya?”,


“Kamu benar – benar menyebalkan ya, Ghal. Pulang sana, tempat kamu nggak di sini. Dasar orang asing”, setelah berucap, Rauf segera pergi menjauh dari Ghaly agar tidak menjadi bahan ledekannya.


...***...


Perjalanan dimulai dari kelompok satu, dua, dan seterusnya. Aku dan kelompokku telah tiba di lokasi. Kami pun segera memulai perjalanan sesuai arahan yang telah diberikan.


Sesekali, aku menyeka keringat yang mulai membasahi keningku. Tatapanku fokus ke depan sambil mengagumi pemandangan yang indah ketika keberadaanku dan kelompokku sudah sedikit tinggi.


Jalan yang kami lalui cukup terjal, tapi masih aman untuk dilalui oleh siswa sekolah. Doni senantiasa berada di belakangku untuk memastikan keselamatanku. Beberapa pos sudah kami lalui dengan beristirahat sejenak dan kembali melanjutkan perjalanan kami.


“Sa, kamu capek?”, Doni bertanya ketika melihatku sedikit limbung.


“Kalau kamu mulai capek, pusing, dan nggak bisa lanjut, bilang ke aku, Sa. Biar nanti, kamu bisa istirahat lebih dulu”,


“Iya – iya bawel banget sih”, ujarku yang membuat Doni menggeleng.


Sudah hampir dua jam berlalu. Tidak terasa, aku sudah hampir mencapai puncak. Aku dan kelompok segera beristirahat di pos ke sembilan. Senyum mengembang dibibirku sambil kembali mengagumi pemandangan yang begitu indah bila lihat dari atas sini.


Dari kejauhan, terlihat hamparan persawahan yang tersusun rapi dengan warna hijau yang dapat menyegarkan mata yang memandang. Tidak jauh dari persawahan, terlihat pemukiman warga yang terlihat unik bagiku.


Masya Allah, indah banget pemandangannya dari sini. Alam ciptaan Allah begitu sempurna tanpa ada celah kecacatan. Aku sangat mengagumi hasil karyamu, Ya Rabb.


Aku berdiri sedikit dekat dengan tepian yang membuat Doni terkejut dengan apa yang aku lakukan.


“Maisa, jangan berdiri terlalu di tepi, nanti kamu bisa jatuh”, tegur Doni sambil menarik jilbabku dari belakang.

__ADS_1


“Hehehe, maaf. Lagian, di sini jalannya udah nggak terjal lagi kok, Don. So, don’t worry”, ujarku setengah berbahasa inggris.


Sejenak, ingatan tentang ibu melintas dibenakku. Raut sendu pun mulai menghiasi wajahku tanpa aku sadari.


“Kamu merindukan ibumu, Sa?”, tanya Doni padaku.


Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalaku.


“Ketika aku masih kecil, ibu dan abang selalu mengajakku untuk menaiki bukit. Kami berpetualang sembari piknik ketika sudah mencapai puncak. Dan kala itu, aku sangat bahagia, walau tidak ada ayah di sisiku, Don”,


“Maisa, aku sangat yakin bahwa ayahmu masih hidup. Mengingat, jika kita tidak pernah mengunjungi makam ayahmu. Jadi kemungkinan besar, ayahmu selamat dari peristiwa itu, Sa”,


“Semoga begitu, Don”, ucapku masih menatap pemandangan yang begitu memanjakan mata.


Tiba – tiba, Doni menatapku dengan tatapan yang sulit aku pahami. Aku pun menoleh ke arahnya dengan kening berkerut.


“Apa kamu masih menyukainya, Sa”, pertanyaan Doni seketika membuatku membeku.


Deg


Masih menyukainya? Bahkan, aku sudah jarang bertemu dengannya. Tapi jika boleh jujur, aku memang merasa kehilangan.


“Aku tahu jawabannya”, ujar Doni tersenyum ke arahku.


Dari kejauhan, terlihat seseorang tengah tersenyum smirk ke arahku. Tatapannya terkunci tepat padaku. Setelah itu, ia pun terlihat sedikit menjauh dari keberadaanku dan mulai menghubungi seseorang yang aku tidak tahu siapa.


Bagaimana, apa perintahku sudah kamu kerjakan. Aku tidak menerima kegagalan. Ucap seseorang itu kepada si penerima telepon.


Sesuai perintah, kami sudah menyiapkan semuanya. Tinggal menunggu intruksi selanjutnya, maka rencana dapat dijalankan. Balas seseorang di penghujung telepon.


Bagus. Tidak lama lagi, rencana akan dijalankan.


Setelah mengatakan hal tersebut, ia kemudian memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Lalu, beralih menatap ke arahku lagi dengan sorot mata penuh kebencian.

__ADS_1


“Sebentar lagi, kamu akan berakhir, Sara. Aku tidak akan pernah membiarkan ada pengganggu yang akan merusak rencanaku nanti. Dan kamu adalah pengganggu itu”, gumamnya, kemudian pergi kembali menuju kelompoknya.


...***...


__ADS_2