For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 25 DRAMA YANG APIK


__ADS_3

Acara amal yang dinantikan pun akhirnya dimulai. Tamu undangan sudah banyak yang mengambil posisi duduk di dalam aula gedung yang megah. Hilir mudik siswa – siswa SMA Cakrawala pun mulai terlihat menyapa ramah para tamu undangan.


Suara pembawa acara pun sudah terdengar bergema di dalam ruangan tersebut. Dia mulai menyapa para hadirin dengan semangat yang menggebu – gebu. Para hadirin yang datang terdiri dari donatur dan penerima donasi.


Sedangkan seorang pria paruh baya, sudah duduk di singgasananya dengan memasang senyum yang berlapis keramahan. Ketika pembawa acara memanggil namanya untuk menyampaikan kata sambutan, ia pun segera berdiri dan mengambil alih panggung acara.


Ketika pria itu sudah berada di atas panggung, ada dua pasang mata yang memperhatikannya dengan sorot mata penuh kebencian. Wajah mereka tertutupi oleh masker.


“Manusia yang penuh dengan tipu daya”, ujar seseorang yang duduk di pojok ruangan aula tersebut dengan tangan terkepal.


“Manusia yang masih bisa menampakkan senyum palsu di atas penderitaan orang lain. Kamu sudah siapkan, Dek?”, sahut seseorang yang duduk di sebelahnya.


“Sangat siap, Bang. Si Badir pembunuh itu, aku ingin dia merasakan bagaimana neraka dunia”, jawab seseorang yang dipanggil dengan sebutan “Dek” tersebut.


Mereka berdua berhasil masuk ke dalam aula yang pengamanannya super ketat itu dengan mengelabui para penjaga. Sekarang, terlihat mereka tengah bersiap dengan rencana yang sudah mereka rancang.


Acara pun berlangsung dengan lancar. Ketika sebuah video mulai ditayangkan, terlihat berbagai ekspresi yang diperlihatkan oleh para hadirin. Banyak di antara mereka yang mengecam dan memaki orang yang ada di dalam video tersebut.


Video singkat yang diambil dari CCTV rumah milik orang tua Pak Badir memperlihatkan bagaimana orang tua dari Pak Badir harus mati dengan cara mengenaskan. Dan juga, hampir seluruh keluarga besarnya juga mati dengan cara yang juga tragis. Terlihat seseorang yang tersenyum setelah berhasil membunuh targetnya.


Di sisi lain, terlihat seseorang yang juga tengah memegang banyak berkas penting milik keluarga Pak Badir. Mereka berdua terlihat senang dan segera meninggalkan lokasi. Wajah mereka memang tertutup oleh masker, namun sayangnya mereka meninggalkan sidik jari.


Sidik jari yang teridentifikasi adalah sidik jari milik ayahku, Rizwan dan pria yang bernama Sufian. Oleh karena itulah, para hadirin memaki ayahku dan seseorang yang tidak aku kenal.


“Dasar manusia serakah, bagaimana mungkin mereka tega merancang rencana pembunuhan yang begitu apik”, ujar salah seorang tamu undangan.


“Iya, padahal orang tuanya Pak Badir adalah orang yang sangat baik. Beliau sangat dermawan”, sahut yang lainnya.


“Saya salut dengan Pak Badir yang tidak membalas kejahatan dengan keburukan. Padahal, dia kehilangan hampir seluruh keluarga besarnya”,


“Pria bernama Rizwan itu benar – benar manusia yang kejam. Dan juga itu si Sufian juga tidak kalah kejinya. Mereka berdua pantas mati, dasar manusia laknat”,

__ADS_1


Masih banyak kasak – kusuk yang membicarakan seorang pria yang tidak lain adalah ayahku sendiri. Mulut mereka dengan entengnya memaki dan menghakimi sesuatu yang tidak mereka ketahui kebenarannya.


Aku yang diminta oleh pengirim surat misterius untuk datang di akhir acara malah mengabaikan sarannya. Kini, aku dan Doni terdiam tepat di pintu masuk aula. Luka yang belum mengering harus kembali basah oleh sebuah fakta yang berbalut kepalsuan.


Setitik air mata jatuh menyapa pipiku.


Mendengar hinaan dan cacian dari orang yang berada di dalam aula kepada ayahku membuat kakiku melemah. Aku hampir terjatuh, jika Doni tidak segera membantuku.


“Maaf, Sa”, ucap Doni ketika membantuku untuk kembali berdiri.


Mengapa dia begitu tega memfitnah ayahku? Mengapa mereka menuduh ayahku?


Ya Allah, sungguh aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku tidak percaya, jika salah seorang yang berada di dalam video itu adalah ayahku.


Bagaimana mungkin dia begitu yakin bahwa itu adalah ayahku dengan hanya mengandalkan sidik jari saja.


Apakah ini bagian dari konspirasi mereka agar citra sekolah ini kian melambung? Atau karena sebuah dendam?


Padahal, jelas – jelas ayahku adalah korban dari keserakahan seseorang yang tidak aku ketahui. Seseorang yang bergerak di balik Pak Badir.


“Drama yang begitu apik”, ujar seseorang itu yang mulai mengenakan topeng miliknya.


Rahangnya mengeras dengan mata yang mulai memerah, karena berusaha untuk menghalau air mata yang mendesak untuk keluar.


“Mereka hanya menang sementara, jadi bersabarlah. Aku yakin, kejutan yang kita berikan hari ini pasti akan sedikit mengguncang pria tua itu”, sahut seseorang sambil menepuk pundak Rauf.


Bukan hanya kamu yang terluka, Ra. Aku juga sama halnya denganmu. Pria yang bersama ayahmu tidak lain adalah ayahku.


Tentu, kamu pasti sangat terkejutkan? Itulah sebabnya, aku memintamu datang di akhir acara, tapi kamu tidak mendengarkan saranku.


Teori konspirasi yang mereka ciptakan, tidak lain adalah memancingmu untuk menampakkan diri, Ra. Ku mohon, jangan sampai mereka menyadari keberadaanmu.

__ADS_1


Ku mohon, hapus segera air matau, Ra.


Tanpa aku ketahui bahwa laki – laki yang mengenakan topeng yang menolongku hari itu tengah mengkhawatirkan diriku.


“Rauf, bukannya kamu sudah memberitahunya untuk tidak datang?”,


“Aku sudah memberitahunya, Ghal”, jawab Rauf begitu lirih.


Matanya masih memandang ke arahku yang sudah menghapus air mata yang tadi sempat singgah. Ku tegakkan kepala untuk tidak terlihat lemah, lalu mengajak Doni untuk mencari tempat duduk di sana.


Jika aku atau pun Rauf tengah menahan rasa marah, berbeda dengan pria paruh baya itu. Dia terlihat tersenyum setelah berhasil mencuci otak tamu undangan. Memanipulasi dan menjadi pihak tersakiti.


Aku yakin, gadis kecil itu pasti sudah melihat tayangan video ini. Sedikit lagi, gadis itu akan menampakkan dirinya.


Sedangkan di sudut lain ruangan tersebut terlihat seseorang yang tengah mengepalkan tangannya untuk menahan rasa marah yang sudah membuncah.


“Tenanglah, Ray. Kendalikan dirimu”, bisik seseorang ditelinga Ray.


“Dia benar – benar sudah melangkah sangat jauh, Ka. Dia kembali berhasil menghasut banyak orang dengan konspirasi yang ia ciptakan. Memang, sidik jari yang teridentifikasi adalah milik ayahnya Sara, tapi bisa saja ada orang lain yang tengah bermain api”, Ray berucap dengan tatapan mengarah pada Pak Badir.


“Dan seseorang yang bermain di balik layarlah yang harus kita ungkap”, ucap Raka yang sangat paham dengan perasaan sahabatnya itu.


Jujur, suasana di dalam aula tersebut terasa sangat panas. AC dan kipas angin pun tidak lagi terasa seolah rasa sejuk yang mereka salurkan hanya menyisakan rasa panas yang semakin menjalar.


Berkali – kali, aku berusaha menahan gejolak yang sudah ingin meledak, namun Doni kembali menenangkanku. Kepingan memori saat Doni memperlihatkan video yang mirip dengan ayahku yang penuh dengan darah kembali menyayat hatiku.


Dan jika ayahku seperti yang mereka katakan, apakah pantas jika ayahku dihabisi dengan cara yang tidak kalah sadisnya?


Apakah mereka akan mendukung aksi balas dendam dengan membunuh orang yang mereka yakini bersalah? Bahkan, membunuh banyak nyawa.


Aku pun mengajak Doni untuk segera pergi, meskipun acara sudah akan berakhir. Aku tidak lagi tertarik untuk menyaksikan pertunjukan yang dikatakan oleh pengirim surat misterius itu. Namun, baru saja aku berbalik, terdengar sebuah video lain yang mulai diputar.

__ADS_1


Deg


Segera aku menoleh ke arah layar. Tanganku reflek menutup kedua mulutku yang menganga melihat apa yang ditampilkan video tersebut.


__ADS_2