For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 24 SAYATAN LUKA


__ADS_3

Hiruk pikuk keramaian mulai bergema di SMA Cakrawala. Banyak tamu yang datang dari luar yang ingin ikut memeriahkan acara amal yang diadakan oleh pihak sekolah. Setiap setahun sekali, sekolah ini akan mengadakan acara amal.


Namun, mereka memiliki niat terselubung dalam mengadakan acara tersebut. Mencoba untuk menanam stigma positif sehingga sekolah tersebut menjadi kepercayaan banyak pihak. Dibalik penanaman perspektif itu, mereka akan mencuci otak orang – orang yang datang.


Di sebalik pintu yang berada di sebuah ruangan rahasia, terlihat Pak Badir yang sudah siap dengan rencananya. Ia memberikan intruksi kepada bawahannya agar rencana berjalan sesuai harapannya.


“Pastikan tidak ada kekacauan yang akan terjadi”, ucap Pak Badir yang tengah duduk di singgasana sambil menatap ke langit pagi melalui celah jendela.


“Baik, Bos”, sahut semua bawahannya.


“Tikus – tikus kecil itu pasti akan mulai menampakkan diri mereka. Jangan lengah dan perketat pengamanan bayangan sehingga mereka tidak menyadari”, ujar Pak Badir sambil mengetuk meja menggunakan jari – jemarinya.


“Laksanakan, Bos”, sahut mereka kembali sambil sedikit membungkukkan badan mereka.


Sudut bibir Pak Badir tertarik membentuk sebuah seringai jahat yang membuat orang yang melihatnya bergidik ngeri. Sorot mata penuh kebencian sangat kentara di kedua bola matanya. Tangannya terkepal ketika ingatan insiden belasan tahun itu kembali merasuki pikirannya.


Gadis kecil, aku yakin kamu ada di sekolah ini. Tapi, mengapa begitu sulit untuk menemukanmu. Yira, bahkan gadis itu juga sulit untuk ditemukan.


Rauf, apakah dia sudah menemukan gadis kecil itu? Tidak masalah, aku yakin sebentar lagi gadis itu akan menampakkan taringnya.


Victor tahu pasti arti sorot mata dari bosnya itu. Ia pun mulai buka suara.


“Mengenai gadis bernama Yira, saya sudah mengerahkan semua orang – orang kita untuk mencarinya. Namun, dia seperti lenyap ditelan bumi, Bos”, ucap Victor selaku tangan kanannya.


Pria paruh baya itu hanya diam dengan masih mengetuk meja dengan jari – jemarinya.


“Dan ketika pembukaan acara festival lalu, ada seseorang yang datang dan berdiri cukup jauh dari aula sekolah dengan wajah yang tertutup oleh masker. Lalu, ada seorang gadis yang ingin mendekati orang tersebut, namun orang itu sudah lebih dulu pergi”, lanjut Victor yang membuat pria itu menoleh ke arahnya.


“Setelah acara ini selesai, panggil gadis yang kamu maksud. Dan mengenai Yira, lepaskan saja dia. Karena pastinya, dia akan datang dengan sendirinya”, ucap Pak Badir dengan nada dinginnya.


“Baik, Bos”, jawab Victor yang paham akan maksud bosnya itu. Gadis yang bernama Yira itu tentu akan kembali demi keadilan orang tuanya.


Sekali pun aku tidak bisa mendapatkan informasi mengenai gadis kecil itu melalui Yira, setidaknya aku bisa menggunakan Rauf, karena mereka berdua saling terhubung.

__ADS_1


...***...


Suasana tegang tidak hanya dirasakan oleh anak buahnya Pak Badir saja, tapi juga seorang gadis yang tengah diseret oleh seorang laki – laki ke sebuah gudang yang tidak digunakan lagi. Gadis itu hanya diam tanpa berniat melepaskan diri. Namun, sorot matanya menyiratkan kebencian yang dalam.


Bugh


Gadis itu didorong cukup keras hingga keningnya terbentur oleh dinding. Dia hanya meringis mengusap keningnya. Raut wajahnya terlihat begitu dingin seolah ingin menghunus jantung orang yang sudah mendorongya tadi.


“Apa maumu sebenarnya, Naya?”, bentak seorang laki – laki sambil mencengkram dagu gadis itu.


Naya kembali menatap laki – laki di hadapannya dengan raut kebencian dan juga kekecewaan. Segera ia menepis tangan laki – laki itu dengan kasar.


“Kamu tanya mauku? Kenapa baru sekarang kamu tanya mau aku apa, Ray?”, ucap Naya sinis.


“Berhentilah membual, Nay. Seminggu terakhir ini, kamu sengaja menghindariku agar aku tidak menginterogasimu mengenai penyerangan ketika hiking berlangsung”, tukas Ray yang sudah menurunkan nada bicaranya.


“Apakah pria itu yang menyuruhmu melakukan tindakan keji itu? Kenapa kamu berubah, Nay?, Ray bertanya sambil menatapa tajam Naya.


Rahang Ray mengeras dan tangannya terkepal kuat mencoba untuk menetralisir rasa marah yang sudah menguasai dirinya.


“Kenapa diam, Ray?”,


“Bisa tidak, kamu berhenti membuat masalah? Abaikan perintah pria itu, kamu tidak perlu menurutinya, Nay”, ucap ray kembali meninggikan suaranya.


Naya menatap dingin ke arah Ray sambil menahan buliran bening yang ingin menyapanya.


“Apa karena gadis itu?”, Naya bertanya dengan nada begitu lirih.


“Aku hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Bagaimana pun juga, kamu adalah orang yang penting dalam hidupku”, Ray berucap sambil menatap nanar air mata yang jatuh dari pelupuk mata Naya.


Hatinya sakit, ketika melihat Naya menangis terlebih karena dirinya. Namun, situasi begitu tidak adil baginya sekarang.


“Seberapa penting aku dihidupmu, Ray? Seberapa penting? Bahkan, kamu tidak tahu alasan aku melakukan semua itu. Kamu tidak tahu, Ray”, suara Naya bergetar ketika mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Hatinya perih oleh sayatan luka yang semakin menganga. Tubuhnya merosot ke lantai dengan ketidakberdayaan. Ia mulai terisak yang terdengar begitu pilu.


“Kamu sama sekali tidak peduli denganku, Ray. Kamu hanya peduli dengan gadis bernama Sara itu. Gadis kecil yang dicari banyak orang”, setelah berucap seperti itu, Naya segera bangkit dan hendak pergi dari gudang itu.


Namun baru beberapa langkah, Ray kembali bersuara.


“Karena kamu tidak pernah terbuka denganku, Nay. Aku pernah memintamu untuk berada dipihakku, tapi kamu malah memilih melawan arus. Ucapan kamu benar, aku melakukan itu karena Sara. Jadi, jangan berpikir untuk membunuhnya lagi, karena aku akan melindunginya”, ujar Ray yang lebih dulu meninggalkan Naya.


Ketika mencapai pintu, Ray kembali menoleh ke arah Naya yang segera memalingkan wajahnya. Ray tahu bahwa Naya begitu marah dan kecewa dengan dirinya.


“Aku minta, jangan sampai pria itu tahu bahwa Sara adalah gadis yang dicarinya. Jika dia tahu, maka kamu adalah orang pertama yang akan aku cari”, ujar Ray sambil menatap pilu Naya.


Ini sulit bagiku, Nay. Tapi, aku tidak ingin pria itu bertindak sampai jauh. Aku yakin ada fakta lain yang tersembunyi di balik insiden belasan tahun lalu.


Dan gadis itu adalah kunci terbukanya misteri itu. Dan juga kunci semakin menyebarnya rumor tidak benar tentang insiden itu, jika gadis itu berhasil dilenyapkan.


Maaf, Nay. Aku belum bisa melindungi dan menjagamu sesuai janjiku. Ku mohon Nay, kembalilah ke sisiku dan menjauhlah dari pria itu.


Setelah itu, Ray benar – benar pergi meninggalkan Naya dengan ribuan anak panah yang telah menghujam diri seorang Naya. Menatap nanar laki – laki yang ia harapkan bisa menjadi sayap untuk berlindung dirinya.


Gadis angkuh yang selalu mencari masalah denganku, sekarang terlihat begitu rapuh. Dia yang selalu mendominasi hanyalah sosok yang terbuang. Dia kembali menangis sembari menekan rasa sesak yang semakin mendesak.


Ray, aku tidak pernah menginginkan semua ini. Tidak pernah sedikit pun terbersit olehku untuk menghabisi nyawa orang lain.


Hari pertama aku bertemu dengan Sara di asrama, tidak pernah terpikirkan jka aku akan bertindak sejauh itu. Aku bermaksud membuli, karena sebuah kesenangan agar aku lupa dengan beban yang ku pikul.


Tapi, gadis itu begitu tangguh dan aku mulai membencinya ketika kamu lebih membelanya, Ray. Itu yang membuatku ingin melenyapkannya.


Apakah kamu tahu bahwa aku juga butuh perlindungan darimu, Ray?


Segera Naya menghapus air mata yang semakin deras mengalir. Sebisa mungkin, ia menekan rasa sakit yang mendera hatinya. Tangannya terkepal kuat untuk mengaliri rasa perih yang bertumpu dihatinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2