For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 10 INGAT TUJUAN


__ADS_3

Aku terdiam mendengarkan ucapan demi ucapan yang Doni lontarkan padaku. Apa yang Doni katakan memanglah sebuah kebenaran. Ia hanya khawatir jika aku sampai melupakan tujuanku yang sebenarnya.


Baru rasa itu tumbuh, sudah membuatku lupa. Jika Doni tidak bersamaku, mungkin aku sudah terlena dengan sebuah rasa yang baru pertama kali aku rasakan.


Doni menyalakan laptopnya dan kembali memutar sebuah video. Kali ini, video yang diputar berhasil membuat keningku mengernyit.


Di dalam video tersebut, aku melihat sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah desa. Keadaan di desa tersebut sangatlah kacau. Suara teriakan, dan tangisan bercampur dengan gelak tawa yang entah siapa pemiliknya.


Aku semakin menajamkan mata dan pendengaranku, hingga tatapan mataku tertuju pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis seorang wanita.


Wanita itu terlihat histeris dan memanggil seorang pria yang aku yakini adalah suaminya. Namun, aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa dari wanita tersebut.


Suasana di desa yang sangat gelap membuat aku tidak bisa menebak siapa saja yang ada di sana.


Cincin itu… Mengapa mirip sekali dengan cincin yang pernah aku lihat di laci meja kamar ibu?


Apa mungkin karena tempat mereka membeli sama?


Tapi, kenapa aku merasa ada yang janggal?


Dulu, aku pernah diminta ibu untuk mengambil kacamata miliknya di kamar. Lalu, aku tidak sengaja melihat sebuah kotak di laci meja yang terbuka. Aku meraih kotak tersebut dan mengambil sesuatu yang berada di dalam sana.


Ini cincin apa? Cincin milik ibu kah? Kenapa malah disimpan?


Mungkinkah ini cincin pernikahan milik ayah dan ibu, lalu, apakah ini adalah cincin yang seharusnya dipakai oleh Ayah?


Tapi, kenapa cincinnya terlihat berbeda dengan cincin yang dikenakan oleh ayah yang aku lihat di dalam album?


Berbagai pertanyaan singgah dan memenuhi kepalaku. Pertanyaan yang tidak aku temukan jawabannya. Hingga video tersebut selesai, aku masih hanyut dengan pikiranku sendiri.


Sebenarnya, misteri apa yang harus aku pecahkan?


“Berdasarkan video tersebut, aku menarik kesimpulan bahwa kita harus menemukan cincin yang dipakai wanita itu atau sebuah cincin yang menjadi pasangan dari cincin yang dipakai wanita tersebut”, ujar Doni sambil menatapku serius.


“Kamu benar, Don. Kamu ingat nggak, dulu ketika aku selesai menjelaskan tentang percakapan antara ibu dan ayah kamu yang membahas tentang ayahku, aku tidak sengaja melihat cincin yang mirip dengan yang ada di video itu di kamar ibu”,

__ADS_1


“Besar kemungkinan, peristiwa yang ada divideo ini berkaitan dengan kematian ayahmu”, ujar Doni sambil menutup kembali laptop miliknya.


“Libur semester nanti, kita akan periksa kamar ibumu, aku yakin banyak misteri yang ibumu sembunyikan di dalam sana”, lanjut Doni sambil berdiri dan kembali ke asramanya.


Setelah kepergian Doni, aku kembali terdiam dan mengingat kembali apa yang aku lihat di video pertama dan kedua tersebut.


Video pertama, memperlihatkan seorang laki – laki yang berlumuran darah yang aku yakini adalah ayahku. Ah, rasanya dadaku kembali sesak mengingatnya.


Lalu, video kedua yang tidak menemukan penjelasan. Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi sebelum aku lahir?


Tatapan mataku kini tertuju pada gelang yang melingkar dipergelangan kiriku. Ku buka gelang tersebut, lalu ku tatap gelang itu dengan perasaan campur aduk.


Gelang yang indah, namun tak seindah ceritaku. Hanya kesedihan yang berbalut dengan senyum dan tawa disebalik luka.


Rasanya sesak ketika aku terus berusaha untuk terlihat bahagia, terutama di depan ibu.


Bohong jika aku mengatakan bahwa tidak menginginkan kasih sayang seorang ayah.


Bohong, jika aku tidak merindukan sosoknya. Memilih untuk menyimpannya adalah agar aku tak melihat ibu kembali bersedih.


Masih segar diingatanku, ketika setiap datang hari peringatan kematian ayah, ibu akan mengurung dirinya di kamar. Kembali menangis tanpa pernah aku melihat tangisnya. Aku dan abang selalu membiarkan ibu untuk meluapkan rasa rindunya.


Sekarang, aku tak lagi berharap bahwa malaikat yang ku nanti, masih berada di bumi yang sama. Inginku hanya mengetahui kebenarannya, walau itu akan sangat menyakitkan.


Dengan semua rasa sakit yang bukan hanya aku yang merasakannya, aku bertekad untuk mencari di mana keberadaan desa yang ada di video itu. Desa yang aku yakini adalah desa tempat orang tuaku tinggal, sebelum kekacauan itu menghancurkan semuanya.


Ya Rabb, bantu aku. Tunjukkan kepadaku di mana lokasi desa itu berada dan di mana aku bisa mendapatkan petunjuk keberadaannya?


Aku tatap langit senja yang indah. Begitu menawan bagi setiap mata yang memandang. Ingatanku kembali ketika Rauf memberikanku gelang ini. Ada sebuah rasa yang begitu asing bagiku.


Rasa nyaman pun tumbuh ketika hari demi hari aku sering berbicara dan mendiskusikan banyak hal bersamanya.


Aku kagum dengan cara berpikirnya. Dan juga, ia sangat menghargai perempuan. Tak pernah sekali pun ia akan melakukan kontak fisik dengan perempuan.


Namun, rasa itu tentu tidak boleh aku pupuk agar tidak bermekaran. Masih belum terlambat bagiku untuk menghentikan rasa ini. Apakah ini adalah sebuah cinta atau hanya sekedar nyaman bersamanya. Aku sama sekali tidak bisa mendefinisikannya.

__ADS_1


...***...


Di bawah langit yang sama, cukup jauh dari tempatku berada. Laki – laki bernama Rauf itu juga terlihat menatap langit senja yang semakin menggelap. Ia terlihat melamun dan sibuk berkenala dengan pikirannya sendiri.


Lalu, setitik buliran bening jatuh. Namun, tak kunjung ia usap dan justru buliran bening itu semakin deras mengalir.


Nafasnya naik turun, terlihat ia tengah menahan gejolak dihatinya. Matanya memerah dan sesekali terpejam seolah berusaha menetralisir rasa yang membuatnya sesak.


Haruskah aku melanjutkan semuanya? Apakah aku akan sanggup melihatnya, ketika semua terungkap nanti?


Ya Allah, sungguh aku ingin sekali menyerah. Namun, sebuah janji mengharuskanku untuk tetap berjuang. Izinkan aku untuk melakukannya, meski dengan diriku yang berakhir pergi darinya.


...***...


Azan solat magrib menggema membuatku bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri dan menunaikan solat magrib.


Tepat ketika aku hendak masuk ke dalam lift, aku kembali bertemu dengan perempuan yang membuat moodku memburuk.


Dengan sengaja, ia menyenggol bahuku kasar dengan kakinya yang menginjak kakiku, lalu menerobos masuk ke dalam lift ketika pintu lift sudah terbuka.


“Aduh sakit”, teriakku sambil menatap nyalang ke arah perempuan itu.


“Oh, ada orang ya, kirain cuma bayangan”, ujarnya sambil menatap sinis ke arahku.


Ingin rasanya aku menjambak rambutnya, namun lelah pikiran membuatku memilih untuk menghadapinya dengan tenang.


“Ya ampun, ternyata terjangkit penyakit mata ya, pantesan jalannya oleng. Kasihan, ikut prihatin ya”, cibirku sambil masuk ke lift satu lagi.


“Kurang ajar, sini jangan kabur kamu!”, dia berteriak dan ingin menerobos, namun pintu lift segera tertutup.


“Dasar sakit jiwa, nggak waras tuh orang”, gerutuku sambil berusaha menetralisir rasa kesal, karena ulah perempuan tadi.


Sejujurnya, aku tidak tahu alasan perempuan itu selalu mencari masalah denganku. Sejak awal masuk asrama, ia sudah mencari masalah duluan denganku.


Sedangkan di lift lain, perempuan tersebut terus saja mengumpat diriku dan sesekali melampiaskan kekesalannya kepada salah satu temannya.

__ADS_1


“Awas kamu, tunggu pembalasanku”, ujarnya sambil mengepalkan tangannya.


...***...


__ADS_2