For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 36 GORESAN TINTA


__ADS_3

Langit jingga dengan taburan awan menjadi teman setia yang selalu menanti. Tiupan angin pun tidak lupa selalu berbisik dengan udara dingin mulai menyeruak. Netra coklat yang selalu ingin ku tatap, kini tengah menatap pergantian siang dan malam. Helai rambut yang menyentuh keningnya, mulai terayun oleh sapuan angin di sore hari.


Secarik kertas yang sedang ia genggam, lagi – lagi membuatnya terus menghela nafas. Duduk seorang diri di sebuah ayunan yang berada di taman yang kini hanya menyisakan sepi. Kakinya terdorong untuk mengayun tubuhnya agar seolah melayang di udara.


Tidak lama, seseorang datang mendekat ke arahnya. Berjalan dengan sebuah tongkat yang menjadi penopang tubuhnya. Sedikit tertatih dengan seseorang yang membantunya melangkah. Hatinya bergetar ketika melihat seseorang yang tengah berada diayunan sembari meyakinkan diri, jika apa yang dilakukannya adalah pilihan yang tepat.


“Sufian kecil”, panggil seorang pria paruh baya yang sudah berdiri cukup dekat dengannya.


Segera Rauf turun dari ayunan yang tengah membawanya terbang dengan angan yang menurutnya semu. Berjalan sembari memberikan senyum terbaiknya untuk seseorang yang sangat ia sayangi. Ia raih tangan yang sudah penuh dengan keriputan itu dan menciumnya.


“Kakek”, ujarnya dengan menatap seseorang yang dipanggil kakek tersebut.


Ada binar kerinduan yang singgah dipelupuk matanya. Tangannya mulai mengusap wajah sang kakek yang mulai menitikkan air matanya.


“Maafkan, Kakek”, kata – kata itu berhasil meruntuhkan pertahanan seorang Rauf.


Dia segera memeluk sang kakek dengan buliran bening mulai jatuh dipipinya. “Temani Rauf hingga akhir, Kek”, ucapnya dengan tubuh yang bergetar.


Setelah cukup lama, kakek dan cucu tersebut memilih duduk di kursi taman dengan wajah yang tidak lagi sendu. Kini, mereka tengah membahas sesuatu yang begitu penting. Sebelumnya, Rauf telah memastikan bahwa tempat tersebut aman, sehingga mereka tidak perlu khawatir.


“Sekarang kamu pahamkan, kenapa keberadaan Sara sangat penting?”, tanya Kakek menatap lurus ke depan.


“Mereka mengincar kalung milik Sara dan menginginkan Sara untuk dijadikan tahanan. Kalung itu hanya akan berfungsi bila pemilik aslinya yang menggunakannya. Sebuah kunci yang menjadi akses sebuah tempat rahasia yang akan menjawab semua teka – teki ini. Itu artinya, mereka bukan hanya menginginkan kematian Sara, tetapi menghancurkan kalung itu yang hanya bisa dihancurkan oleh Sara”, Rauf mengeluarkan semua analisanya.

__ADS_1


“Orang tua Badirlah yang memberikan kalung itu kepada ayahmu dan memberikannya kepada Rizwan yang merupakan ayahnya Sara. Mereka sudah menduga bahwa kematian akan datang menghampiri mereka. Kala itu, Abbad yang merupakan ayahnya Badir meminta ayahmu untuk membantunya. Ayahmu yang merupakan seorang hakim ragu untuk membantu, karena dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah”, ujar Kakek sembari menatap cucu kesayangannya.


“Abbad pun bersimpuh di kaki ayahmu untuk membantunya yang membuat ayahmu bimbang. Ayahmu pun mendengarkan permintaannya. Dia meminta agar ayahmu memberikan kalung itu kepada seseorang yang nantinya bisa memecahkan kesalahpahaman yang menimpa putra mereka, Badir”, lanjut Kakek.


“Dan ayah menyarankan agar kalung itu diberikan kepada putri dari Paman Rizwan. Tapi, kenapa harus Sara, Kek? Sedangkan, ada Naya?”, Rauf bertanya karena ia merasa heran dengan pola pikir dari orang tuanya Pak Badir.


Semilir angin sore menyapa wajah Kakek Yazdan yang terlihat mengulas sebuah senyum. Matanya terlihat menyipit nyaris tidak terlihat lagi, karena senyum yang tengah mengembang itu.


“Karena Rizwan adalah saksi yang mengetahui semua kemelut masalah ini. Inara, istrinya Rizwan mengamankan semua bukti yang didapatkan oleh suaminya di suatu tempat. Dan tempat itulah yang mereka cari dengan mengandalkan kalung yang akan menjadi petunjuk keberadaan tempat tersebut. Dan ayahmu memilih Sara, karena ayahmu yakin bahwa Sara akan mencari keberadaan ayahnya yang sudah dilenyapkan oleh seseorang”.


Kening Rauf berkerut dengan tatapan lurus ke depan. Mencoba untuk mencerna semua informasi yang ia dengar dari sang kakek.


“Apa Paman Badir yang melenyapkan ayahnya Sara, Kek?”, tanya Rauf yang mendapat gelengan kepala dari sang kakek.


“Apakah seseorang itu yang memenangkan persidangan?”, Rauf bertanya mengingat ayahnya adalah hakim yang ditunjuk dalam persidangan orang tuanya Pak Badir.


Lagi – lagi, sang kakek menggelengkan kepalanya. “Persidangan ditutup bersamaan dengan kabar tentang hilangnya ayahmu yang mulai menjadi buah bibir. Rumor pun bermunculan yang mengatakan ayahmu sudah dibunuh oleh seseorang, tapi jasadnya tidak pernah ditemukan”, jelas sang kakek.


Kembali netra Rauf memandang kertas yang masih ia genggam. Hati dan pikirannya mulai berkelana dan terbang bebas dalam lamunan. Isi surat itu lagi – lagi membuatnya membuang nafas dengan kasar.


Muhammad Rauf Alfahedra. Seorang putra yang sangat dinantikan kehadirannya. Tangan ini selalu menengadah menghadap langit berharap agar pemilik semesta ini memberikan izin kepada tubuh ini untuk melihatmu. Menanti dirimu dengan segudang harap yang sudah mendamba.


Nak, goresan tinta di selembar kertas ini adalah goresan tangan dari aku, Abimu. Seseorang yang darahnya mengalir dalam tubuhmu. Aku adalah sebagian dari dirimu yang nantinya bisa menjadi pelipur lara bagi seorang wanita yang merupakan, Umimu.

__ADS_1


Nak, maafkan Abimu ini yang sudah mengembankan amanah sebelum kamu hadir di dunia ini. Amanah yang Abi sampaikan lewat umimu yang kamu dengar dari sang kakek nantinya. Jika kita tidak bisa saling menatap, maka izinkan abi untuk berbicara lewat tulisan ini.


Jagalah dan bantulah seseorang. Dia akan membuka semua tabir misteri yang ikut menyeret aku, Abimu. Putri dari seorang pria bernama Rizwan yang juga ikut terseret. Dan juga, kamu harus memastikan bahwa kalung itu selalu bersamanya.


Dia dengan kalung itu akan mengantarkanmu kepada seseorang. Abi harap, kamu bisa memahami setiap kalimat yang ada dalam surat ini. Ingat, Nak, jagalah dia jika kamu menginginkan umimu kembali.


Maaf putraku.


Itulah isi dari secarik kertas yang berada di tangan Rauf. Surat yang ia dapatkan dari seseorang yang mengatasnamakan kakeknya. Oleh karena itu, ia segera menghubungi sang kakek untuk menanyakan lebih detail lagi pesan yang di sampaikan sang ayah.


...***...


Di sudut bumi yang lain dengan langit senja yang juga menemani soreku. Memandangi langit tersebut dengan sebuah harapan yang terselip di tengah senyum yang mengembang. Ayah, begitu rumit perjalanan bertemu denganmu. Bahkan, aku tidak tahu pertemuan seperti apa nantinya. Apakah dirimu yang masih utuh atau hanya nisan yang menjadi bukti hadirnya dirimu.


Di tengah lamunan itu, seseorang duduk di sebelahku. “Sa, kamu mau?”, Yira menawarkan sesuatu yang sangat sulit untukku tolak.


Segera tanganku meraih coklat dingin yang Yira berikan padaku. Tiba – tiba, bayangan Rauf ketika memberikanku coklat dingin kembali muncul dibenakku. Coklat dingin ini, malah kembali mengingatkanku dengannya. Dia apa kabar ya?


Yira yang melihatku mulai hanyut dengan pikiranku sendiri segera membuyarkan lamunan tersebut dengan menjentik keningku.


“Yira”, aku berteriak sembari mengusap keningku yang terasa sedikit sakit.


“Pasti kepikiran sama Rauf kan? Ya ampun, ternyata dugaanku benar kalau temanku ini lagi jatuh hati”, ujar Yira dengan mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Aku hanya diam dengan terus meminum coklat dingin tersebut. Apa salah, jika aku memang menyukainya? Tapi, aku tidak akan egois dengan membiarkan dia terluka, jika tetap berada di dekatku. Aku memilih melepaskannya agar dia baik – baik aja.


__ADS_2