For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 5 SEBUAH GELANG


__ADS_3

Menjelang waktu istirahat berakhir, aku memutuskan untuk berkeliling sembari menjelajahi apa saja yang ada di sekolah ini. Aku memilih untuk berkeliling di sekitar kelasku saja. Setidaknya, aku harus akrab dengan lingkungan terdekatku.


Langit semakin cerah dengan sedikit gumpalan awan tampak semakin menawan. Lambaian angin semakin kentara dirasa. Sedikit menerbangkan sesuatu yang dijumpainya. Dedaunan pun saling bergerak seolah tengah mengikuti alunan nada – nada yang alam berikan.


Hatiku terasa menghangat kala merasakan hembusan angin yang mengenai wajahku. Pakaian dan jilbab yang melekat pada diriku pun seolah ikut menari bersama dengan alam. Begitu memikat mata dan kalbu.


Setelah puas, aku pun memilih untuk kembali ke kelas. Ketika hampir tiba di depan kelas, aku kembali melihat laki – laki tadi pagi. Kami berselisih dan aku memilih untuk tetap melanjutkan perjalananku dengan ekspresi yang sudah ku buat datar.


“Ehmm”, aku mendengar suara dehemannya.


Namun, aku memilih lanjut.


“Ehmm”, kembali ia memanggilku hanya dengan berdehem saja.


Sungguh, aku benar – benar kesal dibuatnya.


Mau apalagi sih dia? Apa susahnya coba berlagak nggak kenal aja gitu. Huftt.


Ku hela nafas perlahan, lalu aku menoleh ke arahnya.


“Hm”, hanya dua konsonan itulah yang aku lontarkan padanya.


“Jadi, kamu anak desain?”, ia bertanya seolah sudah akrab denganku.


Aku mendengus sambil memalingkan wajah ke sembarang arah.


“Lalu urusannya denganmu apa? Ketemu juga baru pagi tadi, itu pun karena ketidakinginan. Jadi sebaiknya, kamu nggak usah berlagak akrab”, lalu aku memilih untuk kembali ke kelas.


Namun, langkah kakiku terhenti ketika mendengar ucapannya.


“Siapa saja siswa yang pernah masuk ke kawasan terlarang tersebut, aku tidak menjamin dia akan baik – baik saja”,


“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa ucapan kamu itu seolah tengah mengancamku? Aku hanya tersesat dan itu tidak disengaja”,


“Rauf”, jawabnya yang malah memperkenalkan dirinya.


“Hei, aku tidak bertanya namamu, tapi statusmu di sini”, tanyaku sedikit meninggikan suara.


Jujur saja, mood yang tadi sudah membaik malah hancur ketika bertemu dia lagi. Sangat menyebalkan.


“Hanya seorang siswa”, jawabnya ringan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.

__ADS_1


Oh Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan jenis manusia seperti dia sih.


“Apa kamu berpikir bahwa aku adalah anak dari seseorang yang berpengaruh di sekolah ini dan itu sebabnya kamu memintaku seolah tidak mengenalmu agar tindakanmu pagi tadi tidak diketahui oleh siapapun?”, tanyanya sambil tersenyum mengejek ke arahku.


Aku terdiam oleh pertanyaannya. Dan hal itu membuatnya tertawa.


Hah, kok dia malah ketawa sih? Aku terperangah dengan respon yang ia berikan.


“Hei gadis kecil, aku ini bukanlah seorang monster yang perlu ditakuti”, ujarnya setelah menyelesaikan tawanya.


“Siapa juga yang bilang kamu monster, aneh plus miring”, cibirku sambil membalas ejekannya.


“Ekspresimu menjelaskan semuanya. Kamu seperti tengah berhadapan dengan monster mengerikan, padahalkan yang kamu temui adalah seorang cogan”, ucapnya narsis sambil menyibakkan rambutnya ke belakang.


Ya ampun, nih orang kepentok di mana sih sampai – sampai otaknya jadi geser gini. Gumamku dalam hati.


“Dibanding cogan, kamu lebih cocok dilihat selayaknya mosnter”,


Senyum yang tadi aku lihat mengembang dibibirnya perlahan memudar. Ia kembali menunjukkan ekspresi datarnya seperti pagi tadi.


“Aku hanya ingin mengembalikan liontin milikmu yang tadi sempat terjatuh”, ucapnya sambil memberikan kalung itu padaku.


Astaughfirullah, iya kok bisa sih aku nggak sadar barang berharga itu jatuh. Gumamku sambil meraba leherku yang tertutupi oleh jilbab.


Aku menatapnya tajam seolah ingin mencabik – cabik tubuhnya.


“Hei, ambil. Waktu istirahat tinggal lima menit lagi”, ujarnya kembali mengingatkanku.


“Kenapa liontinnya bisa sama kamu? Dan darimana kamu tahu jika liontin itu milikku? Padahalkan kamu nggak lihat? Jangan – jangan kamu cenayang yah?”, tanyaku sambil tetap menatapnya tajam.


Pertanyaan terakhir yang aku lontarkan justru membuatnya tertawa terbahak – bahak. Ia gemas ketika mendengar pertanyaan konyol yang dilontarkan padanya.


“Makanya, jadi orang itu positif thinking. Ini kalung aku temukan di taman sebelah selatan. Kan kamu yang tengah duduk dengan pacarmu di sana, jadi jelas bukan cenayang”, ujarnya dengan nada penuh cemoohan.


“Oh”, hanya kata itu yang berhasil keluar dari bibirku.


Sejujurnya, aku malu karena sudah berpikiran jauh hanya karena rasa takut dan khawatir, jika kejadian pagi tadi di ketahui oleh orang lain.


Aku pun mengambil kalung itu dan secepat kilat segera masuk ke kelas tanpa menoleh ke belakang. Rauf yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya sambil berujar sendiri.


“Udah negatif thinking malah pergi tanpa ucapan terima kasih”.

__ADS_1


...***...


Kelas hari ini pun sudah selesai. Langit cerah sekarang berganti dengan langit jingga yang tak kalah memukaunya. Perpaduan warna langit dengan pantulan cahaya matahari sore terlihat indah memanjakan mata.


Aku berjalan sambil tersenyum menatapi pemandangan alam yang hanya akan hadir ketika malam akan menjelma. Ketika tepat di depan kelas kimia, aku melihat laki – laki itu lagi. Ia terlihat sedikit kesusahan dengan barang yang ia bawa.


Ingin rasanya aku membantunya, tapi rasa malu seolah memintaku segera menghilang dari tempat itu.


“Bantu nggak ya? Bantu nggak? Kasian juga tuh orang. Bantu ajalah, setidaknya sebagai ucapan terima kasih gitu. Singkirkan rasa malu tadi, Ra”, gumamku, dengan rasa bimbang yang akhirnya berhasil aku taklukkan.


“Ehm, butuh bantuan nggak?”, tanyaku sambil memperhatikan semua barang yang ia bawa.


“Tolong bantu bawa ini”, ujarnya sambil memberikan tumpukan buku yang lumayan banyak.


“Ya ampun, ini mah banyak banget, berat tahu”, gerutuku sambil menerima semua buku itu.


“Aneh, tadi menawarkan diri, sekarang malah ngomel”, ujarnya sambil melangkah menuju ruangan laloratorium kimia.


“Eh ini bukunya juga dibawa ke labor?”, tanyaku sambil menyamai langkah kakinya.


“Nggak, buku di ruang guru”, jawabnya enteng sambil masuk ke dalam laboratorium.


Seketika langkah kakiku terhenti. Rasa jengkel pun kembali menyelimuti hati.


Udah jalan jauh – jauh, eh malah salah arah. Kenapa tuh orang nggak bilang dari awal sih. Gerutuku sambil mengukur jarak antara laboratorium kimia dengan ruang guru yang cukup jauh.


Hais, dasar ya tuh orang. Cukup jauh jaraknya. Padahal, jarak kelas kimia dengan ruang guru mah dekat. Cukup lewati tiga kelas, dah sampai.


Sabar Maisara Berlian.


Aku terus menyemangati diriku hingga tiba di ruangan guru. Segera ku tanya guru yang ada di sana dan aku pun meletakkan semua buku tersebut sesuai arahan dari Bu Mika, salah satu guru yang mengajar di bidang fashion.


“Terima kasih, Bu. Saya pamit”, ujarku sambil tersenyum ramah.


Setelah keluar dari ruangan tersebut, aku memilih duduk di bawah pohon yang cukup besar yang berada tidak jauh dari ruangan tadi.


“Ya Allah, capek juga nih kaki”, gumamku sambil menyandarkan tubuhku dan mulai memejamkan mata.


Tiba – tiba, aku merasakan hawa dingin di wajahku. Aku terkejut ketika laki – laki itu sudah berada tepat di depanku dengan segelas coklat dingin di tangannya.


Nih, diminum”, ujarnya sambil menyodorkan minuman tersebut.

__ADS_1


“Dan ini ambil, anggap sebagai ucapan terima kasih”, ujarnya lagi dengan menyodorkan sebuah gelang padaku.


__ADS_2