For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 26 SELAYAKNYA BONEKA


__ADS_3

Setelah penanyangan video tersebut selesai, Pak Badir terlihat bangkit dari duduknya dan kembali menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di aula. Ada raut kesedihan yang aku tangkap dari wajahnya dan itu raut kesedihan yang sesungguhnya.


Namun, ada sedikit senyum yang ia berikan seolah dirinya berusaha untuk tegar dan ikhlas atas musibah yang menimpanya belasan tahun silam. Suaranya terdengar sedikit bergetar yang membuat keningku berkerut.


Apa yang ada dalam pikirannya?


Dia terlihat begitu rapuh ketika kehilangan orang terdekatya, tapi dia malah membuat banyak orang kehilangan orang yang mereka sayangi.


Sebenarnya, bagaimana rupa orang yang menjadi dalang dalam insiden ini? Bahkan, aku yakin kalau Pak Badir sendiri tidak sadar dengan tujuan dia melakukan semua ini.


Analisaku semakin yakin, jika kemungkinan besar seseorang tersebut memanfaatkan kesedihan orang lain untuk kepentingannya sendiri.


Pak Badir pun masih lanjut berbicara yang membuat para hadirin ikut merasakan kesedihan dan terharu dengan perjuangan Pak Badir.


“Para hadirin yang saya hormati, saya merasa lega ketika masih ada yang berada dipihak saya. Memberi saya dukungan untuk bertahan dan melewati semua kesedihan yang telah diberikan oleh manusia yang tidak memiliki hati nurani.


Video tadi adalah bukti kuat yang saya miliki untuk menjerat pelaku, tapi pelaku sudah tewas ketika terjadi penyerangan besar – besaran di sebuah desa yang tidak perlu saya sebutkan. Tepatnya, belasan tahun silam”, ucap Pak Badir membuat semua orang banjir air mata.


Bisa ku lihat, ucapan yang pria itu keluarkan begitu tulus dan menyayat hati. Namun, tetap saja dia bersalah, karena telah melenyapkan banyak nyawa.


Aku pun mengajak Doni untuk segera pergi, meskipun acara sudah akan berakhir. Aku tidak lagi tertarik untuk menyaksikan pertunjukan yang dikatakan oleh pengirim surat misterius itu. Namun, baru saja aku berbalik, terdengar sebuah video lain yang mulai diputar.


Deg


Segera aku menoleh ke arah layar. Tanganku reflek menutup kedua mulutku yang menganga melihat apa yang ditampilkan video tersebut.


Video yang sedang diputar itu memperlihatkan seorang pria yang sedang memukuli seorang anak perempuan yang bila ku tebak, dia masih berusia tujuh tahun. Wajah pria itu sedikit jelas sehingga orang yang melihatnya bisa menebak dengan mudah.


Sedangkan wajah anak perempuan itu tidak jelas, sehingga sulit untuk menebaknya. Berkali – kali, anak perempuan yang malang itu disiksa tanpa melakukan perlawanan. Ia hanya bisa menangis menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.

__ADS_1


Tubuhku membeku. Aku palingkan wajahku dari menatap layar yang menampilkan video tersebut dan beralih menatap pria yang mirip dengan pria yang ada di dalam video tersebut.


Benarkah dia pria yang ada di dalam video tersebut?


Pak Badir, tidakkah cukup bagi Anda dengan menghabisi banyak nyawa dan masih ingin menyiksa orang lain, terlebih anak yang masih butuh perlindungan dari orang dewasa?


Kasak – kusuk pun mulai terdengar di dalam aula tersebut. Mereka semua mulai menebak dan menatap sinis ke arah Pak Badir. Ada di antara mereka yang balik memaki dan meragukan video yang ditampilkannya sebelumnya.


“Dasar manusia laknat, anak seusia itu malah dia siksa dan dengan ringannya tangannya memukul dan menampar anak malang itu. Sangat miris”, ujar salah seorang tamu undangan dengan menatap tajam ke arah Pak Badir.


“Benar, ternyata dia adalah manusia penuh dengan topeng. Dasar serigala berbulu domba, saya curiga bahwa video yang dia tampilkan tadi hanyalah untuk menarik simpati banyak orang”, sahut yang lainnya.


“Jika itu memang benar, kasihan sekali Pak Rizwan dan Pak Sufian yang telah dia kambing hitamkan”,


“Saya juga berpikir begitu, mereka berdua juga tidak kalah dermawannya dari orang tua Si Badir penipu itu”,


“Sa, kamu dengar apa yang mereka bicarakan? Mereka tidak lagi menghina ayahmu. Kalau dipikir – pikir, mereka semua lucu”, ucapan Doni membuat sudut bibirku tertarik sempurna.


“Begitulah, Don. Manusia yang memberi penilaian terhadap orang lain hanya berdasarkan apa yang mereka lihat dan mereka dengar akan berakhir seperti itu.


Terombang – ambing dengan berbagai praduga yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Mereka seolah tengah menjilat kembali air ludah yang telah mereka cipratkan sembarang tempat.


Iya, mereka sangat lucu. Mereka selayaknya boneka yang hanya akan patuh dengan tuannya. Dan siapa yang paling mendominasi, maka mereka rela menjatuhkan harga diri demi sebuah gengsi”, ujarku sambil menatap ke arah Pak Badir yang terlihat menahan marah dan malu.


Di sudut lain, laki – laki bertopeng yang menyelamatkanku hari itu terlihat menampilkan seulas senyum yang selalu membuatku terpana. Tapi sayangnya, aku lagi – lagi tidak menyadari keberadaannya.


Aku lega, jika pertunjukkan yang aku tampilkan hari ini dapat membuatmu lega dan senang, meskipun raut kesedihan masih enggan pergi dari pelupuk matamu.


“Rencana berhasil. Lihatlah pria itu, dia terlihat begitu panik, marah, dan juga malu”, ujar Ghaly sembari terkekeh sendiri melihat ekspresi Pak Badir.

__ADS_1


Rauf hanya membalas ucapan sahabatnya dengan seulas senyum. Hatinya menghangat ketika aku tidak henti – hentinya tersenyum setiap kali mendengar orang – orang berbalik membela ayahku.


Berbeda dengan seorang gadis yang duduk di sudut lain bersama kedua temannya. Dia terlihat begitu syok dengan apa yang baru saja ia lihat. Dia menatap nanar ke arah Pak Badir dengan perasaan campur aduk.


Siapa yang berada dibalik penayangan video tersebut? Mengapa wajahku diblur?


Kedua teman gadis itu membuyarkan lamunannya ketika mereka merasa diabaikan.


“Naya, kamu mikirin apa sih? Dari tadi dipanggil malah melamun”, sungut Cyra.


“Iya, kamu kenapa? Jika ada yang mengganjal pikiranmu berbagilah dengan kita”, sahut Nina, teman Naya yang lainnya.


Naya pun segera menggeleng dengan membalas ucapan sahabatnya dengan seulas senyum.


“Aku hanya sedikit mengantuk”, jawab sembarang Naya dengan wajah acuh tak acuh yang kembali menghiasi wajahnya.


Sedangkan di sudut lainnya, terlihat kakak beradik yang tadi berhasil menerobos masuk ke dalam aula, terlihat tengah bersiap melancarkan aksinya. Mereka mulai memperhatikan keadaan yang mulai tidak kondusif, meskipun pembaca acara sudah berusaha menenangkan keadaan.


“Tidak disangka, ternyata ada orang lain yang juga sudah menyiapkan rencana yang semakin mempermudah rencana kita”,


“Aku juga tidak menduganya, Bang. Bahkan, aksi yang orang itu lancarkan mampu membuat si tua bangka itu menjadi kalang kabut”,


Laki – laki yang dipanggil abang tersebut mengulas sebuah senyum sambil mengelus puncak kepala adiknya. Keluarga satu – satunya yang tersisa dari insiden belasan tahun lalu.


“Baiklah, sekarang giliran rencana kita yang akan dimulai. Kamu sudah siap?”,


Gadis itu hanya mengganggukkan kepalanya membalas ucapan sang abang. Sorot matanya terlihat begitu tajam dan mampu menghunus jantung orang yang melihatnya.


Katakan selamat tinggal pada dunia yang begitu kejam ini, Pak Badir tersayang.

__ADS_1


__ADS_2