For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 7 SENAM JANTUNG


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan harapan yang indah. Ini adalah hari kedua aku menjadi siswa di sini dan membuatku semakin bersemangat. Bukan hanya ilmu yang ingin aku cari, tapi juga memecahkan sebuah teka – teki.


Senyum mengembang dibibirku tatkala kembali aku melihat gelang yang Rauf berikan padaku kemarin. Rasa khawatir yang tadinya menghantuiku, kini sudah lenyap tak bersisa. Bisa ku lihat bahwa Rauf adalah orang yang baik.


Sungguh aku lega, ketika tahu bahwa Rauf sama sepertiku, hanyalah seorang siswa biasa.


Ingatanku kembali pada peristiwa pagi tadi, ketika aku hendak mengambil sarapan pagi dan mendengar kasak – kususk orang membicarakan tentang Rauf.


“Hei, kalian tahu nggak laki – laki bernama Rauf dari kelas kimia?”, tanya salah satu siswi kepada temannya.


“Tahulah, diangkatan kita dia adalah yang paling tampan. Mana mungkin aku melewatkan berita yang begitu hot”,


“Kalau dirangking sih emang iya, dia yang paling ganteng, tapi masih ada kok yang ganteng selain dia”, celutuk siswi satu lagi yang terlihat biasa saja dengan Rauf.


“Hais, tetap aja, Rauf yang paling idaman”,


“Dia sudah punya pacar belum ya? Aku mau daftar, jadi cadangan juga nggak masalah”,


“Kalau cowok modelan gitu sih aku yakin udah ada yang punya”,


Awalnya, aku ingin pergi setelah mengambil sarapan, karena sejujurnya aku tidak tertarik dengan bahasan mereka, terlebih tentang Rauf, laki – laki yang membuatku cemas dan takut. Namun, langkahku terhenti ketika mendengar ucapan selanjutnya dari mereka.


“Rauf itu juga salah satu siswa yang memperoleh beasiswa di sini. Ada rumor yang mengatakan bahwa ia adalah seorang yatim piatu”,


“Aku malah berpikir bahwa dia adalah anak dari pemilik sekolah ini, karena begitu dekat sama Pak Badir”,


Pak Badir? Jadi itu nama pemilik sekolah ini?


Aku semakin menajamkan pendengaranku ketika bahasan mereka semakin dalam.


“Awalnya aku juga mengira Rauf anaknya Pak Badir, tapi ternyata karena Rauf adalah salah satu siswa yang sangat unggul di kimia bahkan melebihi senior di atasnya”,


“Berarti karena prestasi dong?”,


“Iya tentu”,


Alhamdulillah, ternyata Rauf sama sepertiku. Lega rasanya. Jadi, aku nggak perlu khawatir lagi tentang peristiwa kemarin.


Dan aku yakin dia nggak akan bocorin kejadian kemarin. Aku bisa lihat dia adalah orang yang baik.

__ADS_1


...***...


Waktu istirahat pun tiba, aku segera menuju ke kelas Yira untuk ke kantin bersama. Setibanya di kantin, aku segera memilih tempat duduk dekat pojok. Yira pun segera memesan makanan dan membawanya ke tempat yang sudah di kami pilih.


Suasana kantin siang itu sangat ramai. Gelak tawa dari siswa yang berada di sana menambah keramaian kantin itu.


“Sa, gimana kelas kamu hari ini?”, tanya Yira padaku sambil menyeruput jus tomat miliknya.


“Seru banget, Ra. Banyak hal yang aku dapatkan hari ini”, jawabku sambil meminum jus pokat milikku.


“Jujur, seru banget bisa sekolah di sini. Fasilitasnya itu loh, Sa sangat lengkap, canggih pula”, Yira kembali memuji tempat ia bersekolah.


“Iya, kamu benar, Ra. Jadi, kita bisa lebih mudah untuk belajar dan mencari banyak referensi”, balasku sambil melihat ke luar jendela.


Tatapan mataku berhenti tepat pada seorang laki – laki yang tengah berjalan ke arah kantin. Dia adalah Rauf. Banyak pasang mata siswi yang menatapnya sambil berdecak kagum. Tanpa aku sadari, senyum terbit dibibirku.


Deg


Ada sebuah rasa yang sulit aku pahami yang membuat jantungku memompa lebih cepat dari biasanya. Tatapan mataku pun tak terlepas dari dirinya. Ia tampak begitu memukau dengan pakaian olahraga yang masih ia kenakan.


Keringat yang bercucuran dikeningnya membuatnya semakin mempesona. Dia duduk di pojok yang berseberangan denganku seorang diri. Lalu, ada beberapa siswi yang mendekat ke arahnya, namun ia menolak dengan halus.


“Ya Allah, Ra. Kamu kenapa ketawa gitu? Kerasukan setan mana kamu?”, tanyaku sedikit panik bercampur heran.


Semua pasang mata menatap ke arah di mana aku dan Yira berada, termasuk Rauf. Bisa aku lihat, ia menatap ke arahku dengan penuh keheranan.


Oh ya ampun, malu banget. Yira juga ngapain pakai acara ketawa – ketiwi nggak jelas gitu, besar lagi ketawanya. Gerutuku sambil menepuk tangannya.


“Psstt, Ra. Pelanin ketawanya, malu ih diliatin semua orang”, tegurku pada Yira yang langsung menghentikan tawanya.


“Hehe, kelepasan”, ujarnya sambir cengar – cengir dan meminta maaf pada semua orang.


Dan tanpa aku sadari, ternyata ada siswa laki – laki lain yang sedang mengamatiku selain Rauf.


...***...


Langit jingga kembali menyapaku. Tak lupa dengan hembusan angin yang kembali menerbangkan mahkota di kepalaku. Aku sudah bersiap untuk kembali ke asrama. Rencananya aku akan pulang bersama Yira, tapi tidak jadi, karena aku sedikit terlambat pulang hari ini.


Perjalanan dari kelasku menuju asrama kurang lebih lima belas menit. Arah ke asramaku belok kanan, sedangkan belok kiri menuju kawasan asrama putra. Suasana sore itu pun cukup ramai dengan hilir mudik siswa yang berjalan.

__ADS_1


Ketika hendak menuju kawasan asramaku, langkahku terhenti ketika melihat seseorang yang terlihat tidak asing olehku. Setelah mendekat, aku tahu siapa yang sedang berdiri di sisi kiri jalan itu.


“Baru pulang?”, tanyanya sambil memberikan segelas coklat dingin padaku.


“Hm”, kembali dua konsonan itu mewakili jawabanku.


Tanganku terulur untuk mengambil coklat dingin tersebut dan segera duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Lalu, mulai meminumnya, karena sejujurnya aku sedang haus.


“Baiklah”, ujarnya hendak pergi dari sana.


“Makasih ya, Rauf. Kebetulan aku memang lagi haus”, ujarku yang membuat langkahnya terhenti. “Dan maaf, karena pernah mencurigaimu”, lanjutku lagi sambil menatap ke arah langit jingga.


Rauf tersenyum dan juga mengikuti arah pandangku. Ku lihat dia yang tengah menatap langit sore itu. Tiba – tiba, jantungku berdebar, hatiku berdesir.


Ku alihkan pandanganku darinya dan berdiri untuk melanjutkan perjalan ke asrama yang tertunda.


“Ehm, hari sudah sore dan waktu magrib akan tiba. Sebaiknya, kita kembali ke asrama”, setelah berucap seperti itu aku segera berjalan menuju asrama.


Tanpa aku ketahui, Rauf tersenyum sembari memandang punggungku yang semakin menjauh.


Sepanjang perjalanan, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Banyak pasang mata yang menatapku heran, sinis, dan juga geli. Dan aku tak terlalu peduli dengan itu.


Tiba di kamar, aku merebahkan sejenak tubuhku dan akan segera membersihkan diri setelah Yira keluar dari kamar mandi.


Kembali teringat senyuman yang aku lihat dari seorang Rauf yang mampu membuatku terkesima. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum begitu manis. Hatiku kembali berdesir sambil tersenyum sendiri.


Aku beranjak menuju arah balkon sembari menikmati wakto sore yang akan berakhir. Ku lihat masih banyak anak asrama yang berada di bawah. Ada di antara mereka yang sedang berdiskusi, bermain badminton, dan lainnya.


Oh Ya Allah, ada apa denganku? Mengapa aku mendadak menjadi gila karena tidak bisa berhenti tersenyum?


Dan rasa semacam apa yang tengah aku rasakan sekarang? Mengapa sulit untukku pahami?


Mengapa senyumannya membuatku tak bisa berpikir jernih? Ada apa denganku?


Ketika aku asyik berkelana dengan pikiranku sendiri, Yira datang dan menepuk pundakku.


“Astaughfirullah, Ra. Ngagetin aja sih”, gerutuku sambil berjalan masuk ke dalam.


“Udah aku panggil, kamunya aja yang nggak dengar. Malah senyam – senyum nggak jelas. Jangan – jangan mikirin cowok di kantin tadi ya? Cieee”, teriaknya dari arah balkon, namun aku memilih masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


...***...


__ADS_2