For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 30 WAJAH DISEBALIK TOPENG


__ADS_3

Di bawah rindangnya pohon yang ada di halaman belakang villa, aku duduk dengan membawa botol infus bersamaku. Duduk sendiri sembari memandangi langit senja dengan jingganya yang membuatku merindukan seseorang.


Gerombolan awan – awan pun masih setia mengelilingi langit yang mulai menggelap. Sesekali, burung – burung terlihat melintasi langit sore sambil berkicau membentuk sebuah instrumen yang terdengar indah menyapa gendang telinga.


Pandanganku beralih menatap sebuah gelang yang selalu aku kenakan di pergelangan tangan kiriku. Ku tatap benda itu dengan sudut bibir mulai tertarik ke atas. Tangan kananku bergerak membuka gelang tersebut dan menatapnya dengan rasa rindu yang sulit untukku tepis.


Apa kabar, Rauf?


Kamu tahu, ketika aku mulai menyadari perasaanku, tapi harus lebih dulu aku tutup. Dan kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang? Justru, aku semakin menyukaimu.


Apakah ini rasanya mencintai seseorang?


Rauf, aku sendiri sudah lupa, sudah berapa lama komunikasi itu tidak terjalin. Aku harap, kamu tidak pernah terluka.


Ketika aku sibuk memandangi gelang itu, tanpa aku sadari bahwa seseorang tengah menatap ke arahku. Dia berdiri tepat di belakangku sembari menahan keinginannya untuk bertemu denganku sebagai seseorang yang ku rindukan.


Di saat dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri, dia pun maju dan duduk dengan beberapa jarak dariku. Tangannya pun terulur memberikanku segelas air putih hangat.


“Minumlah”, ujarnya dengan nada terkesan datar.


Keningku berkerut sambil menerima gelas tersebut.


“Terima kasih”, sahutku dengan mengalihkan pandanganku ke arah lain.


Kenapa sekarang nada bicaranya terdengar datar cenderung dingin? Kemana nada suara yang lembut tadi? Gumamku di dalam hati sembari menyimpan gelang tersebut di saku rok celana yang ku pakai.


“Untuk sekarang, tinggallah di sini sampai keadaan benar – benar sudah aman. Terlebih, kamu baru sadar setelah tiga hari tidak sadarkan diri”, ujarnya dengan nada yang terdengar khawatir dengan diriku.


Dia mirip banget sama bunglon. Bedanya, dia mahir dalam mengubah nada suaranya.


“Jadi, selama tiga hari lamanya sejak insiden itu aku tidak sadarkan diri? Maaf, kalau selama itu aku merepotkanmu”, ucapku sembari meminum air hangat yang dibawanya tadi.


Hening hingga aku berinisiatif untuk bertanya dengannya. Dengan perasaan ragu bercampur gugup aku pun mulai bertanya padanya.

__ADS_1


“Ketika hiking, bukannya saat itu kamu berhasil tertusuk pisau dan jatuh ke jurang? Tapi kenyataannya, kamu masih hidup?”, aku bertanya dengan terus menyesap air hangat untuk menekan rasa gugup yang menggelayuti hatiku.


“Seperti yang kamu lihat, aku masih hidup”, jawabnya sembari menatap ke langit senja.


“Memangnya, kamu punya berapa nyawa sampai bisa selamat dari ajal? Jangan – jangan, kamu arwah gentayangan yang minta pertanggung jawaban dari aku yang telah membuatmu mati penasaran?”, tanyaku dengan perasaan merinding menyapaku.


Tanpa aku ketahui, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas ketika mendengar penuturanku. Dia berusaha untuk tidak tertawa atas pertanyaan konyol yang aku lontarkan padanya.


“Sebaiknya, kamu istirahat biar bicaranya nggak ngawur”, ujarnya yang segera berdiri dan berjalan menjauh dariku.


Baru beberapa langkah, ucapanku berhasil menghentikan niatnya untuk pergi dari sana.


“Kamu tahu, senyuman kamu mengingatkanku dengan seseorang. Awalnya, aku berpikir bahwa dia yang menolongku, tapi aku lega karena bukan dia. Setidaknya, dia tidak perlu terlibat dengan masalah yang bukan ranahnya”, aku berucap sambil kembali memandangi langit senja.


“Kamu menyukainya?”, pertanyaan dari laki – laki bertopeng itu sontak membuatku menoleh ke arahnya dengan raut sendu yang mulai menghiasi wajahku.


Aku letakkan gelas tadi di atas meja taman dan segera berdiri, lalu berjalan sembari memegang botol infus hingga hanya menyisakan jarak tiga langkah antara aku dengan laki – laki bertopeng itu.


Aku tatap matanya tanpa berniat untuk mengalihkannya. Dengan sebisaku, aku berusaha untuk melihat bagaimana bentuk mata yang tersembunyi di sebalik topeng itu. Dia yang mulai tidak nyaman segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


“Dan apa kamu punya hak untuk mendengar jawabanku?”, jawabnya yang malah membalik ucapanku.


Hah?


Aku terperangah mendengar jawabannya. Rasa penasaran yang semakin besar membuatku memberanikan diri untuk maju dan membuka topeng yang menghalangi penglihatanku. Aku maju dengan masih menyisakan satu langkah dan tanganku segera bergerak untuk membuka topeng tersebut.


Gerak - gerikku ternyata sudah terbaca olehnya. Ketika tanganku hendak meraih topeng itu, dengan reflek ia mundur beberapa langkah hingga tanganku hanya mampu meraih angin yang sedang berhembus.


“Tolong jaga sikap. Dan aku tegaskan sekali lagi, kamu tidak punya hak untuk mendengar jawabanku dan mengetahui tentangku”, ujarnya dengan menekankan kalimatnya.


Dia pun segera berlalu masuk ke vila meninggalkanku yang terdiam tanpa mendapatkan sebuah kejelasan. Aku pandangi punggungnya yang mulai menjauh dan hilang di sebalik pintu.


Bahkan, punggungmu pun kembali mengingatkanku dengannya. Mungkinkah kalian adalah orang yang sama?

__ADS_1


Entah kenapa, aku merasa gugup ketika berada cukup dekat denganmu. Padahal, aku tidak mengenalmu. Rasa gugup yang sama ketika Rauf berada cukup dekat denganku.


Wajah yang seperti apa yang tersembunyi disebalik topeng itu?


Jauh dari jangkauan penglihatanku, laki – laki yang baru saja meninggalkanku, kini ia sudah berada di kamarnya. Menatap ke arah cermin sembari meraba topeng yang melekat diwajahya. Perlahan, tangannya mulai membuka topeng tersebut hingga terlihatlah wajah seseorang.


Dia punya mata yang tajam. Tatapannya membuatku enggan untuk menatapnya dalam waktu yang lama.


Berada cukup dekat dengannya, sungguh menguras energi. Huft.


Laki – laki bertopeng yang tidak lain adalah Rauf, terlihat tengah gelisah. Berulang kali, ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan perasaan yang sulit ia pahami.


“Harus serumit inikah menyukai dan mencintainya?”, gumam Rauf yang ternyata didengar oleh seseorang.


“Jangan lemah, Rauf”, tukas Ghaly yang sudah berada di sebelah kanan sang sahabat.


Ghaly menepuk pundak sahabat baiknya itu untuk menenangkan sahabatnya yang tengah dilanda gundah gulana. Ia paham betul bagaimana perasaan seorang Rauf.


“Berada di dekatnya membuatku ingin mengatakan yang sejujurnya, Ghal. Tapi, ketika aku ingat dengan risiko yang akan terjadi, aku urungkan kenginanku agar bisa melihatnya baik – baik saja. Menurutmu, mungkinkah takdirku akan bersamanya nanti?”, ujar Rauf yang terkekeh sendiri dengan ucapannya.


Ghaly memandang sendu ke arah Rauf yang mulai kehilangan kendali dirinya. Dengan sabar, ia menenangkan sahabatnya dengan memeluknya agar dapat merasakan rasa sakit yang dirasakan sang sahabat.


“Mungkin, itu hanya akan menjadi sebatas angan, Ghal. Karena pada akhirnya, antara aku dan dia yang akan berakhir tanpa bisa dicegah. Dan aku lebih memilih berakhir dengan dia yang bisa meraih impiannya bertemu dengan sang ayah yang sangat ia rindukan. Betapa menyedihkannya hidupku, Ghal”, lirih Rauf yang begitu pilu merasuki pendengaran.


“Tenanglah. Jangan mendahului takdir, Rauf. Allah saja masih merahasiakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, tapi kenapa pikiranmu begitu buruk? Kamu sadar nggak, ucapan kamu barusan sama saja dengan tidak mempercayai Sang Penciptamu, yaitu Allah”, ucap Ghaly yang membuat Rauf terdiam.


Sulit untukku berpikir positif sekarang, Ghal.


*Untuk melindungi Sara, biarlah aku menjadi seorang pecundang yang bersembunyi disebalik topeng.


Setidaknya, ketika Sara sudah siap untuk mengakhiri semuanya, maka aku akan merasa lega meski raga ini harus aku korbankan untuknya.


...**...

__ADS_1


__ADS_2