
Dengan segera, aku menoleh ke belakang sambil terkejut.
“Hah?”, aku tercengang ketika mengetahui bahwa orang yang baru menegurku adalah seorang siswa.
“Kembalilah, kelas akan dimulai”, ujarnya yang hendak berlalu.
“Kamu juga seorang siswa, kenapa bisa berada di sini?”, tanyaku penasaran.
“Haruskah aku jawab?”,
“Loh, kok malah balik tanya sih? Kan status kita sama – sama siswa”, balasku sedikit sinis.
Bukan jawaban yang aku terima, justru ia malah tersenyum. Lalu, ia berlalu pergi. Baru beberapa langkah, ia berbalik.
“Masih terlalu awal jika ingin mengetahui. Memang kita sama – sama siswa, tapi mungkin sedikit berbeda”, setelah mengatakan itu, ia pergi tanpa berbalik lagi.
“Beda apanya? Dia pikir dia siapa?”, gerutuku sambil keluar dari tempat tersebut.
Di perjalanan, aku mencoba mengingat kembali denah sekolah yang sudah aku pelajari. Setelah cukup lama, akhirnya tempat yang ku tuju ditemukan.
“Nah, ketemu”, gumamku sambil bergegas masuk.
Keluar dari kamar mandi, ingatan tentang laki – laki tadi kembali menyapa pikiranku.
Hais, kok malah ingat orang aneh itu lagi sih? Dia siapa coba? Oh, mungkin dia anak guru atau anak pemilik sekolah ini? Makanya dia bisa bebas berkeliaran.
Ketika tiba di kelas, belum terlihat seorang guru di dalam sana.
Huftt, syukurlah belum mulai. Masa iya aku telat di hari pertama, kalau sampai itu terjadi bisa kena omel aku sama abang.
Masih segar diingatanku ketika hari pertama masuk SD, aku telat dengan alasan sepele.
“Bang, kenapa nasi goreng putih sih? Ini juga, kenapa susu vanila?”, ujarku dengan wajah ditekuk.
“Ya ampun, tinggal makan aja, kok susah sih. Nggak keburu, Ra. Nanti kamu telat dan abang semakin telat”,
Aku diam dan merajuk. Tidak ingin berdebat, Bang Arig memilih menuruti kemauanku. Berhubung pagi itu ibu ada keperluan, jadi Bang Ariqlah yang memasak sarapan pagi kami.
“Telatkan, makanya kalau dibangunin nggak usah banyak tingkah”, sungut abangku.
__ADS_1
Di hari pertama, aku memang telat, tapi tidak diberi hukuman, sedangkan Bang Ariq. Nasibnya berbanding terbalik denganku. Ia mendapat hukuman yang cukup menguras energinya.
Mengingat hal itu, aku menggeleng sendiri mengingat tingkahku yang sangat merepotkannya kala itu.
Bang Ariq, ya ampun. Pasti aku sangat menyebalkan kala itu. Hufftt, jadi kangen.
Ku tatap sebuah buku dan pena beserta mainan kecil yang bergantung manis di ujung pena tersebut. Itu adalah pemberian abang sebelum aku pergi ke sini.
Sara kecil, ini buku dan pena. Kamu bisa menulis sesuatu di sana tanpa takut dibaca orang lain. Buku ini terdapat sidik jari di sana.
Oleh karena itu, hanya sidik jari mereka yang terdaftar yang bisa membukanya. Dan antara buku dan pena ini saling terhubung. Ujar Bang Ariq kala itu.
“Unik atau canggih ya? Keduanya mungkin. Tapi, fungsi gantungan mainannya untuk apa coba? Masa iya, cuma sekedar gantungan. Kurang nyaman aku pakainya”, gumamku pelan sambil kembali menyimpan buku dan pena tersebut ke dalam tas.
Kelas dimulai. Suasana kelas pun berubah menjadi hening. Hanya suara sang gurulah yang terdengar hingga tidak terasa waktu istirahat pun tiba. Aku bergegas keluar dan segera menuju sebuah taman yang agak sepi, tempat aku dan Doni bertemu.
Ting…
Sepupu, taman sebelah selatan ya, di sana agak sepi. Bisalah buat bincang serius.
Begitu isi pesan singkat yang Doni kirimkan sebelum istirahat. Sesampainya di sana, aku melihat Doni sudah berada di sana.
Hanya meja tamanlah yang menjadi penghalang bagi kami.
“Adakah temuan yang menarik”, tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
“Sesuai dugaan. Sangat menarik”, balasku sambil memperhatikan lingkungan sekitar.
Terdengar helaan nafas berat dari Doni, terlihat ia sedikit tertekan dengan situasi sekarang ini.
“Maisa, kamu yakin dengan tindakan kamu saat ini? Taruhannya nyawa, Sa”, tanya Doni kembali memastikan niatku.
“Aku yakin, jika ini terjadi padamu, maka kamu juga melakukan tindakan ini. Don, aku hanya ingin kebenaran tentang ayahku, hanya itu”, tegasku sambil berdiri dengan menghela nafas berat.
Jujur, sebenarnya aku pun takut, tapi rasa penasaran bercampur rindu membuatku membulatkan tekad. Apapun yang akan terjadi nanti, akan aku hadapi.
“Bukannya kamu juga ingin mencari ibumu, Don? Gimana kalau seandainya, korban dalam insiden saat itu bukan hanya ayahku, tapi juga ibumu? Apa yang akan kamu lakukan jika dugaanku benar?”, desakku seolah menemukan senjata untuk membuat Doni yakin.
Terlihat perubahan diwajahnya. Bila ku tebak, sepupuku ini pasti sangat ingin bertemu dengan ibunya. Bahkan, ia sengaja sering datang ke rumahku hanya untuk mendapatkan perhatian ibuku.
__ADS_1
“Setiap tindakan, tentu akan ada risiko, Don. Percayalah, kita pasti bisa menemukan titik akhir semuanya”, ucapku seolah permasalahan ini hanyalah sebuah permainan.
“Kamu tahu hal menarik apa yang aku temui di hari pertama? Bila ku tebak, itu semacam ruang rahasia”, aku mulai menceritakan kejadian yang menjanggal tadi pagi.
“Lalu, apa kamu menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk, Sa? Jangan hanya menebak, karena pada akhirnya malah kamu yang terjebak”, jawaban Doni sontak membuatku bingung.
“Terjebak?”, aku bertanya penuh dengan kebingungan.
Aku menebak karena memang hanya itu temuan yang berhasil aku dapatkan. Tapi, apa maksud Doni dengan akhir aku yang terjebak. Sungguh, aku belum memahami cara pikir Doni. Sepupuku ini sungguh membuatku semakin bingung.
“Jangan lupa, Sa bahwa sekolah ini sedikit tak biasa dari sekolah pada umumnya. Semua serba canggih. Kamu yakin, ketika kamu menemukan ruangan itu dan keberadaan kamu tidak diketahui?”, tanya sepupuku sambil menatapku serius bercampur raut cemas.
Aku hanya menggeleng lemah. Mulai menyadari kecerobohanku sendiri. terlebih aku teringat dengan siswa laki – laki yang menangkap basahku. Rasa takut mulai menyelimuti hatiku.
Bagaimana jika dia benar – benar anak dari pemilik sekolah ini? Mungkinkah dia akan membocorkan kejadian tadi pagi?
Ingin rasanya aku menangis, tapi semua sudah terjadi. Aku hanya berharap bahwa dugaanku salah.
“Maisa, apapun yang akan terjadi nanti, sesuai ucapanku bahwa aku adalah perisai dan bayangan tersembunyi milikmu”, jawab Doni mantap dan berhasil membuatku terdiam.
Tidak seharusnya aku mengatakannya pada Doni. Jika saja bisa, aku ingin menyembunyikannya saja dari kamu, Don. Dan tidak akan aku ceritakan semua percakapan ibu dan ayahmu kala itu.
Aku takut. Sangat takut. Seharusnya aku melangkah sendiri tanpa melibatkan orang lain. Don, aku takut pada akhirnya kamu harus terluka, karena aku.
Bisakah aku pamit saja dari dunia ini?
Hembusan angin siang nan hangat yang menerpa diriku terasa dingin menusuk kulitku. Siang yang hangat hanya menyisakan jejak kehampaan. Matahari yang bersinar pun seolah tertutup hingga netraku tak bisa menatapnya walau hanya untuk sekedar memastikan kehadirannya.
Keberanian yang tadinya singgah, kini lenyap tak bersisa. Meninggalkan rasa takut yang mulai bersemayam di relung terdalam.
Ayah, masihkah ada kesempatan? Haruskah aku lanjutkan dengan ketakutan yang entah apa alasannya?
Rasa takut, jika laki – laki itu membocorkan semuanya. Apa yang akan terjadi padaku nanti?
Setelah lama terdiam, aku kembali memantapkan hatiku. Ku tatap wajah Doni, sahabat sekaligus sepupu yang selalu menjagaku. Ku tarik nafas dalam – dalam, lalu mengeluarkannya perlahan seraya memejamkan mata.
“Aku sangat yakin bahwa kita bisa memecahkan teka – teki ini, Don”, ucapku penuh keyakinan.
...***...
__ADS_1