For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 29 DEKAPAN HANGAT


__ADS_3

Mentari pagi kembali menyapa sembari menebarkan cahaya hangat yang menyehatkan tubuh yang tersentuh olehnya. Kicauan burung pun ikut mengiringi alunan nada – nada yang tercipta dari hembusan angin. Gumpalan awan pun terlihat memenuhi ruangan yang ada di langit sana.


Pepohonan pun tampak mulai menari dengan lambaian dedaunan yang semakin memperindah gerakannya. Saling bergerak seirama dengan paduan warna hijau yang begitu memanjakan mata yang memandang.


Indah bukan?


Di balik keindahan langit pagi itu, kedua netraku masih saja betah terpejam dengan seseorang yang tengah menatap ke arahku berbaring dengan sorot mata penuh kerinduan. Rasa bersalah pun mulai menghantuinya hingga tatapannya pun tak pernah lepas dari melihatku.


Ra, ini baru permulaan, tapi kamu sudah terluka. Maaf, karena kelalaianku membuatmu harus berbaring di sana dalam keadaan lemah.


Seseorang yang berada tepat di sebelahnya segera menepuk pundaknya ketika melihat raut sang sahabat yang semakin sendu. Ia tidak tega dan meminta agar sahabatnya segera meninggalkan ruanganku berada.


“Sebaiknya kita tunggu di luar dan biarkan dia istirahat. Tubuhnya masih lemah. Tenanglah, dia akan baik – baik saja, Rauf”,


Laki – laki itu terlihat menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan guna menetralisir berbagai rasa yang berkecamuk dihatinya. Segera dia berlalu meninggalkanku yang masih setia memejamkan mata.


Setibanya dia di kamarnya, segera tangannya terulur mengambil sesuatu yang berada di dalam laci meja belajarnya. Mengambil sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin. Sebenarnya, itu adalah cincin pasangan, namun cincin satu lagi hilang dan tidak tahu di mana sekarang.


Di pandangnya lekat – lekat cincin itu dengan menekan rasa yang mulai kembali bergemuruh. Lalu, dia alihkan pandangannya dari cincin itu untuk menatap sebuah bingkai foto yang terpasang indah di dinding kamarnya.


Setetes air mata pun mulai melewati pipinya. Sudur bibirnya sedikit tertarik ke atas. Dia tersenyum dengan hati perih. Ada sepasang manusia yang tengah tersenyum bahagia di dalam foto tersebut.


Namun, semua itu telah menjadi kenangan yang begitu pahit baginya. Pasangan itu tidak lagi berada di sisinya. Pergi jauh hingga netra ini tidak mampu menangkap walau itu hanya sebatas bayangan.


Abi, apa kabar?


Terkadang, aku masih berharap bahwa kita masih berada di bumi yang sama. Semoga, keajaiban itu menghampiriku agar aku bisa memelukmu untuk pertama kalinya.


Lalu, netranya beralih menatap seorang wanita yang berada di sebelah pria yang dipanggilnya dengan sebutan “Abi” tersebut.


Umi, apa kamu akan menepati ucapanmu untuk kembali ke sisiku? Aku merindukanmu.


Setelah puas, dia pun kembali menyimpan kotak yang berisi cincin tersebut dan berlalu meninggalkan kamarnya.

__ADS_1


Kalian tahu tidak? Kalau cincin yang baru saja Rauf ambil adalah cincin yang sama dengan cincin yang aku temui di kamar ibu.


Tapi, antara aku dan Rauf, kami berdua sama – sama tidak mengetahui keberadaan pasangan cincin tersebut. Biarlah takdir yang nantinya memberitahu kami berdua bahwa cincin itu ada di dekat kami.


...***...


Hamparan bunga yang begitu indah membuatku betah untuk berada di sana. Bermain dan berlari sambil menyentuh setiap kelopak bunga yang aku lalui. Sesekali, aku menatap ke langit sembari meletakkan sebelah tanganku untuk menutupi silaunya sinar yang ia berikan.


Cahaya yang begitu menyilaukan mata itu mulai berangsur memudar. Mulai sirna seiring dengan langit yang mulai mendung dengan awan hitam yang mengelilinginya. Sontak, aku berhenti dan menatap langit itu dengan penuh keheranan.


“Bukannya tadi sangat cerah, kok bisa mendadak berubah?”, aku berucap sambil mengedarkan pandanganku ke berbagai arah yang mulai menggelap.


Tidak lama, aku melihat gumpalan awan pekat itu menjelma menjadi sebuah badai yang sangat menakutkan. Angin bertiup dengan sangat kencang hingga tubuhku seolah ikut melayang bersamanya.


Pusaran angin yang begitu kuat itu mulai berlari ke arah di mana aku berdiri. Aku mundur perlahan sembari menutup mataku untuk menghilangkan rasa takut yang sulit untukku bendung.


Ya Allah, apa yang akan terjadi denganku? Ku mohon, lindungi aku. Ya Allah, aku takut.


Setelah cukup lama, aku membuka kedua netraku dan tepat di hadapanku ada seorang pria paruh baya yang tengah tersenyum ke arahku.


Aku ayunkan kakiku berlari ke arahnya. Tepat ketika aku sudah berada cukup dekat dengannya, aku melambatkan langkahku dengan air mata yang semakin membanjiri wajahku. Pria itu masih setia dengan senyumannya.


“Ayah”, ucapku ketika aku berhasil menggapainya dan memeluknya begitu erat.


Aku menangis dalam dekapannya. Rasanya, sulit untukku percaya bahwa Allah mengabulkan doaku. Allah mengizinkanku untuk merasakan dekapan hangat laki – laki yang sangat aku rindukan kehadirannya.


“Ayah, ku mohon kembalilah bersamaku. Kembali bersama ibu dan abang, lalu kita hidup bahagia, Yah. Ku mohon, jangan pergi lagi”, ucapku begitu lirih yang semakin mempererat memeluk tubuh ayah.


Belaian tangan ayah mampu menenangkan diriku yang begitu takut ditinggalkan. Hatiku menghangat ketika mendengar ucapan sang ayah.


“Berlian, ayah juga sangat merindukan putri ayah yang sangat istimewa ini. Kehadiranmu semakin menambah warna dalam keluarga kita. Jangan menangis dan jadilah wanita tangguh seperti yang ibumu ajarkan”, ujar ayahku yang suaranya mampu membuatku semakin menangis.


“Tapi, aku tidak ingin ayah pergi lagi. Apa tidak bisa seperti ini saja, Yah?”, bergetar bibirku mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


Ayah melepaskan pelukanku, lalu jari – jemarinya terulur untuk menghapus sisa air mata yang masih kentara dipipiku.


“Dengarkan apa yang Ayah katakan, Sayang. Suatu hari, kita akan bersama lagi. Untuk sekarang, cukup nikmati saja proses yang kamu lalui. Ayah yakin bahwa putri ayah bisa melaluinya”, setelah berucap demikian, ayah mengecup keningku dan membelai kepalaku yang tertutupi oleh jilbab.


Aku pejamkan mataku sembari merasakan kehangatan yang mulai menjalar di sekujur tubuhku. Lalu, ketika mataku perlahan terbuka, aku melihat ayah yang mulai menjauh dari jangkauanku tanpa bisa aku meraihnya kembali.


Ayah, aku akan lebih bersabar lagi dalam menunggumu.


Ketika aku berbalik, aku melihat seseorang yang begitu aku kenali. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya ke arahku.


“Rauf”, gumamku pelan sembari meyakinkan diriku lagi bahwa laki – laki yang ada di hadapanku sekarang ini benar – benar Rauf.


“Sara, kembalilah. Aku akan menemanimu dalam mengarungi setiap langkah yang akan dijejaki”, setelah mengatakan hal itu, dia menghilang.


Tidak lama setelah itu, kedua mataku terbuka. Hal pertama yang aku lihat adalah langit – langit ruangan yang begitu asing bagiku. Lalu, tatapanku tertuju pada seseorang yang tengah tertidur di sebuah sofa yang berada di dekat jendela.


Dia? Dia masih hidup?


Laki – laki bertopeng yang menolongku hari itu kembali menolongku?


Siapa dia sebenarnya?


Cukup lama aku memandanginya hingga rasa nyeri kembali menghampiri diriku.


“Astaghfirullah, nyeri banget”, keluhku sembari memejamkan kedua mataku dan meremas seprai untuk menahan rasa sakit yang mulai menjalar.


Keluhanku ternyata memasuki indra pendengarannya. Netranya terbuka dan menatap ke arahku yang tengah menahan rasa sakit. Dia melangkah ke arahku dan berdiri tepat di samping ranjangku.


“Masih sakit?”, dia bertanya dengan nada yang begitu lembut.


Ku buka kedua mataku dan beralih menatapnya yang berjarak cukup dekat denganku.


“Kamu yang menolongku? Kamu masih hidup?”, aku bertanya dengan rasa senang dan bersalah yang menghantamku secara bersamaan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2