
Setitik air mata ikut menetes dipipinya. Bayangan kejadian ketika Ray berumur sepuluh tahun mulai kembali berputar dibenaknya. Ray kecil yang hanya ingin membawa sang ayah, namun harus berakhir dengan pulang dalam keadaan yang begitu memilukan.
Ray terdiam mendengar ucapan Raka yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Hatinya menghangat, karena masih ada yang begitu peduli dengannya. Ditatapnya wajah sang sahabat yang sudah menitikkan air mata, lalu dipeluknya sang sahabat untuk menekan rasa marah yang tadi menyapanya.
Raka membalas pelukan dari Ray sembari menepuk punggung Ray guna menguatkan dan menenangkan sang sahabat yang tengah dilanda kegelisahan. Disela dirinya memeluk Ray, dia melihat wajah pucat dari seseorang yang begitu berarti dalam kehidupan sahabatnya.
Anda harus segera bangun.
Di bawah sinar bulan yang terang di langit malam, mereka saling menguatkan satu sama lain. Memiliki harapan yang sama agar segera menemukan titik temu. Pancaran mata keduanya pun berubah tajam dengan senyum sinis tersungging dibibir masing – masing.
“Pa, Ray akan membantu papa untuk terlepas dari belenggu yang mengikat papa tanpa papa sadari. Istirahatlah, Pa”, Ray berucap sembari membelai wajah sang papa yang sudah memiliki beberapa keriput.
Tidak lama, mereka berdua pun segera meninggalkan ruangan di mana Pak Badir dirawat. Berlalu menuju sebuah tempat untuk bertemu dengan seseorang. Mobil yang membawa mereka, melaju sangat kencang di jalanan yang mulai lengang. Sesekali, laki – laki itu terlihat mendesah sembari menekan gejolak dihatinya.
Tiba di tempat yang dituju, Ray segera keluar dari mobil dengan Raka yang hanya bisa menghembuskan nafas sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak pernah berubah, Ray”, begitulah gumam Raka yang juga ikut keluar dari mobil.
Tamaran cahaya memasuki penglihatan Ray yang baru saja tiba di dalam ruangan. Matanya terlihat menelisik ke segala penjuru sembari mencari keberadaan seseorang yang sebelumnya sudah berjanji untuk bertemu. Orang suruhannya telah berhasil menemukan seseorang yang sudah menolong gadis yang ia sukai.
Derap langkah seseorang terdengar mendekat ke arah di mana Ray berada. Dia tajamkan pendengarannya untuk mengetahui arah kedatangan seseorang yang semakin mendekat. Samar – samar di bawah redupnya cahaya lampu di ruangan itu, muncullah seseorang dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Berjalan sembari menatap ke arah Ray berada.
Hanya menyisakan beberapa langkah di antara keduanya, Ray terlihat mulai menilai seseorang yang sudah ada di hadapannya. Melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut yang berada ditubuh laki – laki bertopeng tersebut. Mencoba untuk melihat bentuk mata yang tersembunyi disebalik topeng itu, namun kegagalanlah yang ia dapatkan.
“To the point”, Rauf yang merupakan laki – laki bertopeng itu segera buka suara ketika melihat lawan bicaranya hanya memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Ray terkesiap dan segera menatap tajam yang membuat Rauf tersenyum miring. Dia berjalan menuju sebuah sofa yang berada di sana dan menjatuhkan dirinya dengan Ray yang masih menatapnya tajam.
“Di mana Sara? Aku tahu, kalau kamu yang membawanya hari itu”, ucap Ray yang juga ikut duduk di sofa, tepat di hadapan Rauf.
Sedangkan Raka, dia memilih untuk memperhatikan keduanya dari kejauhan. Begitu juga dengan Ghaly yang masih berada di sudut lain dengan minimnya cahaya, sehingga Ray dan Raka tidak menyadari kehadirannya.
“Apa haknya kamu mengetahui tentangnya”, ujar Rauf dengan wajah datar yang mulai menghiasi wajahnya yang tersembunyi dibalik topeng.
Ray yang mendengar ucapan dari Rauf mengepalkan kedua tangannya. Dia menatap ke arah Rauf seolah hendak mengulitinya hidup – hidup. Dengan penuh ketegasan, Ray berucap dengan menekankan setiap kata – katanya. “Karena Sara adalah gadisku. Jadi, kembalikan dia sekarang. Aku juga bisa melindunginya”.
Rauf terkekeh sembari menatap Ray dengan tatapan meledek. Sudut bibirnya sedikit tertarik, namun tidak ada yang menyadari hal tersebut. Gadismu?
“Sara adalah tanggung jawabku. Dia akan aman di bawah perlindunganku. Jadi, jika tujuanmu hanya untuk membawanya, sebaiknya tinggalkan tempat ini”.
Ray yang mendengar ucapan Rauf, tidak bisa untuk tidak tertawa. Seringai tipis pun mulai menghiasi bibirnya. “Hahaha, kamu pikir aku akan membiarkan dia bersamamu? Jangan naif, bisa jadi kamu adalah mata – mata yang dikirim oleh pria tua yang mulai berbau tanah itu”, tukas Ray disela tawanya.
Deg
Pria tua berbau tanah? Mungkinkah, Ray tahu siapa yang berada di balik semua ini?
Rauf menatap Ray dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Tangannya terangkat ke atas membentuk sebuah makna lambaian yang membuat Ghaly yang berada di sudut kegelapan segera berjalan menuju ke arah Rauf berada. Ray menatap Ghaly dengan tatapan penuh waspada dan berusaha menebak wajah yang berada di sebalik kain yang menutupi sebagian wajah Ghaly.
Dengan segera, Ghaly memberikan sebuah berkas ke hadapan Ray yang mengerutkan keningnya. Dia menatap ke arah Rauf dan Ghaly dengan tatapan meminta penjelasan. Namun, Rauf hanya tersenyum miring tanpa berniat menjelaskan.
__ADS_1
Tangan Ray segera meraih berkas yang berada dalam sebuah map coklat. Sebuah kertas diambilnya dan mulai membaca tulisan yang tertera di dalam kertas tersebut. Sesaat, matanya menyipit dan beralih menatap ke arah Rauf.
“Kerja sama?”, Ray bertanya dengan kembali membaca isi berkas tersebut.
“Bukannya kita memiliki tujuan yang sama? Lalu, kenapa kita tidak menjalin hubungan yang menguntungkan saja? Kamu adalah anak dari seseorang yang telah menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa dan tempat tinggal. Jika aku tidak salah menebak, kamu menginginkan ayahmu untuk terlepas dari seseorang itu, maka kita adalah partner yang tepat”.
Ray terdiam dengan Raka yang mulai berjalan menuju Ray dan duduk di sebelah Ray. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Raka bertanya kepada Rauf. “Siapa kamu dan kenapa kami harus bekerja sama dengan orang sepertimu?”
“Siapa kami, tentu seharusnya kalian bisa mencerna sendiri. Dan ingat, tujuan kita sama yaitu sebuah kedamaian. Penyelesaian terhadap insiden belasan tahun lalu”, Ghaly lah yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Raka.
“Lalu bagaimana dengan Sara?”, Ray bersuara, karena keinginannya untuk menemukan Sara tidak digubris.
Rauf berdiri dari duduknya. Menatap tajam ke arah Ray yang tidak bisa dilihat Ray. Lalu, Rauf berucap dengan penuh keyakinan. “Seperti ucapanmu sebelumnya, Sara juga gadisku. Jadi, tidak akan aku biarkan siapa pun menyentuhnya bahkan melukainya. Aku sangat mampu melindunginya”.
Rahang Ray mengeras. Dia juga ikut bangkit dari duduknya dan hendak menghajar Rauf yang segera ditahan oleh Raka. “Tenanglah, Ray”, bisik Raka.
Ghaly pun angkat suara melihat perdebatan antara keduanya yang mulai memanas akibat seorang gadis yang tidak lain adalah aku. Mereka yang bukan siapa – siapa diriku, dengan entengnya mengakui hak kepemilikan atas diriku.
Sangat lucu bagiku.
“Masalah Sara, aku tahu itu urusan perasaan. Masalah pribadi tidak seharusnya dilibatkan terhadap sebuah perkara serius. Berhubung, kita memiliki tujuan yang sama, maka sebaiknya kalian berdua kesampiangkan ego dan keinginan kalian. Berjalan searah juga akan semakin meningkatkan keselamatan dari Sara hingga ketika puncak masalah dimulai, Sara akan mengakhiri ini semua”, ucap Ghaly yang disetujui oleh Raka.
“Hubungan mutualisme, itulah yang lebih penting. Lagi pula, kalian berdua sama- sama bisa melindungi gadis itu dengan cara kalian sendiri”, timpal Raka.
__ADS_1
Rauf dan Ray terdiam. Mereka berdua hanyut dalam pikiran mereka sendiri. dan beberapa menit kemudian, kesepakatan pun terjadi. Kerja sama antara dua manusia yang tidak saling mengenal mulai berjalan seaarah. Meski Rauf mengenal partnernya, namun ia tidak dekat dengan Ray selama berada di sekolah. Terlebih, dirinya mengenakan topeng, sehingga Ray tidak akan mengenalinya.
...***...