For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 38 SEBUAH BUKU


__ADS_3

Deburan ombak di bawah langit biru terlihat begitu bersemangat. Menggulung semua yang dilaluinya dan membawanya berbalik ke arah laut. Pasir putih dibibir pantai tampak basah oleh hempasan ombak yang tidak pernah kenal lelah. Terus menyapu hingga meninggalkan kesan candu untuk terus memperhatikannya.


Netra yang sudah terjaga sejak fajar menyingsing tidak pernah berhenti menatap ke arah laut. Tiupan angin laut pun tidak luput menyapaku. Hangatnya mentari pagi dengan kerumunan awan yang tampak tersusun rapi di langit sana, lagi – lagi membuat mata ini betah menatapnya.


Segelas coklat panas pun menemani pagiku. Tersenyum, kala kicauan burung terdengar samar oleh suara ombak yang menandinginya. “Ibu, pagi ini terasa sedikit menenangkan”, gumamku sembari melihat beberapa nelayan yang sudah siap memulai aktivitasnya.


Ketika aku tengah asyik melihat para nelayan yang terlihat begitu semangat mencari rezeki, Yira datang dan duduk di sampingku. “Makanlah”, ucap Yira yang menyodorkan sepiring nasi goreng yang ia masak sendiri.


Tanganku terulur meraih piring itu dengan masih memperhatikan para nelayan. “Kamu sering ke sini, Ra?”, aku bertanya sambil mulai menyuapkan nasi goreng itu ke mulutku.


“Iya, Sa. Tempat ini mengajarkanku banyak hal. Ketika aku merasa takdir berlaku kejam denganku, aku akan ke sini. Menyadari bahwa hidup tidak pernah semulus itu. Penuh lika – liku yang akan menjadi warna dalam hidup kita”, ujar Yira yang membuat hatiku menghangat.


Aku juga sering berpikir bahwa takdir terus mengajakku bersenda gurau. Tapi sekarang, aku paham bahwa takdir tidak selamanya akan membuat kecewa.


Aku dan Yira pun menikmati pagi itu dengan menikmati pesona laut yang begitu memikat. Terus mengikat hingga sulit untuk berpaling dari menatapnya. Kami hanyut dengan pikiran sendiri hingga suara seseorang membuyarkan lamunan itu.


“Nak Yira, terima kasih sudah mau main ke sini lagi”, ujar seorang wanita paruh baya yang juga ikut duduk di samping Yira.


“Seharusnya, Yira yang bilang terima kasih. Sejenak, Yira bisa menjadi lebih tenang. Terima kasih, karena Bu Asma selalu menyambut kedatanganku”, jawab Yira sembari memeluk wanita paruh baya tersebut.


Aku tersenyum melihat kedekatan antara Yira dengan Bu Asma, salah satu warga yang tinggal di sini. Melihat mereka, aku jadi ingin peluk ibu.


“Ra, Ibu berdoa semoga kamu bisa bertemu lagi dengan abangmu. Tidak banyak yang bisa Ibu lakukan untuk membantu kamu”, ujar Bu Asma yang mulai membelai kepala Yira.


“Cukup dengan Ibu berdoa, itu sudah jauh lebih cukup”, balas Yira yang begitu nyaman dipelukan Bu Asma.

__ADS_1


Sapuan angin hangat membuatku betah meresapinya. Menghirupnya dengan sebuah harap agar beban ini segera terangkat. Ya Allah, tidak pernah bosan aku meminta, berharap, dan berdoa padamu. Izinkanlah diri ini untuk bisa bertemu dengan seseorang yang begitu ku rindukan. Ayah, aku ingin bercerita dengannya.


“Sa, sebaiknya kita pergi sekarang”, ujar Yira menepuk pundakku.


Aku pun segera mengakhiri sarapan pagiku dan berpamitan dengan Bu Asma. “Bu, terima kasih sudah mengizinkan aku menginap di sini”, ucapku sembari menyalami Bu Asma.


Bu Asma segera memelukku. “Ibu berdoa agar kamu segera bertemu dengan ayahmu. Semoga, ketika nanti kamu bermain lagi ke sini, cerita bahagialah yang Ibu dengar”, ujar Bu Asma begitu tulus sambil mengusap punggungku.


Kalian tahu tidak? Bu Asma adalah sosok yang begitu berarti dalam kehidupan seorang Yira. Kala itu, Yira sedang frustasi. Pikirannya yang sedang tidak jernih mengantarkannya ke tempat di mana Bu Asma tinggal. Dia berteriak untuk melepas rasa sesak dihatinya. Terus melangkah hingga ia mulai masuk ke laut.


Gulungan ombak pun menyapu tubuhnya. Membawanya ke arah laut dengan tubuh yang memilih berserah diri. Jika ia matipun, dia tidak peduli. Namun, kematian belum menjumpainya. Warga setempat segera menolong Yira. Alhasil, Yira berhasil diselamatkan dan tinggal bersama Bu Asma.


“Titip salam untuk Bapak ya, Bu. Kami pamit, Bu. Assalamu’alaikum”, ucap kami berdua sembari melambaikan tangan ke arah Bu Asma.


Hiruk pikuk suasana sekolah sudah mulai mereda. Kelas pun sudah dimulai. Aktivitas sekolah itu berjalan seperti biasa. Tidak terlihat ada masalah di sana. Padahal, banyak siswa yang tidak berkabar sejak penyerangan itu, namun tidak ada yang membahasnya seolah itu adalah fenomena biasa.


Seseorang yang sudah siap dengan topengnya tampak mulai berjalan menuju lorong misterius. Berjalan bersama seseorang yang berpakaian selayaknya seorang ninja. Mereka berjalan melalui jalan yang jarang digunakan oleh para siswa. Kamera CCTV pun sudah berhasil mereka sadap, sebelum memulai aksi tersebut.


“Rasanya nggak adil, jika kamu mengetahui wajahku, sedangkan aku tidak tahu bagaimana wajahmu”, sungut Ray yang memakai pakaian mirip ninja tersebut.


“Nggak penting. Lagi pula, apa untungnya kamu tahu wajahku”, tukas Rauf yang merupakan wajah disebalik topeng tersebut.


Ray hanya mendengus kesal mendengar jawaban laki – laki bertopeng itu. Sedangkan Rauf, dia hanya menampilkan ekspresi datar cenderung dingin. Dia terlihat acuh tak acuh, karena baginya itu tidak penting.


Untuk melancarkan rencana mereka, Ghaly dan Raka memiliki peranan membuat beberapa kekacauan. Langkah mereka semakin cepat, setelah Ghaly menginformasikan bahwa tidak ada orang di lorong misterius itu. Mereka berhasil membuat seseorang bernama Regal keluar dari sana.

__ADS_1


Tidak lama, mereka akhirnya sampai. Ray yang memiliki akses masuk ke sana semakin mempermudah rencana mereka. Mereka pun sudah tiba di depan ruangan di mana Cyra dibunuh. Segera mereka masuk ke dalam. Tatapan mereka, sama – sama jatuh ke ruangan rahasia yang hari itu juga membuatku curiga.


“Al, sebenarnya siapa kamu?”, Ray bertanya, namun Rauf memilih diam.


“Bahkan kamu mengetahui ruang rahasia ini?”, lagi – lagi Ray tidak mendapatkan jawaban dari Rauf.


“Diamlah. Fokus ke tujuan. Jangan banyak tanya”, jawab Rauf datar.


Sebelumnya, Rauf meminta Ray untuk memanggilnya dengan sebutan “Al” untuk memudahkan komunikasi di antara mereka. Tidak lama, mereka pun berhasil masuk ke dalam ruangan yang diamankan oleh password tersebut.


Netra mereka menyapu ruangan yang cukup besar tersebut. Berpencar untuk mencari sesuatu yang dirasa penting. Rauf pun memilih menjelajahi rak buku yang ada di sana. Namun, tidak ada yang mencurigakan.


“Ray, kamu pernah masuk ke sini?”, tanya Rauf yang berada cukup dekat dengan Ray.


Ray mendengus kesal. “Kalau aku pernah ke sini, tentu aku tidak akan seperti orang kebingungan”, jawab Ray sinis.


Mereka terus menjelajahi setiap sudut ruangan tersebut. Sudah hampir satu jam, namun mereka belum menemukan apapun. Sedangkan di luar ruangan rahasia tersebut, aku sudah berdiri dengan menatap pintu yang tertutup rapat. Dahiku berkerut, karena aku tidak tahu passwordnya.


Jangankan password pintu ini, lorong aneh itu saja bisa terbuka pun aku belum tahu penyebabnya.


Tangan kiriku pun mulai meraba pintu tersebut berharap pintu itu terbuka nantinya. Harapan itu pun menjadi nyata. Pintu itu tampak mulai terbuka yang membuatku segera menarik tanganku menjauh dari pintu tersebut.


“Kok terbuka?”, gumamku yang merasa heran. Ku lihat tangan kiriku dan beralih menatap ke arah pintu yang sudah terbuka. “Kok aku berasa kayak punya kekuatan gitu ya?”, aku kembali bertanya dengan diriku sendiri.


Aku pun masuk ke dalam sana. Mulai menelisik apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Tanpa aku sadari, ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan gerak – gerikku. Aku terus menjelajahi ruangan tersebut hingga tatapanku jatuh pada sebuah buku.

__ADS_1


__ADS_2