
Langit malam dengan pancaran cahaya bulan masih setia menemani malamku. Sendiri sambil menyelami segala masalah yang tengah aku temui. Memeluk diri sendiri di kala aku tak bisa memeluk ibu ketika aku sedang menangis.
Tatapan sendu aku berikan pada langit malam. Menatapnya seolah aku sedang memberitahukan padanya bahwa aku tengah bersedih. Terus menatapnya hingga buliran bening itu kembali menyapaku.
Bu, tidak pernah terpikirkan olehku, jika perjalanan hidupku akan serumit ini. Bayangan hidup dengan tenang, seketika sirna setelah percakapan ibu dengan paman kala itu.
Iya, aku yang salah. Tidak seharusnya aku menguping pembicaraan orang. Dan inilah akibat yang harus aku terima.
Kehidupan putih abu – abu yang aku harapkan bisa menjadi kenangan terindah, justru akan menjadi bagian cerita menyedihkan bagiku.
Bu, doakan putrimu ini agar bisa memecahkan teka – teki ini dan membawa ayah bersama kita lagi.
Ucapan Firman di taman sekolah, justru menambah beban pikiranku. Ada rasa keterkejutan ketika mengetahui sepenggal kisah mengenai insiden yang terjadi belasan tahun silam. Sulit untukku percaya, tapi itulah fakta sesungguhnya.
Ayahku adalah salah satu korban yang selamat dari insiden itu. Namun, ayahku memilih untuk membawa ibuku dan aku yang masih berusia satu tahun ke sebuah tempat yang jauh, karena kami terpisah dari warga lainnya. Jika melarikan diri ke kampung halaman, maka sama saja dengan bunuh diri.
Ketika usiaku tujuh tahun, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ibuku dibunuh oleh kelompok misterius. Aku yang saat itu sedang berada di dalam kamar hanya bisa menangis melihat ibuku sudah tidak bernyawa lagi.
Tidak lama, ayahku datang dan segera membereskan jasad ibuku. Bisa ku lihat, ada binar kesedihan yang berusaha ia tutupi dariku. Ayah segera meraihku dengan membawa jasad ibu untuk segera dimakamkan.
Setelah itu, ayah membawaku pergi dari sana. Dan ketika aku hendak masuk SMA, di saat itulah ayah mengatakan bahwa pemilik SMA ini ikut andil dalam insiden itu, namun dia hanyalah sebagai pemain untuk memuaskan ambisi seseorang.
Tepatnya, dalang sesungguhnya masih belum diketahui. Tapi, ada satu orang yang mengetahui siapa yang bergerak di belakang Pak Badir. Dia adalah ayahmu, Pak Rizwan.
Ketika ayah mendengar bahwa putri Pak Rizwan masih hidup, ia segera memintaku untuk mencari dan melindungimu. Untuk detail insiden itu, ayah masih bungkan. Dan hanya itu yang aku tahu.
Awalnya, aku sangat yakin bahwa Pak Badir adalah dalang utamanya. Tapi, fakta yang Firman katakan padaku membuatku semakin tidak berdaya.
Peristiwa belasan tahun silam begitu meninggalkan banyak jejak luka bagi banyak orang. Ingin rasanya aku melambaikan tangan pertanda menyerah, tapi ada sosok malaikat yang sangat ku nanti kehadirannya. Namun, dia antara ada dan tiada sekarang.
“Ya Allah, tidak adakah kesempatan untukku bertemu dengan ayah? Tidak adakah harapan untukku melihatnya dalam bayangan nyata?”, gumamku sembari menatap langit malam dengan hati kosong.
__ADS_1
Tiba – tiba, aku teringat dengan secarik surat yang aku terima hari itu. Tadinya, aku ingin memberitahukan perkara surat itu kepada Doni, namun kehadiran dan perkataan Firman membuatku melupakan surat itu.
Segera ku ambil surat itu di dalam buku pemberian Bang Arig, karena jika aku menyimpan di laci atau dalam tas tidak akan aman.
“Lorong misterius, aku harus masuk lebih dalam ke sana. Aku tidak tahu benda apa yang dimaksud oleh si pengirim surat, tapi aku yakin cukup membawa diri saja, aku bisa menemukan apa yang tersembunyi di dalam lorong tersebut”, gumamku sambil tersenyum smirk.
...***...
Semilir angin pagi kembali menerpa setiap kulit yang dilalui. Alunan nada – nada yang diciptakan oleh hembusan angin melahirkan tempo gerakan yang seirama oleh setiap tumbuhan. Rumput liar pun juga ikut menari mengikuti instrumen pengiring.
Pagi yang cerah dengan senyum yang merekah indah yang mengembang di bibirku tatkala aku memandang hamparan bunga di taman dekat kelasku. Melihatnya, dari sebalik jendela. Untuk sejenak, aku kembali berperang dengan diriku sendiri.
Misteri yang awalnya aku kira akan semenarik dan semenyenangkan untuk ditaklukkan, seperti yang disajikan oleh film yang bergenre action, misteri, atau dektektif. Ternyata, sangat menakutkan.
Sebenarnya, apa alasan Pak Badir sangat mengharapkan kematianku? Mungkinkah, karena sebuah dendam? Tapi, dendam apa?
Aku harus menemukan kunci dari misteri ini.
Dengan tidak berperasaan, dia menyentil keningku dengan pena yang ada di atas mejaku. Tersenyum ke arahku dengan senyum yang sangat menyebalkan.
“Sakit, Don”, sungutku sambil mengusap keningku dengan mata yang menatap tajam ke arahnya.
“Pagi udah melamun. Anak gadis kalau melamun pagi itu bisa sulit dapat jodoh”, ucap Doni sambil mengikuti arah pandangku tadi.
“Kalau ngomong jangan asal ceplos. Pasti ini kamu ketularan teman kamu si Firman itu. Udah mulut kamu remnya sering blong, sekarang tambah blong”, tukasku sambil melipat kedua tanganku di dada.
“Kata siapa sulit dapat jodoh, jadi orang itu jangan gampang percaya, Don. Riset dulu teorinya, baru deh percaya”, lanjutku yang masih kesal.
“Indah banget taman di sebelah kelas kamu, Sa. Memanjakan mata dengan aneka warna dan kelopak bunga yang terlihat cantik”, ujar Doni sambil menatap penuh kekagumam.
Aku menatapnya dengan tatapan jengah.
__ADS_1
“Ada apa kamu ke sini, Don? Apa kamu udah tahu siapa laki – laki yang menolongku ketika hiking?”, aku bertanya dengan penuh harap.
Doni menggeleng pertanda dia belum menemukan orang yang telah menjadi pahlawanku di hari itu. Wajahku menjadi lesu, sudah seminggu lebih acara hiking berlalu, namun identitas laki – laki bertopeng itu masih belum ditemukan.
“Terus ngapain kamu ke sini, kalau nggak bawa berita penting?”, tanyaku lagi yang membuat Doni kembali menyentil keningku yang membuatku segera memukul kepalanya dengan buku yang ada di atas mejaku.
“Ampun, Sa”, pintanya ketika tanganku tanpa henti memukulinya.
“Lain kali, jangan ngelamun pagi – pagi, Sa. Olengkan jadinya. Kamu lupa hari ini ada acara amal? Kan kita udah janjian kemarin buat lihat acaranya barengan”, jelas Doni yang membuatku segera menarik tanganku dari kepala Doni.
Seketika, aku teringat dengan acara amal yang akan diadakan hari ini. Segera ku meraih tas ranselku. Sebuah kertas kembali jatuh dari dalam tasku yang ternyata belum aku resleting.
“Secarik kertas lagi”, gumamku ketika melihat sebuh kertas sudah tergeletak di bawah mejaku.
Doni hanya memandangiku sambil menunggu penjelasan dariku. Aku pun segera membuka kertas tersebut dengan kening berkerut.
Datanglah ke acara amal ketika acara akan berakhir. Pastikan kamu datang dengan sepupumu. Tujuanku memintamu datang di akhir agar kamu tidak perlu menonton drama yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Cukup kamu menonton pertunjukkan yang akan aku tampilkan di akhir acara. Aku yakin, kamu pasti akan terkejut sekaligus senang.
“Ada apa, Sa?”, Doni bertanya sambil merebut kertas yang tadi aku baca.
“Sebuah pertunjukkan? Itu artinya ada orang lain yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita, Sa”, lanjut Doni menatap ke arahku.
Aku hanya diam sembari mengambil surat sebelumnya dan memberikannya pada Doni.
“Sebelumnya, dia juga pernah mengirimkanku sebuah surat”,
Doni segera meraih kertas tersebut dan membacanya. Sudut bibirnya tertarik dengan sorot mata yang berubah tajam.
“Aku yakin, dia tahu banyak tentang sekolah ini bahkan insiden belasan tahun itu, Sa. Kita harus mencari tahu siapa pengirim surat itu”.
__ADS_1
...***...