For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 15 SECERCAH HARAPAN


__ADS_3

Langit pagi yang masih menyisakan rintik hujan setelah hampir semalaman turun tanpa jeda. Menguarkan aura dingin yang begitu menusuk kulit yang dilaluinya. Kicauan burung pagi pun tidak lagi terdengar seolah mereka masih bergelung indah di rumah mereka.


Pancaran sinar matahari masih saja enggan untuk menyinari bumi yang sudah basah sejak semalam. Sesekali, rintik air hujan masih menyapa dedaunan yang melekat pada ranting mereka. Berayun – ayun oleh tiupan angin pagi yang sangat kentara dinginnya.


Berkali – kali, aku menggosok kedua telapak tanganku untuk menetralisir rasa dingin. Sesekali, aku bersin ketika sedang memakan sarapan pagiku. Menu sarapan pagi kali ini adalah nasi goreng. Di asrama ini, siswa tidak perlu memasak, karena akan ada pihak catering yang akan mengantarnya.


Ku raba keningku yang sedikit panas sambil meminum air hangat untuk melegakan tenggorokan yang sedikit terganggu. Sungguh, rasanya tenagaku sedikit berkurang dari hari biasanya.


“Sepertinya aku akan demam”, gumamku setelah menghabiskan sarapanku.


Meskipun tubuhku kurang sehat, aku tetap memilih untuk pergi ke sekolah hari ini. Rasanya, rugi saja jika aku melewatkan pelajaran hari ini.


Setelah cukup lama berjalan dari asrama menuju sekolah, akhirnya aku sampai di kelas. Aku segera duduk dan mulai merebahkan kepalaku di atas meja. Cuaca di luar masih saja mendung dengan rintik hujan yang tidak ada habisnya.


Aku rindu denganmu, Bu. Di saat aku demam, kamu akan memelukku dan merawatku dengan penuh kasih sayang.


Hari ini, teman yang semeja denganku tidak hadir. Gadis itu bernama Daneen. Beberapa menit yang lalu, teman sekamarnya datang memberikan surat izin, karena gadis itu sedang demam.


Ternyata, bukan hanya aku saja yang demam hari ini.


Tiba – tiba, seseorang datang menghampiriku yang membuatku segera beralih melihat orang tersebut.


“Ada apa, Mawar?”, tanyaku ketika melihat Mawar teman sekelasku meletakkan sesuatu di atas mejaku.


“Ada seseorang yang menitipkan ini padaku. Dia bilang, kamu harus meminum semua obat yang sudah ia beli”, ujar Mawar yang membuat keningku berkerut.


“Obat? Memangnya, siapa yang lagi sakit, War? Aku sehat kok”, jawabku sambil menegakkan kepalaku dan beralih menatap bungkusan yang sudah ada di atas mejaku.

__ADS_1


Mawar tidak menjawab, melainkan ia meletakkan punggung tangannya di keningku.


“Kamu demam, Sa. Masih juga ngeyel. Mending kamu pulang aja sekarang dan jangan lupa minum obatnya”, ucap Mawar segera berlalu menuju tempat duduknya.


“Kamu tahu siapa yang kasih semua obat – obatan ini, War?”, aku bertanya sambil membuka kantong kresek itu dengan mata terkejut.


Ya ampun, banyak banget obatnya. Dia pikir aku penyakitan apa. Gerutuku, karena disangka orang yang berpenyakitan.


“Aku nggak tahu, Sa. Yang aku tahu, dia seorang laki – laki dengan kepala yang tertutupi topi dan mengenakan masker diwajahnya”.


Sebenarnya siapa yang ngasih aku obat segitu banyaknya? Belum lagi kemarin aku dapat surat dari pengirim misterius.


Ya Allah, mengapa hari – hariku penuh dengan misteri dan misteri. Tidak bisakah hidupku aman, damai, dan sentosa?


...***...


Di sebuah taman yang cukup jauh dari keramaian sekolah, terlihat seorang laki – laki yang tengah duduk sambil menatap langit pagi yang masih menurunkan rintik hujannya.


Duduk sendiri dengan ditemani hembusan angin pagi yang begitu dingin. Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki seseorang yang ia tahu betul siapa yang datang.


“Sudah kamu berikan, Ghaly?”, tanya laki – laki itu dengan masih menatap lurus ke depan.


Seseorang yang dipanggil Ghaly itu segera duduk di sebelah laki – laki tadi. Ia menepuk pundak laki – laki itu sambil menjawab pertanyaannya.


“Sudah aku berikan. Tadi, aku menitipkannya kepada teman sekelasnya. Jadi sekarang, pasti sudah ia terima”, ujar Ghaly sambil menatap laki – laki di sebelahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Kamu begitu menyukainya Rauf?”, lanjut Ghaly dengan melontarkan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas dari seorang Rauf yang terlihat tengah berusaha menetralisir rasa yang membuatnya sulit bernafas.


“Aku sangat menyukainya, tapi sulit untuk bisa bersamanya. Untuk saat sekarang, hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya”, balas Rauf lagi.


Ghaly bisa menangkap aura kesedihan di wajah sang sahabat. Ia dengan Rauf, sudah berteman sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kala itu, Ghaly menjadi korban tabrak lari. Ghaly yang hidup sebatang kara, merasa sangat berterima kasih kepada Rauf karena telah menolongnya.


Lama berteman, ia sudah hafal betul bagaimana lika – liku kehidupan yang dilalui oleh seorang Rauf. Dengan senang hati, ia pun akan selalu menawarkan bantuan agar bisa meringankan beban temannya itu.


“Hidup yang kamu lalui begitu rumit. Jika aku yang ada diposisimu, belum tentu aku mampu melewatinya. Terlebih, harus berpisah dengan seorang ibu dalam kurun waktu yang tidak diketahui”, ucap Ghaly sambil mengikuti tatapan Rauf ke depan.


“Adakah secercah harapan untukku bisa bersamanya, setelah kasus ini benar – benar selesai?”, Rauf bertanya dengan hati perih.


“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika Allah mengizinkannya terjadi. Tidak ada permasalahan yang akan abadi tanpa adanya sebuah penyelesaian. Tidak ada harapan yang hanya akan menjadi angan, jika pemilik semesta ini mengabulkannya. Percayalah, dibalik luka dan duka yang kamu rasakan, ada seberkas cahaya yang tengah menanti kehadiranmu”, ucapan Ghaly membuat Rauf sedikit merasa lega.


“Iya, aku percaya bahwa takdir Allah tidak pernah sia – sia”, ujar Rauf sambil melihat ke arah Ghaly.


“Terima kasih, Ghaly. Telah menjadi teman berbagiku selama ini. Selalu menjaga janji dan tidak pernah mengkhianati kepercayaanku”, lanjut Rauf dengan mendapat tepukan di bahunya dari Ghaly.


“Aku akan membantumu sebisaku. Aku akan selalu di sisimu dan menemanimu memecahkan misteri ini. Dan jika Allah mengizinkan kita untuk berganti posisi, dengan senang hati aku akan menerimanya, Rauf. Kamu dengan gadis itu, sama – sama berada di situasi yang sulit”.


“Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu, Ghaly. Di saat tidak ada yang bisa aku percaya, kamu selalu membuatku percaya”.


“Sekarang, kita fokus ke tahap penyelidikan berikutnya. Mengumpulkan banyak bukti agar bisa menjerat si tua bangka itu dan memastikan bahwa gadis itu tidak dalam bahaya. Selain si tua bangka itu, tentu ada seseorang yang memiliki andil besar dalam kasus ini”, ucap Ghaly panjang lebar.


Mereka kembali melanjutkan obrolan mereka seputar keseharian mereka, setelah lama tidak bertemu. Ghaly sengaja datang ke sini ketika ia mendengar dari kakek Rauf bahwa Rauf dalam posisi yang serba salah. Oleh karena itu, ia segera menyusul Rauf.


Berusaha untuk menenangkan sahabatnya. Dan kembali pada misi memecahkan misteri yang sudah belasan tahun belum ada kesudahan. Bahkan, malah semakin memanas ketika kelompok misterius itu mengetahui bahwa gadis itu masih hidup.

__ADS_1


Gadis yang nantinya akan memecahkan teka – teki ini. Gadis yang kehadirannya sangat dinanti oleh banyak orang. Namun, tidak ada satu pun orang yang mengetahui identitas gadis itu dan di mana dia sekarang.


...***...


__ADS_2