
Hembusan angin malam mulai menyentuh kulit seseorang. Ia adalah seseorang yang menjadi salah satu alasan untukku bertahan. Pandangannya hanya tertuju pada langit malam yang terang dengan bercahayakan sinar bulan.
Bayang – bayang masa lalu kembali menghantui pikirannya. Masih sangat jelas ia mengingat bagaimana seorang wanita yang sangat ia sayangi harus meninggalkannya tanpa bisa ia cegah. Ia hanya bisa berteriak sambil berusaha mengejar wanita tersebut.
“Umi… umi… umi… jangan pergi!”, teriak Rauf kala melihat ibunya pergi.Wanita itu terlihat menoleh ke arahnya sambil tersenyum pahit di bawah guyuran hujan yang mulai membasahi tubuhnya.
“Alfa, putra umi. Dengarkan umi, kita akan bertemu lagi nanti. Ketika waktu itu telah tiba, kita akan kembali bersama. Sekarang, usia kamu sudah delapan tahun dan sudah bisa menjaga diri. Umi pergi, karena sebuah alasan yang belum saatnya kamu tahu. Umi pamit”.
“Tidak, Umi. Alfa belum bisa menjaga diri. Alfa hanyalah seseorang yang penakut. Jangan tinggalkan Alfa, Umi. Jangan pergi”, terdengar rintihan dari seorang anak laki – laki yang begitu rapuh.
“Umi… jangan pergi. Ku mohon kembalilah dan peluk aku”, lirihnya dan segera sang kakek memeluk erat tubuhnya.
Begitu jelas, ia begitu merindukan sosok ibunya. Sesekali, ia terlihat menghela nafas panjang sambil menekan rasa perih yang kembali ia rasakan.
Umi, bagaimana kabarmu? Apakah kita masih berada pada dimensi yang sama? Apakah kamu akan menepati ucapanmu bila kita akan bertemu kembali?
Umi, aku sudah menemukannya. Tidak lama setelah kepergianmu, kakek segera memintaku untuk mencari gadis yang umi maksud.
Dia aman, Umi. Lalu, perlindungan semacam apa yang harus aku lakukan? Apakah cukup dengan mengorbankan nyawaku?
Jika itu cukup dan membuatnya selamat, maka akan aku lakukan. Umi, izinkan aku menyukainya dan melindunginya karena keinginanku, bukan karena permintaanmu.
Cukup lama dia memandangi langit malam yang begitu indah hingga sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah lekungan. Dia tersenyum di sela rasa sakit yang menyayat hatinya. Sosok sang ibu yang begitu ia rindukan seolah terlukis di langit malam.
__ADS_1
Tangannya terangkat ke atas seolah hendak menjangkau bayangan sang ibu yang seakan – akan memang berada di langit malam. Lalu, setitik air mata mulai jatuh menyapa pipinya. Ia menangis di sela senyum yang masih mengambang dibibirnya.
“Umi, ku mohon kembalilah”, Rauf berucap sambil menurunkan tangannya dan menghapus jejak air mata yang tadi sempat singgah dipipinya.
Dia pun segera berbalik untuk menuju kamarnya. Ketika sudah berbalik, ia terlihat terkejut dengan kehadiran Ghaly di sana. Dia hanya diam di tempat dengan Ghaly yang mulai berjalan maju ke arahnya.
“Rauf, aku tahu kamu begitu merindukan umimu. Percayalah, jika takdir akan selalu berlaku adil”, ucap Ghaly dengan tangan yang terulur untuk menepuk pundak sang sahabat.
Laki – laki itu tersenyum membalas ucapan sang sahabat. Tangannya pun terulur untuk menepuk pundak Ghaly.
“Hidup adalah tentang memilih. Kita tidak bisa memaksakan harus memiliki semuanya. Umi pergi, lalu takdir mempertemukanku dengannya. Kamu benar, Ghal. Takdir akan selalu adil. Terima kasih karena telah menjadi seseorang yang bisa ku percaya”, ujar Rauf sambil kembali menoleh menatap langit malam.
Ghaly juga mengikuti arah pandang Rauf. Hatinya terasa nyeri, ketika ia kembali mengingat bagaimana ia harus kehilangan orang tuanya. Malam ketika ayahnya memutuskan pulang ke rumah sebentar untuk mengambil keperluan sang ibu, rumah sakit tempat ibu melahirkannya tiba – tiba di serang oleh kelompok misterius.
Ibu yang kala itu sedang menggendongnya berusaha untuk bangkit dari ranjangnya, ketika mendengar suara alarm dan suara keributan. Dengan tertatih, ibu membawanya untuk keluar, namun langkahnya di hadang oleh seseorang yang mengenakan jubah yang menutupi sebagian wajahnya.
Sebelum pergi, berulang kali sang ibu mencium dengan linangan air mata membasahi wajah bayinya. Sebuah kertas pun terselip dengan satu kata yang tertulis di sana. Ghaly, kata itulah yang ibu tulis.
Tidak lama setelah itu, rumah sakit itu terbakar dengan sang ibu yang sudah berada di dalam sana. Menjerit sembari menahan rasa sakit akibat luka tusukan dan api yang mulai menyentuh kulitnya. Suara jeritan saling sahut – menyahut mengiringi kobaran api tersebut.
Ghaly yang hanyut dengan lamunannya membuat Rauf menepuk pundaknya. Menatap sang sahabat dengan tatapan penuh tanya.
“Ada apa, Ghal?”,
__ADS_1
“Aku hanya tidak tega melihat sahabatku ini murung”, sahut Ghaly sambil sedikit tertawa. Tawa penuh kebohongan.
“Katakan jika kamu sudah siap. Seperti kamu yang selalu membantuku, maka izinkan aku membantumu juga”, ucap Rauf sembari berlalu meninggalkan Ghaly.
“Akan aku ceritakan ketika masalahmu sudah selesai, Rauf”, raut wajahnya mulai sendu.
“Aku percaya bahwa kamu memiliki alasan untuk belum sepenuhnya terbuka denganku. Mungkin luka itu sangat dalam. Aku pun begitu, masih banyak yang aku rahasiakan darimu. Ketika semua sudah mulai membaik, maka kita akan bercerita sembari menikmati waktu, walau masalah yang ku hadapi belum terselesaikan”.
Setelah itu, Rauf berlalu dengan Ghaly yang menatap punggung sahabatnya dengan berbagai rasa. Dan ikut berlalu dari sana menuju kamarnya.
...***...
Malam semakin larut dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kesunyian dan keheningan pun menjadi saksi bahwa sudah tidak ada lagi kehidupan di sana. Hanya terlihat seseorang yang tengah berdiri di depan sebuah pintu.
Tatapannya lurus menatap ke arah pintu seolah netranya mampu menembus masuk ke dalam. Cukup lama ia berada di sana hingga ia pun memilih untuk pergi dari sana.
“Terima kasih, karena kamu masih bertahan, Ra. Maaf, karena aku sedikit terlambat datang melindungimu. Sekarang, kamu aman di sini hingga lukamu pulih. Mereka tidak akan menemukanmu, karena vila ini memang diperuntukkan untuk menjadi tempat berlindungmu dari mereka yang menginginkan kematianmu”, gumam Rauf dan berlalu dari sana.
Sedangkan aku yang berada di dalam sana, masih setia dengan mata terpejam. Sejak kejadian di aula tadi siang, aku masih belum sadarkan diri. Memang, tidak ada luka serius di tubuhku. Hanya saja, sesuatu yang berhasil menancap dipunggungku yang menjadi masalah.
Sebuah jarum suntik dengan cairan yang membuat sebagian saraf di tubuhku kehilangan fungsinya. Cairan yang tidak aku ketahui itu segera meruntuhkan pertahananku dan membuatku kehilangan tenaga.
Aku yang sedikit lengah, tidak menyadari kehadiran seseorang yang berhasil menancapkan jarum suntik dipunggungku, ketika aku sedang melawan tiga pria berbadan besar itu. Dan dia adalah orang yang sama dengan orang yang hampir membunuhku ketika hiking.
__ADS_1
Naya. Seorang gadis yang memiliki cerita sedih yang membuatku tidak bisa membencinya. Justru, aku ingin merangkulnya dan membawanya pergi dari sisi gelap itu. Karena aku tahu, pasti tidak mudah berada diposisinya.
...***...