
Mereka terus menjelajahi setiap sudut ruangan tersebut. Sudah hampir satu jam, namun mereka belum menemukan apapun. Kening Rauf berkerut, ketika melihat sebuah lukisan yang terlihat usang terpasang di dinding dekat sebuah lemari.
Tangan Rauf terulur untuk menyentuh lukisan tersebut, namun Ray segera menghentikannya. “Jangan sembarangan menyentuh benda yang terpasang di dinding”, ujar Ray yang menarik Rauf menjauh dari lukisan tersebut.
Rauf menatap ke arah Ray untuk meminta penjelasan. Terlihat Ray yang menghela nafas dan menatap ke arah Rauf yang juga tengah menatapnya di sebalik topeng yang menutupi sebagain wajahnya. “Semua benda yang terpasang di dinding ruangan ini akan langsung terhubung dengan seseorang yang memasangnya”, jelas Ray yang membuat Rauf mengangguk dan kembali melihat benda apa saja yang terpasang di dinding.
“Benda tersebut berperan layaknya sebuah kamera, bedanya jika kamera mampu menangkap pergerakan seseorang, maka benda ini dapat melukai bahkan membunuh seseorang”, lanjut Ray lagi.
“Itu artinya semua benda di dinding tersebut dikontrol oleh seseorang. Mereka memanfaatkan teknologi untuk mengelabui orang yang berhasil menerobos masuk ke ruangan ini, karena biasanya perhatian seseorang akan jatuh ke arah benda yang ada di dinding”, ujar Rauf mengungkapkan analisanya.
Ray pun menganggukkan kepala membenarkan ucapan Rauf. “Analisamu benar. Sejenis ranjau yang menyamar menjadi benda yang dapat menarik perhatian. Jadi, jika ada benda yang mencurigakan, sebaiknya perhatikan dulu. Itu sedikit informasi yang aku tahu, ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan Papaku dengan asistennya dulu”, ucap Ray.
Ketika mereka tengah asyik berbincang, tiba – tiba terdengar bunyi pintu terbuka. Derap langkah kaki seseorang pun masuk ke gendang telinga mereka, sehingga mereka segera mencari tempat untuk bersembunyi. Seseorang yang masuk ke ruangan tersebut tidak lain adalah aku sendiri.
Aku pun masuk ke dalam sana. Mulai menelisik apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Tanpa aku sadari, ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan gerak – gerikku. Aku terus menjelajahi ruangan tersebut hingga tatapanku jatuh pada sebuah buku.
Sampul buku tersebut berwarna moka polos dengan sebuah logo yang berukuran sangat kecil berada sebelah kanan atas buku tersebut. Jika hanya dilihat secara sekilas, maka logo tersebut tidak akan terlihat.
Logo tersebut berbentuk gambar sepasang sayap burung yang mirip dengan sayap burung hantu. Aku pun semakin mempertajam penglihatanku dan mulai membuka buku tersebut. Untuk halaman pertama, hanya kekosongan yang aku temui.
Sebenarnya, buku jenis apa yang aku temui ini? Aku pun terus membuka halaman demi halaman buku tersebut. Tepat pada halaman kelima, sebuah tulisan tangan seseorang terlihat di sana. Tulisan yang cukup berantakan tersebut membuatku berusaha berpikir keras untuk membacanya.
Kematian bagi mereka yang tidak beruntung hari ini. Setetes darah akan keluar dari tubuh, lalu akan keluar dengan sangat deras hingga tubuh itu pucat. Terjadilah.
__ADS_1
Begitulah goresan singkat yang ada di halaman tersebut. Keningku semakin berkerut, karena aku sama sekali tidak memahami maksud dari kalimat yang tertulis di sana. “Apa maksudnya?”, aku bergumam yang dapat di dengar oleh mereka yang tengah bersembunyi tersebut.
Tatapan Rauf pun tidak pernah terlepas dari aku yang masih fokus dengan buku aneh itu. Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Ra? Tidak seharusnya kamu berada di sini. Apa kamu tidak menyadari bahwa kehadiranmu di sini dapat membahayakan nyawamu? Rauf begitu geram terhadap apa yang aku lakukan sekarang.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Ray. Dia juga sangat mengkhawatirkan diriku, takut jika pria bernama Regal itu tiba – tiba masuk ke ruangan tersebut dan melihat diriku di sana. Sebaiknya kamu pergi sekarang, Ra. Pria itu tentu akan segera datang, jika kekacauan yang terjadi sudah teratasi.
Kedua laki – laki tersebut terus memperhatikan diriku yang sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka di sana. Aku pun larut dengan pikiranku sendiri. Lembaran berikutnya pun aku buka. Terlihat dua kalimat bahasa asing tertulis di sana.
“Owl King. Kill for Everyone”, gumamku yang membuat tubuh kedua laki – laki tersebut membeku. Tatapan mereka semakin khawatir. Keringat dingin pun mulai membanjiri mereka. Ketika mereka berniat untuk keluar dari tempat persembunyian, tiba – tiba ponselku berbunyi.
“Yira, dia dalam bahaya”, ujarku yang segera pergi dari sana dengan membawa buku tersebut.
Beberapa saat sebelum aku masuk ke lorong misterius itu, aku dan Yira sudah menyiapkan rencana dan antisipasi, jika terjadi sesuatu. Sebelum aku dan Yira berpisah di taman yang cukup jauh dari lorong misterius tersebut, kami sepakat untuk memasang sesuatu di pakaian kami yang akan terhubung ke ponsel kami masing – masing sebagai alarm ketika salah satu dari kami dalam bahaya.
“Kamu benar, Sa. Jadi, kita harus berhati – hati dan jangan sampai salah satu dari kita ada yang tertangkap. Terlebih, ID Card kamu yang hilang, itu akan membuatmu sulit dalam bergerak bebas di kawasan sekolah ini”, ucap Yira mengingatkanku.
Lalu, setelah itu kami berpisah. Yira menuju sebuah tempat yang kami berdua yakini adalah tempat di mana sepupuku, Doni dan abangnya Yira ditahan.
Setelah kepergianku dari ruangan itu, kedua laki – laki tersebut keluar dari persembunyiannya dengan raut wajah khawatir yang masih menghiasi wajah mereka. Rauf dan Ray pun sepakat untuk segera menyusulku. Baik aku, Rauf, dan Ray tidak ada yang menyadari bahwa ada sebuah robot mini berbentuk burung hantu yang mengawasi kami bertiga di sana.
...***...
Waktu di mana aku dan yang lainnya tengah beraksi sesuai rencana masing – masing, seseorang sudah lebih dulu mengetahui gerak – gerik kami. Namun, dia memilih membiarkan kami menjalankan rencana tersebut tanpa ada tindakan pencegahan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai jahat dengan mulai melepaskan anak panah agar tertancap sesuai keinginannya.
__ADS_1
“Anak panah ini tidak akan salah dalam menyerang. Hanya kumpulan semut, mereka berani mencari masalah denganku”, ucap pria itu yang kembali mengambil anak panah dan kembali mengarahkan busur itu agar tepat sasaran.
“Mereka memakan umpanku”, lanjut pria itu yang kemudian mendudukkan dirinya dengan segelas air putih mulai melalui kerongkongannya.
Suasana di ruangan tersebut membuat semua orang suruhannya berkeringat dingin. Dengan suara beratnya, ia pun kembali berucap.
“Biarkan mereka membuat kekacauan untuk mengalihkan perhatianku. Lagi pula, ruangan itu ada di bawah kendaliku. Sekarang, kalian awasi kumpulan semut itu dan pastikan kalian berhasil membawa gadis itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Biar aku sendiri yang menangani kekacauan itu”.
“Baik, Bos”, jawab mereka kompak dan segera berlalu dari sana.
Setelah semua bawahannya pergi, kini tinggallah pria itu bersama sang asisten yang mulai mengeluarkan sebuah berkas.
“Bagaimana dengan Badir?”,
“Dia semakin lemah, Bos. Penawar racun itu sampai sekarang belum ditemukan. Kemungkinan, dia tidak akan bertahan lama”, jawab sang asisten.
“Pantau terus dia, Heru. Lalu, bagaimana dengan orang yang menyerangnya, apa sudah ditemukan?”, pria itu kembali bertanya dengan tatapan masih fokus membaca keadaan Pak Badir.
Sudut bibir asisten itu tertarik. “Justru, kita akan menangkapnya sekarang, Bos. Informasi yang saya dapatkan, partner orang tersebut tidak lain adalah adiknya sendiri. Menurut analisa saya, gadis itu akan datang menyelamatkan abangnya. Jadi, Bos Regal akan segera melihatnya”, jelas Heru sang asisten.
Terdengar gelak tawa bergema di ruangan tersebut. “Hahaha. Sekarang kita pergi melihat pertunjukkan yang akan mereka suguhkan. Kekacauan yang sebenarnya malah mengacaukan diri mereka sendiri”, ujar pria bernama Regal itu yang segera keluar dari ruangan tersebut.
“Siap, Bos”, sahut Heru sang asisten yang mulai mengekori bosnya keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
...***...