For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 21 MENGHARAPKANNYA


__ADS_3

Cahaya matahari pagi mulai menyentuh setiap kulit yang melaluinya. Lambaian dedaunan seolah tengah melambai indah untuk menyambut kedatangan sang tuan putri. Ranting – ranting pepohonan tampak sedikit terayun bila terkena hembusan angin.


Bunga – bunga mulai bermekaran di setiap taman yang ada di sekolah ini. Saling berlomba untuk menunjukkan keindahan diri masing – masing. Aneka warna yang ada pada setiap kelopak bunga mampu untuk menyihir mata yang melihatnya.


Dentingan jam di dinding terus mengalami perubahan. Tepat hari ini, sudah seminggu berlalu peristiwa ketika kegiatan hiking itu terjadi. Dan selama itu pula, aku hanya berada di kamar tanpa melakukan aktivitas lain.


Luka dilengan kananku cukup parah hingga mengharuskanku untuk beristirahat selama seminggu. Awalnya aku menolak, tapi melihat sorot mata Doni yang begitu marah dengan penolakanku membuatku mengurungkan niat untuk kembali protes.


“Don, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya lenganku yang terluka, sedangkan seseorang yang telah menolongku, entah sudah meregang nyawa sekarang”, protesku ketika lukaku diobati oleh dokter sekolah dengan jarak yang cukup jauh dari lokasi kejadian.


“Jangan banyak protes, Maisa. Mengenai seseorang itu, biar aku yang mencari tahu keadaanya. Cukup kamu istirahat selama seminggu dan tidak ada penolakan”, ucap Doni yang begitu dingin, lalu berlalu meninggalkanku.


Ingatan tentang kejadian itu tidak mudah untukku lupakan begitu saja. Bagaimana bisa aku lupa, jika seseorang harus terluka karenaku bahkan mungkin kehilangan nyawanya. Dan hingga sekarang, aku masih belum tahu begaimana kondisi orang yang sudah menolongku itu.


Senyumnya mengingatkanku dengan seseorang. Senyum yang sangat mirip dengan dia yang jauh dari jangkauanku.


Hari ini, aku berniat untuk memastikan apakah orang yang telah menolongku itu adalah Rauf atau bukan. Melangkah menuju keberadaannya sambil membawa air mineral yang aku ambil dari kulkas di kamarku.


Ku langkahkan kaki masuk ke dalam laboratorium kimia setelah pintu berhasil dibuka. Aku edarkan pandanganku sambil menelisik keberadaan Rauf. Sudah beberapa menit aku di sana, namun tak kunjung aku melihat ada Rauf di sana.


“Mungkin, dia belum datang”, gumamku berniat untuk meninggalkan laboratorium itu.


Bugh


Terdengar bunyi benda jatuh yang membuatku mengalihkan pandanganku. Aku tertegun melihat sesuatu di sudut laboratorium itu. Tepatnya, aku melihat bayangan seseorang di sebalik gorden yang menjadi sekat pemisah.


Langkahku pelan hingga aku sampai di sana. Ku sibakkan kain yang menjadi penghalang mataku. Aku tertegun, tanpa aku sadari sudut bibirku tertarik ke atas menjadi sebuah lekungan yang indah.


Seorang laki – laki yang mulai mengisi ruang di hatiku, namun tak bisa untukku miliki. Dia yang tengah tertidur dengan berbantalkan lengan tangan kanannya di atas meja terlihat begitu tampan dengan rambut yang menutupi sedikit wajahnya.


Sesaat, aku menatap wajah seseorang itu dengan masih tersenyum. Memandanginya sambil memuji akan karya Sang Pencipta yang begitu sempurna.


“Dia terlihat begitu tampan ketika sedang tertidur”, gumamku sambil terus menatapnya.


Hatiku kembali berdesir, terlebih jarakku hanya tiga langkah dari keberadaannya.


Rauf, aku selalu berharap bahwa rasa yang mulai tumbuh ini juga tengah kamu rasakan.

__ADS_1


Setiap melihatmu, hatiku berdesir dan itu untuk pertama kalinya aku rasakan ketika berhadapan dengan seorang laki – laki.


Dulu, ketika ada laki – laki yang ingin mendekat, aku segera menjauh hingga akhirnya dia mundur perlahan.


Namun, aku tidak bisa menjauhimu sepenuhnya, Rauf. Padahal sebelumnya, sangat sulit bagiku untuk dekat dengan laki – laki.


Kamu berbeda dengan laki – laki yang pernah ku temui sebelumnya. Bersamamu, timbul rasa nyaman yang membuat hatiku berhasil tuk kamu sentuh.


Aku masih menatapnya hingga beberapa saat aku tersadar akan tindakanku ini.


“Astaughfirullah, sadar Sara. Nggak boleh mandang lawan jenis lama- lama, zina mata, Sara”, ujarku yang ternyata didengar oleh Rauf.


Dia terlihat menahan senyumnya dengan mata yang masih terpejam. Merasa geli dengan ucapan serta tingkahku.


Udah tahu zina mata, tapi masih aja lihatin orang kayak gitu.


Rauf terkekeh sendiri sambil berusaha untuk tidak membuka matanya. Ia masih ingin mendengar ucapanku yang membuat hatinya menghangat.


Jika dengan berpura – pura tidak mengetahui kedatanganmu ke sini aku bisa mendengarmu, maka akan aku lanjutkan aktingku ini.


“Dia masih tidurkan? Dia benar – benar nggak sadar ada orang yang datang ke sini? Masih untung yang datang adalah gadis baik – baik kayak aku. Coba kalau yang masuk itu adalah orang yang punya niat jahat, kan bahaya”, gumamku lagi yang masih belum sadar jika Rauf sudah sedari tadi menyadari kedatanganku.


Aku pun mundur beberapa langkah dan tidak sengaja, kakiku menginjak sebuah buku yang tadi terjatuh di lantai hingga kakiku terpleset.


“Astaughfirullah, kok bisa – bisanya ada buku di lantai sih”, keluh sambil berusaha kembali berdiri dengan mengambil buku tersebut.


“Tulisannya bagus. Sangat jarang aku menemui ada laki – laki yang memiliki tulisan sebagus dan serapi ini”, gumamku yang semakin membuat laki – laki itu melambung.


Oh ya ampun, Berlian. Berhentilah memujiku, aku bisa mati karena overdosis oleh pujianmu yang terlalu tinggi.


“Huft, aku rasa memang bukan kamu yang menolongku hari itu. Hanya senyum kalian saja yang mirip. Dan aku bersyukur, karena kamu baik – baik saja”, gumamku pelan sambil meletakkan air mineral yang tadi aku bawa.


Sebelum aku benar – benar pergi, aku kembali menatapnya dengan perasaan campur aduk.


Rauf, andai kamu tahu bagaimana hati ini mulai menerima kehadiranmu. Hati yang selama ini sulit untuk tersentuh, lalu dengan mudahnya kamu meluluhkannya.


Aku tidak bisa berbohong akan perasaanku padamu, Rauf. Perasaan, dimana aku mulai menyukaimu. Bahkan, sangat menyukaimu.

__ADS_1


Terbuat dari apakah dirimu Rauf hingga dengan mudahnya kamu mencairkan kebekuan yang telah lama bersemayam dihatiku ini.


Masih bolehkah aku mengharapkanmu setelah memintamu untuk pergi?


Masih adakah harapan untukku memiliki hatimu?


Masih adakah kesempatan perasaanku untuk kamu balas?


Setelah itu, aku pun segera pergi meninggalkan laboratorium itu sambil menahan berbagai rasa yang mulai berkecamuk. Bohong, jika aku tidak kehilangannya.


Ya Allah, sejujurnya aku masih mengharapkannya.


Setelah kepergianku, Rauf membuka matanya. Netranya menangkap sesuatu di atas meja. Ia mengambilnya, lalu membukanya. Meminumnya dengan hati yang berbunga – bunga.


Aku senang bisa mendengar suaramu lagi, walau tak bisa menatap wajahmu dengan jarak yang cukup dekat.


Hatiku menghangat ketika mendengar semua perkataan tulus yang keluar dari bibirmu.


Bolehkah aku sedikit egois dengan masih berharap bisa memilikimu?


Masih adakah peluang untukku memenangkan hatimu dan menjadikanmu teman untuk berbagi kisah?


Bisakah aku menjadikanmu menjadi milikku seutuhnya, setelah tabir misteri ini terungkap?


Ya Allah, sungguh aku masih mengharapkannya.


Tidak berapa lama setelah kepergianku, seseorang masuk ke dalam laboratorium itu dengan membawa beberapa berkas di tangannya. Bila ku tebak, seseorang itu bukanlah siswa di sekolah ini. Dia masuk dan segera menuju ke arah Rauf berada.


“Ada gerangan apa gadis itu menemuimu?”, seseorang itu bertanya sambil meletakkan berkas yang ia bawa ke atas meja.


“Dia hanya ingin memastikan siapa yang menolongnya hari itu”, sahut Rauf sambil membuka berkas tersebut.


“Jadi, dia sama sekali tidak tahu siapa yang menolongnya?”, seseorang itu bertanya sambil menggeleng tak percaya.


Rauf tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Ghaly, dia memang curiga, karena saat itu aku sempat tersenyum padanya. Oleh karena itulah, dia datang ke sini”,

__ADS_1


“Oh”, Ghaly pun menganggukkan kepalanya sambil mengambil sebuah kursi yang ada di sana dan mendudukkan dirinya.


__ADS_2