For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 8 SEBUAH VIDEO


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal kelasku olahraga. Aku sudah siap dengan pakaian olahraga. Jilbab yang aku kenakan pun aku sesuaikan dengan kebutuhan dengan tetap sesuai ketentuan agama. Aku beranjak dari kelas ketika semua teman – temanku menuju lapangan.


Sepanjang perjalanan menuju lapangan, aku memperhatikan setiap apa yang aku lalui. Tatanan sekolah ini benar – benar sangat rapi. Pohon - pohon berjejer rapi dan taman pun terlihat begitu cantik.


Senyum kembali terbit dibibirku sambil terus mengagumi lingkungan tempat di mana aku berada. Sesekali aku memegang kelopak bunga yang aku lalui sembari tersenyum ramah pada setiap yang berpasasan denganku.


Ketika sudah mendekati lapangan, tiba –tiba langkahku terhenti ketika ada beberapa siswi yang menghadang jalanku.


“Cih, murahan”, itulah kata pertama yang keluar dari mulut salah siswi di depanku.


Lama aku memandangnya sambil mengernyitkan kening, lalu tiba – tiba aku teringat siapa siswi tersebut.


Kenapa harus ketemu sama hantu pasien sakit jiwa sih? Perasaan sekolah ini luas, kenapa malah mendadak sempit. Gerutuku sambil kembali melanjutkan perjalananku.


Baru selangkah aku berjalan, tiba – tiba jilbabku ditarik dengan kasar dari belakang hingga membuatku jatuh. Aku pun segera berdiri dan menatapnya tajam. Perhatianku tidak lepas dari gadis yang tengah menatapku dengan senyum sinis.


Ketika tangannya hendak mencapai pipiku, dengan gesit segera aku menangkisnya dan memelintir tangannya hingga ia merintih.


“Lepasin”, teriaknya yang berhasil mengalihkan fokus semua orang.


Dengan ekspresi datar diiringi sorot mata yang tajam, aku melepaskan tangannya hingga ia terhempas ke tanah. Aura yang aku keluarkan, sontak membuat beberapa orang bergidik ngeri. Wajar saja, karena selama beberapa hari di sini, aku tidak pernah menunjukkan sisi yang ini.


Ia menatapku semakin bengis seolah ingin membunuhku. Tapi, aku tidak takut dengan tatapannya. Justru hanya senyum sinis yang aku lontarkan dan berhasil memancing kemarahannya. Dengan membabi buta, ia kembali menyerangku.


Tepat ketika ia hendak mendorong tubuhku, seorang laki – laki berdiri di hadapanku guna menghadang serangan dari perempuan sakit jiwa itu. Alhasil, ia yang malah jatuh tersungkur.


“Apa – apaan kamu, Ray”, teriaknya dengan tatapan nyalang mengarah pada laki – laki yang menjadi tameng untukku.


“Berhentilah mencari masalah, Naya”, ujarnya dengan menekankan kalimatnya.


Siswi bernama Naya itu pun segera pergi bersama kedua temannya. Lalu, laki – laki itu pun segera beranjak pergi. Buru – buru aku mengejarnya untuk mengucapkan terima kasih.


“Hei, tunggu dulu”, teriakku berusaha menyamai langkahnya.


“Terima kasih”, ujarku setelah berhasil berjalan beriringan dengannya.


Laki – laki itu pun menghentikan langkahnya, lalu beralih menatapku yang berjarak dua langkah darinya. Aku yang ditatap seperti itu mengeryitkan kening, lalu ekspresiku berubah dingin dan datar.


Melihat perubahan ekspresiku, ia malah tersenyum dan pergi meninggalkanku dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Laki – laki yang aneh. Gerutuku dan kembali menuju lapangan.


...***...


Langit sore seperti biasa, kembali membuatku berdecak kagum. Semilir angin semakin membuatku betah duduk di salah satu gazebo yang berada di dekat asramaku. Lama aku memandangi langit jingga itu hingga tidak menyadari kehadiran sepupuku, Doni.


“Astaughfirullah, Don. Bisa nggak sih datangnya itu nggak kayak jailangkung?”, sungutku sambil kembali menyeruput coklat dingin yang Rauf berikan ketika berpapasan di jalan.


“Eh ngapain bawa – bawa jailangkung segala, kamu pikir aku sejenis mereka apa?”, jawab Doni tidak terima ketika aku menyamakannya dengan makhluk bernama jailangkung.


“Mirip”, balasku sambil meraih air mineral yang baru di beli Doni.


“Maisa, nggak modal banget sih. Beli sana kalau haus, jangan ambil punya orang”,


“Pelit banget sih sama saudara sendiri. Kamunya aja sana yang beli”, ucapku acuh tak acuh sambil meneguk air mineral tersebut hingga tinggal seperempat.


Doni hanya bisa menghela nafas kasar, lalu beranjak untuk membeli air mineral lagi. Hal itu membuat aku tertawa penuh kemenangan.


Hehe, enak banget punya sepupu kayak kamu, Don.


Akhirnya Doni kembali dengan membawa sebotol air mineral dan semangkuk ice cream.


“Hm”, balas Doni sambil membuka laptopnya.


Suasana mendadak hening, ketika Doni memintaku untuk melihat sebuah video yang baru ia dapatkan. Aku menonton video tersebut dengan alis yang bertaut sambil terus menyedokkan ice cream ke mulutku.


Ketika video hampir berakhir, mataku membeliak kaget ketika melihat apa yang baru saja aku saksikan. Jantungku berdetak lebih cepat ketika melihat siapa laki – laki yang sudah berlumur darah tersebut.


Deg… deg… deg…


Jantungku berdetak dengan sangat cepat. Air mata tak sanggup lagi untukku bendung. Hingga video itu berakhir. Sejujurnya, Doni sudah menduga, jika aku akan berekspresi seperti itu.


“Maaf, jika membuatmu syok dengan video tersebut, Sa. Tapi sungguh, aku masih belum mendapatkan video yang lengkap, hanya potongan video singkat itu yang berhasil aku temukan”, jelas Doni yang merasa bersalah padaku.


“Jadi, kamu jangan langsung mengambil kesimpulan dulu. Aku yakin bahwa ada potongan video lainnya sebelum video yang barusan kamu tonton. Pasti ada awalannya, Sa. Kamu tenang aja, aku akan selalu membantumu dan menjadi perisaimu”, lanjut Doni yang segera mengambil laptopnya dan kembali menuju asramanya.


Kini, tinggallah aku seorang diri dengan ditemani oleh sekumpulan bunga – bunga yang bermekaran indah di taman itu. Ada rasa tak percaya yang membuncah dan ada rasa sesak yang membuat duniaku seolah runtuh.


Bagaimana tidak, laki – laki yang berlumuran darah tersebut bukan sosok yang asing bagiku. Meski aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku tahu siapa dia. Sosok malaikatku yang telah lama hilang.

__ADS_1


Bisakah untukku tidak mempercayai apa yang aku lihat tadi? Bisakah untukku memilih tidak percaya saja?


Sakit…


Sesak…


Ya Allah, sesakit inikah kenyataan yang sebenarnya? Sesakit inikah?


Benda yang melingkar dipergelangan tangannya, mirip dengan milik ayah.


Benarkah laki – laki yang berlumuran darah itu adalah sosok yang ku nanti kehadirannya?


Benarkah dia ayahku? Benarkah itu?


Hiks… hiks… hiks…


Aku menangis dalam diam. Menangis agar dapat menetralisir rasa sakit yang baru saja datang menderaku.


Ribuan anak panah seolah tengah menghujam hatiku. Ribuan belati pun ikut andil dalam menghunus jantungku. Satu persatu kepingan puzzle misteri mulai mencuat ke permukaan. Baru satu petunjuk saja, rasanya aku sudah tak sanggup.


Ingatanku kembali ketika aku masih berusia enam tahun. Kala itu, aku melihat ibu menangis histeris tanpa aku tahu apa sebabnya. Ibu terus menangis sambil memeluk foto ayahku. Ketika itu, aku ingin menghampiri ibu dan ingin memeluknya, tapi Bang Ariq menahanku.


Biarkan ibu menangis, Sara kecil. Biarkan hati ibu lega dengan mengeluarkan semua yang dirasakannya. Ibu pasti tengah merindukan ayah.


Di saat ibu sudah tenang, aku pun berinisiatif untuk membereskan kamar ibu yang berantakan. Ketika itulah aku menemukan sebuah foto, di mana ayah dan ibu terlihat begitu bahagia dengan dua jagoan cilik bersama mereka. Bila ku tebak, itu adalah masa ketika ibu sedang mengandungku.


Terlihat sebuah jam tangan berwarna cokelat dengan campuran hitam melekat indah dipergelangan tangan ayah yang tengah mengelus perut ibu. Jam tangan yang sama persis dengan milik laki – laki yang ada di dalam video yang Doni perlihatkan.


Tidak ada kata menyerah. Aku harus menuntaskan teka – teki ini. Aku harus lebih kuat dalam menghadapinya.


Kejahatan tetaplah kejahatan. Itu tidak dapat dibenarkan.


Jika saja darah halal, ingin sekali aku menghunus jantung orang yang telah melukai bahkan mungkin berhasil membunuh ayah.


Mereka harus mendapatkan hukuman yang pantas.


Setelah bertekad, aku pun kembali ke asrama, karena azan magrib akan segera berkumandang.


...***...

__ADS_1


__ADS_2