For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 11 AKU TIDAK BISA


__ADS_3

Malam semakin larut, namun rasa kantuk masih belum datang menghampiriku. Semua tugas telah aku selesaikan tepat waktu. Beberapa saat yang lalu, terjadi insiden di kamarku. Di mana, Yira teman sekamarku mendapatkan hukuman atas kesalahan yang tidak ia lakukan.


“Beginikah etika seorang siswa?”, tanya Bu Yani dengan nada dingin disertai tatapan tajam membuatku bergidik ngeri.


Ya ampun, dia mirip banget dengan seorang gangster. Tidak, lebih tepatnya seorang monster. Sangat mengerikan.


Bisa ku lihat, ia begitu marah pada temanku Yira. Berkali – kali ia memaki bahkan sampai melakukan kekerasan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membantu Yira.


“Bu, atas dasar apa tuduhan itu ditujukan kepada Yira? Apa ibu ada di lokasi kejadian? Tidak bukan?”, tanyaku dengan sedikit meninggikan suaraku.


Bu Yani menatapku dengan begitu bengis. Lalu, maju melangkah ke arahku sembari menunjukkan bukti kesalahan yang dilakukan oleh Yira. Sebuah video singkat dengan durasi dua menit.


Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang aku lihat. Timbul sebuah keyakinan bahwa gadis yang ada dalam video itu bukanlah Yira. Kecurigaanku semakin besar terhadap sekolah dan asrama ini.


Semakin jelas sekarang bahwa ada yang tidak beres dengan tempat ini. Dia, wanita paruh baya yang tengah menatap Yira dengan aura membunuh, meyakinkanku akan satu hal.


Dia adalah salah satu orang yang patut dicurigai yang bersembunyi dibalik identitas seorang pembina. Topeng yang membuatku muak.


Yira hanya diam sembari menatapku dengan seulas senyum yang ia paksakan. Ada rasa sakit yang aku rasakan ketika melihat teman yang cukup dekat denganku harus mendapatkan perlakuan yang menurutku tidak wajar.


“Sa, aku baik – baik aja kok. Terlepas dari semuanya, aku tahu bahwa kamu tetap percaya denganku. Jaga diri baik –baik, karena jika salah langkah, kamu bisa kehilangan sayapmu yang berharga”, ujar Yira sambil berbisik di telingaku ketika Bu Yani sudah lebih dulu keluar.


Aku mematung ketika mendengar ucapan Yira. Ku tatap punggung yang semakin menjauh dan menghilang di sebalik pintu. Yira tidak akan lagi berada di sini sebagai bentuk hukuman yang harus ia terima dalam kurun waktu yang tidak ditentukan.


...***...


Di belahan bumi lain, dia yang berhasil menarik perhatianku juga sama denganku. Masih belum bisa memejamkan mata, karena rasa kantuk seolah enggan menyapanya. Berdiri seorang diri di sebalik jendela sambil menatap langit malam.


Hawa dingin seolah tidak lagi terasa menyentuh kulitnya. Ia hanya diam dengan tatapan sendu yang terlihat begitu pilu. Baru saja kekhawatirannya sirna, kini ia semakin takut, terutama ketika kabar tentang Yira mulai menyebar di kalangan siswa.


Dia yang menjadi sebuah harapan, alasan untukku bertahan, kini membuatku takut.

__ADS_1


Terlihat ia menarik nafas seolah sudah lama tidak menghirup oksigen. Air mata pun kembali singgah dipipinya dengan wajah yang semakin sendu.


Umi… Abi…. Bisakah aku melakukannya? Cukup kuatkah diriku menerima semuanya ketika mengetahui kebenarannya?


Sanggupkah aku menjalankan amanah kalian? Sanggupkah diriku untuk itu? Bisakah aku untuk berhenti, rasanya sungguh menyakitkan.


Aku lelah dengan semuanya. Rasanya, aku ingin istirahat sejenak dengan damai. Bolehkah aku menyerah? Sungguh, aku takut. Rauf takut, Bi, Mi.


Seorang laki – laki yang selalu tersenyum dengan wajah bahagia, walau sesekali menunjukkan ekspresi datar, terlihat begitu rapuh. Senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya, hanyalah topeng untuk menutupi luka yang tidak diketahui siapa pun. Ia terus terisak sambil sesekali mengukir sebuah senyuman.


...***...


Aku tidak bisa memenjamkan mata sedikit pun bahkan berulang kali aku bolak – balik kamar mandi karena kebanyakan minum. Aku melirik ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam dengan sedikit bintang yang terlihat.


Ku lirik jam yang berada di dinding sambil mendengus kesal, karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun, mataku masih saja enggan untuk terpejam. Ku alihkan pandanganku ke arah balkon, lalu beranjak dan berjalan ke sana.


Aku rentangkan kedua tanganku sembari menghirup udara malam dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin malam pun menerbangkan jilbab yang ku kenakan, melambai indah seperti seseorang yang tengah melakukan sebuah adegan film.


Aku tidak tahu, apakah peluru itu berhasil menembus jantungnya atau tidak. Yang aku tahu, dia terluka sangat parah. Namun, aku tidak tahu siapa yang menyerangnya. Orang itu tidak begitu jelas terlihat.


Terkadang, aku memilih egoku dengan meyakini bahwa laki – laki itu bukanlah ayahku. Tapi, sekeras apapun aku menolak, itulah kenyataannya.


Wajah yang begitu ingin aku lihat, ingin aku raba, ingin aku mencium pipinya untuk menunjukkan betapa aku menyayanginya.


Memeluknya, untuk mengungkapkan betapa aku merindukannya. Menangis dalam pelukannya. Lalu tertidur di bawah perlindungannya, perlindungan seorang ayah terhadap anaknya.


Ingatanku kembali ketika aku duduk dibangku sekolah dasar. Setiap ada rapat orang tua atau pengambilan rapor, aku selalu menyaksikan bagaimana interaksi antara ayah dengan anaknya.


Ada rasa sesak ketika menyaksikan itu dan juga ada rasa senang, karena mereka memiliki seorang ayah yang nyata.


Setiap ada acara pentas seni dan festival sekolah, aku hanya bisa mengulas senyum menyaksikan pemandangan yang begitu mustahil aku dapatkan. Apakah salah, jika aku menginginkan kasih sayang seorang ayah?

__ADS_1


“Oh berlian kesayangan ibu, kok kamu di sini? Dari tadi, ibu dan kedua abangmu mencarimu, Nak”, ujar ibu ketika melihatku duduk seorang diri di sebuah taman.


“Sara hanya ingin duduk di sini, Bu. Sara nggak paham apa yang dibahas oleh para orang tua. Jadi, Sara ke sini aja”, jawabku sambil tersenyum manis ke arah ibu.


“Lain kali, kalau mau pergi itu, izin dulu biar kita nggak kehilangan, Ra”, sahut Bang Haziq yang datang bersama dengan Bang Shariq.


Bang Haziq adalah kakak laki – laki pertamaku. Ia selalu khawatir, jika aku menghilang. Terlebih, ia sangat mengetahui alasan aku sering menghilang. Ia merangkulku sambil memasangkan sebuah mahkota dikepalaku.


“Seorang putri secantik kamu, tentu harus dijaga dengan baik. Selayaknya berlian yang selalu mendapatkan perlakuan istimewa, maka kamu juga harus diperlakukan istimewa”, ujar Bang Aziq sambil tersenyum puas setelah mahkota itu terpasang dikepalaku yang tertutupi jilbab.


“Kamu sama berharganya dengan berlian dan kehadiran kamu sangat istimewa bagi kami”, lanjut Bang Aziq lagi.


“Iya nih si Sara, bikin kita khawatir tahu nggak? Belum lagi tadi ibu paniknya subhanallah”, keluh Bang Ariq padaku sambil menampilkan wajah cemberutnya.


“Maaf, karena Sara udah bikin Ibu dan abang khawatir. Aku sayang kalian”, ucapku sambil tetap tersenyum manis seolah tidak ada luka yang menyayat hatiku.


Setitik air mata pun jatuh dari pelupuk mataku. Memori perjalananku tanpa kehadiran seorang ayah, begitu sakit jika kembali teringat. Rasanya, kakiku tak lagi mampu untuk hanya sekadar berdiri.


Aku menangis. Lagi, lagi, dan lagi. Terisak sendiri dalam diam dengan malam yang semakin larut. Hawa dingin yang semakin menusuk, namun sama sekali tidak membuatku dingin. Hanya menyisakan luka lama yang semakin menyesakkan.


Bu, Sara rindu. Sangat rindu. Rindu dengan pelukan ibu yang begitu menenangkan. Sara rindu.


Hiks… hiks… hiks…


Kapan semuanya akan menemukan titik temu, Bu? Ingin Sara menyerah, tapi ntahlah Sara pun bingung.


Bang Aziq, abang baik – baik sajakan di sana? Tidakkah abang merindukanku, berlian kecil berhargamu?


Bang Ariq, Sara rindu dengan semua kelakuan abang. Rindu dengan tawa ledekan yang selalu membuatku kesal.


Sara rindu kalian. Tapi, Sara tidak bisa kembali sekarang. Tidak bisa, hiks…

__ADS_1


Aku tidak bisa.


__ADS_2