For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 3 LANGITKU YANG HILANG


__ADS_3

Aku terhenyak mendengar ucapan tersebut.


“Aku? Pasien sakit jiwa? Dia kali yang nggak waras?”, gerutuku ikut masuk ke dalam lift.


Gedung asrama ini benar – benar sangat menakjubkan. Sekolah dengan fasilitas yang hampir setara dengan hotel bintang lima. Ah, rasanya aku sedang bermimpi saja bisa berada di tempat yang begitu canggih ini.


Beberapa kali aku terpukau dengan fasilitas gedung ini. Tepat ketika aku sudah berada di depan kamar, segera ku ambil kertas yang berisi sandi kamar yang diberikan ketika registrasi tadi.


“Ya ampun, kenapa mesti pakai sandi segala sih, ini gedung bisa habis berapa biaya sih? Kan jarang banget ada asrama dengan fasilitas yang setara bangunan mewah”, gumamku sambil melihat kertas tadi.


“102601, done”, ucapku ketika aku berhasil memasukkan sandinya.


Jujur, aku kembali takjub dengan keadaan kamar yang akan aku huni dalam kurun waktu tiga tahun mendatang. Kamarnya cukup luas jika hanya diisi oleh dua orang saja. Di sana, sudah tersedia dua buah ranjang dengan sekat pembatas di antara kedua ranjang tersebut. Tepatnya, kamar itu di bagi menjadi dua.


Setiap penghuni, disediakan ranjang, meja belajar, komputer, beberapa alat untuk olahraga, AC, lemari dengan desain kaca, jendela kamar yang cukup besar, lampu tidur, satu buah kulkas, cermin besar, kamar mandi, dan wifi yang dapat diakses tanpa batas.


Aku terpaku melihatnya. Kamar yang sangat mewah untuk sebuah asrama. Lalu tiba – tiba, seseorang menepuk bahuku pelan sambil tersenyum ramah padaku.


“Hei, kenapa malah diam saja? Masuklah, tempatmu berada di pojok dekat jendela. Maaf ya, karena aku nggak bisa dekat jendela, takut soalnya, hehe”, ujarnya sambil cengengesan.


Cantik. Satu kata ketika aku melihat gadis yang tengah tersenyum itu.


“Gimana, kamu nggak masalahkan?”, tanyanya sambil menatapku penuh harap.


Tentu, bagiku bukan masalah. Sedari awal, aku memang sudah mengincar bagian dekat jendela ini.


Nggak tahu aja dia, kalau aku udah ngincar bagian dekat jendela, hehe. Tawaku dalam hati.


“Aku nggak masalah kok, yang penting masih bisa tidur”, ujarku sambil menyeret koperku ke arah ranjangku dan duduk sejenak di sana sambil mengamati kembali ruangan tersebut.


“Aku Yira, aku memilih bidang Seni. Kalau kamu?”, tanyanya sambil ikut duduk di sebelahku.


“Aisa. Aku memilih bidang desain”,


Jika di sekolah, maka aku akan memperkenalkan diriku sebagai Aisa. Alasannya karena nyaman saja.


“Keren dong, akhirnya dapat juga teman yang bidangnya desain. Aku udah lama banget pengen punya teman yang jago desainn”, ujarnya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Dia cantik, manis, dan ramah. Mungkin, dia akan menjadi teman baikku nantinya. Gumamku dalam hati.


“Aisa, lebih baik kamu beresin semua barang – barang kamu. Kamu udah tahukan peraturan asrama ini?”,


“Ya, tadi aku sudah baca kok semua peraturan asrama ini. Sangat disiplin”,


“Ya udah, aku tidur duluan ya. Capek banget”, ujarnya sambil beranjak menunju ranjangnya.


Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Lalu, aku mulai membereskan semua pakaianku, buku, dan perlengkapan lainnya. Setelah itu, aku bergegas naik ke ranjang. Ku lihat Yira sudah terlelap.


Ku alihkan pandanganku ke arah jendela. Menatap langit malam yang terlihat cerah malam ini. Ditemani oleh kawanan bintang yang mengelilingi bulan yang bersinar indah.


Langit yang indah. Namun sayang, langitku sudah pergi. Bahkan, belum pernah aku melihatnya. Hanya bulan dan bintang yang menemaniku sejak aku hadir di bumi ini.


Hanya ada gambaran dirinya yang bisa aku lihat tanpa bisa aku raba wujudnya. Senyumnya pun hanya bisa aku bayangkan tanpa bisa aku lihat secara nyata.


Keinginan untuk memeluk pun hanya sekedar angan, karena bayangannya saja tidak pernah nyata. Bagai ilusi yang dirancang oleh pikiranku sendiri.


Suara yang inginku dengar hanya menyisakan kesunyian malam yang menyapa. Hembusan angin seolah perantara pelipur lara.


Kembali aku tatap liontin yang berada dalam genggamanku.


“Ayah, aku tak tahu harus melangkah darimana dulu. Inginku hanya menemukan kebenaran. Harapanku adalah engkau masih hidup, Ayah. Namun, jika kita tidak lagi pada dimensi yang sama, biarkan aku tahu dimana dirimu beristirahat sembari menghadap Sang Maha Pencipta”, gumamku sambil tersenyum pilu.


Ku rebahkan tubuhku sembari memejamkan mataku, berharap akan menemukan sesuatu esok harinya.


...***...


Pagi ini langit sangat cerah. Sang penghangat dan penerang bumi muncul tanpa keraguan. Bumi yang tadinya gelap, kini berganti dengan terang berbalut kehangatan. Angin pagi pun terasa menyegarkan indra penciuman, karena belum terpapar polusi.


Semua siswa dan siswi tampak mulai berkumpul di lapangan yang luas ini. Semua sudah siap dengan seragam mereka. Terlihat dari wajah mereka bahwa mereka sangat antusias menyambut upacara bendera pagi ini.


Aku sudah berbaris sesuai bidangku. Tepat di sebelahku berdiri adalah bidangnya Yira. Sesekali kami berbincang dan tertawa kecil sembari sama – sama mengagumi sekolah ini.


“Aisa lihatlah, sekolah ini benar – benar luas. Lapangan ini saja sudah besar, apalagi sekolah ini. Benar – benar sekolah yang unik”, terlihat binar kekaguman dimata seorang Yira.


Aku pun mengamati lapangan itu dan tersenyum.

__ADS_1


Luas, sangat luas. Justru, aku malah penasaran dengan alasan sekolah ini dibuat sangat mewah. Memang ada sekolah yang menyediakan fasilitas lengkap dan canggih, tapi aku merasa ada yang janggal saja. Ujarku dalam hati sambil berusaha mencari yang menjanggal tersebut.


Tidak ada. Huftt. Ku hela nafas sambil kembali fokus, karena upacara akan segera di mulai.


“Loh, dia kan cewek gangguan jiwa kemarin? Kok bisa jadi pelaksana upacara sih? Jelas – jelas dia stres”, gerutuku pelan yang ternyata di dengar oleh Yira.


“Kamu kenal sama tuh orang”, tanya Yira dengan posisi tetap menghadap ke depan.


“Nggak dan nggak ingin”, jawabku sambil menatapnya datar.


Selesai upacara, semua siswa dipersilahkan menuju kelas sesuai bidang mereka. Kelasku dengan Yira searah. Jadi, kami bisa pergi bersama.


“Ra, kamu duluan aja. Aku mau ke kamar mandi dulu”, ujarku sambil berlalu menuju kamar mandi.


Untungnya aku sudah menghafal denah sekolah ini. Aku pun bergegas menuju kamar mandi. Ketika sudah berada di depan kamar mandi, perhatianku terfokus pada sebuah lorong dan terlihat seseorang berjalan di sana, lalu menghilang di balik pintu besi.


Kok aku merasa lorongnya aneh ya? Seingatku, nggak ada lorong itu. Tunggu, aku nggak salah jalankan? Ini jalan menuju kamar mandikan?


Tapi, kok aneh? Masa sih aku tersesat? Ya Allah, kok bisa? Gumamku mulai panik.


Di tengah kepanikan itu, aku tetap tenang sambil berusaha berpikir jernih. Kembali ku lihat sekelilingku hingga aku menyadari bahwa aku memang tersesat.


Fiks, aku tersesat. Seharusnya tadi aku belok kanan, bukan belok kiri. Tapi, bukankah di denah hanya ada belok kanan?


Oh ya ampun, baru hari pertama sudah begini, gimana mau bertindak ala – ala detektif, jika akhirnya aku malah kesusahan sendiri.


Akhirnya, aku memilih untuk menuju lorong aneh itu. Dengan degup jantung yang sudah tak karuan, aku beranikan diri untuk melangkah ke sana. Bertepatan dengan itu, terdengar suara seseorang tepat di belakangku.


“Ini kawasan khusus, siswa dilarang berada di sini”, ujar seseorang itu dengan tatapan bingung.


Deg


Kawasan khusus?


Dengan segera, aku menoleh ke belakang sambil terkejut.


“Hah?”,

__ADS_1


__ADS_2