For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 34 SISI LAIN


__ADS_3

Pendaran cahaya menyapu taman yang penuh dengan hamparan bunga dengan seseorang yang tengah duduk seorang diri. Di bawah gemerlapnya cahaya bulan di sebalik awan, dia terlihat tengah menatap nanar ke arah pepohonan yang tersapu oleh angin. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya dengan angin malam yang menerbangkan beberapa helai rambutnya.


Hatinya bergemuruh dengan keadaan yang semakin membuatnya tersudut. Bayangan kejadian siang tadi, lagi – lagi menghantuinya. Di pandangnya langit malam dengan mata sembab yang membuatnya tampak sangat menyedihkan. Setiap ucapan yang dilontarkan seseorang itu membuatnya tidak berdaya.


Siang itu, ketika dia baru saja keluar dari lorong misterius, seseorang sudah menunggunya dengan seringai jahat dibibirnya. Tanpa perasaan, ia meminta asistennya untuk menarik paksa dan membawanya ke sebuah ruangan. Gadis itu tidak lain adalah Naya. Aku yang kebetulan berada di belakang Naya memilih untuk mengikutinya tanpa ada yang menyadari kehadiranku.


Aku terus mengikuti mereka hingga tiba di ruangan yang dituju. Dengan mengendap – endap, aku segera masuk karena kebetulan pintu tidak dikunci. Bersembunyi sembari melihat apa yang akan mereka lakukan pada Naya.


Plak


Terdengar suara tamparan yang sangat nyaring membuatku menganga dengan kedua netraku yang membulat sempurna. Pipi yang terkena tamparan, mulai terlihat memerah dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. Naya, dia terluka oleh pria yang kira – kira seumuran dengan Pak Badir. Dengan bengis, ia kembali menampar Naya hingga gadis itu jatuh tersungkur.


Plak


Tubuhku bergetar menyaksikan kejadian pilu itu. Namun, tak banyak yang bisa ku lakukan saat itu. Netraku menangkap bagaimana raut wajah seseorang yang sudah menampar Naya. Lalu, ku alihkan tatapanku melihat Naya. Dia tampak tak berdaya.


Dengan kasar, dia mencengkram dagu Naya hingga gadis itu meringis. “Kamu pasti tahukan di mana gadis itu?”, ucapnya sambil mulai menjambak rambut Naya.


Naya balik menatap pria itu dengan tatapan penuh ejekan. Dengan penuh keyakinan, ia membalas pertanyaan pria tersebut. “Kenapa memangnya? Apa Anda masih belum menemukan gadis itu?”, tanya Naya dengan tersenyum smirk.


Merasa dihina, pria itu kembali melayangkan tamparan yang sangat keras.


“Kamu hanya perlu menjawab iya atau tidak, Jalang”, ujarnya dengan kembali menjambak rambut Naya. “Badir, tempat kamu berlindung tidak akan memiliki harapan lagi. Dia, sekarang tengah sekarat dengan racun yang mulai menyebar di dalam tubuhnya. Itu artinya dia akan mati”, lanjut pria itu dengan menghempaskan tubuh Naya ke dinding.


“Saya tidak akan mengatakan apa pun kepada Anda, karena Anda adalah awal mula kehancuran hidup saya. Dan jika Anda berani menyakiti Paman Badir, maka saya dan Ray akan buat perhitungan dengan Anda”, tukas Naya sembari mengusap darah yang terus keluar dari sudut bibirnya.


Ucapan Naya mengundang gelak tawa dari pria tersebut. Tubuhku menjadi merinding ketika mendengar tawa pria tersebut. Dengan sangat angkuhnya, pria itu membisikkan sesuatu ditelinga Naya yang masih bisa aku dengar, karena jarak persembunyianku cukup dekat dari mereka.


“Ingat, Cyra sudah mati. Selanjutnya, kematian Ray akan disaksikan oleh papanya dan kamu. Lalu, barulah Badir menyusul putra kesayangannya, dan terakhir kamu”, bisiknya sembari menunjuk kening Naya dengan jari telunjuknya.

__ADS_1


Tubuh Naya menegang dengan sorot mata yang mulai melemah. Kemudian, tangannya terkepal dan memandang pria itu dengan tatapan tajam seolah ingin segera menghunus jantung pria tersebut.


“Saya yakin, sebelum semua itu terjadi, gadis itu akan muncul dan segera menyelesaikan semuanya. Anda hanya perlu menunggu kehadirannya, maka sebaiknya Anda mengumpulkan siasat agar bisa menang melawan gadis itu, Paman Regal”.


Dan tidak lama, pria yang dipanggil Paman Regal itu segera keluar bersama asistennya. Pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang tadi membunuh Cyra. Aku pun segera menuju ke arah Naya untuk membantunya. Melihat kehadiranku, Naya terkejut dan segera meneriakiku untuk pergi dari hadapannya.


“Kamu? Mau apa kamu di sini? Kamu senangkan melihat keadaanku yang selalu mengganggumu bahkan nyaris membunuhmu dalam keadaan yang sangat menyedihkan? Kamu mau tertawa? Silahkan”, teriak Naya yang tertawa dengan sudut mata yang semakin meneteskan air mata.


Hatiku sakit ketika melihat Naya seperti itu. Meskipun Naya selalu berlaku jahat padaku, tapi dia memilih untuk merahasiakan identitasku yang ternyata sudah diketahui Naya tanpa aku sadari.


Aku mengabaikan ucapannya dan memilih untuk mengulurkan tanganku untuk membantunya. Naya hanya diam tanpa berniat menggapai tanganku dan memilih mengabaikan bantuanku. Ku hela nafas dalam – dalam, lalu mendekat ke arah Naya dengan segera memegang bahunya untuk membantunya bangkit.


Awalnya ia menolak, namun aku tidak melepaskannya hingga ia pasrah. Aku pun membawanya ke sebuah taman yang selalu menjadi tempat favoritku ketika ingin menyendiri. Taman yang cukup jauh dari keramaian sekolah. Langit siang pun berganti dengan langit senja, lalu menggelap. Naya masih diam dan hanyut dalam pikirannya.


Aku menjauh dan membiarkannya seorang diri. Mengamatinya dari kejauhan hingga aku pun menyusulnya untuk mengajaknya pulang, karena malam semakin larut. Ku jatuhkan tubuhku tepat di sebelah Naya yang tidak melirik kehadiranku sama sekali.


“Nay, ke asrama yuk”, ucapku sambil menepuk pelan pundaknya.


“Naya, luka kamu harus diobati biar nggak semakin parah”, ajakku sekali lagi dengan menggenggam tangannya.


“Kenapa kamu memilih baik, sedangkan kamu bisa membiarkan aku hancur”, ucapnya yang segera membuatku menggelengkan kepala.


“Awalnya, aku pernah ingin melihat kamu sedikit terpuruk. Tapi, sejak aku tahu bahwa kamu hanyalah seseorang yang dijadikan umpan oleh tuannya, aku memutuskan untuk membantumu terlepas dari belenggu itu. Ketika Ray membelaku, bisa ku lihat ada tatapan kesedihan yang tersembunyi dipelupuk matamu yang baru aku sadari setelah aku tahu tentang kamu lebih detail”, ucapku sembari menatap langit malam.


Terdengar helaan nafas berat dari Naya. Tatapanya kini beralih menatapku dengan sorot mata sendu.


“Setiap orang memiliki sisi lain dalam hidupnya, Nay. Mungkin, kamu adalah orang yang menyebalkan, tapi kamu juga orang yang butuh perlindungan. Naya, bisakah kamu mempercayaiku seperti ucapanmu pada pria itu? Percaya bahwa aku bisa menyelesaikan semua kegaduhan ini?”, aku bertanya sembari menatap netranya yang hitam.


“Seperti kamu yang ingin kebebasan dan keadilan untuk diri kamu, maka aku juga ingin kebebasan dan keadilan untuk ayahku. Meskipun, aku nggak tahu, apakah ayahku masih hidup atau telah tiada. Aku hanya ingin kejelasan, Nay”, lanjutku yang sudah memegang kedua bahunya.

__ADS_1


Setitik air mata kembali menyapa wajah gadis itu. Segera jari – jemariku mengusap wajah cantik yang semakin sembab itu dan kemudian memeluknya. Mengaliri rasa sakit dan takut yang tengah dirasakan oleh Naya.


“Makasih, Ra”, ucapnya disela pelukan itu yang membuatku menyunggingkan seulas senyum.


“Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Nay. Memilih bungkam, walau aku tahu itu kamu lakukan untuk orang – orang yang kamu sayang”, balasku yang semakin memeluknya dengan erat.


“Jangan membenci Pak Badir, Ra. Dia sama denganku bahkan lebih menyedihkan dariku. Dia memang mengincarmu, tapi putranya selalu melindungimu”, ucapan Naya membuatku membeku.


Selalu melindungiku? Apakah laki – laki bertopeng itu adalah putra dari pria itu?


Naya yang merasakan tubuhku menegang segera terkekeh. Dia melepas pelukanku sambil tersenyum manis yang belum pernah aku lihat sebelumnya. “Ray adalah putra Pak Badir”, ucapnya yang membuatku menganga.


“Ray itu anaknya Pak Badir? Itu artinya kamu dengan Ray saudara sepupu dong? Ya ampun, aku pikir kamu pacarnya Ray, makanya kamu kelihatan kesal dan sedih saat Ray nggak belain kamu”, ujarku sambil cengengesan.


“Ray adalah sosok abang dan sahabat bagiku. Tapi, semua berubah sejak ancaman dari Paman Regal. Alhasil, hubunganku dengan Ray renggang dan Ray mengira itu semua adalah ulah papanya”, jelas Naya yang membuatku menganggukkan kepala berulang kali.


“Lalu, video seorang anak perempuan yang sedang dipukul itu adalah kamu sendiri, Nay?”,


Naya mengalihkan pandangannya ke langit yang dipenuhi oleh kerlap – kerlip bintang. “Itu ulah Paman Regal. Dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman Paman hingga Paman kehilangan kendalinya dan memukulku. Menjebak Paman dengan aku sebagai korban”, terdengar helaan nafas Naya.


Aku terdiam sambil menanti kelanjutan cerita Naya.


“Ra, aku mau istirahat”, ucap Naya yang membuatku mendesah, tapi aku tidak bisa memaksa Naya untuk bercerita lebih lanjut.


Di sepanjang perjalanan menuju asrama, aku terus memperhatikan ekspresi Naya. Dan ketika tiba di gerbang asrama, Naya memintaku untuk masuk melalui jalan lain. Penjagaan asrama sangat ketat, karena itulah Naya membawaku ke sebuah pintu yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.


Naya hanya tersenyum menanggapi keterkejutanku. “Masih banyak rahasia yang tersembunyi di sekolah dan asrama ini. Dan aku percaya padamu, Ra. Jika di luar, bersikaplah seperti biasa layaknya musuh, kamu pahamkan, Ra?”


Aku mengangguk sembari tersenyum miring. “Aku paham”, jawabku yang merasa bersyukur, karena perlahan Allah memberiku sedikit demi sedikit penerangan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2