
Pagi kembali menyapaku dengan sinar matahari yang mulai menghangatkan bumi dan isinya. Ku tatap langit pagi yang begitu cerah sambil memejamkan mata. Meresapi udara segar dan menghirupnya perlahan.
Kicauan burung pun mulai terdengar seperti sebuah instrumen yang seolah – olah tengah mengiringi langkah seorang tuan putri menuju kediamannya. Memastikan bahwa tuan putri agar selalu merasakan kebahagiaan dan tidak membiarkannya bersedih.
Perjalanan pagi ini kembali ku lalui seorang diri. Kedua sisi jalan dipenuhi dengan pepohonan yang berjejer rapi serta hamparan bunga yang berada di dekat pepohonan itu. Kupu – kupu pun sudah mulai terlihat di sana. Menari indah yang semakin menambah pesona dari bunga tersebut.
Baiklah, sekarang aku akan kembali pada tujuan awalku. Setelah memutuskan untuk melepaskannya, maka aku tidak akan lagi meraihnya.
Pagi ini, aku berniat untuk menemui Doni sebelum kelas dimulai. Tidak lama, aku pun sudah masuk kawasan sekolah. Segera aku mencari keberadaan Doni di taman sebelah selatan sekolah, taman yang cukup dekat dengan perpustakaan.
“Udah dari tadi, Don?”, aku bertanya sambil mengambil posisi duduk yang nyaman.
“Lima menit yang lalu. Ada apa pagi – pagi udah mencariku, Sa?”,
“Mengenai ayahku. Apa kamu sudah menemukan bukti lain, Don? Maaf, karena aku sendiri masih belum menemukan apa – apa, selain lorong yang sedikit mencurigakan itu”,
“Ada”, jawaban Doni sontak membuatku menatapnya tajam.
“Apa yang kamu temukan, Don?”,
Doni tidak menjawab pertanyaanku, melainkan ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas ranselnya.
“Seperti sebuah peta, Don?”, tanyaku sambil menerka isi kertas tersebut.
Doni terdiam. Kemudian, ia menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar. Lalu, ia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
“Don, sebenarnya apa yang kamu ketahui? Katakan, Don”, aku mendesaknya, karena Doni hanya diam saja.
“Lorong yang kamu maksud ketika kamu tersesat di hari pertama, lorong itu ada di dalam peta itu, Sa. Aku menyimpulkan bahwa denah yang diberikan pihak sekolah kepada setiap murid baru, tidaklah lengkap. Seperti dugaanmu, pasti ada sesuatu yang tersembunyi dan menarik untuk diungkap”, jelas Doni panjang lebar sambil menunjuk salah satu lokasi di dalam peta tersebut.
Aku terdiam dan hanyut dengan pikiranku sendiri. Aku berusaha mengingat lagi bagaimana aku bisa tersesat. Kepingan ingatan hari itu pun mulai menyatu dalam benakku.
Aku berjalan sesuai apa yang aku pahami setelah membaca denah sekolah ini. Memang kala itu, ketika aku berusaha mencari arah kamar mandi, tanpa sadar aku membelokkan langkahku ke arah kiri.
“Sa, kenapa kamu bisa menemukan lorong itu, sedangkan aku sendiri sudah cek langsung sesuai yang ada di peta ini, tapi nggak ada. Hanya ada belok ke arah kanan, sesuai denah yang diberikan”, lanjut Doni yang membuatku menganga tak percaya.
__ADS_1
“Tapi, aku menemukanya, Don”, ucapku penuh keyakinan.
“Sudahlah, Sa. Aku yakin, mungkin ketika kamu ke sana ada seseorang yang membuka aksesnya. Jadinya, kamu bisa masuk sampai jauh ke dalam”,
“Huft, mungkin , Don”, jawabku lesu.
“Maisa, selain peta itu, aku juga menemukan hal lainnya”, Doni berucap tanpa mendapat tanggapan dariku.
Aku hanyut dengan pikiranku dan tiba - tiba teringat akan sesuatu. Ada dua orang yang memasuki tempat itu. Yang pertama, seseorang yang tidak aku kenal dan yang kedua adalah Rauf. Walaupun aku masih mencurigai Rauf, tapi hatiku lebih curiga dengan orang itu.
Antara mereka berdua. Tapi, Rauf masuk setelah orang itu. Jadi, pasti Rauf masuk ketika akses ke sana masih terbuka.
Ya ampun, pusing aku mikirnya.
Doni menangkap raut wajahku yang tengah berpikir keras. Lalu, ia memukul keningku dengan kertas tersebut.
“Doni”, teriakku yang terkejut dengan tindakannya.
“Makanya jangan melamun. Kamu nggak dengar tadi aku bilang apa?”, tanya Doni sedikit kesal.
“Ada hal lain yang aku temukan, Sa. Tepatnya, di belakang asramaku. Sebuah hutan yang bila aku tebak bukan hutan biasa. Tapi sayangnya, akses ke sana cukup sulit”, penjelasan Doni semakin membuat kepalaku ingin pecah.
Ya Allah, kemarin lorong misterius, sekarang hutan misterius. Besok apalagi, Ya Rabb. Kenapa rumit banget sih.
Aku memijat kepala yang mulai terasa pusing. Bayangan sosok ayah, lagi – lagi kembali menyapaku. Bayangan yang sangat aku rindukan.
Ayah, aku harus apa?
...***...
Tidak terasa, waktu berjalan dengan begitu cepat. Kegiatanku hari ini sudah berakhir dengan semua tugas yang sudah aku tuntaskan. Langit siang mulai berganti dengan langit senja. Begitu juga dengan langit senja beranjak menjadi langit yang gelap.
Malam semakin larut dengan hawa dingin yang menusuk kulitku. Segera ku tutup pintu balkon dan juga jendela yang masih terbuka. Sejenak, aku menatap langit malam itu dengan perasaan takut yang dipenuhi dengan berbagai praduga.
Bu, sepertinya misteri ini cukup berbahaya bagiku.
__ADS_1
Aku pun beranjak menuju ranjangku. Ku rebahkan kepala sambil menatap langit – langit kamar dengan perasaan campur aduk.
Andai Yira masih di sini, mungkin aku tidak akan merasa begitu sepi. Bahkan, aku bisa saja sedikit berbagi beban dengannya.
Tiba – tiba, aku menjadi teringat akan sesuatu. Segera aku turun dari ranjang dan berjalan menuju meja belajar. Ku buka tas ranselku dan mengambil sesuatu di sana.
“Mungkin, aku bisa berbagi dengan buku ini. Bang Ariq bilang, buku ini dilengkapi dengan fitur keamanan yang tinggi. Terdapat sidik jari di dalamnya. Dan antara buku dengan penanya juga saling terhubung”, gumamku sambil mendudukkan tubuhku.
Tanganku mulai bergerak mengisi lembaran kosong buku itu. Jari – jemariku, melukis indah di dalam buku itu. Hal pertama yang aku tulis adalah ungkapan rasa rinduku kepada sosok sang ayah. Lalu, beralih dengan beberapa petunjuk yang telah berhasil aku dan Doni dapatkan.
Sayapku yang kini tidak lagi bersamaku. Malaikat yang menjadi pelindungku. Seseorang yang ku harapkan kasih sayangnya. Aku begitu merindukannya. Liontin yang selalu ku pakai adalah bukti bahwa dia sangat berharga bagiku. Ya Rabb, izinkan dia kembali padaku.
Kalimat – kalimat itu ku tulis di halaman kedua. Di halaman pertama, akan aku letakkan foto sang ayah. Setelah menulis beberapa kalimat itu, setidaknya dapat mengurangi rasa sesak yang selama ini ku pendam.
Lanjut, tanganku terampil menulis di halaman berikutnya.
Progres pencarian ayah selama di SMA Cakrawala
Itulah judul yang aku buat di halaman ketiga buku tersebut.
Hari pertama, aku menemukan sebuah lorong yang sangat mencurigakan. Alasannya, karena di lorong tersebut ada sebuah pintu besi yang terlihat sudah berkarat. Jika diprediksi, pintu itu sudah ada dalam kurun waktu yang cukup lama.
Halaman berikutnya, aku menulis petunjuk yang Doni dapatkan.
Doni mendapatkan potongan video yang menampilkan seorang laki – laki yang mirip dengan ayah. Laki – laki itu mengenakan jam tangan yang persis dengan milik ayah.
Lalu, video kedua dengan seorang wanita yang terlihat mengenakan sebuah cincin yang mirip dengan yang aku temukan di kamar ibu.
Terakhir, hari ini Doni menemukan sebuah peta yang menjelaskan detail lokasi dan bangunan di sekolah ini serta lorong misterius yang tidak lagi ditemukan. Dan yang paling mengejutkan adalah penemuan sebuah hutan misterius.
“Aku yakin, setiap petunjuk ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Dan yang harus aku temukan adalah penghubung semua petunjuk itu”, gumamku pelan sambil berusaha mencerna kembali setiap petunjuk itu.
Tatapanku beralih menatap wajah sang ayah yang berada di sebuah bingkai foto.
“Penghubung setiap kejadian, pasti adalah hal yang sulit untukku pecahkan dalam kurun waktu dekat, Yah. Kalau begitu, aku akan memulai dengan mengumpulkan petunjuk lainnya terlebih dahulu”, setelah berucap demikian, aku pun segera menuju ranjang dan segera tidur.
__ADS_1
...***...