For You Little Girl

For You Little Girl
BAB 35 SENYUM DISEBALIK LUKA


__ADS_3

Kicauan burung lagi – lagi menyapa pagiku. Ku buka tirai agar cahaya matahari pagi dapat lebih leluasa memenuhi setiap sudut kamarku. Melangkahkan kaki menuju balkon kamar sembari merentangkan kedua tanganku dengan kedua netra yang terpejam. Angin sejuk pun mulai menyentuh setiap inci wajahku. Menerbangkan pakaian dan jilbab yang ku kenakan.


Langit pagi yang cerah memenuhi indra penglihatanku dengan senyum yang terlukis dari bibirku. Sapuan cahaya matahari pun ikut menyapa pagiku yang membuatku seolah berada di negeri dongeng. Berlagak seperti tuan putri yang hidupnya dipenuhi dengan kenikmatan tanpa merasa kesusahan.


“Hari libur dengan pagi yang indah”, aku bergumam dengan senyum yang tidak lepas dari bibirku.


Tiba – tiba, aku teringat dengan laki – laki bertopeng itu. Ada rasa kehilangan yang sama ketika aku meminta Rauf menjauhiku. Terlebih, dia sudah menolongku dua kali. “Kenapa aku malah merasa kehilangan? Kamu aneh, Ra”, ujarku yang menertawai diriku sendiri.


Kasak – kusuk pun masuk ke gendang telingaku dengan masih membahas insiden kemarin. Kematian Cyra yang mendatangkan segudang tanya bagi banyak orang. Berbagai rumor pun mulai bertebaran dikalangan guru dan siswa.


“Aku masih nggak percaya, kalau Cyra bunuh diri”, ujar seseorang yang berada di balkon kamarnya, tepat di sebelah kamarku.


“Iya, padahalkan dia nggak sejahat Naya. Malah aku berharap, Naya yang mati biar nggak ada yang mengganggu ketenteraman sekolah ini”, timpal teman sekamarnya.


“Kematian Cyra, aku kurang yakin jika itu adalah upaya bunuh diri”,


“Mungkin nggak sih kalau dia dibunuh”.


Begitulah gosip yang beredar saat ini. Aku hanya diam tanpa berniat menjelaskan apapun. Mengenai Naya, mereka benar kalau dia selalu membuat gaduh di sekolah ini, tapi semua persepsi itu berubah ketika aku mengetahui sisi lain dari Naya.


Mereka lucu. Hanya rumor sudah langsung menghakimi bahkan mengharapkan kematian seseorang.


Ketika aku masih fokus memperhatikan tetangga kamarku, tiba – tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselku. Segera jari – jemariku menggeser layar benda pipih tersebut yang membuat keningku berkerut.


Sebuah pesan dari nomor asing yang menampilkan foto tampak belakang seseorang. Lalu, pesan berikutnya berhasil membuatku terkejut luar biasa hingga setetes air mata berhasil jatuh dari pelupuk mataku.


Kalian tahu apa pesan berikutnya yang aku terima? Sebuah pesan yang berhasil meruntuhkan pertahananku. Kakiku lemas seolah tak lagi mampu untuk menopang beban tubuhku. Foto seseorang yang sangat aku kenali. Doni, sepupu yang aku nanti kabarnya selama seminggu lebih, kini terlihat memilukan.

__ADS_1


Lalu, pesan berikutnya kembali memenuhi layarku ponselku. Datanglah ke lorong yang kamu datangi kemarin, jika masih menginginkan dia hidup. Itulah pesan singkat yang membuatku segera beranjak tanpa memikirkan risiko yang akan aku terima.


...***...


Di ruangan laboratorium, seorang laki – laki yang selalu mengganggu fokusku terlihat mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras dengan sorot mata memerah menahan amarah yang mulai memenuhi dirinya. Beberapa menit yang lalu, Ghaly yang mendapatkan laporan dari orang – orang yang diperintahkan untuk menjagaku dari kejauhan memberitahukan tentang kepergianku menuju lorong itu.


Rauf segera meraih pakaian dan topeng yang selalu ia kenakan ketika menghadapi musuh – musuhnya. Menutupi jati dirinya untuk melindungi dirinya dan diriku. Langkahnya cepat menyusulku yang sudah hampir masuk ke lorong tersebut. Ketika tanganku hendak meraih gagang pintu tua yang akan mengantarkanku masuk ke dalam, tiba – tiba tanganku ditarik oleh seseorang.


Tangannya menutup mulutku dengan isyarat mata memintaku untuk diam. Wajahnya tertutup oleh kain yang hanya menampakkan kedua matanya. Aku terdiam sambil mencoba mengingat – ingat bentuk mata yang tengah menatap waspada sekitar. Seketika, tubuhku menegang dengan netra yang membulat sempurna.


Yira? Gumamku di dalam hati dengan terus memastikan apa yang aku lihat.


Tidak lama, datang sekumpulan orang yang berpakaian hitam dengan salah seorang yang aku kenal. Dia? Bukannya dia adalah asistennya Paman Regal? Mungkinkah pria tua itu yang mengirim pesan padaku?


“Di mana gadis itu?”, ucap asisten Paman Regal yang membuatku segera memahami keadaan.


“Sepertinya gadis itu sudah pergi, Pak”, terdengar jawaban dari salah seorang bawahannya. “Kebetulan kamera CCTV berhasil disadap sehingga tidak ada petunjuk yang berhasil didapatkan”, lanjutnya lagi.


Berhubung aku yang tidak berhasil mereka temukan, akhirnya mereka memilih untuk pergi dari tempat tersebut. Setelah keadaan aman, seseorang itu segera melepas tangannya dari membekap mulutku. Tangannya beralih menggenggam tanganku untuk membawaku pergi dari tempat itu. Aku hanya diam tanpa melakukan perlawanan, karena aku semakin yakin bahwa seseorang yang tengah bersamaku saat ini adalah teman yang begitu aku rindukan.


Setelah kepergianku dengan seseorang yang aku yakini adalah Yira, seseorang menatap khawatir ke arahku. Tangannya masih terkepal dengan nafas yang naik turun. Lagi – lagi, aku datang terlambat. Terlebih, siapa seseorang yang sedang bersama Sara?


“Tenanglah, Rauf. Aku yakin, seseorang yang bersama Sara bukanlah orang yang berbahaya Buktinya, aku melihat ada seulas senyum yang terbit dari bibir Sara. Artinya, Sara mengenal orang itu. Jika tidak, pasti Sara sudah menghajar orang tersebut”, ujar Ghaly yang terkekeh geli melihat ekspresi sahabatnya yang dipenuhi keringat dingin karena khawatir.


Sedangkan Rauf hanya mendengus kesal, karena selalu menjadi bahan ledekan sahabatnya itu. Ia pun memilih mengikutiku dengan Ghaly yang selalu menampilkan wajah meledek miliknya. Beberapa menit kemudian, aku tiba di sebuah taman yang beum pernah aku kunjungi dan masih berada di sekolah tersebut.


Seseorang itu pun melepas genggamannya dari tanganku, lalu duduk di kursi taman yang hanya ada satu di sana. Aku pun juga ikut duduk di sebelahnya dengan masih menatap intens wajahnya. Tatapan seseorang itu lurus ke depan dengan sorot mata yang sulit aku definisikan. Aku pun mengalihkan tatapanku ke langit pagi yang dipenuhi kebiruan.

__ADS_1


“Berhati – hatilah”, ucapan kepedulian yang keluar dari bibir seseorang yang aku rindukan membuatku melukis seulas senyum.


“Akhirnya kamu kembali”, jawabku yang membuatnya segera menoleh ke arahku.


Angin sepoi – sepoi pagi itu, berhasil menerbangkan topi yang bersemayam indah di kepalanya. Senyumku semakin mengembang tatkala wajah gadis itu semakin jelas, walaupun sebagian wajahnya masih tertutupi oleh sepotong kain. Wajah cantik nan meneduhkan dengan rambut yang terikat rapi yang sangat aku kenali.


“Aku merindukanmu, my roommate”, lanjutku lagi.


Bisa ku lihat, tubuhnya menegang dengan sorot mata tajam yang tengah mengintimidasiku. Sontak, hal itu membuatku tertawa. “Hahaha, aku sangat mengenalimu, Ra. Jadi, sekalipun wajahmu tertutupi oleh kain ini, cukup dengan memperhatikan matamu, aku bisa mengenalimu”, ucapku sembari menunjuk kain yang menjadi penghalang tersebut.


Terdengar helaan nafas berat dari bibirnya yang segera mengalihkan tatapannya dariku. Kini, ia menatap ke arah langit pagi sembari kedua tangannya mulai membuka kain tersebut. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum, karena tebakanku sangat tepat.


“Yira, kalau aku nggak salah tebak, kamu adalah orang yang berdiri di depan aula ketika hari pertama festival berlangsungkan?”, aku bertanya sambil mengedipkan sebelah mataku.


Lagi – lagi, Yira mendesah pasrah. “Terus, kenapa nggak kamu kejar?”, tanyanya yang membuatku cengengesan.


“Aku masih belum yakin, Ra. Tapi, saat aku melihat sorot mata tajam penuh intimidasi tadi membuat aku ingat dengan kejadian di depan aula itu”.


Hembusan angin berhasil menerbangkan dedaunan yang jatuh tepat dipangkuan Yira. Tanganku terulur meraih daun itu dan menatap sendu daun tersebut. Yira menangkap raut wajahku yang membuat keningnya berkerut.


“Dedaunan yang melekat indah pada ranting yang kokoh di tempatnya, pada akhirnya tersapu oleh angin dengan sekali tiupan melepas ikatannya. Sesuatu yang dicap milik sendiri memilih memisahkan diri oleh takdir yang sulit diterka. Selayaknya burung yang kehilangan kendali terbang ketika sayapnya patah”, ujarku dengan netra yang mulai berkaca – kaca menatap langit cerah.


“Embun pagi yang membuat tubuh enggan untuk bangkit, pada akhirnya memaksa diri untuk beranjak demi perut yang mulai protes. Dinginnya udara pagi menyapa kulit membuatnya berkerut menahan tubuh yang kembali menggigil. Dekapan hangat yang diinginkan tinggallah sebatas semu. Gambaran yang menyedihkan”, ucap Yira yang membalas perkataanku.


Kami pun tersenyum di sebalik luka yang tengah menerpa kami. Tanpa perlu berucap, aku bisa merasakan bahwa aku dan Yira berada di posisi yang sama. Tersenyum sembari menikmati hangatnya udara pagi.


Cukup jauh dari keberadaanku, seseorang berdiri dengan helaan nafas lega yang keluar dari bibirnya. Sebisa mungkin, aku akan menjadi pelindung bayangmu, Maisara Berlian.

__ADS_1


...***...


__ADS_2