Forgotten Sins

Forgotten Sins
Prolog


__ADS_3

 


THE FORGOTTEN SINS


 


Pagi ini cuacanya sangat sejuk dan cerah. Semua orang tidak ingin melewatkan kesenangan ini sehingga, hampir sepertiga penduduk Kota Medianpolis memilih keluar dari kediamannya.


Kota ini adalah pusat dari perbelanjaan, mode, inovasi tekhnologi , serta kebudayaan modern di abad ini. Bahkan kemodernanya sudah diakui hingga benua lain.


Terlihat jelas dari semua fasilitas umum yang bersifat otomatis. Bahkan rumah pun sudah jarang yang memakai bahan dasar berupa kayu. Rambu-rambu lalu lintas, pengolahan limbah dan sampah juga sudah mencapai tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Semua kegiatan di kota ini diatur dalam sistem canggih. Sarana pendidikan, pengobatan, dan lain-lain sudah sangat tercukupi. Sehingga meski dalam keadaan sejahtera, masyarakat memiliki kesadaran untuk tidak bermalas-malasan dan membiarkan teknologi menguasai seluruh pekerjaan sehari-hari.


Namun diantara kesempurnaan itu, ada sesuatu yang sangat aneh. Para penduduk Kota Medianpolis tidak mengenal kebudayaan tradisional mereka sendiri. Bahkan anak-anak pun tidak mengenal alunan nada lembut dari alat musik tradisional, atau keanggunan corak warna dan keindahan tari-tarian.


Hanya ada sebuah pasar terbengkalai, sisa bangunan masa lampau. Diduga didalamnya dipenuhi oleh patung, relief dan barang-barang berharga yang berkaitan dengan peradaban tinggi. Namun fakta itu tidak mengubah tampilan buruknya, lebih mirip tempat pemakan dibandingkan pasar. Bahkan bau busuk menyeruak dari dalamnya sehingga warga menginginkan bangunan itu diratakan dengan tanah.


Tapi rupanya pemerintah kota yang sekarang memiliki rencana lain. Dengan merenovasi pasar tersebut, pemerintah berharap warga dan kota sama-sama ikut berpartisipasi untuk mencoba mengenali sisa-sisa kebudayaan mereka yang selama puluhan tahun diperlakukan seperti sampah.


Namun, hingga kini tak ada sedikitpun respon yang tampak dari masyarakat. Bahkan meski berada dalam kejanggalan semacam itu, penduduk kota sama sekali tidak peduli. Lenyapnya kebudayaan dari suatu daerah adalah mustahil, tapi itu terjadi di kota sempurna ini. Tanpa menoleh lagi pada hal yang terjadi di masa lalu mereka terus berjalan ke depan. Membuat inovasi teknologi terbaru dan membiarkan misteri terkubur dalam lingkaran waktu.


Duk, Duk,Duk…


Suara langkah kaki di sebuah tangga.


“Kak, ayo pergi!”


“Hah…, kau ini, ku kira gempa !”Canda anak lain yang sedang duduk menyantap sarapan paginya.


“He,he,he…maaf…” balas anak itu nyengir.


Mereka berdua adalah kakak beradik yang tinggal di tengah Kota Medianpolis. Sebelumnya, mereka telah berencana berjalan asal, hanya untuk menikmati suasana pagi.


“Nah, jadi pergi atau tidak?” sambung kakaknya sambil meletakkan magkuk kosong di meja.


“Ayo…!!”jawabnya bersemangat.


Dua anak lelaki itu berjalan beriringan ke luar rumah dengan bersemangat. Ketika kaki mereka menyentuh trotoar, sang adik langsung melesat bagai anak panah meninggalkan busur. Dalam kasus ini, sang kakak lah yang berperan menjadi busur.


“Arna, tunggu…jangan cepat cepat…!”Ujarnya sambil mempercepat lari.


“Ayo cepat Kak Rabka!”Goda Arna adiknya tanpa menoleh lagi.


Tujuan mereka adalah taman kota yang letaknya tidak jauh dari rumah. Namun padatnya orang berlalu lalang membuat perjalanan terasa panjang.


Arna berhenti tepat di bawah pohon beringin tua yang rimbun dan beberapa detik kemudian, Rabka muncul dari gerombolan orang dan segera menghampiri Arna.


“Huh..,capek juga ya?” kata Rabka sambil mengkibas kibaskan kertas koran yang disediakan di pinggir jalan.

__ADS_1


“Ha,ha,ha…Kakak lucu ! Masa cuma segitu aja sudah capek?” Arna tertawa terpingkal-pingkal.


“Habisnya, tadi aku ngejar kamu sih! Makanya..., jangan lari seperti dikejar setan! Gara-gara kamu, aku hampir ditabrak orang jogging!” jawab Rabka Cemberut.


“Hahaha..orang jogging kan pelan masa kamu hampir ditabrak? aku yang lari seperti dikejar setan saja baik-baik saja. Kamu yang lari seperti dikejar siput sudah ngos-ngosan!”Tawa Arna kembali meledak.


“Sudah, sudah!! Lihat tuh, ada yang jual es krim, mau tidak?” sela Rabka sambil menunjuk ke tengah lapangan.


“Mau dong.., mau kamu ditabrak!” Godaan Arna tidak bisa dihentikan.


“Hmh..!” Dengus Rabka kesal tetapi tetap menggandeng adiknya menuju penjual es krim.


Belum saja mereka sampai, Arna berhenti memandang lukisan gunung di tempat pot tanaman hias digantungkan. Otomatis, Rabka pun berhenti.


“Hmm…mau ke bukit?” tanya Rabka.


“Tentu!!!”Jawab Arna bersemangat.


Tanpa menunggu sepatah kata pun dari kakaknya, Arna segera berlari menggandeng Rabka menuju ke arah barat tanpa mempedulikan es krim yang tadi menjadi tujuan mereka.


Bukit yang dimaksudkan adalah bukit kecil di dalam wilayah pusat Kota Medianpolis. Kota Medianpolis dikelilingi oleh hutan. Namun di pusat kota tidak banyak pohon, melainkan sarana teknologi yang mendominasi di sana.


Mereka menaiki tanah yang dipenuhi pohon rindang dan burung kecil berlompatan. Mereka terus berlari melewati sungai jernih yang airnya hanya mencapai mata kaki atau paling tinggi lutut saja.


Rabka menciduk air dengan kedua tangannya lalu mencuci muka. Arna berniat jahil, ia mencipratkan air ke tubuh kakaknya spontan, tangan Rabka bergerak menepiskan butiran air tersebut. Tapi, sebelum Ia sempat membalas, Arna telah mendorongnya hingga tercebur ke air.


“Ha, ha, ha…,coba balas kalau kau cepat!” Tantang Arna.


“Hah..,lihat saja nanti” Jawab Rabka sambil menarik tangan Arna hingga mereka terjatuh bersama.


Suara tawa terus terdengar diantara mereka.Tak terasa, matahari telah berada di puncak langit. Namun mereka terus bermain tanpa peduli. Sekarang, matahari telah bergeser ke barat. Sinarnya menerpa wajah Rabka yang sedang mencipratkan air pada muka adiknya. Ia memejamkan mata, tak disangka Arna malah membalasnya dengan dorongan kuat.


“Jatuh, jatuh lagi!!!” Keluh Rabka.


“Salah sendiri…” ejek Arna.


Ia berlari, jaga-jaga kalau kakaknya mengejar. Tapi, malangnya Ia tersandung batu kali. Melihat itu niat Rabka untuk membalas hilang, berganti dengan gelak tawa puas.


“Ha, ha, ha… kualat!” Ejek Rabka sambil memegangi perutnya karena geli.


Belum saja Arna menjawab, seekor ikan besar melompat dan mendarat di kepalanya. Tawa Rabka kembali meledak. Bahkan lebih keras sehingga muka Arna merah padam. Rabka mengatur nafas dan berjalan kearah sang adik. Saking tidak hati-hati, kakinya menendang sebuah batu hingga sepatunya terlepas terbawa arus. Ia langsung berbalik mengejar sepatunya.


“hey…,sepatu…!!! Tunggu…!!! Berhenti…STOP…!!!”


Arna bangkit dari sungai dan berjalan ke puncak meninggalkan Rabka yang kebingungan. Rabka telah mendapatkan kembali sepatunya , Ia tidak mendapati adiknya dimanapun. Rabka meluaskan pandangan hingga ke puncak bukit, lalu menyusul Arna.


Ia mendapati Arna sedang duduk melihat matahari tenggelam. Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk bermain di sungai. Padahal, rasanya baru saja mereka pergi meninggalkan rumah. Matahari telah hilang, beberapa jenis binatang keluar dari persembunyian menyambut kedatangan malam. bayangan pepohonan berpindah arah berlawanan dengan matahari. Angin malam bertiup membuat suasana berubah drastis, mengisyaratkan suatu rahasia. Tapi tak ada satupun diantara mereka yang menyadari perubahan suasana itu.

__ADS_1


“Ayo Pulang! Ini sudah malam, sebentar lagi bukit ini akan gelap.“ Ujar Rabka.


“Baiklah, ayo pergi!” Jawab Arna tetap pada posisi semula.


“Ayo!” Kata Rabka sambil berjalan mendahului Arna.


Dia tahu, Arna tidak mau ditinggal sendirian di sana benar saja, Arna mengikut pelan di belakang


Sesampainya Di Rumah , Arna langsung berbaring di kamarnya.


“Ah…,capek…!” Keluh Arna pada diri sendiri.


“Kalau capek istirahat.” Jawab Rabka tanpa diminta.


Tapi nampaknya Arna sudah tidak merespon lagi ia sudah mencoba untuk tidur. Tapi saat Rabka ikut menaiki kasur, matanya yang telah terpejam terbuka kembali. Rabka sedang berbaring membelakanginya.


“Kak…” panggilnya.


“Hmm…” Jawab Rabka dengan mata tertutup.


“Kalau sudah besar kau ingin jadi apa?” lanjut Arna.


Rabka terdiam memikirkan jawaban dari pertanyaan adiknya, dan berbalik menatap mata Arna.


“Entahlah, mungkin…aku akan menjadi ahli di semua jenis bela diri. Kemudian, aku akan memenangkan turnamen dan kejuaraan di kota, lalu…ke seluruh dunia!” Jawabnya sambil menghayal turnamen-turnamen yang bahkan belum dijalaninya.


Arna tertawa kecil mendengar angan Kakaknya yang kelewatan batas.


“Hey..,kau ini!!! Jangan tertawa, ini kan hanya cita-cita!” serunya dengan muka masam. “yang penting harus berusaha, jangan hanya berangan-angan,” lanjutnya.


“Iya,Iya…” jawab Arna.


“Hmm…, Bagaimana denganmu?” tanya Rabka kembali.


“kalau aku sih…,”Arna terdiam sejenak untuk berfikir.


Setelah sejurus lama memeras otak, akhirnya keluar kata-kata dari mulutnya


“Huh…, entahlah…aku tidak tahu...” sekilas, Ia tampak menyesal karena tidak punya cita-cita setinggi kakaknya.


“Ah..sudahlah, pikirkan lain kali!” Hibur Rabka.


Malam semakin larut, percakapan mereka berdua sudah terhenti. Seketika, suasana menjadi sepi. Rabka berbalik badan beberapa kali, menatap jam dinding yang terus berdetik. Sekarang, Arna sudah tidak berbicara lagi.


“Arna…” panggilnya.


Tak ada jawaban, Arna telah terlelap. Ia diam. Namun tiba-tiba Ia teringat kalau mereka belum bersih-bersih badan bahkan belum makan malam. Tetapi ia biarkan saja,

__ADS_1


“Masa bodoh.” Gumamnya.


__ADS_2