Forgotten Sins

Forgotten Sins
Kontroversi


__ADS_3

“Arna…, Hey! Arna… Bangunlah!” Suara itu terdengar sangat familiar.


Arna menggeliat beberapa kali dan membukakan matanya.  Namun ketika ia melihat langit-langit, cahaya lampu membuatnya menjadi silau kemudian menutup mata kembali masih dalam keadaan setengah sadar.


“Hey! Kau ini..! Aku memanggilmu…..” suara itu mengusiknya sekali lagi.


Suara itu memaksanya kembali ke alam kesadaran. Ketika pandangannya menjelas, dua mata sejernih kaca tampak dihadapannya.


“Selamat sore..!!” Ujarnya ceria.


“Kakak..!!” Seru Arna, lengannya bergerak cepat memeluk erat Rabka.


“Kakak.., aku kira kau kemana! Aku panggil, kau jangan ke sana! Kenapa kau tidak kembali??!” perasaan Arna meledak-ledak.


Sambil terisak-isak ia melampiaskan kekhawatirannya.


“Sssttt….” Rabka menempelkan jari telunjuk di depan bibir Adik kesayangannya.


“Jangan menangis lagi.., Kakak ada di sini..” lanjutnya dengan senyuman hangat sehangat sinar mentari.


Rabka merangkul balik adiknya dengan mata yang juga berkaca-kaca. Dan matanya sendiri juga berkaca-kaca saat itu.


“Kakak…, kau, har..rus jan...ji jangan, tinggalkan a..ku lagi!” Ujar Arna masih menyuruk dalam dada Kakaknya.


Rabka menatap mata Arna lekat-lekat. Kini mereka saling bertukar pandang, dan Arna bisa menangkap suatu isyarat di sana. Tepat di tengah bola mata hitam Kakaknya yang terlihat teduh, ada secercah cahaya putih.


“Aku… berjanji...”


Cahaya terang dari mata Rabka semakin meluas hingga menutupi seluruh tubuhnya. Arna masih merasakan kehangatan tubuh Kakaknya namun tidak dengan wujudnya. Hanya barusan ia melihat sekilas senyum itu, senyum impiannya.


“Kakak…!!!” Panggilnya.


 


•••


 


terlompat keluar dari mimpi memang tidak menyenangkan. Terlebih, saat sadar bahwa mimpi bukanlah kenyataan. Tak ada Kak Rabka di sisinya, melainkan Gio yang sedang asyik bermain game.mungkin Gio menemaninya sejak tadi. Arna menggeleng pelan, Ia masih berada di rumah sakit. Setahunya ini adalah hari ke 4 dia tergeletak di ranjang ( tidak dihitung dengan saat tidak sadarkan diri ).


Ia menghela nafas. Setidaknya ada Gio di sini, sahabatnya sejak kecil. Mungkin Gio dapat memberitahukan hal-hal yang dirahasiakan oleh Ibu. Atau Gio bisa menemaninya membuang kejemuan dan kekhawatirannya pada suasana kota Medianpolis yang semakin tidak tenteram. Atau barangkali itu hanya trauma karena tragedi hari itu. Keberadaan Kak Rabka kini tidak pasti dan Ayah pun tidak datang mengunjunginya. Ia sendiri dengan sepenuh hati tidak percaya keluarganya melakukan hal semacam ini. Karena mereka selalu bersama walau jarak memisahkan. Itu sangat berbeda dengan keadaan sekarang, Arna sama sekali tidak merasakan keberadaan keluarga menyertai hari-harinya.


“Sudah bangun Arna?” Tanya Gio, yang rupanya sudah sadar karena helaan nafasnya tadi.


“Kau.., sejak kapan disini Gio?” Tanya Arna dengan suara tertahan.


“Sejak tadi aku sudah menunggumu terbangun. Aku sangat rindu mengobrol denganmu!” Ujar Gio.


Arna yang mendengar pernyataan sahabatnya terketuk hatinya. Gio selalu menemaninya dalam suka dan duka, karena itu, semangatnya untuk segera keluar dari sini semakin besar.


“Begitu aku keluar dari sini aku akan mencari keberadaan Ayah dan Kakak!” Begitu tekatnya dalam hati.


Ibu masuk ke kamar dan menyapanya dengan senyuman.


“Arna…” panggil Ibu lembut.


“Ibu membawa...”


KRINGG….


“Halo?”


“Oh, iya! Saya akan segera ke sana! Kapan? Sekarang?”


Perkataan Ibu terpotong karena telepon mendadak itu. Setelah memberi isyarat kepada Gio, Ibu tersenyum untuk yang kedua kali dan keluar setengah berlari.


“Ibu kemana? Ayah kemana? Kakak kemana?” Tanya Arna setelah mereka berdua tertegun sejenak.


“Arna.., tidak apa-apa! Ibumu banyak sekali urusan penting sekarang ini. Kau harus bersabar! Tahu tidak? Setiap malam saat Ibumh sempat, dia selalu datang ke sini dan mengecup kening mu. ia teramat sangat menyayangimu!


Lagi pula, aku ada di sini bukan?” Jelas Gio panjang lebar dan lagi-lagi kata-kata mutiara kawannya yang satu ini selalu membuatnya terketuk.


“Kau tidak sekolah?” Tanya Arna mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Tidak! Selama kau belum keluar dari tempat mengerikan ini, aku tidak akan sekolah…, Titik!” Ujar Gio penuh semangat bagai sedang berpidato di aula besar.


“hahahaha…” Arna tertawa dengan tulus.


Pertama kalinya sejak peristiwa itu, dia tertawa dengan tulus. Ia tahu perkataan Gio benar-benar tulus, walau sedikit berlebihan. Tapi kata-kata kawannya inilah yang membuat dirinya seakan bangkit dari kematian.


“Apa yang lucu?” Protes Gio.


“Apa??”


“Hahah..”


“Hahaha...” Gio ikut tertawa walau tak mengerti apa yang terjadi.


Tapi Gio tak butuh penjelasan, ia hanya cukup melihat sahabatnya tersenyum.


“Hahahaha…! Hahahaha..” mereka tertawa bersama seperti orang bodoh.


 


•••


 


"Benar-benar lenyap?" Tanya Ibu dengan wajah penuh kesedihan.


"iya Bu, kami juga tidak bisa memaksakan orang untuk melakukan pencarian bangkai helikopter, dikarenakan ombak yang terlalu besar dan membahayakan keselamatan para penyelamat.


sebelumnya, kami sudah mencoba melakukan penyisiran di sekitar Lautan Medhi. Tapi tidak menemukan apapun dan malah dihadang gelombang ganas sehingga terpaksa membatalkan pencarian.


kami dengan menyesal mengatakan bahwa pemakaman akan dilaksanakan tanpa jenazah." ujar seorang wanita berbaju resmi.


"hmm...kasihan sekali para keluarga korban. Nasib mereka begitu malang, bahkan hacker yang membobol sistem operasi penerbangan militer itu belum bisa dipastikan sampai sekarang. Orang seperti itu tidak seharusnya dapat dibiarkan begitu saja. Orang yang bisa meretas jaringan secanggih itu sangat berbahaya bagi kita semua." Ujar seseorang yang menguping pembicaraan kepada kawannya.


"iya..., aku setuju." tanggap kawannya.


"aku rasa, itu bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan oleh seorang saja. Aku rasa ada sekelompok orang yang melakukan ini!" ujar kawannya yang lain.


"Terimakasih ya Bu.." kata Ibu pada wanita berbaju resmi itu lalu menunduk dengan hormat


Mobil Ibu melesat kembali ke rumah sakit. Dengan langkah cepat, Ibu berjalan menaiki tangga. Tepat di depan kamar, langkahnya terhenti sesaat karena suara canda tawa Gio dan Arna. Seakan tidak percaya,Ibu tertegun, menajamkan pendengarannya. Tidak percaya mendengar suara tawa anak tercintanya.


"Arnawaku..., kau kembali?" Pikirnya.


Dengan senyum mengembang di wajah dan jiwanya, Ibu melangkahkan kakinya memasuki kamar.


"Arnawa...., Ibu kembali.."


"Tante?"


"Ibu?"


"Ayo makan, Ibu membawa kue.." ujar Ibu, tangan kanannya membawa plastik bergambar buah-buahan lucu.


"Ayo...!!" seru Gio dan Arna tersenyum.


"maafkan Ibu ya...Arna.." ujar Ibu sambil membelai wajahnya.


untuk yang kesekian kali, Ia tertegun. Kali ini lebih dalam tapi kemudian, Arna tersenyum dan mengangguk dengan senyumnya yang tidak kalah hangat dari sang Ibu.


 


•••


 


Hingga kini, Ia tidak mengetahui apapun soal keberadaan Kakak maupun Ayahnya, dan ia terus berusaha mengungkiri ingatannya soal Rabka yang berada di pusat ledakan saat itu. Namun, sisi lain dirinya membenarkan ingatan itu, walau bagaimanapun juga ingatan itu benar-benar nyata.


Genap 20 hari, Ia dinyatakan boleh pulang ke rumahnya. Tapi keberadaan Rabka masih saja jadi misteri. Ibu tidak pernah menjawab dengan benar saat ia bertanya soal itu, bahkan Gio. Ledakan hari itu benar-benar mengerikan, itu terus terbayang di pikirannya. suara roda, klakson mobil atau suara lainnya selalu terdengar seperti suara ledakan dan teriakan orang-orang di hari itu. Tapi, ia berusaha sekeras mungkin untuk berani. Walau kadang, ia terpaksa menutup telinganya dengan kedua tangan agar ia tidak gemetar.


Mimpi di hari itu tentang Rabka, begitu nyata. Ia sendiri banyak berharap kalau mimpi itu adalah sebuah pertanda bahwa Kakaknya masih hidup. Tapi kenyataannya berbeda sekali dengan harapan. Keadaan makin mengkhawatirkan, terkadang Ia melihat Ibu menangis diam-diam didekatnya saat ia sedang pura-pura tertidur. Padahal, dokter menyatakan bahwa Ia makin membaik setiap harinya.


"Lantas, Air mata itu untuk siapa? Ayah? atau mungkinkah Kakak? memangnya dimana mereka?" pikirannya terus berkecamuk.

__ADS_1


Mobil mereka berhenti di pekarangan rumah yang dipenuhi dengan berbagai macam tanaman hias.


"kita sampai..." kata Ibu sambil melihat ke kursi belakang.


"mau Ibu gendong?" Tanya Ibu menawarkan bantuan, karena ia tahu bahwa anaknya sudah lama tidak berjalan.


"tidak usah Bu, aku langsung ke kamar saja!" jawab Arna.


"Baik.., silahkan masuk.." ujar Ibu saat membuka pintu rumah.


Dengan sebuah senyuman terakhir, Arna berlari ke kamar tanpa menoleh kemanapun lagi. Sebenarnya Ia ingin ada salah satu dari Ayah atau Kakak menyambutnya tapi itu tidak mungkin terjadi. Ia sangat letih dibingungkan oleh teka-teki tidak jelas ini dan langsung merebahkan diri di kasur . Meski begitu, pikirannya terus berputar.


“*Kak Rabka, benarkah dia telah tewas di sana?”


“Kalau ya, apa yang harus aku lakukan?”


Ia makin dalam menekankan kepalanya ke kasur.


“Menyedihkan!!!!!”


"Ayah, dimana ayah?"


“Apakah aku harus menangis keras karena kehilangan Kakakku?”


“Tapi, dimana mereka sekarang*?”


pertanyaan-pertanyaan itu terus beruntun memenuhi dadanya. Ada suatu perasaan yang rasanya ingin ia keluarkan tapi ia tidak bisa. Melihat kondisi Ibu yang semakin sering menangis diam-diam sampai matanya terlihat bengkak. Ia tidak tega untuk mengatakan perasaannya kepada Ibu. Pada akhirnya ia hanya terisak ketakutan di balik selimut. Takut akan kehilangan segalanya.


Ia melihat ke arah meja belajarnya. Ada kado dengan pesan di atas secarik kertas di atasnya. Ia bangkit dari dekapan selimut dan meraihnya.


"*Untuk Arnawaku*"


"ini petunjuk!"


Ia mulai membuka bungkusan dengan perasaan cemas.


“tulisan lagi?” pikirnya lalu matanya mulai bergerak untuk membaca isi pesan.


“****Arna, kita selalu berjalan-jalan di bukit, sungai dan kebun membayangkan bahwa kita sedang berpetualang di hutan. Kau ingat, saat kita mengandai soal mendaki gunung dan menikmati pemandangan indah di puncaknya? Pastinya! Kita sangat ingin melakukan itu bersama suatu hari nanti. Menyengkan sekali, menikmati keseegaran yang tiada tara seperti surga. Ditambah dengan pemandangan indah dan mencium aroma rimbun pepohonan dan rerumputan di sepanjang jalan.


Aku sudah menemukan tempat yang tepat untuk itu. Bahkan sama dengan angan kita. Ada tiga tempat di puncak Gunung Nuswa Yaitu Puncak Pinus, Garuda Dan Beringin. Aku berjanji suatu hari nanti, jika ada kesempatan aku akan mengajakmu kesana bersama sama. Aku sangat tertarik pada puncak beringin, dari sana kita bisa melihat keindahan Hutan Kirana. Aku telah menyiapkan album untuk foto kita berdua disana**.”


 


“ Rabka ”


 


Arna diam sejenak menggigit bibir lalu melihat isi kadonya.


"kakak.., kau dimana??" hatinya menjerit pedih.


Dua buku, satu adalah album foto yang telah diisi foto mereka sedangkan yang satu lagi adalah buku harian bertuliskan, Every Step is the way to freedom. Foto itu ia belai dengan jarinya lembar pertama ia buka. Teringat akan kenangan indah ia tersenyum, itu adalah foto mereka saat Ayah dan Ibu mengajakanya ke Restoran Ayam terkenal di kota. Ia tersenyum pahit mengingat Rabka yang entah dimana keberadaannya sekarang. Cepat-cepat ia tutup kembali buku itu. Tangannya bergerak menekan kepala dengan keras, begitu keras seakan ingin memecahkannya. Tiba-tiba layar handphonenya bercahaya.


****Jangan Bosen-bosen Mampir Ya..


tinggalkan saran di kolom komentar. saran apa..., karena saja saya akan coba memperbaiki kualitas cerita ini.


karya saya ini, merupakan jalan menuju cita-cita saya. Yaitu menandingi para sastrawan dan seniman hebat yaitu...( jangan ketawa ya...😅😅…)


namanya adalah...


√ Ebiet G.Ade


dan...


√ Pramudya Ananta Toer


Sorry... ketinggian ya?


ingat...


aku kelahiran 2007...☺

__ADS_1


jadi, dukung aku terus ya...Kakak Kakak**...


__ADS_2