Forgotten Sins

Forgotten Sins
Petunjuk


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain,


“Axton, jangan cepat-cepat!” Keluh Kak Feiza mengikuti lari Kak Axton dengan terseok-seok.


Sedangkan Kak Axton terlihat serius dengan yang dilakukanya. Berkali-kali Ia menembakkan senjata sinarnya ke depan seakan mengejar sesuatu.


“Axton! ada apa??” Tanya Kak Feiza sebal karena tak satupun dari pertanyannya yang dijawab oleh rekannya ini.


Sebuah tembakan terakhir melesat dari mulut pistol Kak Axton diikuti suara benda yang jatuh.


“Axton, apa itu??” tanya Kak Feiza gemetar.


“Ssstt…” Tegur Kak Axton karena selalu didesak dengan pertanyaan.


Kegelapan terowongan stasiun bawah tanah menciutkan nyali Kak Feiza. Sudah 20 menit mereka berkejaran dengan benda yang Ia tidak ketahui wujudnya. Entah ada kejadian apa di ruang tunggu,  Kak Axton tiba-tiba berlari kencang meninggalkannya yang masih terkagum dengan pameran busana tradisional. Itu wajar saja, selama ini tak pernah sekalipun Ia melihat corak kain seindah itu, model pakaiannya pun berbeda sekali dengan model sekarang. Karena Jauh tebih elegan dan sopan. Tapi gerakan tiba-tiba Kak Axton harus mengusik kekagumannya.


Feiza yang tidak mengerti sekaligus tidak bisa mengimbang kecepatan lari rekannya hanya bisa bertanya dengan histerils. Apalagi pada akhirnya Kak Axton berlari memasuki terowongan gelap ini, mau tidak mau Ia tepaksa mengikut. Kini, lampu senter Kak Axton menyorot pada tempat dimana ada benda jatuh tadi.


“Sialan!” Umpat Kak Axton Karena tak ada apapun di sana, padahal Ia yakin telah mengenai sesuatu.


“Axton, kau selalu menakutiku!” Ujar Kak Feiza manja, setidaknya untuk melunakkan sifat dasar Kak Axton agar tidak terlalu dingin.


Kak Axton tidak menjawab, Ia maju ke tempat sorotan senter lalu menyentuh batu rel di sekitarnya. Rasanya hangat hanya di bagian sana saja, padahal belum ada satupun kereta yang melaju di terowongan jam-jam sekarang. Harusnya kereta selanjutnya akan datang sekitar 30 menit lagi dan kereta yang lewat sebelumnya adalah sejam lalu. Ditengah ketidakpastian yang mencekam, handphone Kak Feiza berbunyi memberikan nada dering telepon yang manja dan mengganggu.


“Hallo? halo? halooo??” 


Tit…


“Hmm.., sinyalnya hilang!” Ujar Kak Feiza.


“Dari siapa?” Tanya Kak Axton masih dengan dingin.


“Reeko. Kira-kira Ada apa ya?” jawab Kak Feiza balik bertanya.


“Ayo keluar dari sini!” Ujar Kak Axton sambil menatap ke depan agak kecewa, lalu mendahului Kak Feiza.


Di depan monumen penghargaan Kota Medianpolis, Arna, Rezon, Reeko, Kak Gan dan Kak Olio sedang bercakap-cakap sambil menunggu keadatangan kedua tim lainnya. Tapi alih-alih mendengarkan, Rezon dan Kak Gan malah saling bertatapan menaruh curiga.


“Kawan-kawan!” Suara Lyda dari sebelah kanan mereka memecah ketegangan dari kedua belah pihak.


“Apa kalian menemukan sesuatu?” lanjut Ryan mewakili tim mereka yang terdiri dari Lyda, Goda dan dirinya.


Semua menggeleng kuat.


“Dimana Kak Axton?” tanya Gora.


“Entahlah, dia dan Kak Feiza tidak merenspons panggialn kami.” Jawab Reeko mengangkat bahu.


“Apa jangan-jangan, terjadi sesuatu pada mereka?” tanya Lyda panik.


“mungkin…” Timpal Gora.


“Bagaimana kalau kita susul?" usul Kak Olio yang sudah was-was memikirkan keadaan sahabatnya.

__ADS_1


Sinar mata Rezon menampakkan keinginan yang teramat besar untuk mencari kakaknya, berlawanan deangan raut muka Kak Gan yang nampak bertambah cuek.


“Kak Axton!!” Panggil Ryan mengejutkan semuanya.


Kak Axton dan Kak Feiza telihat berkeringat terlebih Kak Feiza yang bahkan nampak ngos-ngosan.


“Dasar lemot!” Ujar Kak Gan masih dalam sikap cueknya.


“Ku kira Kak Gan tidak menunggu Kak Axton!” Bisik Reeko pada Arna yang sedang cekikikan.


Hal intu memang tak wajar karena sejak dulu mereka sudah bermusuhan, atau memang Kak Gan mengatakan itu untuk menyinggung Kak Axton. Diam-diam Kak Olio menghela nafas perlahan.


“Apa yang terjadi, apakah ada masalah?” tanya Kak Olio pada Kak Axton.


Kak Axton mengangguk kemudian mulai bicara.


“Pasukan Viper Army terlihat saat kami melakukan pengintaian."


“Lalu, bagaimana??” tanya Reeko terburu-buru karena hasil pengintaianya sendiri tidak membuahkan hasil.


“Kami tidak berhasil mengorek informasi apapun, dia lenyap di terowongan.” Jawab Kak Axton sambil menggelengkan kepalanya.


“Apa yang dia lakukan di sana?” tanya Arna penuh selidik.


“Entahlah, sepertinya dia mencari sesuatu di pameran.” Jawab Kak Axton sedikit ragu.


“Pameran apa kak?” tanya Rezon pada Axton dengan muka heran.


“Tanya saja Feiza!” Ujar Kak Axton sambil melirik Kak Feiza yang dari tadi hanya bisa melongo karena tidak mengerti. 


Semua menatapnya.


“Oh..o…iya! itu adalah pameran busana yang dimodifikasi menggunakan kain bercorak tradisional.” Jawab Kak Feiza hampir salah tingkah saking senangnya karena Kak Axton melibatkannya walaupun sebenarnya tidak berbuat apa-apa. 


Rasanya Ia melihat setitik cahaya kebaikan di hati jagoan ini.


“Tradisional?" tanya Reeko karena hal ini terdengar asing di telinganya.


“Iya, awalnya aku juga tidak mengerti. Tapi, setelah aku melihat sendiiri corak kainnya yang luar biasa aku jadi mengerti. Coraknya sangat indah! Dipenuhi dengan pola cantik dari bunga, burung dan warna-warna dinamis namun terlihat lembut dan sejuk. Rasanya, aku sangat ingin menyentuh serat kainnya pasti sangat haluussss….” Jawab Kak Feiza sedikit berkhayal.


“Wah…, aku juga ingin lihat!!” Seru Reeko semangat.


“Kalau begitu.., pastinya sama dengan yang di taman kota.” Sambung Lyda.


“Bagaimana itu??” tanya Kak Feiza.


“Di taman kota, diadakan sebuah pameran alat musik dari bahan-bahan unik! Segalanya dibuat dari bambu dan kulit. Ada beberapa yang sangat mengagumkan, misalnya alat yang berbentuk bulat terbuat dari kuningan dan dimainkan dengan cara dipukul memakai tongkat, tapi bukan stik drum. Terus, ada juga yang bentuknya panjang kecil dan banyak lubangnya, suaranya melengking, mendayu, merdu… sekali!! ah…, banyak deh pokoknya!” Jelas Lyda penuh kekaguman. 


Sedangkan yang lain hanya bisa berkata “wah…” Dengan bayang-bayang mereka sendiri.


“Keren sekali!!!” Ujar Reeko berharap Ia yang ada di pameran itu dan menyaksikannya sendiri.


“Sudah, Sudah!” Potong Kak Olio.

__ADS_1


“Ayo pulang!” Ujar Kak Axton yang sudah berada di sisi motornya. 


Setelah mereka melaporkan hasil penyelidikan, guru pun memutuskan mengirimkan tim lain besok untuk meneruskan penyelidikan terutama bagian stasiun bawah tanah. Tapi justru itulah yang membuat rasa ingin tahu Arna menggebu dan membuatnya memeras otak merenungkan hal ditemuinya kemarin.


Pada satu titik pikiran Arna mencapai tahap dimana dia menemukan suatu fakta pada bangunan kemarin. Lebih jelasnya tempat dimana dia mencuci tangan setelah mengembalikan sumbat lubang gorong-gorong yang hampir mencelakai Gaosa. 


"Warna catnya masih baru, pilihan warnanya juga seakan sengaja diberikan kesan kuno. Apalagi, corak bunga dan warna segar di sepanjang sisi dalam bangunan, hampir persis dengan deskripsi Kak Feiza dan Lyda tentang pameran di tempat penyelidikan mereka masing-masing. 


Padahal gedung itu adalah sisa dari klub malam yang di hanguskan karena menjadi pusat bandar narkoba." Pikir Arna seraya memukul kepala pelan dengan telapak tangan. 


Ia bangkit dari kursinya mengambil handphone di atas kasur, kemudian jarinya bergerak cekatan menyentuh tombol demi tombol di layar. Tak lama kemudian, muncullah sebuah artikel yang menjelaskan soal pameran barang tradisional di kota. 


Rupanya, semua itu dibuat atas keinginan seseorang benama Nona Meyl Orana, direktur utama dari berbagai perusahaan besar di Kota Medianpolis. Ia menamainya dengan proyek Modernisasi Kebudayaan Melawan Lupa. 


Mulut Arna berkomat-kamit membaca kata demi kata di artikel itu dengan cermat.


Proyek Modernisasi Kebudayaan Melawan Lupa diselenggarakan untuk mengenalkan kembali kebudayaan tradisional yang telah lama ditinggalkan oleh masyarakat puluhan tahun lalu. Proyek ini diselenggarakan dengan membuka pameran di beberapa titik.


Yaitu:




Taman Kota,




Stasiun bawah tanah,




Pusat Pertokoan barat daya kota,




Bandara Internasional Jaladara.




Nona Meyl Orana, mengatakan bahwa mereka akan menggelar acara peresmian di gedung Airmony Siiv pada 30 Agustus pukul 16.35 .


Bacaan Arna terhenti di sana, Ia terlompat dari duduknya dan berlari kencang ke luar sampai lupa menutup rapat pintu kamar.


“Kawan-Kawan!!” Ujar Arna membuka pintu kamar Rezon hingga menimbulkan suara keras.

__ADS_1


Sontak, Reeko, Reezon dan, Kak Axton yang berada di dalam menoleh terkejut.


__ADS_2