Forgotten Sins

Forgotten Sins
Sosok itu


__ADS_3

Ia menunduk dalam, mengingat kejadian sebelum terjadi sesuatu yang membuatnya hampir mati, dimulai dari gejolak di batinnya saat guru menepuk pundak Ryan dan dirinya perrsisi seperti dulu. Tapi, teriakan bisunya itu bukanlah sesuatu yang wajar. 


Jadi apa yang harus dijelaskan dan bagaimana caranya?


“Arna, Ada apa??” Reeko mendesak karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


Arna masih terdiam sejurus lama mencoba merangkai kata-kata dan Reeko berhenti mendesak. Sambil menghela napas dia berkata,


“Arna, aku paham kau rindu keluargamu. Tapi..,” Arna memandang wajah Reeko yang berekspresi seakan ikut merasakan kesedihannya.


Reeko menghela napas dan Rezon melanjutkan perkatannya.


“Kau masih punya kami di sini, kami keluargamu sekarang Arna.” Perkataan itu menggetarkan seluruh tubuhnya.


“Setidaknya anggap kami begitu.” Lanjut Reeko dengan sendu karena menahan tangis.


Arna mencengkeram selimut yang dipakainya dengan kedua tangannya.


“Aku..” Arna memejamkan mata erat dan membenamkan diri ke kasur empuk di bawahnya.


“Ibu, Ayah, Kakak..” Panggil Arna dalam hati yang penuh luka sayatan dalam.


Dengan menyebut nama mereka, Ia berharap pesan itu akan sampai ke alam baka dan semuanya kembali seperti semula, tapi tidak akan pernah terjadi. Karena yang mati akan selalu mati, dan yang hidup adalah hidup. Reeko menggenggam tangan Arna sekedar untuk berkata,


“Kami disini, dan akan selalu disisimu.”


Rezon duduk di sampingnya, menumpukkan tangan di atas Reeko dan dilapisi oleh tangan Kak Axton yang sedari tadi hanya terdiam. Mereka saling berpandangan, berdialog dengan isyarat bisu, kemudian Reeko berjalan menjauh duduk di kursi. Tak lama setelahnya, keadaan kamar sunyi senyap, keberadaan keempat anak tersebut menghilang ditelan malam.


    Sinar kemerahan dari sang mentari terpancar dengan anggunnya menembus jendela kamar yang tidak sempat ditutup semalam, karena pancaran cahaya itu, Arna tergugah dari tidurnya kemudian menggeliat untuk menghilangkan kaku di sekujur tubuh. Ketika Ia membuka mata, disamping kanannya Rezon tengah tertidur lelap dan di sova Reeko juga tertidur, usai memandangi wajah mereka, Ia menyibakkan selimut di tubuhnya dengan rasa malas.


“Tadi malam itu, nyata bukan?” pikinya.


Karena tidak kunjung mendapat jawaban yang dinginkan, Arna menyerah dan menggelengkan kepala perlahan diikuti gerak kakinya melangkah untuk membersihkan badan.


Kemarin malam seperti mimpi baginya, kedua orangtua Ana tidak pernah mengajarinya untuk membunuh atau bahkan membalas perbuatan buruk sesederhana apapun. Lantas, dari mana datangnya napsu haus darah dan penebusan dosa seperti itu? Sejak kecil Arnawa memang adalah seorang jagoan kelas, berkelahi dengan kakel bukanlah sesuatu yang asing lagi. Tapi tak pernah sekalipun Ia berkelahi untuk urusan sepele atau memuaskan napsu saja, kerap kali Ia ditantang berkelahi namun ajakan itu selalu ditolak dengan tegas olehnya. Hal itu dilakukannya semata mata karena tak ingin mengecewakan kedua orangtua dan menyusahkan Kak Rabka. Apakah karena ketiadaan mereka Arna tidak perlu merasa bersalah kalau harus menyalahi ajaran dan menerima keinginan menghujani pelaku teror dengan darah mereka sendiri?


Guyuran air dingin membuat tubuhnya menegang seketika dan tersadar dari lamunan.


“Sialaaan!!” Ia menggemertakkan gigi.


“Aku tidak mengerti, ini terlalu rumit.” Kakinya melangkah meninggalkan kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

__ADS_1


Di depan lemari Ia berucap pada diri sendiri.


“Apapun jawabnya kuharap yang terbaik.” Cermin kecil di pintu lemari menampakkan bayangannya , tapi keraguan yang terpancar di sana membuat keyakinannya sirna.


“Tapi, apa aku bisa melakukannya?” pekikan jiwanya menggema, mendesak otot untuk bekerja memukul pintu lemari.


“APA YANG AKU BISA??!” Ujarnya sambil menempelkan kepala dan menggedor pintu lemari berkali-kali, beruntung kedua temannya tidak terganggu oleh kebisingan itu dan tetap focus pada dunia mimpi.


SRASSS…


Suara gesekan daun mengembalikan kesadarannya pada sekitar. Dengan benak yang dipenuhi tanda tanya Arna mendekati jendela untuk melihat asal suara. Tapi sebelum sempat memegang bingkai jendela, sebuah bayangan yang melaju secepat kilat melintas di depannya persis seperti saat di ruang kerja ibu. Keingintahuan Arna bekerja, tanpa berpikir dua kali Ia melompat dari jendela mengejar bayangan yang telah menghilang entah kemana. Arna berlari mengikuti kemauan pikirannya, sambil menajamkan Indra membaca gerakan di sekitar seperti yang pernah dilakukannya untuk membaca gerakan Kak Gan saat pertarungan. Di taman langkahnya terhenti karena sosok bertopeng.


“Siapa Kau?!” Tanya Arna kasar mengingat gerombolan yang menculik ibu semua menggunakan topeng.


Sosok itu terdiam tetap pada pose tubuhnya, bersandar pada tiang gedung dengan dua tangan dilipat di depan dada dan satu kaki menjejak tiang.


“Apa tujuanmu berada disini?” Tanyanya lagi dengan suara lebih ditekan.


Angin bertiup di atas menggoyangkan pucuk pepohonan, daun berjatuhan disekitar mereka. Dengan santainya sosok misterius itu bergerak menangkap daun tersebut dengan dua jari, gerakan yang sempat membuat Arna menambah tingkat kewaspadaannya.


“Jangan bergerak!”


Namun sosok itu abai pada peringatannya, malah tangannya bergerak memegang topeng.


Rupanya gertakan bukanlah hal yang tepat untuk sang sosok misterius didepannya, tangan si misterius bergerak lagi, kali ini untuk membuka topengnya. Arna merasa seluruh tubuhnya bergertar, antara rasa ingin dan takut melihat wajah sosok didepannya yang mungkin juga pelaku penculikan ibu.


TREK..


Topeng terjatuh dan nampak seorang anak lelaki remaja yang membuat matanya tidak bisa berkedip. Dia menatap Arna dengan senyum dingin.


“Kak Axton?!” Seru Arna tak percaya.


“Apa-apan ini??” pikirannya bercampur aduk.


Kak Axton hanya berdiri mematung, hanya untuk memastikan kalu itu adalah benar-benar Kak Axton Ia maju selangkah mendekat, tapi sesuatu yang tajam dan cepat baru saja lewat di sebelah telinganya.


“Apa?” pikirnya sambil menoleh ke belakang.


Benda itu ternyata hanyalah daun, tapi lihat apa yang terjadi, daun tersebut menancap di batang pohon pinus tepat di belakangnya.


“Kak..” Arna memandang tangan Kak Axton yang sudah kosong, ternyata itu adalah daun yang baru saja jatuh dan ditangkap oleh Kak Axton tadi.

__ADS_1


“Apa maksud..”


“Apa yang kau tunggu?” Kak Axton berbicara tenang pada Arna yang langsung melongo.


“Maju.” Lanjutnya tapi Arna sama-sekali tidak begerak.


“Apa maksudmu kak?” tanya Arna, untuk yang kedua kalinya Kak Axton hanya tersenyum dan menggerakkan empat jarinya ke dalam.


“APA?” batin Arna tapi Ia mulai memahami maksud Kak Axton


“Hiaaaaa!!!” Serunya sambil berlari menghampiri Kak Axton dengan tinju mengepal di udara.


Semula Kak Axton hanya diam seperti akan menerima tinju Arna mentah-mentah, tapi saat jarak tangan Arna dan tubuh Kak Axton hanya tinggal beberapa cm dia menghilang.


“Dimana?” Pikir Arna.


Sesuatu menenyuh bahunya dari kanan, dengan gerakan selincah elang Ia memutar tubuh dan menyepak arah kanan. Tapi hasilnya nihil, tendangannya hanya mengenai udara.


“Ini adalah teknik yang sama dengan milik Kak Gan.” Pikirnya. “Jadi, cara mengatasinya juga sama. Getaran udara!” Ia memejamkan mata untuk menajamkan pendengaran.


“Belakang!” Serunya sambil menyikut arah belakang dan berbalik cepat, lagi-lagi hasilnya kosong.


Saat Ia masih terkesima dengan keadaan, sesuatu kembnaki mengejutkannya.


“Apa yang kau cari?” Suara dingin yang membekukan itu membuat bulu romanya berdiri.


Arna berbalik ke belakang segera melancarkan serangan, tapi kosong.


“Aku disini Arna.” Ujar Kak Axton, dengan pisau kecilnya Arna menyayat ke belakang.


“Apa-apaan ini??”


Sudah berkali-kali hal itu terjadi, saat Ia menyerang kearah yang benar Kak Axton lenyap seperti hantu. Kini napasnya sudah tidak beraturan dan keringat jatuh berderai diantara kedua alisnya.


“Arna.” Panggil Kak Axton berbisik tepat di belakang lehernya.


"Gila, napasnya serasa menghisap jiwaku!" Pikir Arna hanya sekedar melampiaskan merindingnya.


“Hiaaa!!” Arna memukul angin di belakang.


"Hilang lagi?"

__ADS_1


"Hmh," Suara tawa itu membuatnya merinding.


Dengan cepat, Ia kembali melancarkan serangannya ke samping. Tapi tiba-tiba saja Kak Axton muncul di belakang dan menangkap tangan kanannya ke atas kepala dan tangan kirinya ke belakang punggung, akibatnya Ia sama sekali tidak bisa bergerak.


__ADS_2