
Tak lama kemudian...
“Kak..,aku sudah selesai!”
“oh, sudah ya?” jawab rabka yang sedang duduk di teras membaca majalah mingguan.
“memangnya ada apa kak?”
“Nah, ayo ikut aku! Ini kan hari ulang tahunmu, kita akan berjalan-jalan!” jawab rabka bersemangat.
“APA?Hari Ulang Tahunku? Kapan? Sekarang?” seru arna tidak percaya.
“lho? Lupa ya…?? Hari ini kan tanggal 7 November Arnawaaa….!!!” Ujar Rabka gemas.
“Oh…iya ya!” seru Arna baru ingat.
“waduh, bener-bener lupa!”
“iya…, Maaf.." ujar Arna dengan senyum nyengir.
"Tapi...., jangan jalan-jalan ya kak…” kata Ana dengan wajah enggan.
Entah kenapa sejak tadi pagi ia merasa ada sesuatu yang mencgahnya untuk keluar.
Rabka hanya tersenyum remeh.
“Ayo sudah…”
“eh…kak…iya,iya!!!” kata Arna kerepotan.
Dari awal keluar rumah hampai di perjalanan, Rabka sama sekali tidak melepaskan tangan Arna, begitupula saat sampai di tujuan. tanpa penjelasan, bahkan sebelum Arna sempat melihat dimana keberadaannya kini. Rabka sudah membalik badannya dan menutup mata Arna dengan seutas kain panjang.
"sekarang, maju lima langkah! kanan... kanan...kanan sedikit..! stop!" Komandan Rabka memberikan aba-aba.
"apa sih Kak..? jangan-jangan kita di.." Arna berniat Protes namun tidak jadi karena ikatan kain di matanya dibuka.
“Nah, Arna…! Selamat datang di Pasar Tradisional Kota Medianpolis yang baruuu…!!!!” seru Rabka seperti pemandu wisata.
“wah..!!!” Protes Arna berubah haluan seketika menjadi decak kagum.
Gapura besar dan kokoh betuliskan “Pasar Tempo Doeloe” berdiri di depan mereka. Pasar itu terlihat jauh lebih bagus dari biasanya, sehingga orang akan lebih senang berbelanja di sana.
Sekarang, Pasar itu telah direnovasi dan diresmikan menjadi satu-satunya sarana budaya di kota. Tampilannya berbeda, seakan sengaja dibuat sedemikian rupa, agar sesuai dengan kesukaan masyarakat kota, kini pasar memiliki tiga tingkat, tingkat pertama untuk pedagang sayur atau buah, tingkat dua untuk bahan daging dan tingkat tiga untuk baju dan bahan tekstil lainnya. Di sekitar pasar banyak warung-warung kecil yang menyediakan berbagai macam makanan. Hal-hal yang khas itulah yang membuat pasar tradisional semakin terlihat istimewa, apalagi khusus hari ini saja ada berbagai macam permaianan pasar malam berjajar di sekitar pasar untuk merayakan pembukaan pasar ini. Ibu memang tidak pernah mengajak mereka ke pasar tradisional. Namun sekali ia memandangnya, terkagum-kagum rasanya.
“hebatkan?” Tanya Rabka membuyarkan kekaguman Arna.
“sangat!!!” jawab Arna.
“Nah, ayo kita masuk. Disini ada pameran yang keren!! ” ajak Rabka.
Semua kekaguman Arna tentang pasar itu mendadak hilang. Pemandangan di matanya tentang pasar ini berubah drastis. Entah kenapa suasana pasar itu terlihat kacau di matanya. Ia pun jadi enggan untuk masuk.
“aku rasa, kita…tidak perlu…masuk! Dari sini saja aku sudah bisa melihat pasar baru itu!” sangkal Arna mencari alasan.
__ADS_1
“Ah…, sudahlah!!” ujar Rabka santai.
Ia langsung saja menyeret Arna masuk dalam kerumunan. Mereka berjalan perlahan menuju salah satu permainan, yaitu permainan tembak-tembakan tiga dimensi. Setelah itu mereka terus berpindah ke wahana-wahana lainnya.
“sudah ya Kak…” kata Arna begitu mereka turun dari wahana bianglala.
“Nanti dulu lah…,masa kau tidak ingin mencicipi jajanan di sini?” sanggah Rabka.
“Huft…, baiklah!” Arna menyerah.
walaupun sebenarnya jajanan di situ tidaklah jauh berbeda dengan yang dijual di taman kota atau mall.
“Tunggu di sini ya…” kata Rabka sambil berlalu pergi.
Tapi langkahnya terhenti melihat wajah adiknya yang terlihat memelas memandanginya. Ia terkikik lalu berkata pada Arna yang jaraknya masih belum terlalu jauh.
“Arna…, Arna. Kenapa? takut diculik? Tenang saja! Lihat itu” ujar Rabka sambil menunjuk ke polisi yang menjaga ketertiban acara di sisi kanan mereka.
“para polisi itu akan selalu waspada menanggapi segala sesuatu yang mencurigakan” lanjutnya.
Arna memperhatikan Rabka dengan tatapan aneh lalu berkata
“memangnya aku takut diculik? Buat apa aku bermain ke luar rumah kalau takut diculik??!” sangkal Arna.
“hahaha…!!! Makanya jangan gitu dong!” sahut Rabka.
Arna langsung cemberut.
“sudah, sudah! Aku pergi dulu… nanti keburu habis” kata Rabka sambil berlalu ke keramaian orang.
Benar saja. tak lama kemudian, Rabka datang membawa dua es krim di tangannya. Yang satu rasa Vanilla bertabur coklat di atasnya dan yang satu rasa melon dengan lelehan krim karamel. Rabka menyerahkan es krim melon padanya dan mengajaknya duduk di kursi bawah sebuah tenda.
Tapi bukannya makan perlahan-lahan seperti yang biasanya dilakukan orang saat makan bersama, belum saja lima menit mereka duduk es krim Rabka telah habis. Memang kalau soal es krim tidak ada kompromi baginya. Jadi, Arna hanya tertawa kecil melihat sikap Kakaknya yang sangat menikmati hari. berbeda sekali dengan dirinya, entah kenapa ada sesuatu yang janggal pada perasaannya.
Di antara kerumunan di depan pintu pasar, ada seorang wanita yang berjalan terseok-seok, langkahnya kelihatan agak diseret. Dia berhenti tepat di depan gerbang dan tiba-tiba terjatuh ke tanah begitu saja. Kedua anak itu melihatnya dan bereaksi cepat terlompat dari tempat duduk. Rabka berlari untuk membantu si wanita itu. Namun gerakan Arna hanya sebatas tadi dan terpaku di atas tanah yang ia pijak.
“Arna, tunggu di sini aku akan segera kembali!” ujar Rabka sambil berjalan mundur lalu berbalik berlari kencang menuju si wanita.
Ada sesuatu yang tersirat di pikiran Arna saat itu, Ia melihat sekilas menuju tempat polisi tadi. Namun, tak ada polisi di sana. Ia ingin mengejar Rabka dan melarangnya mendekati wanita itu. Ia menggeleng cepat dan berlari kencang berusaha menyusul Rabka.Rupa-rupanya, reaksi orang-orang saat wanita itu terjatuh dan sekarang sangat berbeda. Tadi sepertinya tidak ada orang yang melihat, kini tempat itu datang tadi sudah menjadi kerumunan.
“Kak…, Jangan Ke Sana!!! Tunggu!!!” teriaknya.
Sosok Rabka yang datang menolong pertama tidak terlihat lagi. Baru beberapa langkah ditempuhnya, muncul cahaya biru yang menyilaukan di tempat wanita tadi tergolek. Disertai dengan tiupan angin panas yang sangat kencang. Angin itu terasa membakar kulit hingga merasuk ke dagingnya. Semua barang tertiup ke segala penjuru. Walau sempat terdorong mundur tetapi ia terus maju sambil menutup mata dari debu.
"LEDAKAN!" Aneh, ia mendengar suaranya sendiri yang berseru kencang di telinga sendiri sehingga udara seakan masuk ke dalam dan membuatnya tidak mendengar apapun.
Baru berselang beberapa detik, terjadi ledakan dasyat, semua yang berada di sana terlempar ke segala penjuru. Tanah bergetar hebat membuatnya terjatuh,
"KA...K...!!" Ia berteriak sekeras-kerasnya.
sekejap Arna tenggelam dalam gemuruh ledakan yang luar biasa. Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah kerena getaran, Ia terpental beberapa meter bagai disapu angin badai, dan terbanting ke tanah karena daya ledakan yang cukup besar.
Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan pedih, bahkan setelah diserang pedih yang luar biasa ia tak bisa merasakan apa-apa lagi. pendengarannya kembali, tapi ia tetap mendengar suara angin kencang dan telinganya terasa penuh dengan udara panas itu ditambah lagi suara dengungan berisik yang membuat mual, entah dari mana datangnya. Semua pengunjung perayaan gempar, derap langkah panik terlihat tepat di depan mata.
__ADS_1
"K...a..ka...k.." panggil Arna namun, suaranya hanya sebatas berbisik.
Pandangannya makin gelap tapi ia masih dapat merekam kejadian setelah ledakan. Orang-orang berlari tak tentu arah, pintu masuk pasar dipenuhi debu, api dan barang berserakan dan tak ada satupun yang masih utuh disana. pandangannya semakin kabur, ia tak dapat berpikir apapun sekarang.Tiba-tiba suara ratap tangis dan derap kaki di sekitarnya berhenti.
Ia terbangun di sebuah ruangan bercat putih dan langsung terlompat dari posisi tidur ke duduk tegak.
Tapi ternyata tubuhnya tidak merespon dan ia tetap terlentang tak berdaya.
“aku hidup,” batinnya.
Ia memperhatikan dirinya sendiri di pantulan kaca. Kepalanya dibalut dengan kain putih yang dijadikan seperti ikat kepala. Tangan bahkan seluruh tubuhnya terasa nyeri.
"panas, aku terbakar..!" Pikirnya sementara tangannya yang tidak dibalut perban, berusaha meraba kulit.
Ia mendengar suara derap kaki beberapa orang yang terdengar terburu-buru dari luar ruangan. Namun sebelum ia dapat mendengar dengan jelas, suara dentuman keras menyerbunya. Pintu dibuka, Ibu ,Gio dan orang tua Gio juga mengikut dari belakang. Juga, seorang Wanita yang ia tahu pasti siapa dirinya tersenyum mengetahui ia telah bangun, walaupun ia tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan dan hanya bisa memandang bingung semua orang. Suara decitan pintu mengusir dengungan di telinganya. Ibu mendekat lalu memeluknya erat.
“Arna…” panggil ibu.
“Ibu” jawabnya ia ingin menangis.
Tapi, ia teringat sesuatu. Detik-detik ledakan, wanita yang terjatuh dan Rabka.
"Kakak!" batinnya.
“dimana Kak Rabka?” tanyanya panik.
Tapi Ibu tidak menjawab, ibu hanya memegang tangannya dan memandang hampa. Setelah ia perhatikan lagi, ada sesuatu yang berbeda dari Ibu selain wajahnya yang kian khawatir yaitu, matanya sembab.
"Ibu menangisi siapa?" Pikirnya, dan rasa perih kembali lagi.
“Jelas Ibu tadi menangis, tapi kenapa? Apa benar ingatanku soal ledakan itu? Bukankah itu berarti Kak Rabka sudah lenyap bersama ledakan itu? Dalam kata lain bukankah Kak Rabka sudah….” Pikirnya lagi.
Tapi cepat-cepat ia ralat pikirannya itu.
“Tidak…tidak mungkin!!!!” sangkalnya lagi meski masih dalam batin.
“Dimana Kak Rabka?” tanyanya sekali lagi hatinya sangatlah panik dan khawatir kalau ingatannya benar.
Ibu terdiam lalu menjawab:
“sudahlah…,hari ini adalah hari yang berat untuk kita semua Arna”
Jawaban Ibu sama sekali bukanlah jawaban. Ia tidak mengetahui apapun soal keberadaan Rabka, dan ia terus berusaha mengungkiri ingatannya soal Rabka yang berada di pusat ledakan saat itu. Namun, sisi lain dirinya membenarkan ingatan itu, walau bagaimanapun juga ingatan itu benar-benar nyata.
"itu pasti nyata, kalau tidak dari mana luka-luka ini?" ralatnya kembali.
"Dimana Kakak, Bu? Dimana Ayah?" Tanyanya.
kini ia tidak bisa memikirkan hal lain lagi. Ibu tersenyum hangat, meletakkan ibu jarinya ke depan mulut Arna dan berbisik.
"Ibu bersyukur Karena Arna tidak apa-apa.."
Kini ia yang bungkam. Bukan hanya sekujur tubuhnya yang terasa sakit tapi hatinya tersayat-sayat.
__ADS_1
"selamat tidur, Arna.."
sementara matanya melihat Gio yang terpaku di depan palang pintu dengan mata berkaca-kaca.