
“Haahh…” Keduanya menghela napas panjang dengan pose galau masing-masing.
“Kenapa kita tidak pernah berhasil mengejutkannya?” tanya Reeko, kedua tangannya teracung ke langit-langit dengan jemari kaku khas zombie dan tubuh sedikit mendongak.
Ia benar-benar kesal saat ini.
“Jika ada jin yang mau mengabulkan tiga permintaanku,
aku akan berkata : ‘Buat Kak Axton berlutut dihadapanku!’.
Lalu dia akan berkata : ‘baiklah tuan Rezon yang hebat.., itu sangat mudah bagiku!’.
Kemudian dengan kecepatan 0,0001 micro detik aku akan menaklukkan Kak Axton.
Hahahahahaha!” Ujar Rezon yang semula berniat menimpali tapi malah berakhir menimpai.
“Rezon.., niatmu sebenarnya ingin menghibur atau mencela Kak Axton sih??” Bisik Reeko tetapi pastinya tetap dapat didengar oleh Kak Axton dari jarak sedekat itu.
“I…ya, ya.. aku mau apa?” tanya Rezon dengan lugunya.
“Hmh.” Suara dingin terdengar perlahan, seakan menrambat melalui sela-sela tubuh mencipta kesan merinding.
Rezon dan Reeko kaku seketika, mereka menoleh perlahan pada sumber suara. Sesuatu yang mengejutkan terjadi, sudut bibir tipis Kak Axton membentuk senyum penuh kepuasan, atau barangkali napsu.
Tak lama kemudian di satu sisi, senyuman itu sedikit ditarik ke atas sehingga deretan gigi putih terlihat menyeringai.
“Ha, ha” Kak Axton tertawa sadis, kedua bola matanya memancarkan seberkas sinar memukau sekaligus mengintimidasi.
Rezon meneguk ludah, sesekali mengangguk-angguk sendiri padahal wajahnya pucat pasi ketakutan.
“Sialan, dalam sejarah pembukuan memoriku yang tertata dan rapih. Belum pernah aku melihat sikap Kak Axton yang seperti ini, mungkinkah dia jadi psikopat?” batinnya.
“Apa kami salah bicara?” pikir Reeko.
“*Kenapa semua berubah tiba-tiba?”
"Aku hanya ingin izin ke rawa timur*.."
Tetapi keduanya sama-sama membisu, padahal tawa Kak Axton hanya sebatas itu saja.
Sekarang dia menunduk dalam pada kedua telapak tangannya yang telah menutup sebagian wajah dan bertopang di paha. Seringai itu masih belum juga menghilang, sekarang malah seperti sedang menahan sakit.
“Aku.., aku tidak mengerti.” Reeko mundur satu langkah masih dalam kebisuannya.
“Kak..” Rezon mencoba berkata tetapi suara tidak bisa keluar dari tenggorokannya, seakan sengaja disihir agar tetap terdiam.
“Kak Ax..” Usaha keduanya terpotong karena yang hendak dipanggil menengadah secara tiba-tiba sedikit berpaling ke luar halaman, dan lagi-lagi tersirat sebuah senyum misterius pada ekspresi sang kakak ini.
Rezon ternganga mengamati serinci mungkin gerak-gerik kakaknya, entah bagaimana cara mendefinisikan sebuah rasa. Matanya yang terpejam tuk menikmati hembusan sejuk di sekitar tidak membuat senyum itu tersamarkan, sebenarnya tidak lebar juga, hanya menarik sedikit urat wajah sehingga nampaklah sebuah garis senyum dingin.
Namun seperti tadi. Ya, ketulusan yang begitu murni sampai sulit menerka ada apa dibaliknya. Mungkinkah itu sihirnya?
“*Hmh, sejak kapan yang namanya Axton bisa tersenyum dengan benar? Bahkan sampai detik ini pun tidak bisa! Jika dilihat orang baru, kesan awal pastilah adalah si dingin, tak berperasaan, keji, angkuh atau hal negatif lainnya.
Lagi-lagi senyum itu, sikap itu, mata itu! Apa maknanya??
__ADS_1
Sebagai adiknya aku pasti lebih tahu, tapi perasaan seperrti ini tidak pernah bisa kupahami. Kak, apa yang ada dalam benakmu itu*!?”
Pucuk-pucuk pepohonan menari begitupun rambut gelap kakaknya yang tertiup hembusan angin dari jendela disisi tempat tidur. Gerak suhu seirama luar dan dalam menambatkan peralihan suasana baru sekaligus menghilangkan gerah.
Sayang hatinya masih terpaku pada kemisteriusan ini, kemelut batinnya tak pernah usai jika memikirkan sang kakak yang terpaut lima enam tahun darinya.
Usai mendata deretan pertanyaan baru dari ekpressi itu, matanya berpindah sedikit kebawah. Dimana perban putih membalut leher hingga dada, juga kembang kempisnya paru-paru terlihat jelas sekali. Naik turun secara perlahan terkadang memelan dan tenang, tekadang juga memburu cemas, segalanya tercermin disana.
Napas itu selalu mengisayatkan secara halus beban di pundak seseorang, sedangkan pada kasus Kak Axton ini Rezon hanya bisa melihat, kecemasan.
Hembusan angin terhenti, Kak Axton membuka mata berganti dari kekosongan kini menatap langit-langit kamar. Sirna pula segala pergolakan batinnya bersama hilangnya awan mendung yang datang sekejap saja hanya untuk menyapa.
Sadarlah ia pada segalanya, hampir sejam lebih mereka hanya terdiam saling pandang, bahkan keberadaan gadis di sampingnya tak lagi ia rasakan.
“Memang dia siapa, diakan kakakku sendiri? Mengapa secanggung ini? padalah awalnya hanya..”
“Aku bisa bersujud dihadapanmu kapan saja.” Kata Kak Axton singkat membuat Rezon tersentak.
“T..ti..tidak kak!” Ujar Rezon salah tingkah.
“Hmm, kenapa?” tanya Kak Axton tanpa merubah tempramen sama sekali.
“Bukan itu maksudku, aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan mengalahkan kau dengan usaha.” Jawab Rezon kikuk.
“A..staga..” Batinnya.
“Begitu ya?” jawab Kak Axton yang rupanya belum percaya sepenuhnya.
“Jika dipikir-pikir lagi perbandingan beda antara jin botol dan berusaha keras adalah 1:100, dan juka dikalikan dengan pikiran Kak Axton, hasilnya adalah tidak percaya.” Rezon menghitung-hitung dengan ilmu psicomatika buatannya sendiri.
“Pokoknya aku akan melebihimu kak! Apapun yang terjadi!!” Seru Rezon memecah suasana dengan memperlihatkan gaya sok PD.
Rezon menelan ludah dan keringat dingin menetes beberapa kali di dagunya.
“Bagus.” Jawab Kak Axton, seketika suasana berubah menjadi cerah.
“Baiklah.., aku rasa kami harus pergi berburu telur biawak sekarang jugaa..” Kata Reeko akhirnya angkat bicara lagi.
“Hehehe..” Rezon hanya tertawa gugup tanpa tahu kenapa.
“Owh, dimana?” tanya Kak Axton memastika keamanan.
“Di rawa timur, rawa yang paling besar dan ada pohon beringin didekatnya.” Jawab Reeko lancar.
Kak Axton tampak berpikir sejenak.
“Bersama siapa?” tanyanya pada akhirnya.
Kedua anak itu saling tunjuk menunjuk dengan wajah ceria khas meeka.
“Hanya dua?” Kak Axton memiringkan kepalanya sedikit.
“Iya, kami tidak perrnah takut mitos semacam itu!” teriak Reekko heboh.
“Kami bukan penakut yang percaya hal gituan.., hantu itu ada..!!” Jawab Rezon juga.
__ADS_1
“Eh?” Reeko tercengang.
“Ralat kata-kataku. Hantu itu tidak ada!!” Ujar Rezon meralat tetapi terlalu telat.
Reeko tertawa terbahak-bahak,
“Hahahahahaha! Harusnya kamu bilang gini, ‘kami bukan penakut yang perrcaya hal gituan, hantu itu tidak ada. Ralat kata-kataku, hantu itu..adaaa…!!” hahahahaha…! Rezon penakut..” Goda Reeko sampai wajah Rezon merah.
“Paling juga kamu yang lari duluan kalau ada.” Jawab Rezon sambilo mencibirkan mulut.
“Ya nggak ada lah…!” Reeko mengibaskan rambut seperti model iklan shyampo.
“Siapa bilang ada?” jawab Rezon lagi membuat Kak Axton menggelengkan kepala.
“Sudahlah, aku duluan!” Teriak Reeko dari kejauhan.
"Aku rasa, kami hanya salah paham dengan sikap kakak ini. Kak Axton terlalu misterius, aku akan bilang pada ayah agar dia memperbaiki Kak Axton. Tunggu ya..." Pikir Reeko dengan senyuman berbunga-bunga mengembang di wajahnya.
“Hei tunggu!!” Ujar Rezon berlari menyusul gadis centil itu.
“Daaa kak.., aku akan bawa telur paling besar!” Seru Rezon ditengah-tengah jalan.
“Iyaa..” jawab Kak Axton pelan.
Ia mengghela napas pelan lalu memalingkan muka keluar jendela.
“Hati-hati Rez!” Pikirnya.
Pintu ruang kesehatan tertutup menimbulkan suara decitan kecil, begutupun mata Kak Axton yang mulai tertutup.
“Ini.., dingin se..ka..li..”
Gelap.
🎬🎬🎬🎬
**Hai hai hai lagi semua....👋👋😄
banyak adegan yang tidak nyambung dalam bab ini yang terpikir di kepala kalian??💭😕
?Silahkan ditanyakan saja...✍✍
(Monggo...)😸
jangan mumet mumet cari di kamus ya..📕📖
karena bahasaku ini,
Bahasanya semak belukar...(Ebiet GAde)😝😝😂
Canda...., cuman kepikiran lagu aja..
oke deh, selanjutnya..
⏭️
__ADS_1
🎥
membahas tentang Misteri Rawa Timur**..