
“Mereka sudah lari, kau hebat sekali kawan!” Anak itu membantunya duduk, dan kini meeka sama-sama bersandar di tembok gedung.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.
“Ya, aku baik.” Jawab Arna menatap langit dengan galau.
Alasan dia galau sebenarnya karena tidak bisa menemukan kawan-kawannya hingga matahari tak nampak lagi, kini dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana keadaan mereka. Belum urusan Viper Army yang barusan, lambang di kulitnya itu benar-benar mengingatkannya pada detik-detik pengeboman pasar. Saat si wanita mengatakan hal-hal aneh, lambang di tangannya mulai bercahaya kemudian menjalar ke sekujur tubuhnya bersamaan dengan pancaran cahaya menyilaukan serta hembusan angin panas, kemudian meledaklah tubuhnya. Arna masih berusaha mereka ulang kejadian itu saat anak di sampingnya menanyakan keadaanya untuk kedua kali.
“Aku sungguh baik..” Jawabnya.
“Sebaiknya aku telpon polisi, mereka akan mengobati lukamu.” Ujarnya sambil menggeser layar handphone-nya.
“Tunggu!” Cegah Arna
“Apa jadinya kalau dia menelpon polisi? bisa-bisa aku dijadikan saksi dan saat ditanya identitas, aku tak bisa menjawab dan malah diintrogasi.” pikir Arna.
“Hah?”
“Jangan telpon!” Ia menegaskan.
“Tapi kau, lagi pula kasus ini harus dilaporkan. Setidaknya aku akan menghubungi orangtuaku, tapi sama saja mereka pasti membawa masalah ini ke polisi kota.” Anak itu bersikeras pada pendiriannya yang membuat Arna tambah malas.
“Begini saja, sekarang karena kau sudah bebas darri bahaya silahkan pergi dan jangan berpikir untuk meenghubungi polisi. Kalau kau dapat masalah lain kau boleh menghubungi polisi sesukamu!” Tukasnya, padahal Ia sendiri tidak tahu jalan keluar dari sini.
Sesaat Ia menangkap perubahan ekspresi anak ini samar karena tertutup kegelapan malam, tapi karena lelah Ia tidak terlalu memikirkannya.
“Nah, sekarang anak ini mengira aku buronan.” Ia membatin. “Ah, masa bodoh dia kira aku apa. Yang penting dia tidak menelpon polisi dan cepat pergi!” Sambungnya.
“Tapi..” Anak itu angkat bicara.
“Huahhh..” Keluh Arna mulai sebal.
Setengah malas, Arna melempar pisau lipatnya menusuk handphone di tangan anak itu hingga terlepas dari genggamannya dan tertancap di tembok gedung.
“Oke..oke…! Tidak akan!” Ujarnya mengangkat kedua tangan ke atas kepala menginyaratkan menyerah.
Arna maju hingga matanya betatapan langsung dengan anak itu untuk memberi penjelasan.
“Jangan telpon polisi, masalahmu hari ini sudah selesai. Sekarang pergi pulang ke rumahmu dan jangan dekati tempat seperti ini lagi! Paham?” saat memberi penjelasan, mata Arna nampak berkilat dalam kegelapan.
Tiba-tiba ekspresi anak itu berubah, membuat Arna memundurkan wajahnya beberapa cm.
“Ekspresi itu..” Ia bersikeras menggali ingatannya lagi.
“A-Ar..na??” panggil Anak itu dengan sedikit ragu.
Arna melompat dari duduknya bagaikan kucing yang tertangkap basah mencuri, tapi segera mengendalikan diri dan berusaha melihat sedetail mungkin anak di hadapannya itu.
“Kau! Kau tahu dari mana namaku?” ujar Arna sambil menyiapkan kuda-kuda.
“Kau Arna? benar Arnawa?” anak itu mendekat hingga tak banyak tersisa ruang di antara mereka
“Jangan mendekat!” Ancam Arna, nampaknya keadaan telah berbalik dan kini dialah yang ketakutan.
“Arna.., ini kau? kau sungguh Arnawa, adik dari Kak Rabka?” Tanya anak yang sama sekali tidak dikenali oleh Arna, namun saat mengatakannya matanya bersinar seperti pancaran sinar mentari dari danau.
Melihat kesungguhan anak ini, Arna mencoba melihat lebih dalam.
__ADS_1
“Kau…” Ia menerka wajah anak di depannya kemudian terperanjat sesaat.
“Kau adalah Gio??!” Ujarnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi, sosok Gio sahabatnya sejak masih balita nampak samar pada wajah anak itu.
“Aku Gio!” Jawabnya girang, namun kemudian “T-tunggu, Arna sudah mati.”
“A..aku memang Arnawa!” jawab Arna gagap, percaya tak percaya Ia bertemu lagi dengan satu-satunya orang yang menjadi harta berharganya dari masa lalu yang masih tersisa.
“Uaaaa!!” Teriak Gio tiba-tiba.
“Kau adalah arwah Arna!” Rupanya sifat kocaknya tidak akan pernah hilang.
“Aku bukan..”
“Tidak, hantu itu tidak ada.” Katanya lagi..
“Gio, aku Ar-na-wa.” Kini ganti Arnalah yang meyakinkan Gio.
“Be-benakah?” Tanya Gio gagap dan Ia jawab dengan anggukan.
“Apakah yang terjadi? Bukankah kau…kau, kau kemana??” tanya Gio sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya, tampak air menggenang di kantung matanya.
Arna segera merangkul sahabat masa kecilnya itu seerat mungkin.
“Gio aku sangat rindu, kamu satu-satunya harta berhargaku kini.” Jawabnya, kemudian kedua tangan Gio membalas pelukannya tak kalah erat.
Air mata dua sahabat yang terpisah itu tak dapat tertahan lagi dan tumpah. Gang gelap yang tadinya menjadi tempat pertarungan kini menjadi tempat pertemuan mengharukan.
“Aku dibawa pergi dari kota oleh orang yang menolongku, setelah terkena ledakan gedung. Oh iya, Bagaiman keadaan gedungnya?” Tanya Arna saat keduanya berjalan beriringan keluar dari gang.
“Huh.., Arna!! aku menghawatirkan keadaanmu kau malah menayakan gedungnya!” Desah Gio bersungut-sungut disambut dengan tawa renyah Arna.
“Hahaha, benakah?” tanya Arna tidak menyangka.
“Kalau kau mau lihat ayo kita pergi!” Ajak Gio untuk memuaskan sahabatnya.
“Okey..” Jawab Arna.
“Oh iya! Kenapa kau tidak melapor polisi dan menyatakan kalau kau masih hidup?” tanya Gio saat baru saja keluar dari gang.
“Apa yang dapat aku katakan? tidak akan ada yang percaya Gio…, bahwa aku seorang anak yang menyaksikan ibunya ditangkap atau anak yang selamat dari ledakan bom di gedung? Percuma, kau yang bilang sendiri kalau aku telah tewas bukan? Untuk apa ribut-ribut lagi?” jawabnya sambil tertawa kecil tanpa beban.
“Kau benar tidak akan ada yang percaya sekarang, tapi kenapa tidak dari dulu saja?” tanya Gio masih ingin tahu tentang keadaan Arna sekarang.
“Percayalah aku sudah menemukan solusi yang lebih baik dari itu!” Jawab Arna dengan seringai tajam yang tidak pasti artinya.
“Lebih baik?” tanya Gio lagi.
“Ya, kapan-kapan akan aku ceritakan.” Jawabnya.
“Itu berarti, kita akan betemu lagi?” wajah Gio nampak berkilauan
“Iya. Kau masih mengira aku sudah mati?” jawab Arna balas bertanya dan Gio cekikikan.
“Baik, baik.., tapi kau janji kan?” tanya Gio lagi.
“Hmh, iya.” Jawabnya sambil mengacungkan jari kelingking.
__ADS_1
“Iya..” Gio mengacungkan jarinya juga, keduanya menjalin jari mungil mereka menjadi satu ikatan, ikatan janji kelingking.
“Coba ceritakan sedikit tentang hari itu.” Kata Gio kemudian.
“Mmmm.., hari itu ya?” Arna berpikir sejenak.
“Baiklah!” Ujarnya sambil memukulkan tinjunya yang tampak memar ke tangan lainnya.
“Malam itu sekelompok orang bertopeng masuk ke gedung dan menggeledah semua ruangan. Saat salah seorang anggota mereka menemukan berkas rapat milik ibu di meja, dia berrkata pada kawan-kawannya untuk menangkap semua orang di aula dan meledakkan seisi gedung. Dari sanalah aku mengerti rencana mereka.”
“Lalu kau kabur?” sela Gio.
“Tidak..” Jawabnya.
“Lalu apa?”
“Dengar dulu..” Jawab Arna dengan senyum geli.
“Baik.”
“Aku berusaha menyelamatkan Ibu tapi aku terlalu lemah, Ibu dimasukkan ke dalam mobil box hitam yang aku tidak tahu tujuannya kemana. Sesaat setelah itu seorang penjahat mengejar dan mengancamku, terpaksa aku lari ke dalam gedung. Sayang saat kami berada di lantai dua, tepat di depan balkon gedung beserta seluruh isinya diledakkan.”
“Siapa orang yang tega melakukan perrbuatan sekeji itu?” Omel Gio pada diri-sendiri.
Arna tersenyum lalu merangkul pundak sahabatnya dengan niat jahil sehingga Gio nyaris saja jatuh. Tetapi dia segera menyeimbangkan diri dan merangkul balik Arna yang baru bangkit dari kematian itu.
“Nah, inilah tempat kau tewas.” Kata Gio menahan tawa.
“Mati…,untuk kedua kali…” Matanya bergerak menyapu permukaan gedung, di beberapa sudut terlihat bekas hitam terbakar api.
Tapi bangunan ini tidaklah kosong, lampunya menyala terang dan halamannya dipenuhi mobil parkir. Ternyata pemiliknya tidak menyia-nyiakan tempat ini.
“Renovasi yeah?” Gio hanya tersenyum mengangkat pundaknya.
“Orang sekarang tidak akan penah menyia-nyiakan keuntungan.” Ujar Gio sementara Arna tersenyum miris.
Ia ingat wajah sang ibu yang lemah lembut seringkali menyambutnya di depan gedung ini setelah pulang berjalan kaki dari sekolah bersama Kak Rabka. Tidak ada yang tahu kemana perginya mobil hitam itu membawa semua orang, tapi mungkin tak ada harapan hidup lagi bagi mereka.
“Ibu, maafkan aku!” Pikir Arna.
Selama beberapa saat mereka berdiri mematung di sana.
“Arna, tumpahkan saja peasaan itu padaku.” Ujar Gio, Arna terpeanjat mendengarnya.
“Aku..” Lagi-lagi dia hanya terdiam dan Gio masih sabar menunggu.
“Huh.., pernahkah kau bertanya ‘kenapa harus aku yang mendapat tanggung jawab ini?’ dan tak pernah mendapat jawaban yang meyakinkanmu?” Arna mulai membuka diri.
“Mungkin terkadang, saat aku harus jadi ketua kelas padahal tidak ingin direpotkan.” Jawab Gio seadanya.
“Tepat Gio.” Kata Arna. “Seringkali aku merasa seharusnya aku sudah mati, tapi tidak dengan kenyataannya. Sayangnya keadaan ini membuatku tidak tau, apa harus besyukur atau sebaliknya? nyatanya dengan begini aku kehilangan keluargaku. Ayah, Ibu, Kakak, mungkin juga Adik, semua orang pernah memilikinya, aku juga. Tapi kenapa mereka harus hilang secepat ini? kenapa aku harus sendirian, tidak lebih baik kami berkumpul bersama di alam sana? kenapa aku harus hidup tetapi kehilangan cahaya penghidupanku dan selalu dihantui dendam, darah, keputusasaan, yang selalu membuatku terbangun di tengah malam hanya untuk mengingat tiap tetesan darah mereka yang terciprat kemana-mana?” Arna terdiam menutup mata dengan punggung tangan.
“Aku.., tidak tau.” Katanya dengan suara bergetar.
Gio begerak memeluk sahabatnya.
“Kau tidak sendirian lagi, aku disini. Memang aku tidak bisa mengobati luka di hatimu yang teramat dalam, setidaknya aku bisa membalutnya. Tapi yang kutahu sekarang, kau sudah mengobati lukaku dengan kehadiranmu. Dan tak ada yang dapat menggantikannya selain kau.” Arna terdiam menyimak kata-kata Gio.
__ADS_1
“Yang kutahu kalau kau mati, malam ini aku juga tewas karena tak ada kau yang menyelamatkanku. Mungkin aku juga tidak akan sebahagia ini.” Ujar Gio tanpa melepas pelukannya.