Forgotten Sins

Forgotten Sins
Pencarian


__ADS_3

Di lorong depan beberpa anak remaja menggerombol sambil menggenggam handphone android dan mempebincangkan sesuatu dengan keras. Meskipun dalam jarak sepuluh meter saja Arna dapat mendengar suara mereka tertawa.


“Hey, katanya di peristiwa penyerangan itu ada beberapa sosok missterius yang terlibat. Apakah kau percaya?” tanya seoang anak perempuan gaul yang bersandar di tembok dengan modis.


“Tidak, aku tidak percaya hal semacam itu!” Jawab anak lelaki dengan skateboardnya.


“Lalu bagaimana nasip Nona Meyl itu?” tanya yang lain.


“Sekarang dia berada di rumahnya bersama para pengawal. Mungkin sedang meringkuk ketakutan di kasur.” Ujar si lelaki skateboard.


“Hahahahaha.., mungkin!” Timpal anak yang bertanya tadi.


“Khikhikhikhi..,” Cewek gaul itu ikut tertawa.


“Dimana rumahnya?” tanya salah seorang.


“Kenapa? Kau ingin betamu ke sana?” ejek cewek gaul itu.


“Tidak, aku hanya bertanya.” Jawabnya dingin, mungkin karena terpengaruh ejekan kawannya.


“Rumahnya?”


“Iya..”


“Itu ada di...”


Ada sesuatu yang tersentak dari dada Arna saat itu, oleh karenanya Ia segera berbalik keluar dari lorong pertokoan kembali ke jalan besar.


“Kak Axton pasti mengajak mereka mengawasi nona Meyl. Aku percaya Kak Axton akan melakukannya!” Ia terus berlari kencang.


Jalan raya tinggal tiga meter lagi dan sebuah taksi berhenti di sana, mungkin sedang mennawarkan jasanya kepada para pembeli di pasar. Namun tiba-tiba seseorang menabraknya dengan keras sehingga Ia terhunyung dan hampir jatuh, untunglah orang itu segera  memeganginya.


“Eh!” Arna terbelalak memandang paving di depan mukanya.


“Apa kau tidak apa-apa?” tanya orang yang menabraknya.


Ia berbalik memandangnya, ternyata itu adalah seorang ibu-ibu yang membawa keranjang penuh sayuran. Arna menggeleng kuat-kuat.


“Ah, syukurlah..”  Gumam ibu itu.


“Dimana orang tuamu? Atau kau datang ke sini dengan teman-temanmu?” tanyanya lagi.


“Sebenarnya aku datang ke sini sendirian, tadinya aku ingin membeli barang tapi sayangnya aku sudah kehabisan.” Arna mereka jawaban sebisanya.


“Owh begitu?” ibu itu mengangguk-angguk perlahan.


“Dimana rumahmu?” tanya ibu itu lagi.


“Aku..”


  ••••


“Olio, tenanglah dulu!” Ujar Kak Feiza pada Kak Olio yang nampak serius dengan alat pelacak di tangannnya.


“Bagaimana bisa tenang hah??!” Bentak Kak Olio.


Seketika Kak Feiza dan senior lainnya langsung terdiam.

__ADS_1


“Sinyal mereka tidak ada lagi, memang kau kira itu kenapa?” Kak Olio meledak-ledak. “Bahkan tim patoli empat tidak kehilangan sinyal saat itu. Tapi bagaimana kalian bisa santai dengan keadaan begini?” tanyanya garang.


“Mungkin mereka sengaja memutuskan sinyal..!” Jawab Kak Feiza setengah membentak.


“Dia benar, tenanglah dulu..” Nasihat seorang senior berambut cokelat yang menepuk pundaknya.


“Axton adalah yang terbaik diantara kita, jadi kau harus lebih tenang.” Lanjutnya.


Kak Olio memejamkan mata memamerkan senyum pahitnya.


“Terserah!” Ujarnya seraya memalingkan muka memandang luasnya Kota Medianpolis dari atas atap gedung.


“Segera  berrpencar, buat tim berisi tiga orang dan cari di seluruh kota!” Perintah Kak Olio pada semua senior.


Ia berjalan mendahului kawan-kawannya, lalu saat jarak mereka agak jauh Ia berkata,


“Sepandai-pandainya dia, ketika dikeroyok sendirian bisa apa?”


Semuanya membisu seiring langkah panjang membawa Kak Olio hilang dari pandangan mata mereka.


 . ••••


“Sudahlah Reeko, ayo bangun! Sekarang kita harus menemui Nona Meyl.” Ujar Rezon sementara tangan kirinya meremat kalung pelacak dengan geram.


Reeko mengangguk kemudian mennyambut uluran tangan kawannya yang sudah sedari tadi ditujukan padanya.


“Tapi, kita dimana?” tanyanya setelah bediri tegak.


“Aku.., tidak..tau..” Bisik Rezon pelan tapi cukup untuk didengar oleh Reeko.


“Aku memang tidak tahu, tapi bagaimana kalau kita terus berjalan saja? Barangkali bisa menemukan info dari mulut orang atau peta kota di pinggir  jalan.” Ujar Rezon sambil beberapa kali menyeka keringat di jidatnya.


“Aku menurut saja.” Jawab Reeko.


Kemudian keduanya terus berjalan beriringan.


••••


“Owh.., disana! Ayo bareng ibu saja, kebetulan gang rumah ibu juga ada di dekat sana.” Ujar ibu ibu tadi pada Arna.


“Eh, tidak perlu bu!” Tolaknya.


“Tidak masalah.., ibu yang bayarkan nanti.” Ibu itu tetap saja menyeretnya  memasuki sebuah taksi.


“Ayo jalan pak.” Ujarnya pada sang sopir ketika mereka berdua telah menyamankan dudunynya.


Taksi berjalan perlahan berbaur dengan arus kendaaan jalanan yang mulai lenggang, karena ditengah hari seperti ini kebanyakan orang lebih suka berdiam diri di tempat bernaungan ketimbang simpang siur di jalan raya. Alasannya, apa lagi selain panas terik yang menyengat.


“Minggu lalu ada acara perlombaan anak per-gang, apa kau ikut?” tanya si ibu-ibu membuka pembicaraan.


“Tidak bu, saya tidak ikut.” Jawab Arna dengan senyuman, tetapi sebenarnya ia juga takut akan ditanya macam-macam tentang perlombaan yang bahkan tidak pernah didengar olehnya.


“Wah..,  kenapa? Seharusnya kamu ikut saja. Lagi pula tidak ada ruginya bukan? Hanya modal tenaga sedikit, kalian bisa mendapatkan tambahan uang saku berkali-kali lipat.” Jelas ibu itu panjang lebar.


“Iya bu..” Tanggap Arna pasrah.


“Oh iya itu juga..”

__ADS_1


“Bla, bla dan bla, bla..”


“Ah sudahlah, bisa ****** aku kalau lama-lama di ceramahi. Bahkan ibu sangat berbeda dengannya.” Gumam Arna membayangkan wajah ibu diantara sela-sela gedung kota.


“Tapi, syukurlah dia orang baik dan syukur dia percaya rumahku beada di sana.” Pikirnya.


Karena alamat yang digunakan oleh Arna untuk mengecoh ibu-ibu ini adalah alamat yang sama dengan rumah Nona Meyl Orana, cukup dengan memundurkan lima angka dari nomornya saja alamat baru akan tercipta.


  ••••


“*Saat aku menghubungimu, cari guru dan sampaikan tentang hal ini!” 


“Suka-suka mereka, aku juga tidak lapar.”


“Ya, kita makan di luar saja.”


“Jangan sekali-kali merendahkan orang lain!”


“Pikirkan dirimu sendiri.”


“Terserah saja mereka mau apa, tapi aku tidak*!”


Kak Olio memacu kuda besinya dengan cepat di jalanan kota, melawan gejolak hatinya yang membara. Perasaan bersalah, marah, cemas, semuanya meronta membuat emosi Kak Olio tidak terkendali. Sehingga di suatu belokan ramai ia sengaja menukik cepat, sama sekali tak menghiraukan tatapan cemas Kak Feiza dan Kak Gan yang membuntuti di belakang motornya.


“Ax-ton..” Gumamnya dengan penekanan di tiap suku katanya.


“Aku salah, aku terlambat, aku keliru..!” Ia mengutuk diri sendiri.


“Seharusnya aku mengikutinya, atau setidaknya melapor pada guru lebih awal. Tapi.., aku benar-benar payah!” Giginya gemeretak, begitu pun dengan aspal yang digilas roda sepeda motornya.


“Tunggu!” Kak Olio mengerem tiba-tiba.


CKITT…!!


“OLIO!” Teriak Kak Feiza yang terpaksa mengerem mendadak juga dan hampir saja terjatuh kalau tidak disangga tubuh Kak Gan.


“Ada apa?” tanya Kak Gan dengan bengis.


“Aku tahu dimana Axton berada, dia mungkin ada di kediaman Nona Meyl, sasaran teror Viper Army kemarin.” Ujar Kak Olio penuh keyakinan.


Kak Gan segera memutar balikkan setir dan melesat meninggalkan kedua senior itu tanpa bicara sepatah katapun.


“Apa-apaan dia?!” Ujar Kak Feiza marah.


“Kau mau ku tinggal?” tanya Kak Olio yang juga sudah jauh meninggalkan Kak Feiza.


“Aku tidak mau ketinggalan upacara penyambutan sang juara!” Jawab Kak Feiza sembari menekan gas sepedanya.


 **kakak kakak semua...


mohon maaf ya..


lama updatenya, aku juga nggak mampir ke novel kalian karena banyak tugas dari sekolahan, untuk memperingati hari kemerdekaan RI dan juga tahun baru Islam..


Nah, eps kali ini juga aku buat seadanya, karena waktunya mepet. Kalau ada kesalahan harap maklum ya..


jadi sekali lagi maaf, kakak kakak**..

__ADS_1


__ADS_2