Forgotten Sins

Forgotten Sins
ORGANISASI


__ADS_3

"Mmm…, jadi Arna, kau tinggal di kota?" tanya Rezon membuyarkan kebingungannya.


"Aku... kenapa? ehh, iya maksudku! Aku dari kota." Jawabnya kikuk.


"Kota itu…, seperti apa?" tanya Rezon lagi. "Apakah tempatnya ramai dan menyenangkan seperti di cerita? atau mungkin kotor? ah..., tidak mungkin! Pasti bersih kan?" lanjutnya.


Pertanyaan Rezon membuat Arna menganga. Tidak mungkin orang tidak mengerti keadaan kota. Karena tiap kota itu samar perbedaannya. Sama-sama ramai, penuh gedung, panas, hanya itu-itu saja. 


"Iya, kota memang ramai. Ada banyak sarana teknologi canggih, juga tempat bermain menyenangkan. Seperti pasar malam, taman hiburan, dan lainnya. Ada juga pusat perbelanjaan lengkap, tempat kuliner, pemandian, museum, gedung musik, kebun binatang, perpustakaan besar, wah...terlalu banyak untuk disebutkan. Tapi ada juga kekurangannya, misalnya di kota terlalu padat. Jalanan selalu ramai dengan orang-orang yang sibuk. Hawanya juga terlalu panas." Jelas Arna panjang lebar.


"Wah…, kapan-kapan aku akan pergi ke sana! Kota terdengar sangat berbeda." Ujar Rezon penuh semangat.


"Memangnya, Kau belum pernah melihat kota?"Arna sudah tidak tahan lagi.


"Iya, kalau itu sih... memang tidak pernah! Tapi setelah lulus u.."


pembicaraan mereka terpotong karena suara ketukan. 


"Rezon, aku masuk!" Kata seseorang di balik pintu.


Rupanya itu adalah Axton. Di belakangnya ada seorang lelaki dewasa berperawakan tegap matanya tajam layaknya pendekar.


“Sudah sadar?” Tanya orang itu ramah.


Arna hanya mengangguk malu.


“Mungkin ini adalah sang pemilik sekolah atau, apalah..” Pikir Arna mengingat bahwa ia berada di tempat asing.


Lelaki itu duduk di sampingnya.


"Bagaimana kau bisa berada di dalam hutan sendirian? kau juga terluka, apa kau tersesat?”


Arna menunduk dalam, Ia tidak mengerti apa yang harus dikatakan. 


"Aku hanya ingin pulang…" hanya itu yang bisa Ia katakan.


Tapi kalau dipikir lagi itu bukan jawaban, jadi Arna menambahkan.


"Bisakah aku menelepon polisi?" 


"Iya, tapi ceritakan dulu bagaimana kau berada di hutan?" jawab pria itu menenangkan Arna.

__ADS_1


“Aku tidak seharusnya berada di dalam hutan, pada mulanya aku…” 


Arna menceritakan kejadian itu secara terperinci. Mulai dari kedatangan pasukan bertopeng hingga penculikan dan peledakan gedung. Pria itu hanya mengangguk-angguk .


“Lambang ular bermahkota?” tanya pria itu mengulangi kata yang ia ceritakan tadi.


Arna mengangguk, matanya memandang Pria itu penuh makna. Sama seperti Axton, dia malah menanyakan hal remeh seperti itu. 


“Dimana keluargamu selain Ibu?” tanya pria itu dengan senyum menghibur.


Arna menunduk dalam, kebingungan itu berganti dengan perasaan benci  ketika Kak Rabka dan Ayah meninggal. Ditambah lagi dengan perasaan kehilangan seorang Ibu, kebencian itu membakar seluruh tubuhnya.


“Ayah hilang di Lautan Medhi saat menjalankan pelatihan tiga minggu yang lalu dan kakak…” Ia terdiam. 


Ada sesuatu yang tergenang di matanya, namun air mata itu tidak mau menetes. Ia hanya menghela nafas saat genangan itu mengering kembali. Namun, ia kembali mengingat pemakaman kedua orang tercintanya ditambah lagi dengan penculikan Ibu.


“Tewas di depan mataku saat kejadian pengeboman di pasar.” Lanjutnya sedang pikirannya telah melayang jauh pada hari ulang tahunnya yang berubah menjadi hari kematian banyak orang. 


Pria itu memandang pada Axton dan Rezon lalu mereka berdua saling berpandangan balik dan mengangguk entah kenapa. Tapi Ia sempat melihat Kak Axton tersenyum sinis barusan. Dia juga menggumamkan sesuatu, tetapi Arna tidak bisa mendengarnya.


“Coba kau ceritakan kejadian detik-detik pengeboman pasar!” Ujar pria itu padanya.


Dengan patuh Ia bercerita selengkap mungkin, juga pendapatnya tentang kesamaan gambar yang terukir pada kulit wanita di pasar dengan lambang di baju orang bertopeng. Tapi lagi-lagi, orang itu hanya mengangguk.


“Ya, tapi ada juga bedanya. Jadi aku tidak dapat memastikan kalau itu lambang yang sama!” Jawab Arna.


Pria itu memandang pada Axton, lalu Axton mengambil buku yang berada di atas meja dan menuliskan sesuatu.


“Apa lambangnya seperti ini?” tanya Axton.


Ia menunjukkan gambar ular berkepala lonjong bermahkota.


“Bagaimana kau tahu??” Arna sangat terkejut.


Sekarang Ia semakin bingung. Kalau orang-orang ini mengerti tentang lambang itu, apakah berarti ceritanya dipercaya?


Memang gambaran itu persis. Padahal, selama ini tak ada orang yang paham dengan ceritanya. Bahkan, semuanya mengatakan video yang dilihatnya di grup kelas tidak pernah ada. Berbeda sekali dengan perilakunya, Axton hanya tersenyum dingin dan pria itu juga tersenyum.


"Kalau kau mengetahui pelakunya, apa yang kau inginkan?" Tanya pria itu.


Ia bungkam. Dihadapkan dengan pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan, membuatnya kaku. Sebenarnya kalau bisa Ia akan membunuh pelakunya seratus kali. Tapi kalau dilakukan, apa bedanya dirinya dengan sang pelaku?

__ADS_1


"Kalau aku bilang orang itu akan meneror seluruh kota, apa yang kau lakukan?" tanya pria itu lagi.


"Tidak akan kubiarkan dia! Lebih banyak korban? orang sekejam apa yang berani melakukan itu? Orang brengsek!" Arna meledak-ledak.


Sebenarnya jawaban itu keluar begitu saja tanpa berpikir panjang. Ia hanya mengatakan apa yang ada di dalam hatinya.


"Kalau memang begitu, apa yang dapat kau lakukan?" tanyanya lagi seperti memancing amarah Arna.


"Apa saja! Kalaupun harus mati, itu lebih baik daripada menyaksikan kematian lagi." ini kedua kalinya Arna bicara tanpa berpikir.


"Apa yang kukatakan??" pikirnya.


"Kau bersumpah akan berjuang?" tanya pria itu.


Arna mengangguk mantap.


“Pada awalnya kau harus tahu tentang kami.” Kata pria itu.


“Kami?” tanya Arna mengutip kata-kata dari pria itu.


“ Ya..,kami." Katanya. "Kami adalah suatu organisasi yang terdiri dari orang-orang yang menentang perbuatan orang-orang yang memiliki lambang ular yang kau sebut tadi. Mereka adalah sekumpulan orang yang membenci teknologi, namanya adalah Viper Army. Motif mereka belum jelas, tapi tujuan mereka adalah menggulingkan kekuasaan pemerintah yang dipegang oleh para teknolog. Caranya, mereka mengancam pemerintah melalui teror yang disebarkan di kota. Mereka itu brutal namun misterius. Tiap teror, tidak menyisakan bukti yang berguna.Tentara dan polisi tak bisa melacaknya karena setelah serangan, mereka lenyap seperti hantu. Apabila dibiarkan mereka akan menyebarkan teror lebih buruk hingga Kota Medianpolis menjadi reruntuhan. Tapi sebelum itu terjadi kami membubarkan organisasi mereka.  


Kami sendiri menjuluki diri kami sebagai True  Shadow. Kenapa? karena kami bekerja diam-diam. Seperti Viper Army, kami juga bekerja tanpa sepengetahuan pihak lain, keberadaan kami hanyalah mitos. Namun, ini dilakukan untuk mencegah jatuhnya korban yang semakin banyak. Anggota True Shadow adalah korban Viper Army dan anak-anak terlantar. Dengan menanamkan kesadaran, keberanian serta sedikit teknik ke dalam diri mereka, para pahlawan kota akan tercipta.” Jelas pria itu.


Arna melongo, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Hal seaneh itu tidak akan mudah dipercaya orang. Tapi, dari segi bahwa pria ini paham soal lambang itu, dia tidak berpura-pura.


"Bagaimana bisa motif mereka tidak diketahui?" Tanya Arna pada akhirnya.


"Karena informasi tidak bisa didapatkan dengan mudah." Jawabnya. "Tapi aku percaya kita bisa mendapatkan jawabannya!" Lanjut pria itu.


Arna tersentak dan kemudian membuang muka ke bawah.


"apa yang dia bilang tadi?" Rasanya dada Arna berdegup kencang, Ia hanya ingin tahu apakah ini adalah mimpi.


“bergabunglah…!!!” seru Rezon senang.


“Tapi itu bisa kau pikirkan dulu. Sekarang, kau bisa beristirahat di sini dulu sampai kau pulih. Ketika kau pulih nanti putuskanlah!” Kata pria itu."Kalau kau menolak, kami bisa kembalikan kau ke kota. Tapi kalau kau bergabung, bersiaplah untuk berlatih keras." Kak Axton dan dia beranjak ke luar.


"Istirahatlah Arna, besok aku datang!" Ujar Rezon sambil menyelimutinya.


“Bergabung?” gumam Arna ketika ruangan telah kosong.

__ADS_1


Tawaran mereka memang menggiurkan, dengan bergabung dengan organisasi ini bisa berarti dendamnya terbalaskan. Teror dari Viper Army telah merenggut nyawa keluarganya, hal tersebut tak seharusnya dirasakan oleh orang lain. Untuk sekarang, hatinya sangat tertarik untuk bergabung. Namun, Ia juga memiliki beberapa alasan lain yang membuatnya harus berfikir dua kali untuk bergabung.


__ADS_2