Forgotten Sins

Forgotten Sins
About True Shadow (Latihan)


__ADS_3

Keesokan harinya, saat kebanyakan anak sibuk bersiap, Arna sudah keluar dari kamarnya. Ia memusatkan pandangan ke bawah dimana beberapa anak sedang membantu senior membersihkan meja untuk makan. Ia turun ke bawah, tak banyak anak lelaki di sana kebanyakan perempuan jadi dia memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Tapi saat kakinya mulai berjalan kearah lain, Rezon melambai ke arahnya.


“Hei, pagi juga kau ke sini!” Sapa Rezon yang sedang duduk-duduk santai.


“Tidak juga, aku baru turun!” Jawab Arna berlawanan dengan kenyataan bahwa Ia sudah menunggu panggilan untuk bekumpul sejak mentari belum bersinar.


“Hai…!!!” Sapa seorang gadis yang baru turun darri tangga.


Mereka menoleh melihat Reeko sedang berlari kecil menghampiri mereka membawa nampan berisi tiga piring makanan dan juga tiga gelas minuman.


“Apa yang kau bawa Ree?” Tanya Rezon ketika Reeko berhenti di sebelahnya.


“Makanan, untuk kita bertiga. Duduk di sana saja!” jawab Reeko sambil menunjuk bangku di dekat lorong.


“Bagaimana kau mendapatkan makanan seperti itu?” tanya Arna heran mengingat bahwa seharusnya makanan mereka dikemas hingga tidak terlihat isinya.


“Ini sama dengan menu hari ini, inilah menu yang sudah kulobi sejak kemarin lusa.”Jawab Reeko tanpa menyembunyikan sesuatu.


“Tapi…, makanan yang lain bahkan belum datang.” Kata Arna menatap meja yang sedang dibesihkan.


“Melobi dapur sesekali tidak mengapa bukan?” jawab Reeko enteng.


“Ah…, sudahlaah lama-kelamaan tanganku pegal nih…! Ayo ke sana!” Ajak Reeko menarik Arna dengan satu tangan.


“Dimana Kak Axton?” Tanya Rezon pada Reeko saat di tempat duduk.


“Dia bersama para senior lainnya sedang berkumpul di kantor Ayah!” jawab Reeko sambil menyeruput minuman di tangannya.


“Ayah? Siapa?” Tanya Arna penasaran.


“Hmmm, kau belum aku beri tahu ya?” Tanya Rezon padanya.


Ia memandang pad Reeko sedetik tapi gadis itu tetap fokus pada minumannya. Kemudian ia menggeleng saja. Bangku-bangku sudah penuh, anak-anak sudah mulai menyantap hidangan. Itu merupakan alarm mereka untuk ikut menyantaap hidangan yang dibawa Reeko tadi.


“Ayah Reeko, kau sudah bertemu dengannya kemarin, dia adalah Guru.” Jawab Rezon menyambung perkataannya tadi.


“Ohhh…” jawab Arna singkat.


“Hah, Apa??!” Arna baru saja menyadari sesuatu.


“Ayah Reeko, adalah guru…” Rezon mengulangi perkataannya.


“Guru??” Arna terkejut, Ia menatap wajah Reeko yang rupanya  langsung berpose seakan Arna adalah sebuah kamera.


Sekarang Arna mengerti, dia bisa melobi dapur  dan mengetahui jadwal itu karena ayahnya adalah ketua organisasi True Shadow. 


“Pantas saja dia segarang macan, ayahnya saja harimau…” Pikir Arna mengingat anak yang ditendang Reeko kemarin. 


 “Oh iya! Latihan nanti…, guru datang kan?” Tanya Rezon membuyarkan pikiran Arna.


“Ya, Ayah akan datang dan mengawasi kita semua. Aku penasaran, apakah beliau melihat kemajuan kita selama ini?” Jawab Reeko bercampur dengan rasa penasaran.


“Aku sangat semangat!!!!” Ujar Rezon berapi-api.


“Iya, Aku juga tidak sabar!” Sahut Arna.


“Soal identitas Reeko nanti saja, sekarang pikirkan latihan.” Batin Arna.


“Oh, iya! Kalian mau mengajariku kan?” Tanya Arna penuh harap.


Kedua kawanya berpandangan heran baru kemarin Arna sangat ragu dengan dirinya, sekarang malah berharap di ajari. Entah apa yang terjadi semalam padanya mereka juga tidak tahu, tapi serentak mereka mengacungkan jempol dan tersenyum lebar. Arna bersorak gembira melihat temannya setuju. 


Suara peluit yang nyaring berberapa kali terdengar di aula bagian kiri, semuanya  berhenti bersantai dan berkumpul, yang makannya belum habis meninggalkannya begitu saja dan yang selesai berlari-lari membentuk lingkaran dengan pusat para senior. Untungnya, Arna sudah selesai dari tadi karena kedua temannya makan dengan cepat.


“Dengarkan Semuanya!!!” Ujar salah satu senior menghentikan suara beberapa anak yang masih berbicara.


“Kali ini, kita akan menjalani latihan bersama,” ujar senior lain masih berteriak.


“Jadi,  jalankan latihan sebaik mungkin!” lanjut senior pertama.


“Kita akan berkumpul di aula besar sesuai jadual yang telah disediakan.” timpal senior ke dua.

__ADS_1


“Bawa peralatan kalian dan jangan lupakan apapun, karena pintu akan ditutup selama latihan.”


Kedua senior itu saling menambahi pengumuman yang diperuntukkan kepada mereka dengan suara lantang. Kak Axton juga ada  di sana, tetapi dia tidak mengumumkan apapun melainkan hanya mengawasi dengan tatapan khasnya yang mengintimidasi . Arna diam-diam bertanya pada kedua temannnya.


“Kak Axton ada disana, ini timnya?” tanya Arna.


“Ini bukan timnya…” Jawab Reeko setengaah berbisik.


“Dia hanya mengawasi.” Tambah Rezon masih dengan berbisik.


“Kenapa dia tidak ikut mengumumkan?” Arna masih penasaran.


Rezon dan Reeko serentak melihat ke arahnya lalu Rezon mengacungkan jari telunjukanya ke depan muka. 


“Satu kata.” Jawab Reeko ikut mengacungkan jarinya.


“Patuh.” timpal Rezon.


“Kak Axton adalah salah satu senior yang terkenal jantan, keras, dan disiplin. Sehingga, senior, junior  maupun pemula semua mematuhinya. Apalagi, Kak Axton adalah peraih medali emas dalam setiap turnamen True Shadow yang diadakan dua kali dalam setahun. Bukakah dia juga tangan kanan guru? ditambah tatapan dan wajah dinginnya itu, wah… hanya perlu melirik untuk membuat orang terdiam. Hanya cukup melihat saja orang bisa gemetar!” Jawab Reeko lalu terkikik masih dalam volume pelan.


“Kak Axton keren sekali…” Pikir Arna.


“Siapa yang lain?” tanya Arna penasaran.


“Kak Olio dan Kak Gan. Mereka berdua adalah peraih medali perak dan perunggu turnamen berturut-turut.” Jawab Reeko sambil tersenyum.


“Kak Olio adalah sahabat Kak Axton. Jadi, wajar saja mereka sama-sama hebat sehingga, mereka dapat berlatih bersama setiap harinya.” Jelas Rezon tanpa diminta.


Tapi dari penekanannya di bagian hebat dia terdengar seperti membanggakan kakakya. Sesaat mereka terdiam karena Kak Axton melihat kearah mereka kemudian pandang menuju arlojinya.


“Lalu bagaimana dengan Kak Gan?” Tanya Arna melihat ada kesempatan.


“Kak Gan adalah…” jawab Rezon dengan masih berhati-hati agar tidak ketahuan oleh para senior dan dihukum.


“Semuanya!” Suara Kak Axton tiba-tiba terdengar dan menggema di seluruh bagian aula. 


Mereka tegang menyangka telah ketahuan mengobrol di saat penjelasan. Semua anak langsung terdiam seskali terdengar suara anak yang meneguk ludah.


“Jam latihan dimulai!” Lanjut Kak Axton.


Arna melihat ekspresi para junior satu persatu. Rupanya, semua anak semua takut kepergokan tidak mendengarkan penjelasan para senior sehingga sama-sama tegang. 


“Ngapain senyum-senyum? Lega ya?” Tanya Rezon.   


“Iya…” jawab Arna mengiyakan saja, apalagi Ia tahu kalau dirinyalah yang memulai pembicaraan diantara mereka.


Kakak senior memandu mereka ke aula besar lalu mengisyaratkan untuk mulai berlatih. Reeko menariknya menuju pojok Ruangan, meninggalkan Rezon di depan pintu yang disana terdapat beberapa alat olahraga pemanasan. 


“Kita pemanasan, lalu berlatih.” Ujarnya manis.


“Kalian meninggalkanku lagi…!!” Rezon marah-marah begitu sampai di dekat mereka.


Reeko menjulurkan lidahnya keluar dan Rezon bertambah geram.


“Emm…” Arna mulai angkat bicara tapi Rezon menyahut dengan cepat sehingga perkataannya terhenti.


“Iya, Aku mengeti Arna. Kalau saja Reeko tidak mmenarikmu kau pasti mengungguku!” Kata Rezon dan Reeko memalingkan muka.


“Hmh!”


“Sebenarnya, aku mau bilang..”


“Ayo mulai!” Seruan Reeko memotong perkatannya lagi.


“Ayo…!!!” Rezon menyahut semangat.


Entah bagaimana mereka bisa berengkar dan akrab dengan sangat cepat, tapi Arna hanya tertawa sesaat lalu mengangguk mantap. Mereka saling berpaandangan lalu melakukan pemanasan.


Beberapa menit saat-saat berlatih…


“Ayo Arna, kau pasti bisa!!” seru Reeko menyemangati Arna yang sedang melakukan push-up bersama Rezon.

__ADS_1


“Aku, harus bi…sa…!!!” ujarnya membatin.


Ia terus mencoba menahan berat tubhnya  dengan tangan dan mendorong ke atas, meski keringat telah memenuhi bajunya, ia sama sekali tak ingin berhenti.


“Sembilan puluh semblian, seratus!” Kemudian mereka berdua langsung merebahkan diri ke lantai.


“Ak..hir…nya….,se…lesai..juga!” Ujar Rezon dengan nafas yang tak beraturan.


“Meskipun dipotong-potong beberapa sesi, tapi tetap saja Push-up itu berat kan?” tanya Reeko sambil berjongkok di samping kedua sahabatnya.


Mereka berdua tak berniat menjawabnya, hanya dada merekalah yang naik turun menandakan mereka masih mengatur nafas. Tadi mereka menargetkan seratus kali push-up yang dipotong lima atau sepuluh lalu kali lalu beristirahat selama lima belas detik. Tapi lama kelamaan waktu istirahat mereka diperpanjang menjadi dua puluh detik, tiga puluh detik dan pada hitungan yang ke lima puluh kali, diperpanjang lagi menjadi semenit. Tapi yang penting target seratus kali telah terpenuhi. 


“Ayo, kita lakukan yang lainnya!” Ujar Arna sambil berdiri.


Rezon nampak terkejut, Ia langsung duduk sambil menganga.


“Kau yakin?” tanya Reeko meyakinkan.


Arna mengangguk mantap sekarang ia sudah dalam posisi berdiri tegap sambil memandang ratusan alat latihan di aula. Wajah Kak Rabka, Ayah, Ibu wanita di pasar, orang bertopeng dan komplotannya tergambar dengan warna dendam yang dulunya membakar hati dan sekarang malah membakar semangatnya. Reeko mengangguk juga lalu berdiri mengikuti Arna, berbeda dengan Rezon yang mulutnya semakin melebar.


“Hey, hey, hey! Kalian kesurupan ya? Baru saja kita latihan push-up, sit-up, pull-up, dan banyak lagi. Sekarang, kalian sudah mau yang lain??! Ini belum sepulih menit!!”


“Kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa kok! Aku ikhlas…” Jawab Reeko dengan senyuman sadis.


“Enak aja!!” Seru Rezon sambil berdiri setengah melompat.


“Nah.., itu masih kuat lompat!” Kata Arna dengan gelak tawa.


“Hehehe..” Rezon menggaruk-garuk rambutnya.


“Jangan gitu ah! Kaya Monyet!” Ujar Reeko untuk menggoda kawannya.


“Hahahaha..” Tawa Arna kembali meledak dan dengan candaan tadi, tenaga mereka seperti dikembalikan.


“Okke! Tantangan selanjutnya, Panjat Tebing!!!!!” ujar Reeko sambil menunjuk ke sebelah utara aula.


“Aku saja yang duluan!” Ujar Rezon.


“Sok jagoan nih ya..?” goda Reeko sambil meringis.


“Kau yakin bisa?” tanya Arna.


“Ya…jangan khawatir, semua bisa diatasi!” jawab Rezon semakin ke PD-an.


Rezon mengambil langkah pertama dengan lagak jagoan. Sudah belasan kali tangan dan kaki mereka saling menopang untuk naik, tiba-tiba Rezon berhenti sikapnya berubah drastis, seakan melupakan sesuatu. Arna dan Reeko yang berada tepat di kanan dan kirinya segera merespon dengan saling berpandangan penuh tanya.


“Ada apa?” tanya Arna.


Rezon diam lalu menurunkan langkahnya yang sudah di angkat.


“Hey!” seru Reeko.


Tapi Rezon tidak menjawab, langkahnya makin cepat untuk turun, karena khawatir merekapun mengkuti langkahnya. Ketika memijak tanah dan melepas peralatan, Reeko yang heran langsung menyemprot Rezon dengan pertanyaan. 


“E h…, itu sih…aku…” Rezon tersipu.


“Apa??” Tanya Reeko tak sabar.


“Ya, kenapa?” Tanya Arna yang rupanya juga ingin tahu.


“Aku…takut ketinggian..!” jawab Rezon yang mukanya merah padam sedangkan Reeko merah menyala.


“Terus…,kenapa kamu berlagak mau naik duluan tadi kalau takut ketinggian???” ujar Reeko menyalahkan sikap Rezon.


“Yaaa…,aku kan baru ingat!” jawab Rezon tak mau kalah.


“Jadi, selama kau naik tadi kau tidak mengingat soal ketakutanmu?” Tanya Arna.


“Tepat!” jawab Rezon seakan tak bersalah.


“REZONNN…!!!!” ujar Reeko sambil meringis sebal meremas jari-jarinya yang lentik.

__ADS_1


“Bencana!” Seru Rezon.


Benar saja, tangannya langsung bergerak menyasar Rezon yang kemudian menjatuhkan diri ke lantai, tiarap seakan berada di perang, lalu merangkak. Dan di jarak yang aman dia segera bangkit berlari menjauhi Reeko. Tapi Reeko tak diam saja, ia ikut berlari mengejar Rezon. Terjadilah peperangan Rezon dan Reeko yang bagaikan anjing dan kucing. Dan sepeti biasa, Arna hanya meringis memandang kedua temannya yang kalau kompak sangat kompak dan kalau bertengkar, hancurlah dunia sejagad. 


__ADS_2