Forgotten Sins

Forgotten Sins
Bertemu


__ADS_3

“Kak Syena, Kak Zelig, kalian datang!” Seru Reeko penuh semangat.


“Jadi Axton tidak bersama kalian?” tanya Kak Syena karena mendengar penuturan Rezon tadi.


“Kakak menyuruh kami pergi saat melawan Viper Army tadi.” Jawab Reeko dengan suara lemas.


“Hah?” kak Syena berbicara sangat keras dan matanya terbelalak, ajaibnya hal itu membuat keadaan sekitar yang tadinya dipenuhi  desir panas dari ban kendaraan menjadi sunyi seketika.


“Begitu ya, tidak mengherankan seorang Axton melakukan itu.” Ujar Kak Enan menimpali, tangannya terkepal menampakkan ruas jari kokoh yang legam. “Dia tidak tahu bahaya.” Lanjutnya masih pada nada yang sama.


“Jadi kalian juga berpendapat Kak Axton dalam bahaya?!” Seru Rezon serius.


“Rezon!” Tegur Reeko agar kawannya tidak terbawa suasana hati.


“Itu benar kan, tidak seharusnya kita meninggalkan dia!” Jawab Rezon dengan ketus.


“Dia memerintahkan kita untuk melindungi Nona Meyl. Jangan kau kira dia tidak tahu bahaya!” Reeko malah hanyut dalam pembicaraan kawannya bahkan jauh lebih beringas.


“Lebih berharga nyawa siapa, Kakak atau si Noni-noni bibir merah itu?” Rezon terus mendebat mengimbangi kebengisan Reeko.


Rasanya dunia akan meledak jika kedua anak itu dibiarkan terus bertengkar, perdebatan itu  mengundang emosi dan aura tidak enak dari semua pihak, baik para senior, tembok gedung di sekitar dan juga paving yang mereka pijak, semua seakan ikut meneriakkan pendapatnya walau dengan diam. Tapi mungkin kesan itu tercipta karena keriuhan mendadak hilang sehinga suara kedua junior tersangar di True Shadow itu dapat menggema di semua sudut seperti sebuah orasi.


“Kak Axton sudah mengambil keputusan, selain itu kita sudah diberikan tanggung jawab memastikan keamanan Nona Meyl!” Anak Harimau mulai terpancing emosinya.


“Ralat kata-katamu itu Ree! dia menyuruh kita untuk melindungi Nona Meyl atau ‘lari kembali ke markas.’ Mengerti?” Rezon memandang congkak.


“Sudah-sudah..” Kak Zelig melerai setelah sekian lama tenggelam dalam kebisuan. “Jadi kalian tinggal berdua, dimana Arna?” tanyanya untuk menyambungkan topic awal.


“Arna dia..”


Reeko terdiam mendengar nama ‘Arna’ disebut, pikirannya melayang pada nasip Arna sendirian di antara kekejaman kota dan kepungan pasukan Viper Army tanpa perlindungan. Berbeda dengan mereka yang masih dilindungi ssepenuhnya oleh Kak Axton. Bahkan setelah lepas dari pengawasan senior terhebat itu mereka langsung bertemu tim pencari. Dengan hoki sebesar itu tidak sepantasnya meributkan hal  yang mengancam Kak Axton, bahkan tadi Ia tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkannya. Tidak sepatutnya terus mengumpat karena semua halangan di depan mereka sudah ditangani orang lain.

__ADS_1


Begitupun Rezon, diam-diam dia menyadari  kenaifan dan kelancangannya tiba-tiba meneriaki Reeko dan membuat risih semua orang. Sebenarnya itu semua terjadi karena emosi labil sebab mendengar perbincangan para senior tentang Kak Axton, Ia benar-benar khawatir kakaknya tidak akan kembali. Tetapi semua itu bukan alasan, tidak ada yang baik dari membentak dan mencela Reeko ataupun Nona Meyl untuk memuaskan hatinya. Kak Axton juga tidak akan pernah membenarkan tindakannya, bagaimanapun ia telah salah. Kini Rezon bertekat mengembalikan kendali atas dirinya pada kesadaaan penuh bukan pada perasaan.


“I'm going back to being Rezon!" Tekatnya.


Uneg-uneg itu terus saja menghujam batin mendorong mereka untuk saling menyadari kekhilaafan masing-masing. Dengan pandangan penuh makna Reeko menoleh pada Rezon yang ternyata juga memandang padanya, senyuman kecil memoles bibir polos Reeko mengisyratkan seruan perdamaian pada kedua belah pihak. 


Tanpa berbicara pun Rezon bisa memahami apa yang ingin dikatakan gadis harimau itu,


“Dibandingkan dengan Arna, hal ini tidak patut kita perdebatkan.”


Ia mengangguk lalu menjawab juga dengan isyarat,


“Aku paham.”  


“Arna sudah menghilang terlebih dahulu setelah membatalkan serangan Viper Amy di Gedung Airmony Siiv.” Jawab Rezon mewakili keduanya.


Waktu  yang digunakan mereka untuk berrpikir sebenarnya tidak banyak, hanya beberapa detik saja. Barangkali waktu di alam pikir dan alam wujut manusia itu berbeda ya..


“Sinyal Arna sempat terlihat saat kami masih bersama kakak, tapi ketika terpisah tak satupun yang muncul, Reeko di sampingku juga tidak terdeteksi.” Jawab Rezon, matanya bersinar menandakan suasana hatinya sudah membaik.


“T-tunggu, apa itu berarti mereka mati? bahkan Ree..ko..” Kata Rezon dengan penekanan di bagian ‘Reeko’ sambil menjauh dari gadis di sebelahnya.  


“Uhuk, uhuk, uhuk!” Reeko tersedak udara ketika Rezon mengatakannya.


“Eh??” mulut Kak Enan menganga tidak bisa menutup karena perubahan sikap Rezon yang drastis, seakan berubah dari seorang kaisar tegas menjelma menjadi si konyol yang tidak bisa membedakan kanan dan kiri.


 “Hahahahaha! Tidak Rezon sayang…, jika Reeko mati bagaimana dia bisa berdiri di sampingmu?” jawab Kak Siena memamerkan wajah cantiknya yang bersinar seperti rembulan.


“Lalu apa yang terjadi?” potong Reeko menyudahi pembicaraan tidak penting padahal dia sendiri jadi ingin meremat wajah Rezon.


“Jika sinyalnya menghilang ketika kalian baru saja terpisah, kemungkinan salah satu dari kalian memutuskan jaringannya.” Kata Kak Zelig.

__ADS_1


“Iya, itu benar. Sinyal Axton pasti tertangkap karena kalian baru saja menginggalkannya, kecuali itu milik Arna. paham maksudku? Diluar jangkauan..” Timpal Kak Enan dan Reeko mengangguk.


“Jadi fungsi kalung pelacak ini adalah untuk membantu mengubungkan lokasi anggota sebuah tim, hal ini bertujuan agar tim tidak kebingungan ketika berpencar atau terpencar. Seperti yang kalian ketahui, posisi kita ditandai dengan titik merah sedangkan milik kawan-kawan kita ditandai dengan warna kuning, siyal-sinyal ini saling terhubung satu sam lain kecuali berada dalam jarak tertentu. Nah, sinyal paling kuat di kalung ini adalah sinyal milik markas yang ditandai dengan persegi biru tua, ini mungkin sangat dinginkan oleh musuh. Jadi untuk mengantisipasinya kalung ini juga diberi fungsi memutuskan hubungan antar sinyal dengan tombol hitam kecil ini. Sudah mengerti semua?” jelas Kak Siena panjang lebar. 


“Aku tidak paham. Tapi sudahlah!” Ujar Rezon, Kak Zelig yang sedang memutar motornya langsung terpeleset.


“Dasar Rezon, kakakmu sangat cerdas bagaimana kau bisa kacau seperti ini??” umpatnya marah-marah, sedangkan yang lainnya hanya tertawa.


“Jangan salahkan aku, ini lumayan untuk meregangkan otot wajahku yang dari tadi tegang karena Kak Axton dan Arna!” Jawab Rezon murka.


Semuanya tertawa melihat tingkah laku Rezon, tapi tidak berlaku baginya yang malah semakin moncong seperti paruh bangau kecepit pintu.


“Jadi apa yang harus kita lakukan kak?” tanya Reeko pada Kak Zelig.


“Aku akan mengabari yang lain tentang kalian, yang lain segera naik ke motor. Kita hampiri tempat Axton terakhir kali!” Jawan Kak Zelig.


“Baik!” Sahut semua besamaan.


  ••••


“Payah! Handpone Reeko tidak aktif.” Gumam Arna yang terbatuk-batuk karena asap kendaraan tadi.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” pikirnya sambil menengok ke jalanan yang nampak sedikit kabur akibat panas aspal.


Suasana itu membuat pikiran Arna kosong, makin kosong dan makin kosong.


“Aku tidak tahu..!!” Arna berteriak sambil merlompat dari duduknya dan mengacak-acak rambut sembarangan untuk melampiaskan emosi.


Akhirnya Ia pun memutuskan memeriksa keadaan rumah Nona Meyl Orana walaupun tidk mengetahui tujuannya. Dengan langkah gontai seperti singa kelaparan Arna berjalan maju, tepat saat berhapan lurus dengan gapura yang masih sekitar 300m lagi Ia melihat beberapa anak remaja sedang bebincang di samping motor mereka.


“Hmmm, bagaimana kalau aku mendekat ke sana saja. Barangkali ada pembicaraan mereka yang menarik.” Pikir Arna.

__ADS_1


__ADS_2