Forgotten Sins

Forgotten Sins
Pulang


__ADS_3

BYURR!!


“Axton!” Teriak Gan sambil menyiramkan air sebotol penuh ke wajah Axton.


“Gan!” Seru Olio yang terlihat emosi, Ia menepiskan botol di atas Axton sehingga air pun membasahi bangku.


“Ayolah Sadar!” Gan masih berjuang membangunkan musuh bebuyutannya yang sudah bangun dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya.


“Aku sudah..” Kata Axton, Gan pun melompat mundur lalu memalingkan muka.


“Kalau sudah, ganti baju sana basah semua!” Ujarnya ketus.


“Dasar konyol, Kau yang menyiramnya!” Teriak Kak Olio sampai Arna dan Kak Feiza terbangun.


“Apa yang.., hoamm..nyumm..”  Gumam Kak Feiza sambil menggucek-ucek matanya.


Arna meregangkan tubuh layaknya anak kucing bangun tidur, tapi saat melihat ketiga senior lelaki itu matanya membulat seketika.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Arna heran bercampur penasaran.


“Tidak, Gan hanya berulah lagi.” Jawab Kak Olio seakan semua adalah salah Kak Gan sendiri.


“Aku??!”


“Sudahlah, aku akan berganti baju.” Kata Kak Axton menyudahi peperangan berkelanjutan dari sahabat dan musuhnya.


“T-tunggu, tadi kau kenapa?” tanya Kak Olio menghentikan langkah Kak Axton.


“Apa yang terrjadi?” tanya Kak Olio lagi, tetapi Kak Axton tidak menjawab.


Ia hanya terpaku di tanah dengan pandangan mata tak tertuju kemanapun, sementara tangannya meraba leher belakangnya dimana luka pernah bersarang, bahkan terkadang masih terasa nyilunya.


“Sudah, ganti sana!” Kak Gan menyerahkan jaketnya setengah melempar.


“Terimakasih.” Kata Kak Axton pelan sambil berlalu pergi.


“Tunggu!” Seru Arna seraya berlari mengikuti senior kesayangannya, semua menengok padanya.


“Aku ikut kak.” Ujarnya ketika berada di sisi Kak Axton, walaupun kantuk belum hilang dari matanya sama sekali.


Kak Axton tersenyum mengelus kepalanya, dan Arna tahu benar setelah ini keinginannya pasti akan ditolak.


“Aku baik, tidak perlu.” Jawab Kak Axton, seketika batin Anra mengatakan,


“Sudah kuduga!”


“Terserah Kak Axton mau baik atau sakit, yang penting aku ikut. Lagi pula aku juga ingin mencuci muka, disini gerah sekali.” Jawab Arna penuh siasat.


“Baiklah…” Kak Axton meneruskan langkah tanpa menoleh lagi.


Senyuman kecil terukir di bibir Arna, tanpa mempedulukan apapun lagi Ia segera menyusul langkah seniornya.


“Terkadang aku berpikir pelatihan di organisasi True Shadow malah membuat anak-anak berpikiran terlalu canggih.” Kata Kak Feiza diantara ke-tercengangan mereka pada siasat Arnawa yang benar-benar licik.


Kak Gan dan Kak Olio hanya mengangguk pelan dengan rahang tidak bisa ditutup.


••••

__ADS_1


“Sejak keluar dari Gedung Airmony Siiv, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa karena mereka bersamamu. Tapi kalau sekarang, aku jadi ragu. Siasat macam apa yang bisa memecah kalian?” tanya Arna sambil berkaca di cermin atas wastafle.


“Viper Army menjebak kami dalam asap.” Kak Axton, menjeda kalimatnya untuk memperbaiki resleting jaket.


“Aku menyuruh mereka mengawal Nona Meyl.” Kak Axton bergerak membasuh muka di wastafle samping Arna yang menatapnya sedih.


“Lalu?”


“Mereka tidak disini bukan?” jawab Kak Axton dingin dan mengikuti kenyataan.


“Iya..” Arna membuang tatapannya kearah pintu keluar, perasaan menyesal mulai mendesak pikiran membuat ekspresi hampa di wajahnya.


Ia tahu perkataan Kak Axton tadi bukannya menyalahkan atau memojokkannya, justru sebaliknya. Namun entah kenapa Ia sangat menyesal membiarkan kedua rekan timnya hilang diantara kekejaman kota yang tak dikenal oleh mereka dan seniornya terluka parah. 


“Jangan berpikir seperti itu, kau punya perjuangan sendiri.” Suara Kak Axton membuyarkan ratapannya.


Arna menoleh cepat dengan pandangan heran, berkebalikan dengan sifatnya yang dingin dan mengintimidasi ternyata senior ini bisa memahami alur pikir orang lain dengan sangat mudah. Bisa dikatakan dia peka, walau tadi Arna tidak merendahkan nada bicaranya Kak Axton sudah mengetahui semuanya, Ia bahkan tidak menghentikan kegiatan basuh membasuhnya.


“Hmh, tapi tetap saja ini sebuah kelompok. Tidak ada alasan untuk tidak melibatkan diri dalam kesalahan yang kita buat. Bukankah kau yang mengatakannya padaku kak?” jawab Arna segera menyadarkan diri.


Hanya dua hari diluar lingkup organisasi membuat pikirannya bingung, Ia hampir saja melupakan sifat kawan-kawannya padahal tiga tahun di organisasi itu sama saja dengan tinggal di rumah baru. Namun ternyata sebuah kejutan kecil dari Kak Axton bisa membuatnya tercengang.


Memangnya seberapa berat aktifitas otaknya selama dua hari ini sampai terpaksa membuang beberapa memori penting?


Mendengar jawaban juniornya, Kak Axton menghentikan aktifitas sesaat, kedua tangannya bersangga di sisi wastafle menatap air bersih yang masuk kedalam lubang pembuangan lalu beralih pada bayangan wajahnya sendiri. Nampak dingin dan kejam, apalagi ditambah dengan kesan akibat sorot lampu kendaraan dari luar menyentrong sebagian wajahnya juga pancaran sinar lampu di cermin membuat kedua belah mata kelamnya berkilat-kilat tajam. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, sukar sekali untuk bibaca.


“Bukankah harusnya aku yang mengatakannya?” tanya Kak Axton datar.


Seketika itu pula raut wajah Arna menyatakan tidak mengerti, seniornya ini memang tidak dapat dipahami dengan mudah. 


“Maksudmu?” tanya Arna berterus terang.


Ia memang tidak berharap mendapatkan jawaban lagi, karena mungkin dengan memaksa Kak Axton menjawab sesuatu dapat menghancurkan hatinya yang jauh tersembunyi.


“Tapi kata-kata itu memang untukku karena akulah yang membuat kalian harus menghadapi pasukan Viper Army tanpa kesiapan.” Dadanya benar-benar sesak kali ini.


Persis seperti saat ketidak pastian keberadaan Kak Rabka mengekangnya dengan pertanyaan-pertayaan yang membuat kepercayaannya terhadap lingkungan sekitar menghilang. 


“Mungkinkah itu terjadi lagi?” pikirnya menggertakkan gigi.


Tapi tiba-tiba tangannya dicengkeram erat oleh seseorang.


“Apa yang..??” tanya Arna terkaget-kaget.


“Diam Arna!” Kata Kak Axton tanpa melepas gandengannya.


Mereka terpaku memandang tempat dimana Kak Olio, Feiza dan Gan menunggu yang kini dipenuhi orang. Bukaan hanya itu, disampingnya beberapa sepeda motor hitam terparkir rapi menambah kecurigaan mereka bahwa ada sesuatu yang terjadi.


Kak Axton mengendurkan pegangannya pada lengan Arna lalu memberi isyarat agar mundur ke belakang, sementara tangan kanannya begerak meraba gagang pisau terbang, siap melancarkan serangan kapanpun.


“Jika serangan datang kau cepat pergi ke markas, jangan berbalik lagi.” Ujar Kak Axton serius.


“Tapi kak, aku tidak mungkin..”


“Sudahlah, mengalahkan mereka dengan gerakan terbatas itu tidak mungkin, satu-satunya cara adalah kembali ke markas.” Cegat Kak Axton yang telah mencabut pisau dari sarungnnya.


“B-baik!” Jawab Arna penuh kebimbangan.

__ADS_1


Gerombolan orang di depan mulai menyebar dan beberapa menengok kearah mereka, itulah saat yang tepat untuk melemparkan pisau terbang.


“dua..” Gumam Kak Axton menghitung waktu.


“ti..”


“Kakakk…!!” Suara itu membatalkan semua serangan bahkan pertahananya. 


Pandangannya kabur dan semua obyek memudar, hanya samar seperti garis bercahaya, Ia melihat si kecil Rezon berlari menghampiri dengan kedua tangan direntangkan meminta pelukan dan sorot mata lugu.


“Re-zon?” tanya Kak Axton setengah menggumam.


Mendadak tubuhnya lemas seketika, kepalanya sangat pusing sampai-sampai harus bersandar pada pohon palem disampingnya jika tidak ingin terjatuh.


“Kak.., kau baik-baik saja?” tanya Arna khawatir.


Tapi semua itu tak ibahkan olehnya, karena samar-samar bayang salju putih mendominasi segalanya. Sesak yang pernah di rasakannya kini kembali lagi, segalanya dingin dan beku persis seperti dahulu, tiap hembusan nafas menimbulkan asap yang melambung didepan wajah.


“Akak.., akak.., janan mati..!!” Teriakan itu memicu detak jantungnya semakin-cepat dan semakin cepat.


“Akak..!!” Teriakan terakhir lebih terdengar seperti deruh angin yang berhembus di telinganya.


Perlahan semua kembali normal, tapi tidak dengan digin yang terasa di sekujur tubuhnya yang menggigil gemetaran.


“Kakak!!” Rezon menarik-narik ujung bajunya dengan panik, matanya bulat besar tak berkedip dan mukanya merah padanm bagai buah tomat matang.


“A-ku..” hanya sepatah kata itu yang dapat diucapkannya saat kesadaran atas dirinya mulai kembali.


Ia mendapati diri telah rebah dalam dekapan hangat guru yang menjadi tempat bersandar sekaligus kaki untuk menyangga tubuhnya. Ternyata banyak sekali hal yang terjadi diluar kesadarannya dalam beberapa detik ini.


Dengan mata redup, Ia mengalihkan pandang pada Rezon.


“Rez..” Panggilnya dengan suara yang sangat pelan sementara genangan air mulai memenuhi mata bocah kecil itu.


“Entah sejak kapan aku begini, sebelumnya aku baik-baik saja. Tidak ada yang tejadi padaku, kenapa sekarang?” pikirnya sementara sesak kembali menaklukkannya.


“Kita pulang Axton.” Kata-kata guru adalah terakhir yang ia dengar.


🎬🎬🎬🎬


**Gimana kakak kakak?


paham nggak?


aku aja enggak..


hehehehe 😅😅😅


oke deh.., terimakasih udah membaca..


nantikan episode berikutnya..


⏭️


catatan dari saya maaf telat up ya..🙇🙇


saya juga ada tugas dari organisasi nih..😎

__ADS_1


organisasi sekolah 🏫 😹😹**


__ADS_2