Forgotten Sins

Forgotten Sins
Akhir dan Awal


__ADS_3

Suatu malam, Ibu mendapat panggilan mendadak dari kantor. Arna terpaksa ia ikut sertakan karena tidak ada orang yang akan menemaninya di rumah.


“Arna, nanti kamu tunggu di ruangan Ibu. Boleh berkeliling asalkan handphone terus kau bawa agar ibu bisa mengetahui keberadaanmu!” Celoteh Ibu sambil menggandeng Ibu menaiki anak tangga menuju ruangannya.


“Iya Bu." Jawabnya.


“Da…Arna!!!” Seru ibu dari kejauhan.


“Iya bu…” Jawab Arna agak pelan.


“Ibu tergesa-gesa sekali," pikirnya.


Arna sedang melihat ke luar jendela merenungkan masa-masa yang telah ia lewati bersama keluarganya yang lengkap dulu.


“Aku tidak bisa terus merenung dan meratap! Masa depanku masih panjang!” Ia berkata-kata dalam hati, kekuatannya seakan bangkit kembali.


Pada saat itu, di depan jendela ada sesuatu yang melintas dengan cepat. Ia terkejut dan mundur beberapa langkah.


“Apa itu? Cepat sekali! apa ini hanya khayalanku?” batinnya.


Kemudian Ia berjalan menuju meja kerja Ibu untuk mengambil handphonenya. Tetapi sebelum Ia menyentuh meja, terdengar suara keributan di depan pintu yang berhasil mengalihkan perhatiannya. Memang lorong tengah sepi, semua karyawan telah pulang, karena rapat ini adalah rapat mendadak sehingga hanya ada beberapa orang di sana. Jadi wajar apabila suara dari tempat lain terdengar sangat jelas. Disaat Arna berusaha mencari tahu, ada teriakan di depan pintu.


“Tol…Mmm…!!!!”


“suara wanita!” Pikirnya.


"Dia ingin minta tolong?"


Arna menjadi waspada dan segera mencari tempat berlindung. Satu-satunya tempat yang terpikirkan olehnya adalah bersembunyi dibalik meja belakang pintu. Cahaya yang keluar dari celah, membuatnya tertarik untuk mengintip. Rupanya, ada seorang wanita yang mulutnya dibungkam dengan kain dan tubuhnya terluka. Ia terkulai lemas di lantai, seorang pria bertopeng menyeretnya.


“Kejam!" Arna gemetaran menatap luka di sekujur tubuh wanita itu.


"Siapa mereka? Apakah mereka perampok?”


Ia terus berdoa. Semakin banyak orang jahat yang memasuki gedung. Mereka berkumpul di depan ruangan, sekarang lorong telah dipenuhi oleh anggotanya. Arna memejamkan mata, doa terus dipanjatkannya pada yang kuasa.


BRAAKKK!!!


Arna tesentak, pintu didobrak oleh seorang pria. Beberapa orang masuk mengeledah dokumen milik Ibu. Ia berusaha agar keberadaannya tidak diketahui. Karena terlalu tegang Ia sampai lupa bernapas.


"Handphone-ku!" Pikirnya.


Arna sangat menyesal karena tidak terpikir untuk mengambil Handphone-nya sebelum bersembunyi.


Matanya melihat sekilas kearah lorong. Rupanya sudah kosong. Ia membuat perhitungan untuk melarikan diri. Namun, niatnya batal karena mendengar suara langkah kaki. Benar saja, seseorang berjalan menuju tangga. Sengaja Arna mengamati ciri khususnya, barangkali dapat Ia laporkan pada polisi. Tapi ada hal yang membuatnya tak bisa melepas pandang. Yaitu gambar di punggung orang itu.


“itu kan...”

__ADS_1


Itu sama dengan gambar di kulit wanita yang meledak di pasar.


“Tempat mereka ada di Aula 2, tangkap siapapun di dalam. Lalu ledakkan gedung ini! Bakar sampai hangus!!!”Orang yang membuka berkas Ibu berseru pada kawan-kawannya.


"Apa? meledakkan gedung?" pikir Arna sambil membayangkan ajalnya sudah dekat.


Orang-orang yang ada di luar langsung menghilang. Entah sejak kapan mereka pergi, langkahnya saja tak terdengar sama sekali. Tinggal seorang di ruangan bersamanya. Saat dia akan pergi sikapnya berubah. Ia berbalik arah menatap meja, lalu handphone Arna dibanting ke lantai olehnya.


PRANGG...!!!


"Astaga..." Gumam Arna ketakutan.


Tanpa memeriksa apapun lagi, dia keluar ruangan dan tak nampak lagi. Arna menghela nafas lega.


“kiranya ia melihatku tadi!” Pikirnya.


Tapi begitu ia melihat sisa-sisa handphonenya yang berserakan ia teringat sesuatu.


“Ibu!!” Arna panik.


“Apa yang harus kulakukan? mereka akan menangkap Ibu dan semua orang di ruangan. Tapi aku bisa apa, Aku hanya anak kecil!" Ia mengutuk diri sendiri karena keterbatasan itu.


Sesaat terdiam, Arna memberanikan dirinya.


"Tidak bisa begitu, aku adalah Arnawa!!!”


“satu..,dua…,ti..”


Perhitungannya buyar karena suara kegaduhan dari Aula 2.


“AKU, TERLAMBAT!!” batinnya.


Tidak lama kemudian, beberapa orang dengan tangan terikat keluar beriringan dari aula. Ia terdiam sejenak berfikir keras.


“jika aku tidak menyelamatkan Ibu sekarang maka aku tidak akan memiliki keluarga lagi”


Dengan jangka waktu yang hampir bertepatan, Ibu keluar dari aula. Ia menarik nafas mengumpulkan keberanian. Lalu melompat dari balik tiang, menyerobot di antara orang-orang yang menahan Ibu. Nekat, Ia menjegal kaki penjahat yang membawa Ibu. Kemudian menarik Ibu berlari menjauh.


“Arna..!” Seru Ibu.


“Ibu ayo cepat, kita harus pergi! Mereka akan meledakkan gedung ini!” Ujar Arna.


Ibu hanya mengangguk. Di tempat yang agak jauh, mereka berhenti sesaat untuk melepaskan ikatan di tangan Ibu.


"Ayo terus Bu!" Ujar Arna menyemangati sang Ibu yang terlihat kewalahan.


••••

__ADS_1


Keringat telah membanjiri baju mereka namun orang-orang bertopeng itu tak juga mau menyerah. Sebagian besar tenaga mereka telah terkuras. Arna masih terus saja menggandeng tangan Ibu. Ketika itu mereka sudah berada di halaman gedung, tiba-tiba Ia merasakan hentakan keras di tangan. Sehingga gandengan mereka terlepas, Ia sendiri juga terjatuh ke depan karena kejadian tadi. Sontak Arna menoleh pada Ibu. Ternyata, seorang bertopeng sudah menarik Ibu pergi. Ibu meronta mencoba melepaskan diri, namun orang itu melemparnya kedalam Mobil box hitam berisi teman-teman Ibu dari Aula.


“Arnaaa…!!!” Teriak Ibu, sadar bahwa akan dipisahkan dari anaknya.


Ibu bangkit secepatnya untuk melompat keluar dari mobil, tapi dua orang yang berjaga di dalam memegangi tangan Ibu. Pintu tertutup rapat.


“Ibu!” Panggil Arna. “Sial…!!” Umpatnya marah, Ia bergegas mengejar mobil box.


Belum saja Ia melangkah, sebuah tarikan kasar membuatnya kembali terbanting ke tanah.


“Hey nak! Urusanmu denganku belum selesai” ujar orang yang menariknya.


Ia mundur hingga mendekati pintu gedung. Sekarang tempatnya untuk kabur terhalang oleh pintu. Orang itu mengepalkan tangan geram, wajahnya tertutupi topeng, jadi Arna tidak tahu pasti bagaimana ekspresinya. Tetapi perasaannya mengatakan bahwa dia sedang menyeringai, atau barangkali itulah yang ada di pikirannya. Arna tidak sengaja melihat selang plastik di bawah kaki orang itu. Tanpa pikir panjang, ia menarik selang tersebut sehingga penjahat itu terpeleset dan jatuh.yang berada diantara kedua kaki orang itu. Arna bangkit dan bersiap untuk kabur. Namun, kaki kirinya ditarik hingga terjatuh membentur pintu. Usahanya belum berakhir, Ia menendang orang itu dan berdiri membuka pintu gedung. Ternyata, Orang itu terus mengikutinya.


••••


Kini Ia berada di lantai dua. Walau Ia tahu gedung akan meledak. Andai orang itu tidak nekat masuk mengejarnya maka ia hanya akan bersembunyi. Balkon gedung telah ada di depan mata, dari sana pemandangan kota bisa terlihat jelas. Di sekitar Balkon, disekitarnya adalah dinding kaca tebal, sengaja dibuat agar pemandangan terlihat lebih luas.


••••


Arna berhenti, menghitung langkahnya dengan bimbang. Kalau ia teruskan maka kemungkinan besar ia akan meledak berrsama dengan gedung megah ini. Tapi, kalau ia berbalik arah bisa-bisa Ia ditangkap dan entah apa yang akan orang jahat itu lakukan padanya. Dalam hitungan detik saja, Orang itu telah sampai di balkon. Ia berhenti menatap Arna sinis lalu berjalan mendekat sambil membuka topeng mukanya. Entah apa yang orang itu inginkan. Barangkali ia sengaja memperlihatkan wajahnya untuk menakut-nakuti Arna. Wajah orang itu memang menakutkan, Ia menyeringai kejam bagai singa di depan mangsanya. Perlahan, Ia mencabut pisau yang terselip di ikat pingangnya. Pisau itu berkilat tajam ketika bergerak. Sesaat pikiran Arna hanya terfokus pada pisau. Namun, lampu berkedip beberapa kali menghentikan langkah orang jahat itu.


“beruntung sekali dirimu, hidupmu bertambah panjang beberapa detik.” Kata orang itu pada Arna yang masih kikuk, lalu ia menghilang secepat kilat.


“tunggu! Apa? Beberapa detik…!?” Tanya Arna dalam pikiran.


Tiba-tiba, gedung itu bergetar disertai suara gemuruh di salah satu lorong. Disusul dengan suara gemuruh lainnya. Bersamaan dengan itu, debu menyembur dari sebuah lorong di belakang.


“Tit ..., tit ..., tit …, tit ,tit, tit…”


“itu pasti…” dadanya berdegup kencang seketika.


DUAR….!!!!


Ledakan besar terjadi di ruangan arsip lama yang terletak di ujung lorong. Arna melindungi wajah dengan kedua tangan, gelombang ledakan membuatnya terlempar ke luar gedung. Kaca balkon ikut pecah terkena terjangan gelombang dan serpihan barang-barang. Kali ini, Arna masih dapat membuka lebar matanya dan menyaksikan satu persatu lorong gedung mengeluarkan gemuruh yang memekakan telinga dan debu bergulung-gulung.


“aku, akan mati sekarang?” tanyanya dalam pikiran sementara dirinya meluncur jatuh dari lantai dua.


Entah kenapa waktu terasa melambat sehingga ia masih bisa menyaksikan detik-detik barang rusak dan serpihan kaca melayang di sekitarnya.


“Apa aku berakhir sekarang? padahal.., aku belum memiliki cita-cita setinggi dirimu, Kak Rabka. Dan Ibu, aku tidak bisa membebaskanmu dari penjahat-penjahat itu. Gio… aku ingin bertemu denganmu sekali saja! ” Wajah semua orang yang Ia sayangi tergambar satu persatu.


Pada akhirnya, Ia melihat wajah Ayah, Kak Rabka dan Ibu melambai sambil tersenyum. Tangannya bergerak menggapai khayalan. Namun, khayal itu sirna seperti debu disapu angin. Seketika Ia langsung sadar dan mengubah pola pikirnya.


“Tidak…! Aku tidak akan mati…!!! Orang itu, mereka tak akan bisa melenyapkanku dari dunia ini…! Berapa banyak korban yang mereka lenyapkan dari dunia? kalau Aku mati di sini, Aku tak akan bisa membalasnya! Itu tidak akan terjadi!!!” pekiknya dalam hati.


waktu normal kembali. Ia menabrak ranting pohon besar, ranting dan daun itu menampar dan menyayati tubuhnya. Sampai, Ia menabrak benda yang sangat padat dan keras. Lalu, segalanya menjadi gelap.

__ADS_1


__ADS_2