Forgotten Sins

Forgotten Sins
Gerbang Kotaku


__ADS_3

Pada awal perjalanan, mereka dibonceng sepeda motor oleh keempat seniornya. Tetapi di tengah jalan, mereka semua diturunka dengan alasan tidak masuk akal yaitu sebagai latihan untuk para junior.


“Dasar senior, lagi-lagi kita kalah karena alasan tingkatan!” Keluh Rezon dengan raut muka sebal.


“Tidak masalah, toh kita belum pernah jalan-jalan sedalam ini di hutan.” Jawab Reeko untuk menenangkan Rezon sekaligus mengatakan isi hatinya.


“Ya, ini juga ada manfaatnya!” Timpal Arna agar Rezon tidak emosi.


“Oh iya! Sebaiknya, kita buka berkas dari Ayah terlebih dahulu sekarang, dari pada kita kebingungan nanti.” Ujar Reeko dan langsung disetujui oleh kedua kawannya.


“Baiklah…, mari kita buka!” Ajak Rezon sambil duduk berlutut di bawah pohon besar diikuti Arna dan kemudian Reeko.


Reeko yang posisinya diapit oleh kedua kawannya membuka berkas informasi dari guru di lututnya. Matanya bergerak mengikuti irama bacaan, kemudian langsung berpendapat dengan yakin.


“Disana pasti sangat ramai!” Ujarnya walaupun sebenarnya nggak nyambung...😒


“Ya kau benar, ruangan gedung di sana memang disewakan untuk acara resmi perusahaan dan harga penyewaannya pun tidak main-main. Tamu penting dari berbagai neggara tak jarang dijamu di sana, alasannya adalah gedung tersebut sudah disewakan lengkap dengan jaminan kualitas makanan dan pelayanan mewah. Mereka sangat professional!” Jelas Arna dengan lancar seperti mempromosikan barang.


“Wow! Bagaimana kau tahu semua itu?” tanya Rezon kagum.


Arna tersenyum, matanya bergerak menatap langit mengawasi pergerakan awan putih yang tertiup angin. 


“Sisa-sisa kenanganku masih disana.” Kata Arna bersamaan dengan hembusan anginn sepoi yang menerpa wajahnya.


"Akh, berkasnya..!" Teriak Reeko menunjuk kertas yang terbang tertiup angin yang berhembus barusan.


"Kejar..!" Perintah Rezon sambil melompat mengejar kertas tersebut.


“Itu berarti, kami sangat beruntung setim denganmu!” Tanggap Reeko yang sedang bersandar mengatur napas pada punggung kedua kawannya setelah berhasil mendapatkan kembali berkas informasi itu.


Arna tersenyum masih dengan napas tidak beraturan karena kertas-kertas itu terbang dengan sangat cepat hampir tidak terkejar.


“Oh iya, bagaimana nasib anggota patroli 4 ya?” tanya Arna mengalihkan pembicaraan yang mulai merujuk pada dirinya.


“Kata Ayah, kemungkinan mereka tertangkap saat melakukan pengintaian.” Jawab Reeko menengadah pada cabang pohon.


“Aku sangat menghawatirkan keselamatan mereka.” Ujarnya bercampur dengan harapan.


Arna mengangguk mengiyakan sementara Rezon hanya menguap berkali-kali.


“Yang menghawatirkan sebenarnya ada dua hal, satu keselamatan mereka dan kesanggupan mereka untuk tetap setia pada organisasi.” Tambah Arna.


“Ya, kau benar!” Tanggap Reeko segera melepaskan diri dari punggung dua kawannya kemudian menatap wajah Arna dengan senyuman.


“Tapi aku percaya bahwa mereka akan tetap setia.” Tambahnya.


“Ya aku juga, tapi setegar-tegarnya mereka, Viper Army pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan informasi keberadaan kita.” Kata Arna dengan serius kemudian mereka meneruskan perjalanan.


“Omong-omong, untuk apa para Viper Army pergi ke tempat seperti itu? Memangnya, mereka mau mengadakan acara penting?” Tanya Rezon dengan lugunya memecah pembicaraan kedua kawannya.


“Wah, benar juga! Acara apa yang akan diadakan di sana hari ini?” ujar Reeko melenceng dari perkataan Rezon barusan.

__ADS_1


“Jenius! Kita lihat saja jadwal acara hari ini. Kalau belum berubah, mereka selalu meletakkan jadwal acara di papan reklame depan gedung.” Timpal Arna.


“Baiklah.., ingat jangan terlihat mencolok, atau kita akan bernasip sama dengan tim patrol 4!” Ujar Rezon semakin tidak berhubungan.


    Arna yang mendengarnya nyaris tertawa. Orang yang memakai wig merah raksasa sekalipun tidak akan mendapat cukup perhatian di Kota Medianpolis. Sepertinya, satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk terlihat sangat mencolok adalah tak berbusana. Setidaknya kata yang dipilih Rezon itu kurang tepat. Tapi bagaimana tim patroli 4 bisa tertangkap di sana? Semua yang tersirat di pikiran Arna cukup sampai disitu saja. Karena kini, gerbang kota kelahirannya telah menyambut hangat dengan penampakan gedung-gedung tinggi di segala penjuru. Ketika Ia masih asyik dengan pemandangan itu, sebuah taxi berhenti di samping mereka. 


“Butuh tumpangan Nak?” sapa sang sopir ramah.


Arna yang memorinya terpicu kembali tak butuh waktu lama untuk berfikir, Ia langsung memasuki mobil tanpa harus kebingungan seperti kedua kawannya. Bagi Rezon dan Reeko ini adalah kali pertama menginjakkan kaki di kota karena selama ini mereka hanya berlatih di dalam hutan. Untungnya, sekarang  mereka ditemani oleh Arna yang merupakan penduduk asli kota, sehingga tidak perlu kebingungan melihat peta yang diberikan oleh guru sebagai pedoman. 


“Ke Gedung Airmony Siiv tolong!” Ujar Arna setelah menempatkan diri di kursi.


“Baiklah, lama perjalanan dari sini kira-kira 10 menit.” Ujar sang sopir yang masih menata rambutnya.


“Apa yang kalian tunggu? Cepatlah masuk!” Perintah Arna, menyadari kedua temannya masih berdiri mematung di luar mobil.


“Kenapa pakai taxi?” Tanya Reeko saat mobil telah melaju kencang.


“Sebagian besar orang di sini tak punya banyak waktu, aku berani taruhan kalau kita tak cepat menyahut, kita akan kehilangan tawaran kendaraan ke sana. Lagi pula tujuan kita jaraknya masih sekitar 34 km lagi.” Jawab Arna enteng.


“10 menit??” tanya Rezon tak percaya.


Arna hanya menjawab singkat dengan menunjuk tulisan di depan kemudi. "Automatic Express Taxi" Rezon menelan ludah.


“Kita sampai!” Ujar sang sopir.


    Sementara Arna membayar ongkos tumpangan, Rezon dan Reeko telah berada di depan papan reklame membaca jadwal acara hari ini di gedung Airmony Sivv.


“Aneh, hari ini tidak ada acara penting! Hanya resepsi pernikahan dan reuni kantor. Itupun mereka menyewa gedung kualitas menengah.” Kata Reeko menggaruk dagu.


“Ayo!” Rezon langsung setuju.


    Tidak butuh waktu lama, mereka telah berpindah posisi ke pusat pertokoan. Walau begitu, di pertokoan pun tidak ada tanda-tanda kedatangan Viper Army ataupun sisa dari rencana mereka.


“Hmm…tak ada apapun di sini.” Arna memandang toko-toko besar yang sesak penuh pembeli.


“Sudahlah Arna, istirahat dulu!” Kata Rezon sambil mengipas-ngipaskan tangannya.


“Uuuh....., membosankan…!!! Aku kira kita akan melakukan sesuatu yang keren, bukannya mengamati suasana panas penuh manusia berlalu lalang!” Keluh Reeko sebal.


“Apalagi cuacanya sangat tidak mendukung... ” Timpal Rezon menjilat bibir bagian atasnya yang kering.


“Hei.., ini juga penting! Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memeriksa tempat ini? Barangkali, memang sekarang belum ada hal yang sehingga Viper Army mendatangi tempat ini untuk yang kedua kalinya.” Ujar Arna menenangkan kedua kawannya.


“Kalau begitu, karena tugas kita penting…, Ayah pasti mengizinkan kita memakai anggaran misi untuk membeli sebuah minuman dingin!” Kata Reeko sambil menyebrang jalan.


“Rasa Anggur!!” Teriak Rezon memesan minuman.


Arna tertawa melihat tingkah kedua temannya. Ketika Arna mengawasi kepergian Reeko, matanya melihat dua anak yang sedang belarian di trotoar jalan dekat lubang gorong-gorong yang terbuka. Tanpa sadar, Ia telah berlari kencang menyebrangi jalan raya, dan saat sebuah mobil menghalangi jalannya dia melompat tinggi melewati atap mobil tersebut. Tidak butuh sedetik, Arna telah mencengkram tangan anak yang nyaris jatuh ke dalam lubang dan menariknya menjauhi bahaya. Anak yang sudah ada dalam dekapan baju Arna masih terpana memandang dirinya sendiri yang baru saja terlepas dari malapetaka.


“Terimakasih kak!” Ujar anak lain sambil lekas-lekas memeluk kawannya.

__ADS_1


“Tidak mengapa, hati-hati ya!” jawab Arna memajang senyum untuk melepas ketegangan.


“Bagaimana kakak bisa melakukannya?” tanya anak itu.


“Hah? yang mana?” Arna keheranan karena dia merasa tidak ada hal kerena yang dia lakukan tadi.


“Itu..., tadi kakak melompati sebuah mobil di jalan!” Jawab anak itu menyadarkan Arna pada perbuatannya.


“Oohh.., itu!”Arna baru paham.


“Kakak keren!” Ujar Anak yang baru saja ia selamatkan.


“Kakak mau kan mengajari kami?” tanya anak lain penuh semangat.


“Hahaha.., kalian sungguh?” tanya Arna lumayan terkejut.


“Ya!” jawab keduanya mantap.


Arna tersenyum melihar keluguaan dua anak di depannya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, inilah masa-masa yang hilang dari kehidupannya saat Ia memasuki usia 11 tahun.


“Siapa nama kalian?” Tanya Arna.


“Rao.”


“Gaosa.” Jawab mereka.


“Baiklah Rao, Gaosa! Kalau sekarang, tugas kalian adalah belajar yang sungguh-sungguh, sayangilah sesama makhluk tuhan, dan jangan pernah menyakiti orang lain karena itu adalah hal yang akan berbekas seumur hidup kalian. Maanfaatkanlah waktu ini sebaik mungkin, bermainlah dengan gembira!” Jawab Arna dengan tersenyum meluapkan apa yang Ia rasakan samar pada perkataannya.


Mata bulat khas mereka nampak berkilauan mencerminkan kegembiraan. Meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti maksud perkataan Arna barusan, tapi jelas terlihat bahwa tekat mereka telah berkobar dalam dada. 


“Kakak sendiri siapa?” Tanya Gaosa.


“Aku Arnawa.” Jawab Arna.


“Baiklah kak! Kami akan laksanakan mulai sekarang!!” Ujar Rao mantap.


“Kami akan sehebat kak Arnawa!” Sambung Gaosa, kemudian mereka berlarian kembali di trotoar.


Arna melambai mengiringi kepergian kedua anak itu untuk kembali bermain sepanjang waktu. Ketika mereka telah lenyap, Arna mendorong tutup lubang gorong-gorong ke tempat yang seharusnya.


“Bagaimana bisa terbuka?” protes Arna pada dirinya sendiri, sementara matanya sibuk mencari keran air untuk mencuci tangan.


Sebuah kran dari bangunan besar tepat di depannya terlihat mengucurkan air. Segeralah Arna berangkat menuju kesana, dan sambil mencuci tangan Ia memperhatikan bangunan asing itu dengan pandangan aneh. Tapi Ia tidak berlama-lama lagi di sana, Arna pergi ke seberang jalan menemui Rezon dan Reeko yang tengah menyedot jus segar.


“Hai, aku pikir kemana?!” Ujar Rezon yang sedang mengaduk jus di gelasnya.


“Hmh.” Arna menghela nafas karena respon kawannya tidak bekerja cepat saat Ia membuat gerakan tiba-tiba. 


Ia justru santai saat ada anak yang hampir celaka.


“Sekarang bagaimana?” tanya Reeko sambil menyerahkan jus melon pada Arna.

__ADS_1


“Sementara, kita berkumpul terlebih dahulu dengan tim-tim lain.” Jawab Arna menerima jus dari tangan Reeko yang membuat tangannya menggigil karena dingin.


“Baiklah, Ayo!” Ujar Reeko mendahului kedua temannya menuju tempat yang sudah di setujui bersama.


__ADS_2