
“Axtonn.., Axton..!” Ujar Kak Olio sambil menekan kepala sahabatnya yang bocor setelah terjatuh kehilangan keseimbangan kemudian membentur pot semen kotak yang terpampang di pinggiran trotoar.
“Maaf..” Jawab Kak Axton pelan membuat Kak Feiza dan Arna terkesima.
“Kenapa malah minta maaf?” tanya Kak Feiza sambil menyerahkan beberapa lembar tisu pada Kak Olio.
“Ini!” Ujar Kak Gan yang baru kembali dari membeli kapas dan sebotol air mineral 1.500ml untuk membersihkan luka Kak Axton.
“Terimakasih!” Jawab Kak Olio tulus.
“Sebaiknya kita pulang duluan saja.” Kata Kak Gan mengambil posisi duduk di sebelah Kak Axton.
“Jangan!” Lagi-lagi Kak Axton menolak.
“Kenapa? karena anak payah itu?!” Ujar Kak Gan sambil melotot pada Kak Axton.“Jangan jadi orang bodoh!” Umpatnya bertubi-tubi.
“Apapun itu, aku akan menunggu.” Jawab Kak Axton sambil mentengadahkan wajah menatap langit yang mulai sore.
“Terserahlah!” Kak Gan bediri dan pergi, sementara Kak Olio meremat botol air mineral yang berrsisa setengah di tangannya.
••••
“Huhuhu.., wajahku ternoda, harga diriku musnah..!!” Kata Kak Enan saat semua masalah beres.
Mereka semua duduk di bawah pohon sambil memarkir sepeda agar tidak kesilauan.
“Apaan. Kamu masih mending, badanku hancur..” Balas Rezon cemberut.
“Jangan baper deh!” Jawab Kak Siena setengah mengumpat.
“Ya kalian sih, sudah tau aku tetimpa sepeda motor, masih ditimpa ulang. Kak Siena juga santai-santai aja. Gara-gara kalian aku mati..” Ratap Rezon berlebihan.
“Kalau kamu sudah mati, sudah aku kubur dari tadi!” Jawab Kak Siena lagi.
“Sungguh kejam dirimu wahai singa, engkau tahu sendiri aku ini sudah jatuh tertimpa tangga. Hahahaha…!!” Rezon semakin nyerocos.
“Tempe.” Kata Kak Zelig sebal.
“Tertimpa tangga aja bangga, motor kalik.., udah gitu ketawa lagi.” Kata Reeko tiba-tiba.
“Ya iyalah.., semua harus disyukuri dan bangga pada diri sendiri.” Jawab Rezon lagi.
“Apaan, ketimpa gedung baru luar biasa ketimpa pohon syukurin aja..” Kata Kak Enan tiba-tiba nyambung.
“Ketimpa gedung itu udah biasa.., yang enggak biasa itu ketimpa Bu-Ayaaaa..” Timpal Kak Zelig makin parah.
“Ayahhh..!” Teriak Reeko tiba-tiba, dan seketika itu pula, jantung Zelig melompat keluar.
“Guru!” Ujar yang lain sambil menunduk dalam, sementara Reeko langsung melompat ke pelukan ayahnya.
“Kalian baik-baik saja kan?” tanya gurunya karena melihat Rezon babak belur di sekujur tubuh, Enan dipenuhi debu seperti habis tidur di gudang, dan Zelig pucat seperti melihat hantu.
Berbanding terbalik sekali dengan Reeko digendonganya dan Siena yang berseri-seri.
“Kami okee..” Jawab ketiganya mengacungkan jempol lesu.
“Ba-gus.” Kata guru masih ragu.
••••
Hari telah gelap ketika Kak Gan kembali menghampiri kawan-kawannya, ia mengedarkan pandangan mengamati keadaan semuanya.
Arna telah terbaring di pangkuan Feiza yang duduk bersandar dengan wajah lelah, sedangkan Olio masih saja meratapi nasip Axton dan mengelus kepalanya, Axton sendiri rupanya juga kelelahan. Dia merebahkan kepala di pundak Olio, Axton yang biasanya selalu awas kini tidak lebih dari anak kucing kecil yang kedinginan.
Gan tersenyum sambil berjalan mendekati Olio.
“Bagaimana dia?” tanyanya dengan pelan.
“Dia baik saja, mungkin sedikit pusing..” Jawab Kak Olio juga dengan suara pelan.
“Dari mana kau tahu?” Ia benar-benar tidak percaya Axton akan mengatakan kondisi tubuhnya.
__ADS_1
“Aku hanya menangkap ekspresinya.” Jawab Kak Olio disambut tawa kecilnya seakan mengatakan, ‘Sudah kuduga’.
“Baguslah,” Kak Gan menatap wajah Kak Axton dengan senyuman.
Sadar atau tidak tangan Gan bergerak mulai membelai rambut musuh bebuyutanya yang tertidur lelah.
“Mau tidur atau bangun, apakah begini saja ekspresimu?” gumam Kak Gan. “Selalu begini.” Desisnya bersamaan dengan saat tubuh anak yang diamatinya menegang tiba-tiba.
“Axton.., Axton.., apa yang terjadi? bangun!” Ujar Olio tetapi si dingin ini tidak merespons malah semakin menjadi, napasnya memburu seakan dikejar sesuatu dan tangannya mengepal gemetaran.
“Cukup! Bangun!!” Seru Gan. “AXTON!!”
••••
*Rumah-rumah kumuh dipenuhi sampah, batu-bata, kayu dan pecahan kaca mewarnai pemandangan di mataku saat itu.
“Ini dimana?”
batinku selalu bergolak menanyakan pertanyaan sama tiap detiknya, tetapi semua percuma, karena ketika terbangun hanya ada sampah, dingin, dan bayang-bayang kematian di semua sudut.
Dimana mereka saat aku dan Rezon kesulitan? Setidaknya dimana dia, atau haruskah kupanggil beliau? Karena hubungan kita tidak pernah dekat sejak aku kecil. Bagaimanapun semua sekolah, buku atau cerita dari mulut yang kutemui semua berkata kalau kau dan golonganmu pasti akan melindungi kami, menyayangi.
Jadi jangan kecewakan kami karena semua itu aku percaya, setidaknya katakan engkau dimana dan aku akan membawanya padamu dan jawab semua pertanyaanku dengan jelas.
Kenapa sejak aku terbangun banyak benda seperti ini? dimana rumah berada, dimana kota agungku berada? Kenapa kami disini?
Sejak malam itu, sejak aku tertidur kenapa aku tidak lagi melihat tembok kokoh rumah yang menjaga kehangatan? Air hujan dan salju ini sangat mengganguku, Rezon juga selalu kedinginan dan tiap kali bergerak aku tidak merasakan diriku lagi.
Bagaimana kalau aku mati disini? Lalu Rezon, siapa yang menghangatkannya?
Aku harap kau cepat datang sebelum bayangan itu memenuhi mataku. Ayolah kumohon.., setidaknya bawa Rezon bersamamu, aku sudah tidak kuat. Dingin ini membuatku mati rasa, kepalaku pusing dan sesak, bahkan detak jantung ini serasa tidak ada lagi.
“Kaka.., ngun! Kaka Aku lapan!”
Rezon, apa yang dapat kukatakan padanya? Apa yang dapat dia makan, apakah roti yang kalian berikan pada kami masih bersisa? Ah, iya kurasa masih ada beberapa.
“Kaka.., buka atamu!”
Mungkin dengan sedikit paksaan aku bisa membuka mataku, kuharap segera kalau tidak dia akan menangis. Tapi apa ini, kenapa gelap? bukankah aku sudah membuka mata? Oh, syukurlah ada cahaya, aku rasa bayangan itu bisa membuaatku gila.
“Rezon?” kupanggil namanya entah sejak kapan dia naik keatas tubuhku, dan kenapa dia menangis?
“Kau lapar?” tanyaku walau tau itu sudah pasti.
Dia menggeleng kuat dan bulir air matanya mulai menetes deras, itu benar-benar membuatku khawatir.
“Dingin?”
Lagi-lagi dia menggeleng.
“Ezon pake jaket Kak Aton, ini hangat.” Jawabnya.
“Lalu?”
Dia berkedip beberapa kali mungkin untuk mencari ketenangan dan mengumpulkan suara sesenggukannya.
“Ezon idak lapan lagi, tapi akak jangan mati!”
Perkataan Rezon membuatku tersentak, dan sinar matahari mulai mewarnai langit dengan jingga. Senja sudah tiba, bukankah artinya aku tertidur seharian?
“Tidak, kita harus makan.” Kataku sambil mencoba berdiri, tapi nyeri di perutku membatalkan segalanya.
“Lagi!” tekatku.
Dan ternyata sebuah dorongan pelan saja sudah dapat membuatku terduduk.
“Ayo!” Ujarku sambil merangkak perlahan mendekati tas di pojok ruangan, didalamnya ada empat potong roti untuk kami.
Kuambil satu dan membelahnya dua lalu kuberikan pada Rezon setengah dan sisanya kusimpan. Takut tidak akan cukup untuk kami berdua, bialah Rezon yang memakannya.
“Akak idak makan?” tanya Rezon, matanya yang jenih menampilkan keheranan.
__ADS_1
“Nanti aku makan.” Jawabku seadanya.
“Tapi akak idak makan kemarin.” Balas Rezon.
“Jangan banyak bicara.” Jawabku dan dia tersenyum nyengir.
KREKK, KRAK, KRATAK
Suara itu membuatku waspada, dengan segenap tenaga yang tersisa aku meraih sebuah tongkat dan menengok dari jendela tanpa kaca. Saat aku berbalik Rezon sudah tidak ada disana.
“Rezon!!” Panggilku sekerasnya.
“Akak..!” Jawabnya, ternyata dia sedang berjalan masuk ke rumah dengan gembira.
“*Kau kemana?”
“Paman-paman ini au ketemu akak*..” Jawabnya, aku terperanjat.
“Siapa?” tanyaku sambil menengok beberapa orang dewasa kekar dan garang menatap licik kearah kami.
“Rezon kemari!” Ujarku, tongkat bekas puing rumah yang sudah kusiapkan dari tadi kini menjadi senjata untuk mempertahankan hidup kami.
“Hey, jangan galak begitu.., kami hanya ingin melihat kalian saja.” Kata salah satunya.
“Omong kosong, pergi aku tidak kenal kalian!” Teriakku setegas mungkin.
Melihat tingkahku yang tak biasa, Rezon menjadi takut dan bersembunyi di belakang punggungku.
“Kemarilah.., kami punya perapian dan kehangatan. Asalkan kalian kemari akan kuberi jaket kulit yang tebal.” Rayunya.
Mungkin anak lain akan terkecoh tapi tidak untuk seorang Axton, aku akan berjuang seumur hidupku. Yang penting tidak jatuh ketangan orang jahat seperti mereka, Karena aku tahu kami masih kecil mudah diubah jalan pemikirannya. Jika aku dan Rezon ikut bersama para brandal seperti ini, kami mungkin menjadi jahat juga. Setidaknya kami masih memiliki hati nurani.
“Kemari..” Ujarnya sambil menyentuh tanganku.
Maaf tuan tapi tongkat ini tidak akan tinggal diam!
DUAKK
Orang itu mundur, baju di bahunya sobek dan darah mulai keluar.
“Tangkap mereka!” Ujarnya.
Ketika semua orang di belakangnya maju aku mendorong Rezon sekuatnya ke pojokan, selanjutnya tinggal menghindari serangan saja. Beruntung aku masih kuat melakukan itu beberapa kali, meskipun sejujurnya tubuhku terasa semakin lemah. Tapi tiba-tiba suara pekikan Rezon mengejutkanku dengan was-was aku berbalik.
Ketika kulihat seorang pria mengangkat kerah belakang adikku seperti menganggapnya adalah hewan, aku mendesah kesal. Tongkat di tanganku terasa hampa, kalau saja Ia tidak mengancam sudah kuhajar mukanya berkali kali.
“Dasar!” Umpatku.
“Kau mau? Ambil!” Ujarnya sambil melemparkan Rezon asal.
Aku melompat, mungkin menerjang intinya hanya untuk menangkap Rezon, hanya itu. Jika tuhan memang baik, izinkan aku menangkapnya.., kumohon!
“Rez!” Ujarku saat si kecil ini ada dalam pelukanku.
“Akak, was!”
DUAKK!!
Kegelapan itu datang lagi, ini kumat atau apa? Yang terlihat hanya tanganku sendiri terkulai lemas tak berdaya di lantai bersama darah segar mewarnai semua tempat.
Ini tidak sakit, aku berani bersumpah. Atau mungkin ini alasan tuhan mematikan rasaku sebelumnya?
“Re..zo..n*..”
🎬🎬🎬
**ITU TUH MASA LALUNYA AXTON LHO..,⛄
GIMANA MENURUT KALIAN PARA AUTHOR DAN READER❓🙋
Ikuti lanjutannya ya…, thanks..😉**
__ADS_1