Forgotten Sins

Forgotten Sins
MASALAH


__ADS_3

Arna menghadang serangan dengan tangan yang disilangkan di depan dan kuda-kuda kokoh di kaki, tapi tendangannya begitu kuat sehingga Arna mundur beberapa cm dari tempatnya, dan tangannya terasa panas.


“Tidak lebih buruk dari ledakan bom..!” Pikir Arna.


“Arna!!” seru Rezon khawatir.


“Hebat juga kau, nekat menghentikan seranganku! Tapi lihat serangan gelombang selanjutnya!!” ujarnya sambil melompat memutar di udara.


    Arna bergeser ke samping untuk mengambil posisi yang aman, tapi kaki Kakak itu benar-benar lincah, saat mendarat dia tidak butuh waktu untuk menyeimbangkan diri. Tapi dia kembali melancarkan serangan pada Arna yang sebenarnya belum sepenuhnya siap mengelak sehingga Ia hanya bisa meunduk. Tapi sesuuai kata pepatah, sambil menyelam minum air, Arna juga mengambil kesempatan dengan menjegal kaki kakak itu. Sayangt dia begitu mengangumkan, tanpa melihat dia dapat menghindai serangan Arna bahkan menyerang balik. Arna melakukan salto kebelakang tiga kali untuk menjaga jarak sekaligus menghindari serangan.


“Mengagumkan!” Kata Kakak itu, dia bahkan tidak terbebani karena Arna berhasil menghindari tiap serangannya.


“Sialan, seberapa kuatnya kakak ini??” 


“Tapi…, itu tidak akan cukup untuk melawanku.” Ujarnya dengan senyum sinis.


     Arna terpancing untuk menemukan arti dari perkaataan Kakak itu, namun tiba-tiba Ia sudah menghilang dari tempatnya.


“Dimana..” 


Benturan keras dari belakang membuatnya terjungkal hingga membentur tanah. Ia mencoba bangkit, tapi rasanya sangat menyakitkan. Belum saja berdiri tegak, seranga lain telah datang ditandai dengan hembusan angin yang sangat cepat, dengan segera Arna merunduk lalu bergerser ke kanan.


“Apakah ini, Kakak itu?” pikir Arna.


“Angin itu adalah arah serangannya!”


SWOSHH…


Hembusan angin datang dari arah kiri, tapi terlambat untuk menyadarinya.


“Oh tidak!”


Arna melindungi diri sebisa mungkin, hantaman keras kembali ia rasakan di lengan kirinya sehingga ia bergeser dua langkah ke kiri. Tak cukup itu saja, serangan kedua datang dalam jangka waktu kurang dari dua detik menghantam perutnya sehingga Ia terpental.


“Arnaaa…!!!” teriak Reeko mencoba memasuki medan pertarungan.


“Jangan coba-coba menginjak rumput di depanmu itu, Reeko!” Suara Kakak itu entah dari mana. 


    Reeko terpaku memandang rumput dengan pikiran kosong. Sementara Arna yang sudah berdiri kembali walau dengan perasaan mual merasakan bulu-bulu  kuduknya berdiri mengisyaratkan serangan kembali datang.


“Dari bawah!” Pikirnya sambil melompat.


Benar saja, sesuatu baru saja lewat membuat rumput dan angin di bawah bergoyang ria.


“Benar!”


 Ketika matanya focus memandang pada tarian rumput dan dedaunan di tanah, kakak itu muncul di belakang dan menyentuh pundak Arna dengan jari-jarinya. Seketika, Arna menjadi merinding, darahnya seakan berlari ke ubun-ubun dan hilang seketika.


“Kau yang memilih!” bisik Kakak itu.


Arna merasa tangan kakak itu menyentuh punggungnya. Arna sudah berbalik badang kalau saja tidak didorong oleh kakak itu hingga membentur tanah.


"Akh!" Tangan kiri Arna tertimpa tubuh sendiri akibat posisi jatuh yang salah. 


 Kakak itu menampakkan dirinya, tepat di hadapannya yang sedang tertelungkup di rerumputan. 


“Hmh, percuma saja. Saat ini kau tidak akan bisa menandingi kecepatanku!” Ujarnya dengan senyum sinis.


Arna menatap rerumputan dan tanah di bawahnya dalam.


"Itu adalah kecepatan?"Pikir Arna.


Aura menakutkan terpancar dari wajah kakak itu, jemari tangan Arna serasa bergetar hebat, dan jantungnya berdegup kencang membuat seluruh tubuhnya turut merasakan denyutan yang sama.


"Apakah aku takut?" Hatinya berucap, jujur dia sendiri juga tidak mengerti gejolak apa ini?

__ADS_1


“Setelah aku memberimu pelajaran, Gadis konyol itu adalah yang kedua! Jadi bersiaplah!” Ujar kakak itu sambil berjalan santai ke arah Reeko dan Rezon di pinggir lapangan.


Arna menatap kaki kakak itu yang makin menjauh, gejolak yang berbeda mendadak timbul. Ia meremas jari tangannya, sementara angin semilir berhembus menerpa punggungnya dan rerumputan di kanan kiri.


“Reeko…tidak! Jangan dekati Reeko!” Pikirnya, api berkobar di kedua matanya.


Arna bangkit, berlari menerkam punggung kakak itu, tapi dia berhasil mengelak membuat Arna kembali bersentuhan dengan tanah. Tapi dia tidak menyerah, Ia bertopang pada sebelah tangan mengangkat seluruh tubuhnya, sementara kedua kakinya melayang menyasar tubuh kakak itu. Mungkin keberuntungan ada di tangannya atau karena gerakan yang tidak terduga Arna berhasil membuatnya cukup kewalahan sehingga terpaksa menangkis serangannya hanya dengan pertahanan mendadak. Tanpa basa-basi langi, Arna melompat melayangkan tinju. Tapi kali ini serangannya ditolak cepat dan malah kakak itu sudah siap dengan serangan balasan. Dia menahan tinju Arna dengan sebelah tangan saja lalu melemparkannya ke arah papan sasaran yang terletak 4 m dari mereka. Tubuh Arna yang membentur papan tersebut terasa sangat nyeri, tapi dia memotivasi diri dengan berpikir positif.


"Aku sudah beruntung tidak patah tulang." Gumamnya sambil memegang kepalanya yang terbentur barusan.


"Arna…!!" Reeko berteriak histeris.


"Jangan khawatir dengan keadaannya, khawatirkan dirimu sendiri!" Ujar kakak itu sambil menyerang Reeko.


Mata gadis tu membulat sementara tubuhnya telah siap menangkis serangan. Kakak itu ada di depan matanya, Reeko melompat sambil berputar di udara. Tapi sayang kakinya telah ditangkap sebelum mengenai tujuannya dan Ia dihempaskan ke belakang.


"Sekarang kau selanjutnya." Kata kakak jahat itu.


"Tidak!!" Teriak Arna sementara tubuhnya bergerak spontan.


Berlari menghampiri kedua kawannya yang dalam bahaya, jarak kurang lebih dua meter Arna melompat melayangkan tinjunya bagai harimau menerkam mangsanya. Ia merasakan sesuatu yang berbeda tenaganya terpusat pada satu titik yaitu pada genggaman tangannya yang segera menghantam wajah lawannya hingga terhuyung. Arna mendarat mulus di sebelah Reeko, lalu membantu sahabatnya itu untuk bangkit.


Kakak itu berada dua meter dari mereka, dia telah berdiri tegak. Seringai seram tergambar di wajahnya, lagi-lagi aura kelam menyeruak dari tubuhnya menyerang ke segala arah.


"Apa-apaan hawa ini?" Pikir Arna.


Ini sudah kesekian kalinya Arna dapat menangkap aura tersebut dari kakak itu, dan itu selalu membuat sekujur tubuhnya kaku.


“Jadi, akhirnya seorang lagi masuk ke daftarku.” Suaranya seakan turut menggetarkan udara.


Tapi Arna tetap saja tak mengerti apa yang sebenarnya dari tadi mereka lakukan. Hal ini hanya berasal dari kejadian kecil. 


"Maka.., rasakan ini!" Serangan datang lagi.


"Uh!" Lagi-lagi Arna terjatuh.


Barusan saja Ia terkena tendangan tepat pada pangkal lengannya, sekarang masih terasa ngilu. Tapi tak ada kesempatan untuk mengeluh karena serangan gelombang selanjutnya akan segera datang.Ia kepalkan tangan dan kakinya memasang kuda-kuda, bersiap menghadapi serangan. 


Belum sepuluh menit berlalu keadaan lapangan berubah seketika menjadi tempat kerumunan, dan entah kenapa tidak ada yang berani mendekati pertarungan.


Setelah beberapa kali serang menyerang, kakak itu menghilang lagi dari tempatnya. Belajar dari kejadian sebelum, Arna awas pada keadaan sekeliling, rerumputan di samping kanan bergoyang tanpa hembusan angin, terkadang debu juga beterbangan ke udara.


"Aku paham!” pikirnya sambil menendang arah kanannya.


Sesuatu terkena tendangannya, kakak itu muncul dengan posisi yang membuat semangat Arna melambung. Dia berlutut di tanah yang berdebu akibat gesekan kakinya.


"Berhasil…!!" Sorak Arna dalam batin.


Tapi senyuman sinis di wajah kakak itu membuat Arna harus mengurungkan kegembiraannya. Aura itu lagi, bahkan jauh lebih kuat terpancar keseluruhan penjuru seakan mengurung penonton dan mereka sendiri di dalamnya. Jari tangan kakak itu membentuk seperti cakar tajam. Mungkin ia sedang bersiap untuk mencekik. Gerakannya setelah itu sempat membuat lutut Arna lemas, kakak itu melompat menerjangnya dalam jarak lima meter. Awalnya Arna tidak percaya akan sampai,  memang tidak akan sampai kalau hanya melompat. Tapi bagaimana jika terbang? sebenarnya Arna tidak yakin, tapi kakak itu benar-benar meluncur di udara walau jaraknya dari tanah hanya tiga puluh centimeter saja.


"Mati aku…" pikir Arna pasrah.


Di saat yang tepat, yaitu saat jarak hanya menyisakan dua meter, muncul seseorang dari tengah-tengah kerumunan menghadang serangan kakak itu.


“Berhenti!” Suara itu terdengar jelas tanpa berteriak sekalipun.


Suara tenang dan sejuk itu sudah sangat akrap di telinga Arna. Matanya berbinar menatap sesosok pahlawan itu.


“Kak Axton?!" Serunya.


Kak Axton berdiri tegak walau serangan itu mengenai pertahanannya yang sengaja di buat menggunakan tangan. Tatapan dinginnya bahkan lebih membuat merinding dari aura kakak jahat itu.


“Apa yang kau lakukan?”  Tanya Kak Axton penuh curiga.


Arna melihat sesuatu menetes keluar dari tangan kak Axton yang masih bertahan dari serangan kakak itu. Tak ada satupun dari mereka yang melepaskan serangan maupun pertahanan.

__ADS_1


"Kak Axton kau berdarah!" Teriak Arna histeris.


Kakak itu tersenyum pahit lalu memandang Kak Axton benci, tanpa basa-basi semburan aura gelap dilancarkan pada Kak Axton. Tangannya yang menempel pada tangan Kak Axton membentuk cakar yang makin besar. 


"Yaampun, jadi tadi itu benar-benar cakar?" Pikir Arna sembari bertahan dari aura gelap yang menyesakkan itu.


Kak Axton tidak berkutik lalu tersenyum sinis sambil memejamkan mata. Tingkahnya yang mengherankan itu segera terjawab dengan kemunculan guru di sampingnya. Semua orang yang berada di kawasan itu terkejut berseru bersamaan.


“Guru??” Tanya kakak itu bingung.


“Apa yang kau lakukan Gan?” Tanya guru dengan tampang serius.


“A..aku…” Kakak jahat itu dipanggil Gan oleh guru.


“Gan??” Tanya Arna dalam hati, merasa jika ia pernah mendengar nama itu sebelumnya.


Kakak itu melirik Kak Axton sinis sementara Kak Axton datar saja, dan Arna terpana memandang mereka. Jiwanya tertarik untuk menguak motif peristiwa yang baru saja terjadi di depannya. Guru mengisyaratkan kepada beberapa senior disampingnya untuk membubarkan kerumunan, lalu ia berkata:


“Gan kau punya beberapa hal untuk dijelaskan. Reeko, Rezon, dan Arna kalian ikut aku. Axton, aku butuh bantuanmu!”


“Baik!” ujar Kak Axton diikuti oleh anggukan kepala mereka yang disebutkan oleh Guru.


“Baiklah, jelaskan padaku hal yang barusan terjadi!” ujar Guru ketika mereka tiba di ruangannya.


Arna rasa ini akan menjadi kasus pertamanya. Tapi apapun hukuman yang akan diberikan, Ia pasti menjalankannya dengan baik, apalagi Ia bersama-sama dengan kedua temannya.


“Kalian harusnya tahu,” guru mengawali kalimatnya dan mereka semua tetap membisu.


“Perbuatan kalian tadi sangat berbahaya, bagaimana kalau ada salah satu dari kalian yang cedera? Atau kalian melukai seseorang? Apa yang akan kalian lakukan?” semua perkataan Guru yang menusuk Ia telan begitu saja.


Memang yang dikatakan Guru adalah benar, tak ada yang perlu di sangkal. karena itulah yang barusan mereka lakukan, atau barangkali hanya dia. Bertarung tanpa mengetahui alasan yang jelas.


“Mungkin kau bisa jelaskan Ree?” Tanya Guru tetap pada sikap semula.


Gadis yang ditanya tersentak lalu bergumam.


“itu…” Reeko tidak berkata apapun dan hanya memandang Rezon .


Guru menghela nafas panjang lebih berat dari biasanya. 


“Hhh…, kalian memang tidak pernah berubah ya?” katanya.


Sesuatu terlintas begitu saja di kepala Arna, yaitu peistiwa semacam ini memang sering menimpa kawan-kawannya dan Ia adalah tokoh baru dalam peristiwa ini.


“Baiklah, kalian silahkan kembali ke asrama kalian!” Perintah guru pada mereka bertiga.


“Sedangkan Gan, aku akan membahas sesuatu denganmu!” ujarnya tegas.


"Axton, kau juga."


Beringan, mereka semua keluar terkecuali Kak Gan. 


“Hmh…, tidak serumit dugaanku.” Pikir Arna ketika telah jauh dari ruangan.


"Kak Axton, tanganmu!" Ujar Arna di luar ruangan.


"Hmm, tidak masalah." Jawab Kak Axton sambil melihat tangannya yang masih meneteskan darah.


Arna melihat luka Kak Axton yang terlihat seperti terkena cakaran. Tapi itu lebih dalam dan menusuk.


Ia melirik kedua temannya yang raut wajahnya masih terlihat murung. Menyadari keadaan kedua kawannya, Arna mengurungkan niat untuk menanyakan perihal kejadian tadi.


"Tidak bisa begitu, bir aku obati lukamu kak." Kata Reeko sambil mendorong Kak Axton ke arah tembok.


Arna dan Rezon berhenti melangkah dan menatap pada Reeko yang sedang memaksa Kak Axton melipat lengan bajunya. Luka Kak Axton lebih dalam dari yang pernah di lihat oleh Arna. Bahkan terkena pisau sekalipun tidak akan separah itu, tapi anehnya Kak Axton bahkan tidak mendesis. Arna menatap Rezon, dia terus menunduk memandang lantai di bawah mereka. Tanpa berkata apapun, Ia menarik tangan Rezon untuk duduk di sisi Kak Axton

__ADS_1


__ADS_2