Forgotten Sins

Forgotten Sins
Kami dan Viper Army


__ADS_3

"Ah, baiklah!" Jawab Reeko pada Kak Axton yang kemudian melirik Rezon dengan tatapan tajamnya mengisyaratkan sesuatu.


Baru sepatah kata terucap dari bibir wanita itu, mata Arna menangkap kilatan pisau yang dibawa oleh seorang pria di sebelah kanan panggung. Secepat mungkin, Arna meraih koin logam di lantai dan melemparkannya pada pisau yang telah terlontar. Senjata tajam itu melenceng dari sasarannya yaitu Nona Meyl, dan malah mengoyak kertas pidatonya. Seketika suasana menjadi gaduh, para pengawal berhamburan.


Reeko menghubungi Kak Olio sementara sang pelempar siap melontarkan serangan ke dua. Namun begitu pula dengan Kak Axton yang mencengkram dua pisau kecil diantara jari telunjuk dan tengah kedua tangannya. Secepat kepakan elang, Ia mengibaskan kedua tangan menyilang di depan muka dan pisau terlontar membatalkan serangan musuh. Orang itu berdecak kesal sambil merogoh pistol di pinggangnya sementara Rezon telah berada di belakangnya diam-diam, sigap menghantamkan tendangan meneruskan serangan kakaknya.


Rupanya sang kawan melihat kejadian itu dan segera menyiapkan diri dengan pistol teracung pada Rezon.


“Hei nak, kau terlalu ikut campur!” Ujarnya dengan optimis seakan Rezon hanya anak kecil biasa.


Walaupun sebenarnya ke-optimisan itu tidak terbukti.


“Ups..!” Seru Rezon dengan tangan di atas kepala membuat orang itu makin bernapsu untuk membanggakan dirinya.


“Tapi, untuk mengalahkan kami tidakakan semudah menjentikkan kaki.”  Jawab Rezon tak kalah gaya. “Emmm, Jari!” Ralatnya.


“Ha?!” Orang itu mendelik tak pecaya sekaligus tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh anak di depannya dengan pembawaan konyol meski diancam dengan sebuah pistol.


“Arna, Lanjutkan!” Rezon memandang ke sebelah kirinya, Ia pun melihat kearah yang sama.


“Selamat sore Tuan.” Sapa Arna hanya untuk basa-basi.


“Kau…”


DUAK..


Orang itu terhuyung ke belakang dan pistol di tangannya terlepas jatuh ke lantai. Rezon merapat ke sisi Arna dengan semangat lalu berseru pada “dia” yang masih tertuntuk pusing karena pukulan Arna tadi.


“Wuuu.., makan itu! True Shadow memang tidak akan terkalahkan..!” 


“Rez!” Tegur Arna mengingatkan bahwa itu rahasia.


“Oh, maaf! Jangan pedulikan perkataanku tuan, itu tadi hanya mimpi.”  Kata Rezon dengan suara slow dan tangan meliak-liuk seperti ular atau sebenarnya lebih mirip cumi-cumi keseleo (mana ada ya?)😅.


“Hmph, sekarang bagaimana?” Tanya Arna meminta pertanggung jawaban.


“Tenang saja dia seperti orang mabuk mungkin sedikit miring karena pukulanmu tadi.” Jawab Rezon ngasal walau telah membocorkan identitas mereka.


“Rezz!”


“Suaraku tidak sekeras itu saat mengatakannya. Mungkin dia sudah tuli, semoga saja dia tuli” Lanjutnya, Arna menyerenyit.


“Baik.., Baiklah!” 


“Apa yang akan kau lakukan?” Arna memastikan.


“Pukul saja dia sekali.”


“Apa??” tanya Arna tak percaya.

__ADS_1


“Ya, Ayolah dia tidak akan mati mungkin hanya akan anemia.” Jawab Rezon lagi.


“Amnesia..” Kata Arna membenarkan perkataan kawannya.


“Yaitu pokonya, cepatlah!” Ujar Rezon pada Arna.


“HIAAAA!”


DUAK..


“Bagus!” Ujar Rezon lagi semenatara Arna masih terpaku pada orang di depannya yang telah terkulai dengan mata sepeti lollipop berputar.


DOR, DOR, DOR


“Awas!” Teriak Arna dan keduanya berkelit lincah terpisah kekanan dan kiri menghindari peluru.


“Rezon aku..”


Namun dari arah penonton beberapa peluru panas terlontar menyasar tubuh Arna yang segera mengelak cepat, tapi sebutir lewat diantara kedua kakinya dan hangat langsung terasa. Tak terbayang bagaimana rasanya kalau peluru sampai bertamu di dalam tubuhnya. Tiga orang datang merusak khayalannya, dua dari arah belakang panggung dan satu melompat tinggi dengan pedang terhunus. 


“Payah!” Umpatnya menyadari Ia hanya bisa menangani satu atau dua orang saja dalam sekali serangan.


Tapi sebelum salah satu senjata mereka mendekati Arna, suara tembakan menggema menembus keriuhan. Tak berselang beberapa detik seorang penyerang terjatuh ke tanah kejang seperti terkena listrik.


“Terimakasih!” Pikirnya sambil meraih senjata pisau kecilnya yang mirip cutter.


Senjata mereka saling beradu.


DUAK!


Tanpa menunggu lagi, Arna menendang selangka musuhnya lalu meluncur di bawahnya untuk menghindari serangan satu musuh lagi. Dan saat berada di belakang punggung orang itu kawannya telah menyusul tapi itulah yang diinginkannya, tergambar dari senyum sinis Arna saat orang itu menghunuskan pedang kearahnya. 


Sedangkan Reeko yang masih dalam posisi menembak kedatangan tamu, dua orang menghadang dengan tinju terkepal. Ia pun menoleh karena terkejut, tapi segera melakukan upaya menghindar dengan salto, tapi ketika ujung kakinya menginjak tanah para penyerang tidak memberi kesempatan sedikitpun dan malah memojokkan Reeko dengan serangan bertubi-tubi.


“Ar..na..” Panggil Reeko dan Arna menyahut dengan berlari melewati salah seorang tamu Reeko tanpa berhenti, sedetik setelahnya orang itu telah terjatuh dengan sayatan di kaki.


“Ree!” Panggil Arna untuk mengisyaratkan bahwa ada kesempatan bagi emas Reeko untuk membalas serangan.


Gadis ini menangkap isyarat itu dengan cepat, lalu mengayunkan tangan kanannya yang memegang pistol untuk memukul rahang pria di depan, dan tanpa ampun kembali melancarkan serangan menendang pelipis lawannya dengan kaki kiri. 


“Bagus,” ujar Arna yang berhenti di sisi Reeko, mereka saling bertolak belakang kemudian melancarkan serangan jarak jauh pada musuh Kak Axton dan Rezon di belakang panggung.


Saat itu juga sebuah pukulan keras menghantam lengan kanan Arna, Ia tak sempat menyadari datangnya serangan sehingga tubuhnya terhuyung ke samping. Untunglah Ia dapat kembali menyeimbangkan diri lagi tepat saat musuh lain datang mengibaskan pedang untuk mengakhiri hidupnya.


“Dasar, orang dewasa seperti mereka haruskan seserius ini?” desis Arna yang belum lepas dari bahaya.


Tapi sebelum Ia mendapatkan cara membebaskan diri, ada seorang datang dengan senjata terhunus.


“Menjauh!!!” Reeko tampil sebagai penyelamat dengan melakukan tekling lalu mengambil posisi depan sehingga Arna hanya harus berhadapan dengan lawan di sampingnya. 

__ADS_1


Kini Reeko yang terdesak, saat empat orang datang mengeroyok mereka sebuah sentakan keras musuh pada lengannya membuat pistol dalam genggamannya terlepas dan pedang terhunus menyasar tubuhnya. Dengan mata terbelalak, Ia mencoba menepiskan senjata tajam itu dengan tangannya. Spontan Arna melompat nekat menghadang ujung pedang dengan pisau lipat kecil nya, Ia tahu itu tak berguna setidaknya senjata itulah yang ada di tangannya saat itu. 


Beruntung Kak Axton datang. Ia melompat masih dalam gayanya yang khas, membawa empat pisau di kedua tangan dan mendarat halus di depan Arna. Saat sang senior dingin alias Kak Axton baru mendaratkan satu kaki, keempat orang tersebut telah berjatuhan di lantai dengan pisau menancap di tubuhnya. 


“Kak Axton..!” Seru Reeko berbunga-bunga.


Tapi tanpa bebicara apapun, Kak Axton berbalik sambil menendang serihan kayu di bawah kakinya kearah Arna. 


DUANG..!


Arna kaku di tempatnya, berdiri dengan mata terpejam.


“Arna, kemari...” Tangan Reeko menelisik diantara jari-jarinya lalu menarik ke sisinya.


“Apa yang kau..” Arna membuka mata, Kak Axton masih berdiri di sana dengan tatapan tajam bukan kearahnya.


Ia menoleh ke arah yang sama dengan Kak Axton, rupanya seorang lagi telah dilumpuhkan dengan kepala benjol.


“Merapat!” Ujar Kak Axton singkat sambil melempar sebuah pistol kembali pada pemiliknya.


“Baiklah!” Ujar meeka bersamaan dengan kedatangan Reezon ikut merapat sehingga Keempatnya membentuk formasi empat.


Kak Axton menoleh kearah belakang panggung.


“Keras kepala.” Salah seorang Viper Army masih berupaya menyelesaikan tujuannya. Ia melancarkan serangan pada Nona Meyl.


“Reeko.” Ujarnya dan mulut pistol Reeko memuntahkan peluru listrik yang membuatnya berasap.


Sirine polisi berbunyi, semua pasukan Viper Army dengan kesusahan segera bangkit dan pergi dari jendela-jendela .


“Jangan biarkan kabur!!” Rezon mengerahkan kecepatan kakinya mendahului melakukan pengejaran.


Tanpa  menunggu lagi kaki-kaki mereka bergerak mengikuti arah pelarianViper Army tanpa menghiraukan keributan di belakangnya. Setelah sempat kalah start, di gang-gang kecil antar gedung mereka kehilangan keberadaan para Viper Army tersebut.


“Sialan, dimana mereka?” protes Reeko dengan emosinya yang naik turun.


“Itu!” Jawab Rezon cepat sambil berlari kearah tunjukan tangannya.


“Rez!” Kak Axton segera berlari mengimbangi kecepatan adiknya disusul Reeko.


Arna yang tertinggal berniat untuk mengejar sebelum Ia melihar seorang Viper Army di gang kirinya berlari kearah lain.


“Hey!” teriak Arna sementara kakinya bergerak mengejar.


Hai semua...!✋


Aku mau nanya nih, emang tulisan diatas kebanyakan tanda seru ya? 😮


tolong berikan pendapat kalian ya🙏

__ADS_1


__ADS_2