
Kalimat pertama adalah tulisan tangan Ayah Gio sebagai awalan.
”**FORGOTTEN SIN OF CITY**”
SESUNGGUHNYA KOTA INI BUKANLAH KOTA MODERN , SEMUA TERJADI SEJAK 40 LALU.
KALA ITU PARA TEKONLOG MENEMUKAN TEROBOSAN YANG BERHASIL MEMBOBOL BATAS KECANGGIHAN PERALATAN DI ABAD INI. SEMUANYA BERGEMBIRA DAN TERKAGUM MELIHAT KEAJAIBAN YANG TERCIPTA DARI ROBOT TANPA NYAWA, PADAHAL SEBELUMNYA KOTA INI ADALAH TEMPAT DARI KESENIAN DAN KEBUDAYAAN TRADISIONAL. NAMUN MASYARAKAT TIDAK BISA MENAHAN LAGI KEKAGUMAN MEREKA TEHADAP KECANGGIHAN TEKNOLOGI DAN TANPA DISADARI, BERUBAH MENJADI SEBUAH KESALAHAN. KETIDAK SEIMBANGAN TERJADI, ANTARA KECANGGIHAN TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT YANG MASIH BELUM SIAP. KARENA MEMAKSAKAN DIRI MENERIMA PERUBAHAN TERLALU CEPAT, MASYARAKAT BERUBAH MENJADI EKSTRIM MENCINTAI TEKNOLOGI CANGGIH DAN MELUPAKAN KESENIAN YANG MENGALIR DI DARAH DAGING MEREKA SENDIRI.
PANGGUNG KESENIAN MULAI SEPI, DAN BANYAK BUDAYAWAN MENGGANTI PROFESI, BANYAK PULA YANG TETAP MENGANDALKAN KESENIAN MENJADI DAYA PENGHIDUPAN KELUARGA MEREKA, HAL INI TERUS BERLANGSUNG SELAMA SEPULUH TAHUN DAN OLEH MASYARAKAT KOTA SAAT ITU DINAMAKAN DENGAN ‘BABAK TERAKHIR’
SETELAH HABIS MASA BABAK TERAKHIR, NAMA KEBUDAYAAN MAKIN TENGGELAM DALAM KEHEBOHAN MASYARAKAT DAN MULAI TERPURUK. TAK CUKUP ITU SAJA, KE-EKSTRIMAN MASYARAKAT MENCAPAI PUNCAKNYA DENGAN MENGANGGAP ORANG YANG MASIH MENCINTAI KEBUDAYAAN ADALAH KONYOL DAN MENGGUSUR PARA BUDAYAWAN KE PINGGIRAN KOTA.
TAPI KECINTAAN BEBERAPA ORANG PADA KEBUDAYAAN TIDAK BISA LUNTUR BEGITU SAJA, MEREKA LEBIH MEMILIH MENJADI KELOMPOK MASYARAKAT TERKUCIL DIBANDING MELUPAKAN SANG KEKASIH, YAITU KEBUDAYAN.
TAHUN DEMI TAHUN BERGULIR, KEBUDAYAAN TERUS TENGGELAM DALAM LUMPUR ZAMAN DAN LENYAP. BEGITUPUN PARA BUDAYAWAN SEJATI, MEREKA TIDAK LAGI DIKETAHUI KEBERADAANNYA. MUNGKIN IKUT BERBAUR DAN MENGUBUR SEDALAM-DALAMNYA CINTA MEREKA, MUNGKIN JUGA MENGHILANG BERSAMA BUKTI KEBUDAYAAN KOTA KITA INI.
LANTAS, SALAH SIAPAKAH ITU SEMUA?
APA SALAH PARA TEKNOLOG YANG MENCIPTA INOFASI TERBARU? ATAU SALAH MASYARAKAT YANG BERPALING DARI KEBUDAYAAN? SALAH PEMERINTAH? ATAU SALAH BUDAYAWAN YANG TAK MAMPU MEMBANGUN KEBUDAYAAN DI KOTA INI LAGI?
Note: Paragraph paling akhir adalah tulisan tangan Ayah Gio.
“Aih.., ini dongeng paling aneh. Tidak ada hubungannya dengan yang kita cari! Lagi pula kenapa para budayawan tidak menggelar pertunjukan besar-besaran saja?” Gio bebisik di telinga Arna.
“Kau melupakan bagian dimana mereka dikucilkan masyarakat dan tinggal di pinggiran kota. Tapi kemana mereka setelah itu? Kalau para budayawan memang mencintai kebudayaan seperti mencintai kekasihnnya, seharusnya mereka terus berjuang membangkitkan minat orang lain. Jika benar seperti itu, seharusnya ada masa dimana mereka berhasil menyulut kecintaan sebagian kecil masyarakat pada kebudayaan.” Balas Arna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Dongeng yang tidak asik. Tapi aku menemukan sambungannya.” Ujar Gio menyodorkan potongan Koran yang tidak ditempel pada sahabatnya.
“Baik.., ayo membaca!” Ujar Arna bersemangat berlawanan dengan Gio yang sudah ogah-ogahan.
“Dasar sang juara kelas!” Ujarnya.
“**MENGGESER PARA PENGUASA**”
Arakata Saskara, berhasil membuat sebuah trend baru di kota dengan pertunjukan memukaunya yang dibawakan dengan khas. Ia sukses mencuri perhatian dengan memainkan drama bayangan berjudul ‘Karang’ bersama sang adik, bergerak lincah di belakang tirai tipis mempertunjukkan bayangan sendiri sebagai tokohnya. Suara mereka yang sedang berdialog menggema di seluruh ruangan kemudian menyerang ke dalam hati. Tak sedikit orang terisak karena jalan ceritanya menyayat hari, tak sedikit pula terdiam bagai batu.
Beragam tanggapan diucapkan oleh para hadirin, mulai dari suara yang menggetarkan bulu roma, ceritanya sangat berisi, hingga kagum dengan kelincahan dua bocah itu mempertunjukkan tarian bahkan diselingi nyanyian dan jurus bela diri.
__ADS_1
“Ini yang kumaksud, tapi kemana perginya semua itu? Bahkan aku sama sekali tidak mengenal kebudayaan semacam itu.” Tanggap Arna seusai membaca.
“Entahlah, aku lebih tertarik lagi menonton pertujukan bayangannya.” Jawab Gio.
“Tunggu, ini berarti peristiwa Forgotten Sin Of City adalah nyata..” Gumam Arna.
“Benarkah? Cari dokumen selanjutnya!” Gio mulai membolak-balikkan lembaran buku.
“Eh, itu!”
“KILATAN HIDUP SASKARA”
Di balik gemilang nama Arakata Saskara, ternyata adalah sebuah cerita mengenaskan.
Orang sering bertanya,
'Mengapa dan bagaimana dia bisa sukses dengan karyanya yang berbeda?'
Tapi semua tidak semudah itu,
‘*Adik saya ada dua, Nayottama dan satunya meninggal bersama Ibu. Itu semua tejadi saat kondisi ekonomi keluarga saya merosot, sehingga terpaksa tidak makan berminggu-minggu dan akhirnya Ibu yang tengah mengandung berpulang pada tuhan.
Mereka adalah pahlawan yang gugur dalam perjuangan, saya bangga memiliki mereka dan kini Nayottama adalah kepunyaan saya yang paling berharga*.’ Ujarnya sehabis menuruni panggung.
Tidak ada ungkapan yang sesuai untuk ini, hanya satu yang dapat saya sampaikan,
‘yang menulis pun ikut menitikkan air mata’.
Anak muda berperawakan tegap, sopan, dan santai ini tenyata menyimpan kisah hidup yang begitu pahit. Sorot matanya sendiri saat menceritakan kisah ini napak berkilat-kilat, dendam kah atau air mata di sana?
Mata Gio redup namun menyala saat membacanya, terlebih Arna yang merasa kisah hidupnya tidak sepahit Arakata Saskara. Yang pasti, kurang lebih Arna mengerti apa yang dirasakannya. Tapi hebatnya Arakata adalah ketabahannya dalam menghadapi segala cobaan dengan caranya sendiri, tanpa harus mengumpat bahkan masih kuat membanggakan kedua orang tuanya dengan melanjutkan perjuangan.
“Dia sangat tegar.” Komentar Gio yang matanya masih tak dapat lepas dari kertas di depannya.
Arna bungkam, hanya jari-jarinya lah yang bergerak membuka lembaran selanjutnya. Foto buram bergambar dua anak memegang spanduk, dengan keterangan,
‘Dari kiri Arakata Saskara dan Nayyotama Saskara.’
__ADS_1
“Andaikan lebih jelas, aku ingin melihat wajahnya.” Pikir Arna.
Tapi saat Ia menatap fokus spanduk yang mereka pegang, jantungnya serasa hampir lepas.
“Ini lambang Viper Army!” Arna hampir berteriak.
“Benarkah?” Gio menyamakan lambang di poster dan telapak tangannya.
“Sama..” Gio terkesima.
“Tunggu-tunggu..” Kata Arna.
“Viper Army adalah anti teknologi, mereka membenci para teknolog. Dongeng Forgotten Sis Of City yang telah terbukti benar adanya adalah masa rawan pemberontakan dari kalangan masyarakat terkucil. Mungkinkah Arakata Saskara adalah pemimpin Viper Army? Jadi motif mereka adalah untuk mengembalikan kebudayaan dengan menggulingkan kekuasan para teknolong? Tapi apa benar-benar Arakata Saskara?” pikiran Arna berputar-putar karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
Di satu sisi, hal yang tadi dia pikirkan adalah mungkin, dan di sisi lain Arakata Saskara terlalu baik untuk itu.
••••
“Berhenti Rezon!” Ujar Kak Axton namun Rezon tidak mendengarkan.
Kak Axton tidak kehabisan akal untuk menghentikan laju kaki adiknya. Ia mempercepat langkah lalu segera memegang kerah baju Rezon dari belakang.
“Kenapa Kak?! Kita akan tertinggal.” Pekik Rezon.
“Jangan kejar!” Kata Kak Axton tegas membuat Rezon tak bergeming.
“Ke..na..pa?”tanya Reeko dengan napas terengah-engah.
“Kita..”
BOOMM..
Asap beterbangan di sekitar mereka, Kak Axton menutup mulut dan hidung Rezon dan Reeko menggunakan tangan, sedangkan dia cukup menahan napas. Bayang-bayang hitam mulai mengitari mereka, tiba-tiba sebuah tendangan mengenai lengan Kak Axton sampai membuatnya terlihat menghitam.
“Sss.., sial!” Umpatnya pelan, tapi cukup untuk didengar Rezon dan Reeko di sisinya.
Seketika asap di sekitar mereka telah dipenuhi bayangan yang berputar-putar seperti hiu mengincar mangsanya. Beberapa bayangan maju menerjang ketiganya dengan pedang terhunus. Dengan cepat Kak Axton mendorong kedua adiknya ke belakang hingga tubuh mereka keluar dari gerombolan bayangan, dan dia sendiri tetap di sana.
__ADS_1
“Kakak!!” Bayangan tubuh Kak Axton mulai lenyap di telan asap, sementara dia sendiri telah tiba di luar dan menabrak tembok sebuah bangunan.