
Angin panas berdebu menerobos melalui jendela taksi yang setengah terbuka, menyibak perlahan rambut depan Arna saat ia membaca belembar kertas di pangkuannya. Ia masih termenung memikirkan tersangka pimpinan Viper Army Arakata Saskara, seorang sabar dan berhati lembut. Tapi siapa yang tau apa yang ada dalam benak manusia?
“Karena aku bukan tuhan, aku harus berhati-hati dan tidak menilai orang hanya dengan sekilas pandang saja.” Pikir Arna sambil menghempaskan punggung di sandaran kursi.
Ia memijit-mijit kepala dan dahinya untuk melampiaskan kebingungan, memang sudah kebiasaannya setiap kali menghadapi persoalan sengit, walau tidak ada niatan memposisikan diri melakukan hal itu tangannya selalu begerak sendiri.
“Bagaimana caraku memberitahu guru nantinya? Tak ada jaminan dia akan mempercayainya.” Tangan Arna menggenggam membentuk kepalan kuat, mengisyaratkan otaknya bekerja sangat keras.
“Tidak, aku sendiri belum percaya Arakata Saskara melakukan itu!”
“Tidak-tidak!” Kepalanya menggeleng sendiri, mungkin di mata sang sopir taksi ia sudah seperti orang sakit kepala keras.
“Mau ke pusat perbelanjaan? Apa mau melihat.., penyelidikan polisi di sana?” tanya sang sopir tiba-tiba.
“Tidak. Aku tidak tertarik, sebenarnya aku hanya ingin membelanjakan barang pesanan ibuku.” Jawabnya penuh kepura-puraan.
“Memang kenapa?” Ia mencoba memastikan tujuan bapak ini.
“Tidak.., hanya sejak tadi pagi ada banyak sekali anak muda pegi ke sana untuk melihat bekas kekacauan kemarin sore. Tapi kalau hanya bekas sih.., apa yang mau dilihat? Iya kan?” Bapak sopir langsung berterus terang, mungkin dia merasa sedikit terancam dengan tatapan Arna saat menanyakan sebab darinya.
“Iya, aku setuju denganmu.” Kata Arna dengan senyuman basa-basi yang diarahkannya ke deretan gedung-gedung tinggi di luar jendela.
“Ternyata banyak juga orang tertarik dengan kekacauan.” Kata Arna tanpa menoleh lagi.
“Iya, kau benar nak.” Kali ini Ia hanya menjawabnya dengan senyum tanpa niat.
•••••
Dengan pisau terbang di tangan, Kak Axton menembus gerombolan pasukan Viper Army untuk mendapatkan kembali miliknya. Ia melompat berpindah ke tempat yang agak lapang lalu mengangkat tinggi sebuah kalung hitam.
“Kalian mau melacak kami atau markas kami?” ujarnya dengan suara tegas yang menggetarkan nadi.
“JANGAN MIMPI!” Lanjutnya.
Dia menantang jejeran pasukan Viper Army di depannya dengan seringai seram penuh nafsu dan tatapan khasnya yang mengintimidasi siapapun. Sementara jari tangannya bergerak menekan sebuah tombol di belakang kalung.
“MAJU!!” Seru Kak Axton sadis seperti pendekar mabuk.
•••••
Taksi biru yang dinaiki Arna berhenti di depan toko besar, tempat biasanya para penumpang minta diturunkan. Memang sejak tadi Ia tidak mengatakan apapun tentang tujuannya kecuali ke daerah pertokoan, jadi sang sopir menganggapnya sama dengan pelanggan lain.
Beberapa kali Arna membolak balikkan tubuhnya ditengah lorong sepi pinggiran toko sambil menatap layar kecil di sebuah kalung hitam.
__ADS_1
“Sial…! Apa apaan ini?!” Umpatnya marah tanpa memperhatikan pandangan heran orang-orang.
“AAAHHHH!!” Dia menghentakkan kaki ke tanah dengan keras.
Kemarin saat memeriksa lorong didekat gedung Airmony Siiv bersama Gio, dia sempat melihat samar-samar keberadaan ketiga kawannya. Segeralah dia mencari tempat yang agak lapang dengan harapan mendapat petunjuk lebih jelas, namun beberapa tentara menghalangi jalan sehingga Ia terpaksa menghentikan pencarian dan sinyal kawan-kawannya langsung lenyap seketika.
Bahkan saat menginap di rumah Gio, keberadaan kawan-kawannya sempat terdeteksi oleh kalung pelacak. Namun tidak sekuat di sekitar gedung Airmony Siiv, jadi Arna memutuskan kembali ke sini lagi keeesokan harinya. Dan kini Ia telah berada di pertokoan paling berdekatan dengan Airmony Siiv. Dengan was-was Ia berlari memasuki lorong demi lorong pertokoan makin mendekat ke gedung Airmony Siiv.
“Kak Axton, Rezon, Reeko tolong katakan kalian baik-baik saja.” Batinnya, sambil berkali-kali mengucap serentetan do’a.
•••••
“Reeko, tolong berhenti!” Ujar Rezon pada Reeko yang berlari kencang tanpa tujuan bagakan mobil balap menyusuri jalanan Kota Medianpolis.
“Tidak mau!” Tolaknya tanpa melihat ke belakang.
“Per-cayalah, a-ku hanya ingin mengambil napas.” Kata Rezon dengan napas teengah-engah. “Aku ti-dak akan berbalik!”
Reeko menghentikan langkah tiba-tiba sehingga Rezon hampir terjungkal ketanah.
“Huaaa!” Akhirnya Rezon tersandung batu kerikil dan nyasar kesemak-semak.
“REEKO!” Ia berbalik badan menatap wajah gadis itu, namun seketika itu pula dia tangsung terdiam.
“A-ku bingung..” Masih dengan terisak, Ia duduk di trotoar.
“Hei.., Ree..” Panggil Rezon lembut.
Ia sama-sekali tidak mengerti apa yang harus dilakukan agar tangis Reeko bisa berhenti.
“Jangan menangis, aku yakin Arna dan Kak Axton baik-baik saja.” Ujarnya kehabisan kata.
“Tenanglah..”
Reeko mendongak menatap wajah Rezon dengan mata sembab penuh air mata, membuatnya terlihat seperti seorang gadis pada umumnya. Bebeda sekali dengan Reeko sang anak harimau dari True Shadow yang biasanya selalu blak-blakan dan penuh semangat, bahkan kekuatannya mengalahkan seorang lelaki. Ternyata masih ada sisi dalam diri gadis manis ini yang belum diketahui olehnya, selain manja pada sang ayah, dia juga bisa ketakutan, menangis , dan merengek. Hal ini membuat Rezon melunak seperti kerupuk terkena air.
“Kau yakin..?” tanya Reeko dengan suara parau.
“Tidak juga, sudah jelas-jelas mereka itu gawat!” Jawab Rezon enteng, tapi setelah itu ekspresinya beubah drastis.
“Eh.., maksudku tidak! Mereka baik..” Ia salah tingkah. “Hehehe, hehe..”
Reeko tertunduk kembali menatap tanah paving di bawah mereka.
__ADS_1
“Eh, apa-apan gadis ini. Tadi dia yang menarikku dengan keras tanpa mau berhenti, sekarang malah menangis!” Batinnya, tapi tetap berusaha menenangkan sahabat manisnya itu.
“Hei Ree, kau tidak malu pada kawan-kawan yang lain di markas? Kalau kau menangis di depan mereka, kau akan ditertawakan.” Ujar Rezon sambil membelai kepala Reeko dengan lembut, persis seperti yang selalu dilakukan Kak Axton padanya.
. ••••
“Aku suka hujan kak, kalau hujan kodok-kodok berbunyi!” Ujar seorang anak yang menatap gemerick air dari balik lubang pintu pada kakaknya di belakang.
Dia memakai jaket dan topi hangat di tubuhnya, tapi tanpa kaus tangan sedangkan anak dibelakangnya tidak memakai apapun untuk menghangatkan tubuh. Anak itu hanya tersenyum dingin tapi tatapan matanya sangat lembut, dia duduk bersandar pada tembok dan kakinya berselonjor.
“Benarkah?” dia berpindah posisi menyilangkan kedua kaki dan tangan karena kedinginan.
Anak itu berbalik badan dan mengangguk mantap.
“Suka nyanyiannya?” tanya Kakaknya lagi.
“Tidak, nyanyian mereka sumbang dan berisik. Tapi aku suka melihat mereka melompat bebas dan bernyanyi-nyanyi gembira.” Jawabnya dengan lugu.
Kakaknya tersenyum lagi, walau hanya senyuman kecil yang mungkin tidak bisa diaanggap senyum karena samar sekali.
“Rezon..” Panggilnya sambil mengusap rambut adiknya lembut.
Anak itu terdiam dalam kenyamanan belaian sang kakak, tapi kemudian menggosok-gosokkan kedua telapak tangan telanjangnya kemudian meniup sekeras mungin, muncullah asap dingin di sekitarnya. Kakaknya menatap datar pada asap dingin disekitar tangan adiknya lalu berkata,
“Kemarilah.” Ia merentangkan tangan lalu anak itu menyuruk dalam pelukannya.
“Letakkan tanganmu ditengah.” Perintahnya.
Meskipun berada ditengah dingin yang membunuh, suaranya sama sekali tidak berubah, tetap tegas, datar dan dingin. Dia memeluk erat adiknya untuk menghilangkan perasaan dingin.
“Dingin kak..,” Keluh adiknya.
“Tidurlah.” Jawabnya datar.
“Bukan aku, kakak!” Jawab anak itu.
“Aku selalu baik, tidur saja. Aku juga tidur.” Balasnya.
“Hmmm..”
••••
“Dia selalu baik, kau tenang saja.” Kata Rezon dengan hampa sementara tangan kirinya menatap layar kalung pelacak miliknya yang tidak menampakkan apapun lagi.
__ADS_1