Forgotten Sins

Forgotten Sins
Kembali


__ADS_3

Sontak, Reeko, Reezon dan, Kak Axton yang berada di dalam menoleh terkejut.


“Ada Fakta Baru!” Lanjutnya sambil melangkah mendekat.


“Di keempat tempat yang kita datangi kemarin, ada beberapa kesamaan yang cukup mencolok. Disana, digelar pameran kebudayaan oleh Nona Meyl Orana. Itu adalah pameran yang sama dengan yang dilihat oleh Kak Feiza, Lyda, Gora dan, Ryan saksikan. ” Arna berhenti sejenak setelah sempat lupa bernapas tadi.


“Karena kamera milik tim patrol empat menangkap gambar Viper Army di empat titik tesebut ada kemungkinan mereka sedang mengincar sesuatu di pameran. Juga,”


“Stop, stop!” Cegat Reeko. “Kalau kau bilang ada pameran di empat titik itu, Kenapa di lokasi penyelikan kita aku tidak melihat pameran yang kau katakan itu?” Tanya Reeko merajuk karena kemarin Ia satu-satunya perempuan yang tidak menyaksikan pameran kebudayaan.


“Ya…, kau memang benar Reeko! Bukan pameran yang berada di lokasi penyelidikan kita, tapi bangunannya.” Jawab Arna.


“Hah, bangunan apa?” Rezon terheran-heran.


“Ini!” Arna menyerahkan handphone-nya yang menampilkan foto pintu masuk sebuah tempat yang berdekoasi layaknya restoran unik.


“Kemarin, saat Reeko menyebrang jalan secara tak sengaja mataku menangkap suatu tragedi yang menyebabkan aku harus berlari menyebrang jalan. Singkat cerita, seusai menutup kembali lubang gorong-gorong yang menjadi biang masalah aku teringat sejarah gedung di depanku. Dulu gedung itu adalah bekas reruntuhan club malam yang menjadi bandar narkoba utama di kota, tempat itu dibakar sampai hangus karena sangat banyak anak muda terpengaruh dan kehilangan akalnya. Setelah itu, tanah dan gedung yang tersisa terbengkalai selama belasan tahun tapi baru-barui ini telah direnovasi, padahal dahulu melintasinya saja orang-orang enggan karena masih terbayang kekacauan saat pembakaran gedung yang bisa dikatakan biadap.


Ternyata semua perubahan itu dikarenakan bulan lalu, gedung telah dibeli untuk dijadikan salah satu lokasi pameran kebudayaan Nona Meyl Orana. Namun, pameran di pusat perbelanjaan belum dibuka untuk umum, karena yanga kan didirikan disana adalah rumah makan tradisional. Jadi masih ada banyak persiapan agar gedung itu siap pakai.” Arna memaparkan apa yang dibacanya di HP.


“Baiklah memang ada pameran di sana, tapi apa kau punya bukti kalau itu bukanlah kebetulan biasa? Maksudku, apa Viper Army pergi ke sana hanya karena pameran saja? Mereka bukan pemburu bazar!” Tanya Rezon masih belum percaya.


“Tentu saja! Dugaanku diperkuat dengan kemunculan Viper Army saat pameran di Stasiun Bawah Tanah. Menurut kalian apa yang membuat Viper Army muncul tanpa menimbulkan kekacauan sama sekali?” jawab Arna dengan percaya diri.


“Pada tanggal 21 Agustus, Viper Army muncul di daerah taman kota, foto menunjukkan Anggota Viper Army yang sedang mengamati sesuatu. Tanggal 24 Agustus, daerah pertokoan. Tanggal 27 Agustus, stasiun bawah tanah. Dua hari setelahnya yaitu tanggal 29 Agustus kita menyelidiki daerah-daerah itu dan Viper Army terlihat di Stasiun Bawah Tanah tempatku dan Feiza. Ada kemungkinan dari tanggal 21 sampai 23 Agustus mereka masih berada di sekitar taman kota, sampai tanggal 24 dan 26 Agustus mereka berkeliaran di pertokoan. Tanggal 27 foto mereka tertangkap kamera drone tim patrol 4 dan tanggal 29 Agustus mereka bertemu dengan kami. Hmh lucu, ini seperti pola bilangan loncat 3 untuk setiap pergerakan. Itu sebabnya mereka tak terlihat selain di stasiun bawah tanah, mereka sudah selesai dengan waktu tiga hari.” Timpal Kak Axton sambil membaca salinan berkas yang sudah dikumpulkan Arna. 


 “Juga, pada hari ini tanggal 30 Agustus pukul 16.35 tepatnya di Aula Emas Gedung Airmony Siiv pendiri pameran kebudayaan Melawan Lupa, Nona Meyl akan berpidato soal proyek ini. Jadi, ada kemungkinan Viper Army akan muncul secara terang-terangan ataupun diam-diam di sana.” Ujar Arna sambil memperlihatkan artikel yang tadi Ia baca.


“Tapi, masih ada hal yang tidak jelas. Untuk apa mereka ke sana?” Tanya Rezon.


“Apa mungkin Viper Army dan Nona Mely atau Myeal atau terserah bersekokongkol?” lanjutnya.


“Itu akan kita ketahui setelah berhasil menangkap Viper Army!” jawab Reeko beringas.


“Mungkin, mereka mencari sesuatu.” Jawab Arna.


“Kalau duganmu benar, maka kita hanya punya sekitar 45 menit. Ayo melapor pada Ayahku!” Ujar Reeko begegas berdiri.


    Sedetik kemudian, mereka telah menyebar mencari keberadaan guru, sayangnya ternyata guru tidak ada di tempat.


“Apa yang akan kita lakukan??”  Rezon menggaruk-garuk kepala seperti orang gila dan Arna menghela napas panjang untuk melancarkan jalan pikiran.


“Tidak!” Seru Reeko mengagetkan.


“Ada apa?” tanya Rezon panik.

__ADS_1


“Kita tidak pelrlu bilang pada ayah, lagi pula ini bukan kepastiah kan?” Usul Reeko masih dengan semangatnya yang berapi.


“Aku kira apa..” Arna dan Rezon mengelus dadanya.


“Ya, itu bisa saja.” Tanggap Kak Axton.


“Jangan sanpai menimbulkan kepanikan karena hal yang belum pasti.” Lanjut Kak Axton sementara Kak Olio yang dari tadi membantu mereka mencari guru datang mendekat.


“Aku tidak menemukannya!” Ujar Kak Olio dengan menyesal.


“Tidak mengapa, kami akan pergi tanpa sepengetahuannya.” Jawab Kak Axton dengan senyum datar.


“Hah??”


“Anggap saja kasus remeh!” Kata Rezon mencampuri pembicaraan dua kakak seniornya.


 “Aku tidak mengerti apa yang akan kalian lakukan, tapi aku akan ikut!” Ujar Kak Olio pada Kak Axton.


“Tidak perlu, aku punya tuga lain untumu.” Jawab Kak Axton.


“Tapi aku…! Hah.., baiklah apa itu?” Kata Kak Olio walau sempat protes, entah kenapa Kak Olio seakan selalu ingin berada di samping Kak Axton.


“Saat aku mengubungimu, cari guru dan sampaikan tentang hal ini!” Perintah Kak Axton.


“Baik boss!!” Ujar Kak Olio sambil menghormat.


Reeko yang sedari tadi terlihat resah melirik jamnya yang menyisakan 15 menit lagi.


“Waktunya hampir habis! Ayo pergi, cukup kita saja!” Ucap Reeko sambil mengambil pistolnya dan berlari menuju garasi.


“Reeko!!” panggil Rezon.


“Dia benar, tak ada waktu!” jawab Arna seraya berlari mengikuti langkah Reeko disusul oleh Kak Axton.


“Aku mengandalkanmu, Olio!” Ujar Kak Axton sambil menoleh padanya.


“Hati-hati…” Gumam Kak Olio yang kini berdiri sendiri di tengah lorong sepi dengan hati berdebar-debar tidak jelas mengapa.


    Empat motor melaju kencang menuju arah kota, ketika 7 menit telah berlalu mereka baru memasuki gerbang kota, 3 menit tersisa mereka memarkir sepeda di belakang gedung dan berhamburan menuju aula emas.


“Berhenti!” Seru Kak Axton tiba-tiba membuat ketiga anak itu mengerem mendadak laju kakinya.


Jari telunjuk Kak Axton menujuk arah liv dan dengan segera memasuki liv.


“Kenapa kak? Bukannya lantai 10?” Tanya Reeko setelah Kak Axton memencet tobol beruliskan 11rd.

__ADS_1


“Kita tidak akan diizinkan masuk lewat depan. Lantai atas seperti lantai 11 adalah tempat acara santai, tidak akan ada yang curiga apabila kita lewat sana. Lalu kita turun melalui tangga.” Jawab Kak Axton santai.


Arna mengangguk tanda mengerti.


“Kita masuk melalui tangga yang kemungkinan besarr terkunci. Kalau kita sudah berhasil memasukinya, kita akan turun di belakang panggung.” Kata Arna menimpali penjelasan Kak Axton.


“Bagaimana kalau…” kata-kata Rezon terpotong oleh desisan Kakaknya.


”Sstt...” sementara pintu liv terbuka.


“Ayo!” Kata Reeko melewati gerombolan orang yang sedang bergoyang ria.


“Bagaimana kalau…” 


“Nah, ini dia!” Seru Arna saat tangga putih menurun melintang di depan mereka.


“Ayo!” Ajak Reeko, langkah kaki kucing dikerahkannya tanpa suara hingga pagar besi bergembok menghalangi jalan.


“Apa? Kenapa mereka memasang gembok manual di gedung mewah?” Tanya Rezon heran.


“Hmh, kau pikir seberapa besar modal mereka? Kemewahan ini hanya tampilan saja, lihatlah keadaan gudang hotel!” Jawab Arna sambil berusaha merusak gembok.


Tapi sebelum Arna berhasil membobol gembok, tiba-tiba pagar pintu itu lepas dari daunnya.


“Awas…, awas…, awas…!!” Pekik Reeko dengan suara tertahan karena takut ketahuan.


Tangan Arna tidak sempat memegang besi pintu namun aneh, pintu tidak jadi terjatuh dan bediri tegak. Ketiga anak tersebut melihat pada Kak Axton yang sedang memegang obeng terali pintu mencegahnya agar tidak terjatuh dan menimbulkan suara bising.


“Apa yang kalian tunggu?” tanya Kak Axton tetap memegang pintu.


“Itu Nona Meyl!” Ujar Reeko sambil menunjuk wanita berbaju motif bunga di atas panggung tengah bersiap membacakan pidato.


“Aku tidak melihat keberadaan Viper Army.” Kata Rezon.


“Sabar dulu…” Kak Axton muncul setelah usai memasang kembali engsel pintu.


"Apa jangan-jangan..."


"Itu Nona Meyl!" Ujar Reeko saat seorang wanita berbaju serba merah dan maju ke panggung.


Darri motif bajunya yang khas jelas terlihat bahwa Ia sedang mempromosikan salah satu pakaian pameran. Tapi bajunya itu juga membuatnya terlihat menawan, make up tipis dan tidak menor memberikan kesan muda, senyumnya begitu bahagia dan bercahaya. Dari sana saja dapat disimpulkan bahwa Ia bukanlah sekutu dari Viper Army.


"Cantik.." Gumam Reeko.


"Eh!" Rezon berseru saat melihat ke arah penonton

__ADS_1


"Reeko panggil Olio!" Ujar Kak Axton.


__ADS_2