Forgotten Sins

Forgotten Sins
Rumah Gio


__ADS_3

Arna berdiri di halaman milik sebuah rumah besar berarsitektur serba mewah, inilah Rumah Gio anak dari salah satu pejabat penting di kota. Kegelapan malam bahkan tidak bbisa menyembunyikan pesona rumah ini, berbeda sekali dengan rumahnya yang sederhana tapi sudah sangat cukup. Sayang keadaan di sini begitu sepi, sejak kecil hanya Gio yang tinggal di sini bersama beberapa pelayan sedangkan orang tuanya jarang sekali pulang. 


Dahulu saat masih SD, biasanya mereka berdua selalu meramaikan suasana sebisa mungkin, entah itu dengan berteriak-teriak atau menabuh instrument music milik ayah Gio sembarangan, yang penting rumah ini tidak boleh suram dan tidak ada yang melarang mereka. Malah orang tua Gio sangat senang dengan kehadirannya di rumah ini, bahkan menyuruhnya sering-sering menemani anak mereka. Tetapi tanpa disuruh  pun Ia pasti akan selalu menemani sahabatnya. Rupanya beginilah nasip rumah ini setelah kepergiannya.


“Bagimana dengan rumahku?” 


Saat batinnya terus bercerita memutar waktu, kakinya terus berjalan memasuki pintu depan yang langsung tersambung ke ruang tamu. Gio menggumamkan sesuatu, jelas menggerutu karena sepinya suasana, tapi tidak begitu dengan perabotnya sepanjang sisi tembok penuh dengan benda-benda seni bernilai tinggi milik Ibunya Gio yang sangat menyukai seni terutama lukisan panorama.


“Terlalu sepi, bahkan jangkrik akan mengantuk di sini!” Celetuk Gio membuat Arna berdigik ngeri.


“Tempat besar yang menyebalkan.” Umpat Gio lagi.


Arna menoleh ke kanan mereka sesuai dengan ingatannya, ada tangga menuju lantai dua tempat pribadi bagi keluarga Gio, tapi biasanya mereka selalu bermain di sana sepulang sekolah, instrument Ayah Gio juga terletak di lantai dua begitu pula dengan kamar tidur.


“Dimana semua orang?” tanyanya heran.


“Kau lupa kalau disini memang sangat sepi?” jawab Gio sambil berjalan mundur.


“Tante Daina, Kak Maera, Paman, dan yang lain dimana?” Ia menyebutkan satu pesatu nama orang kepercayaan Ayah Gio di sini.


Lebih tepatnya adalah orang-orang yang mengasuh dan menemani Gio dan dirinya bermain jika tidak ada kegiatan.


“Owh., mereka?” Gio mengangguk enteng. “Mereka tidak disini.” Jawabnya kemudian.


“Dimana?” Arna berkerut heran.


“Ayah mempekerjakan mereka di tempat lain.” Kata Gio dan Arna menghentikan langkahnya.


“Aneh..” Gumamnya, padahal selama ini Ayah gio selalu mengandalkan mereka untuk mengasuh anaknya, bahkan untuk membantu mengerjakan PR, memasak, pertemuan sekolah, jalan-jalan dan lainnya. 


Lama-kelamaan Gio bahakan terbiasa mengadukan hal yang dialaminya pada orang-orang itu, mungkin lebih mengenal mereka dibanding orang tuanya sendiri. Tapi sekarang, apa yang terjaadi?


“Iya, aku juga tidak mengerti. Tapi dengan begini aku bisa lebih dekat dengan orang tuaku karena mereka menyempatkan diri untuk pulang menengokku.” Jawab Gio dengan senyuman.


“Syukurlah kalau begitu..” Ujar Arna, rupanya banyak hal berubah selama tiga tahun ini.


“Bagaimana dengan bersih-bersih rumah?” tanyanya lagi.


“Kalau itu sih, mereka datang setiap pagi dan sore.” Jawab Gio, bersamaan dengan itu dia menabrak sudut sebuah meja dan hampir menjatuhkan layar televisi di atasnya.


“Aduh!” Gio mengusap-usap pahanya yang sakit sementara Arna melesat cepat menyelamatkan layar itu.


“Fyuh..!” Ia menghela napas menatap layar televise besar yang kelihatannya bernilai sangat mahal.


“Berapa harganya?” goda Arna pada sahabatnya yang hanya nyengir kaarena kesalahannya.


“Kalau aku jadi kau, aku akan minta benda-benda bernilai mahal dan rapuh disingkirkan dari dekat kamarku.” Ujar Arna.


“Hahahaha…, kalau kau jadi aku lama-lama juga akan terbiasa.” Jawab Gio. “Rumahmu kan juga ada benda seperti ini..” Lanjutnya lagi.


“Tidak sebanyak kau, apalagi rumahku jauh lebih simple.” Jawab Arna terkenang akan rumahnya yang dulu sangat terawat.

__ADS_1


Suara tetesan air dari wastafle membuatnya melayang pada sebuah cerita, dimana ada keluarga yang selalu sibuk pada kegiatan masing-masing, persis seperti Gio. Yaitu keluarganya sendiri, tetapi Itu jugalah yang membuat kedua anak ini cepat akrap. Setiap malam, kedua nak di keluarga ini selalu bergumam mengeluhkan kerinduan terhadap kedua orang tua mereka ke masing-masing anak, tapi saat orang tua meeka pulang keduanya malah ngambek sebagai bentuk protes mereka, jadi terkadang waktu kebersamaan meeka terasa hampa. Orang tua mereka tidak terpengaruh dengan keadaan,walau dengan hal sederhana danb waktu terbatas mereka berdua masih berusaha untuk menggembirakan kedau putranya


“Arna..” Panggil Gio membuyarkan angannya.


“Kau sering melamun ya?” Canda Gio saat Ia menoleh padanya.


Sambil tersenyum kecut Arna memalingkan muka, Gio yang melihatnya tertawa kecil.


“Kau terlihat keren!” Ujarnya mengacungkan dua jempol.


“Hm?” omongan tidak nyambung itu membuatnya heran.


“Aku bahkan tidak percaya kau tetap Arnawa yang kocak kepunyaan kelas 5D!” Kata Gio, Arna melongo mendengarnya.


“Benarkah? aku kira tidak begitu.” Ujar Arna yang memincingkan matanya.


“Iya..”


“Tidak.”


“Iya..”


“Tidak.”


Begitulah seterusnya kedua sahabat itu saling berdebat hingga memasuki kamar Gio dan salah satunya tediam.


“Ada apa Arna?” tanya Gio padanya yang tediam di sisi pintu.


“Aku tidak tahu, mereka hanya menyeretku ke sana lalu mengancamku memakai pisau.” Jawab Gio sementara Ia terdiam lagi.


Tadi dengan entengnya Arna bisa menyuruh anak di depannya segera pergi menjauh, tapi sekarang fakta bahwa anak tadi tidak lain adalah sahabatnya sendiri membuat masalah ini menjadi masalahnya juga. Kalau Arna tidak mengetahui tujuan Viper Army menculik Gio itu hal yang gawat, karena bisa saja mereka datang lagi daan mengancam nyawanya.


“Arna..”


“Gio, aku akan memberitahumu sesuatu!” Ujarnya.


“Berikan tanganmu!” Gio mengulurkan tangan kananya pada Arna.


“Ini adalah lambang Viper Amy, organisasi yang memimpin para pelaku teror berdarah Kota Medianpolis.” Arna mengambil resiko menunjukkan lambang Viper Army pada Gio.


“Teror?” Gio mengatakannya dengan nada terkejut.


Arna mengangguk serius.


“Termasuk teror yang menewaskan Kak Rabka di pasar adalah salah satu ulah mereka.”


“I-ini..” Gio menggenggam tangannya erat. “Tapi aku sama sekali tidak mengerti apapun..” jawabnya.


“Coba kau ingat lagi, jangan sembunyikan apapun dariku!” Arna menatap lekat mata kelereng milik Gio.


Gio menghela napas mencoba menjernihkan pikiran.

__ADS_1


“Tunggu sebentar. Apa yang mereka inginkan dengan meneror Kota?”


“Menggulingkan kekuasaan yang dipegang oleh para teknolog, entahlah tapi aku rasa begitu. Mereka menebar teror untuk mengancam pemerintah, menakuti para penduduk dan merusak kota dari dalam.” Arna mengurut dahinya berharap ada hal yang dia ingat untuk melengkapi deskripsinya.


“Tapi kenapa begitu? Itu terdengar seperti mereka membenci para teknolog.” Tanggap Gio.


“Entah, aku juga tidak mengerti.” Balas Ana dengan tanda tanya.


“Yang pasti kalau informasi ini tersebar dan semu orang percaya, kelompok mereka ada dibenci semua orang. Selain telah memakan banyak korban, mereka juga mengancam kelompok yang salah. Para teknolog menciptakan alat canggih yang sangat membantu kehidupan kita selama ini, untuk apa dibenci?”  Ujar Gio panjang lebar.


“Kecuali para teknolog melakukan kesalahan besar, mungkin seperti menghabisi satu spesies hewan dengan teknologinya. Itu akan membuat para pecinta alam marah besar.” Tambah Arna.


Gio terdiam memandang lambang yang digambar Arna di telapak tangannya.


“Tunggu, kesalahan besar para teknolog! Ada dongeng yang menceritakannya, tapi itu hanya dongeng.” Kata Gio tiba-tiba.


“Dimana?” Arna buru-buru memotong.


“Ayah punya banyak kliping tentang hal seperti  itu di ruang kerjanya.” Seru Gio sambil  berlari ke lua kamar diikuti langkah cepat Arna.


“Benarkah?”


“Ya, dia mengumpulkan banyak sekali.” Jawab Gio yang sudah mulai memasuki ruang kerja Ayahnya.


Kemudian keduanya mulai mencari di setiap sudut.


“Mungkin disini!” Seru Gio merangkak di bawah meja kerja sang ayah seperti anak kucing.


“Disini?” Tanya Arna ikut membungkuk mencari klipingan yang bahkan tidak diketahui bentuk sampulnya.


“Ini dia!”


DUAKK


Gio mendongak tiba-tiba tanpa mempedulikan meja diatasnya.


“Adududuh..!” Ia merintih tapi tetap menyerahkan sebuah buku besar berisi tempelan potongan majalah dan Koran.


“Terimakasih Gio..”Arna tertawa melihat Gio yang bertingkah konyol.


“Ini memang cerita yang aneh, ‘Forgotten Sin Of City’” Kata Arna, kemudian mereka mulai membaca.


Tapi bum satu kalimat dibacanya, deruh mobil terdengar dai pekarangan rumah, diikuti pancaran cahaya masuk melalui celah tirai jendela. 


“Ayah!” Ujar Gio.


“Cepat pergi dari sini!” Kata Arna yang segera menutup buku lalu mulai merapikan kertas di lantai.


“Baiklah, ayo!” Ujar Gio saat mereka berada di luar ruangan pada Arna di belakangnya.


Saat decit pintu depan dibuka terdengar keras, kerduanya telah menghilahng mendekam di selimut kamar. Bukan untuk tidur, melainkan membaca kliping milik Ayah Gio hasil bajakan mereka. Diantara gelapnya ruangan tersebut, remang-emang cahaya senter meambat menembus kain selimut.

__ADS_1


“Mari kita mulai.” Bisik Gio dan Ana mengangguk.


__ADS_2