
“Apa yang kau lakukan Kak??” tanya Arna meronta coba melepaskan diri.
“Kau terus menoleh ke masa lalu. Apa gunanya?” tanya Kak Axton tanpa melepaskan tangannya.
Akhir dari kalimatnya membuat mata Arna membelalak.
“Semua takkan kembali jika kau hanya menyesal,” lanjutnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa begitu saja melepas keluargaku. Aku tidak rela!!” Ujar Ana berteriak kencang.
“Dulu adalah dulu, sekarang yang menentukan masa depan.” Kata Kak Axton tanpa meninggikan suaranya.
Arna terdiam memikirkan maksud Kak Axton.
“Jangan hanya meratap, tapi pikirkan dengan baik tujuanmu!” Ujarnya masih dengan nada yang sama.
Tangan Arna dilepas nyaris saja terjungkal, tapi saat Ia berbalik Kak Axton sudah berjalan agak jauh dari tempatnya tanpa menoleh lagi.
“Kak!” Panggil Arna, Kak Axton menghentikan langkahnya.
“Apa kau mau membantuku?” tanya Arna yang kini sudah mengerti.
Kak Axton terdiam sejenak lalu meneruskan langkahnya, Arna yang tertinggal di belakang hanya menunduk.
“Arna, pelajaran pertama.” kata Kak Axton sambil melemparkan sebuah kitab kecil.
Dengan cepat Ia menangkap kitab tersebut dengan senyum penuh semangat.
“Yeah!!” Serunya sambil berlari mengejar Kak Axton.
“Baiklah, ayo mulai saja.” Ujar Kak Axton sambil menyerahkan sebotol air minum pada Arna yang telah berjalan di sisinya.
Di kamar Arna, kedua anak itu tebangun dari tidurnya.
“Uaaaa…!!!!!” Teriak Reeko.
“Apa??!!” Ujar Rezon kaget.
“Di mana Arna??” tanya Reeko panik.
__ADS_1
“Ooohhh…Arna! Dimana dia?” tanggap Rezon lebih tenang.
Kemudian dengan sanatainya Rezon berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Reeko memandangnya dengan ekspresi sebal yang menakutkan.
“Rezoonnnn!!!”
“Ah..,iya, iya aku cepat!!” Jawab Rezon takut setengah mati.
Beberapa menit kemudian suara mereka berdua sudah memenuhi seluruh taman saking ributnya. Tapi malah langkah mereka terhadang oleh aktivitas yang lain.
“Eh.,Rez berhenti!” Pinta Reeko seaya bersembunyi di balik pohon mengawasi ke tengah lapangan.
“Itu kan.. Arna dan Kakak?” Kata Rezon.
“Lagi.” Ujar Kak Axton di sisi kanannya.
“Baik!!” Jawab Arna sambil menendang kantung berisi tanah yang digantungkan di atas dahan tinggi.
“Lagi.” Ia bergerak serentak dengan aba-aba.
Mata Reeko menatap tak berkedip pada bocah lelaki kawan barunya itu.
“Kakak, Arna, Aku akan terus berlatih!”
Reeko memandang kedua sahabatnya dengan pikiran tak menentu.
“Kalian berdua, aku tidak akan kalah!” Tekat Reeko dengan senyum tulus yang sadis menghias wajah manisnya.
Pukul 03.15.
Arna telah terbangun dari tidurnya, kini ia memandang langit yang masih gelap tanpa kehadiran sang mentari. Di sebuah balkon dia melamun dalam kesunyian karena masih sangat pagi, belum ada satupun murid yang turun dari ranjang. Kalaupun ada, mereka lebih memilih untuk bersembunyi dari cengkraman udara dingin di dalam asrama masing-masing.
“Tiga tahun, kau tidak akan percaya bagaimana aku melakukan hal-hal keren selama tiga tahun ini. ” Gumam Arna seakan ada orang di sisinya.
“Yeah, aku telah berlatih selama tiga tahun. Kini, bagaimana kabar Kota? Bagaimana kabar Gio? Bagaimana kabar rumah? Ujian tahap 1 telah kami laksanakan. Kini, kami sudah mulai menerima tugas dalam pengwasan para senior. Jadi.., apa nafsu ku itu masih menjadi tujuan utama?” tanda tanya besar terbayang di dalam angannya.
“Haruskah aku membunuh?”
Sementara itu beberapa murid mulai terlihat berlalu-lalang di lorong-lorong saling bercengkrama dengan kawan-kawannya, matahari pun mulai naik menampakkan sinar cerah pada cabang-cabang pepohonan. Saat Ia belum menyelesaikan lamunannya, seorang anak perempuan berambut pirang datang menghampiri.
__ADS_1
“Mmm…, Arna?” panggil Layda si pirang itu ragu-ragu.
“Eh, Ada apa?” tanya Arna sedikit tersentak karena tidak fokus.
“Guru memanggil kita ke ruangannya.” Jawab Layda sambil memainkan jemarinya.
“Oh, Ayo!” Ujar Arna sembari berjalan mendahului Layda, kemudian berbelok kanan menuju ruangan guru.
Sesampainya di sana rupanya bukan hanya mereka yang disuruh pergi ke ruangan guru beberapa anak telah tiba mendahului mereka berdua. Ada Reeko, Rezon, Gora, dan Ryan yang sedang berdiri menghadap meja ke guru. Tanpa basa-basi lagi, Arna dan Layda bergabung di sisi kanan kawan-kawannya.
“Baiklah, karena kalian semua telah berada di sini, mari kita mulai saja.” Kata guru memulai pembicaraan. “Kemarin tim yang betugas melakukan pencarian tim patroli 4 yang menghilang menemukan drone milik salah satu anggotanya.” Guru behenti dan menghela napas.
Arna meneguk ludah, kabar tentang kelompok patroli 4 memang telah menyebar luas di seluruh organisasi dan menjadi trending topik selama beberapa hari ini. Dikatakan bahwa mereka tim patrroli 4 seharusnya melakukan patrroli di sekitar selama seminggu, tetapi di hari yang ke sembilan ini mereka bahkan menghilang tanpa jejak.
“Kamera itu menangkap gambar pasukan Viper Army di beberapa wilayah kota Medianpolis. Tugas kalian kali ini adalah menyelidiki kemungkinan di wilayah tersebut.”
“Kemungkinan bagaimana itu guru?” tanya Gora, seorang anak lelaki yang lebih tua setahun dari pada Arna.
“Kemungkinan yang aku maksud adalah tujuan, rencana dan hal-hal lain yang dapat kalian lihat di sana.” Semua anak hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Bagaimana dengan tim patrol 4, Yah? Eh, maksudku Guru!” Ujar Reeko hampir salah bicara.
“Mereka tidak ditemukan sama sekali.” Jawab Guru dengan nada prihatin.
“Oh..,begitu ya…” Reeko menunduk sedih.
“Gan, Olio Kalian berdua pergi ke kota bagian tenggara, Mulai dari Bandara Internasional Jaladara hingga kawasan industri mebel adalah kawasan pengawasan kalian.” Guru melanjutkan dan tangannya menaruh berkas di meja.
Arna dan kawan kawan yang dari tadi tidak melihat orang yang namanya disebutkan oleh guru meloleh ke kanan kiri mencari keberadaan mereka.
“Baik Guru!” Suara Kak Olio terdengar jelas seakan sengaja diteriakkan pada mereka dari pojok ruangan.
Mereka pun langsung menoleh, ternyata di pojok terlihat beberapa senior tengah bersantai sambil mendengarkan penjelasan dari guru. Para senior memang paling jago mengagetkan juniornya. Atau, para senior memang hobi menjahili juniornya? Ya…, mau bagaimanapun Kak Olio, Kak Gan, Kak Feiza, dan Kak Axton telah sukses mengagetkan mereka.
“Axton dan Feiza kalian pergi ke sisi barat kota, di sepanjang stasiun bawah tanah tidak boleh luput dari pengawasan kalian. Ryan, Lyda dan Gora pergi ke bagian selatan, taman kota adalah bagian kalian. Sisanya, Arna, Rezon, Reeko pergi ke barat daya, disana adalah tempat gedung persewaan dan pusat pertokoan.” Guru membagikan berkas berisi informasi dan panduan ke salah satu anak dalam tim bentukan.
“Untuk tim berisi tiga orang, ini adalah pertama kalinya kalian melakukan misi tanpa para senior dalam tim. jadi, anggap saja ini latihan serius!”
“Baik…!” Jawab Arna dan kawan-kawan.
__ADS_1
“Baiklah Guru, Kami berangkat!” Ujar Kak Axton mendahului yang lainnya.