Forgotten Sins

Forgotten Sins
About True Shadow (keputusan)


__ADS_3

Kak Axton berjalan duluan disusul oleh Arna, Reeko dan Rezon. Sekarang pintu ruangan Guru telah berada di depan, tapi pintu itu terlihat sangat mengerikan dimatanya. Kabut tebal keluar dari celah di bawah dan kesuraman menutupi seluruh sisinya(hanya di mata Arna). Kak Axton bertanya padanya dengan senyuman.


“Sudah siap?” 


Arna tercengang. Senyum Kak Axton itu sempat mengalihkan perhatiannya. Senyumnya memang dingin, tapi menyegarkan. Bahkan seperti disihir, bebannya berkurang setengah. Arna bahkan tidak percaya orang seperti Kak Axton bisa tersenyum dengan benar, atau barangkali hanya dialah yang baru sekali melihatnya. Tapi ketika Ia melirik kedua kawannya, hal ini makin mencengangkan. Mata Reeko berbinar senang dan Rezon terlihat ingin melompat berjingkrakan.


Tapi herannnya itu tidak bertahan lama, Ia sadar pertanyan itu diajukan padanya sehingga Ia ikut tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban .


“Masuk..” ujar guru sesaat setelah Kak Axton mengetuk pintu.


Arna menghela nafas kemudian melangkah masuk sendirian. 


“Jadi bagaimana keputusanmu Arna?” Tanya Guru tetap pada keramahannya.


“Ya, aku ikut.”Ujar Arna.” Hanya saja…aku…” Arna kembali ragu untuk mengutarakan isi pikirannya.


“Ada apa?” Tanya Guru.


“Eh..,a.. aku hanya ingin bertanya apakah yang akan aku lakukan saat bergabung nanti?”


Guru tersenyum sekejab lalu berkata:


“kau dan banyak teman sebaya lainya akan dilatih menjadi seorang anggota yang, disiplin, kuat dan terlatih. setelah itu, kalian akan dibentuk menjadi satu tim.” Jawab Guru.


Walaupun sebenarnya tak jauh berbeda dengan perkataan dari Rezon, tapi alasan Ia menanyakan hal itu bukan untuk mengetahui jawaban. Melainkan hanya sekedar pengalihan saja, oleh karena itu Arna mengangguk agar tidak mencurigakan. Padahal, ada sesuatu yang ingin diutarakan pada sang guru.


“Jadi kau ikut atau masih ada yang mengganjal pikiranmu?” Tanya Guru, yang rupanya mengerti ada hal yang tanggung.


Lagi-lagi Arna hanya mengangguk bingung.


“yeah…, aku ikut!” Jawab Arna memantapkan diri.


 “Axton akan menemanimu untuk mengambil peralatan. Besok, ikutlah pelatihan di aula bersama Rezon dan Reeko!” Ujar Guru. 


“Iya!” Jawabnya.


“Kau harus ingat kewajibanmu sebagai seorang anggota organisasi True Shadow, kita memperkecil dampak perbuatan Viper Army dan membubarkannya demi keamanan banyak orang. Ini merupakan langkah awal untuk menyelamatkan ribuan orang di luar sana, lakukan bersama-sama dan kita akan berhasil. Jadi, apapun yang akan kau hadapi jangan pernah menyerah!” Tambah sang guru untuk memotivasi Arna.


••••


Keempat anak berjalan sambil bercakap-cakap, suara langkah mereka menggema di sudut-sudut ruangan karena hari sudah larut dan jarang ada yang keluar saat udara sedang dingin. Saat tikungan, salah satunya membuka pembicaraan.


“Jadi.., besok kita latihan di aula?” 


“ya.” Jawab Axton.


“hmh..” Arna tertuduk menatap celah diantara kedua kakinya.


Keraguan hinggap di hatinya, persis seperti saat mendapatkan nilai ujian tujuh puluh. Karena memang itu yang akan terjadi, dirinya bukanlah seorang olah ragawan yang terbiasa latihan keras setiap hari, waktu olahraganya rata-rata. Dalam sehari dia hanya olahraga saat pagi, atau setidaknya dua kali saat ada jam pelajaran olagraga di sekolah, itu pun seminggu sekali.


“Kau tenang saja Arna, aku dan Rezon akan mengajarimu apapun yang kami bisa!” kata Reeko penuh semangat.


“Terimakasih! Aku hanya tidak yakin bisa melakukan apa yang kalian ajarkan. Kalian telah terlatih untuk melakukan hal-hal luar biasa sejak dulu. Sedangkan aku? Huh, aku Cuma anak kota yang tidak bisa apa-apa.” Jawabnya, Ia begitu takut pada bayang-bayangnya sendiri.


“Bahkan aku tak bisa menghentikan orang-orang yang menculik Ibu.” Arna tenggelam dalam rasa bersalahnya.


 “Kami hanya butuh keberanian dan tekatmu! Tak lebih.” Sanggah Reekomengulangi kata-katanya di aula tadi sore.


Arna hanya tersenyum kecut. Sementara itu semua diam membisu, tak ada satupun diantara mereka yang berbicara atau semacamnya, semua hanyut dalam lika-liku hati yang menyesatkan, malam pun turut mendorong mereka ke dalam khayalan. Lorong-lorong terasa mati dan sunyi tanpa suara hewan, dan dengan langkah berat mereka berjalan menuju asrama. 


Bertolak belakang dengan keadaan di luar, anak yang sedang berkumpul di aula asrama sangatlah ramai dan berisik. Aula itu sendiri terlihat hidup, kesan ruangnya sedikit aneh karena disain keramik yang berbeda warna antara sisi kanan kiri ruangan. Bagian kiri berwarna putih disana kosong seperti aula sanggar tari, sedangkan meja, kursi, dan barang lain diletakkan di sisi kanan ruangan  yang berlantai lebih gelap. Dua sisi itu sama-sama berbentuk persegi, jadi seluruh bagian aula berbentuk persegi panjang. Semua anak sedang menunggu makanan yang akan diantar oleh Para senior.


“Ini asrama apa?” Tanya Arna.


“Asrama pemula..” Jawab Reeko.


“Kalian tinggal di sini juga?” Tanyanya lagi dengan gembira.


“Reeko dan aku ya, tapi Kakak tidak.” Jawab Rezon sekaligus menggoda Axton yang sedari tadi hanya melihat sekeliling asrama dengan pandangan tidak puas.


“Kak Axton dimana?” Tanya Arna yang terheran dengan gerak-gerik Kak Axton.


“Kak Axton di asrama senior.” Jawab Reeko juga ikut memperhatikan Kakak sekaligus senior mereka itu.


Sudah beberapa kali Kak Axton menoleh jam raksasa di tembok dan berpindah ke pintu masuk aula.


“Ada apa Kak?” Tanya Rezon memandang wajah Kakaknya heran.

__ADS_1


“Emm, tidak mengapa.” Jawabnya.


Ketika itu juga lima orang senior masuk membawa troli berisi makanan, mereka pun jadi serbuan anak-anak yang sedang kelaparan. Arna baru menyadari sesuatu, bahwa makanannya tidak disajikan secara prasmanan tetapi dibungkus dan tidak terlihat isinya.


“Makanan dibuat seperti itu memang sengaja agar kita tidak pilih-pilih makanan dan terbiasa dengan keterbatasan.” Rezon menangkap kebingungan di mata kawannya.


“Kau berlebihan, makananya juga lebih dari cukup!” Ujar Reeko tidak terima dengan yang dikatakan oleh kawannya.


“yeah..terserah kau saja!” Jawab Rezon memalingkan mukanya dari Reeko yang terlihat berapi-api.


Melihat ada hal buruk yang akan terjadi Arna pura-pura tidak tahu dan memandang kearah gerombolan anak yang berebutan makanan.


“Ha?”


Entah sejak kapan Kak Axton sudah berada di tengah gerombolan membantu senior lain membagikan  makanan.


“Eh, sabar..,sabar..!” Ujar salah satu senior kerepotan didesak oleh banyak anak sekaligus.


“Semua kebagian..” Sambung yang lain.


“Axton, kau bisa suruh mereka menunggu kan?” Tanya seorang senior.


Kak Axton tidak menoleh sedikit pun dan hanya fokus pada pekerjaannya membagikan makanan.


“Kau mau mereka menunggu lebih lama lagi?” Kak Axton menjawab dengan nada datar yang membuat orang merinding.


Ekspresi mereka pucat dan menunduk seketika. Arna semakin heran dengan hal itu, bagaiman satu kalimat dari Kak Axton membuat mereka bungkam? Hanya tersisa beberapa bungkus di troli, tak ada lagi anak yang menggerombol di sana. Arna menajamkan pendengarannya,


“Kalian terlambat satu jam.” Kata Kak Axton dengan kedua tangan di tumpuk depan dada.


“Tadi, ada sedikit masalah di dapur..” jawab yang lain agak pelan.


“Selama itu kah?” tanya Kak Axton lagi dengan tatapan matanya yang mengintimidasi.


“Seharusnya tidak…” Yang lain langsung mengaku.


“Satu jam menunggu makan malam memang keterlaluan, kami mengaku salah…” Ujar yang lain dengan memelas.


Pandangan mata Kak Axton yang mengintimidasi menghilang berganti dengan pandangan biasa, walaupun sama-sama membuat merinding. 


Sementara Reeko dan Rezon masih sibuk dengan perdebatan sengit mereka.


“Hei, kalian…!” Panggil Arna coba melerai keduanya.


“Stop!!” Katanya lagi tapi tetap tidak berhasil.


“Minta Perhatiannya Sebentar Ya!!!” Suara teriakan itu memecah keriuhan aula.


Reeko dan Rezon berhenti berdebat, mereka semua memandang pada para senior yang ada di sisi kiri aula. Kak Axton berada di sebelah kiri mereka sebagai pengawas. Semua anak terdiam.


“Kami Mau Minta Maaf Atas Keterlambatannya, Kami Mengaku Sudah Lalai Dalam Mengerjakan Tugas..” Ujar kakak cantik berkuncir dua.


“Kami Dimaafkan Kan???” Tanya senior lain.


“Iya…!!!” Semua anak di aula menjawab serentak.


Wajah berseri-seri menghiasi suasana hati para senior, semuanya tersenyum setengah nyengir. Kak Axton tersenyum dingin dan Rezon melambai ke arahnya.


“Kakak… Ayo sini!!” Panggil Rezon.


“Ini!” Kak Axton menyerahkan tiga bungkus makanan pada mereka.


“Kak Axton sendiri tidak makan?” Tanya Arna.


“Axton!” Kak Axton menoleh ke belakang.


“Ayo kembali ke asama! Kita makan, ini sudah jamnya!” Lanjut yang memanggil.


“Kalian duluan!” Jawab Kak Axton tanpa harus menoleh lagi, melainkan hanya melambaikan tangan.


“Baiklah…, kami duluan!” Teriak senior lain kemudian berlari mengikuti yang lain menuju ke luar aula asrama.


“Kak Axton tidak makan saja?” Tawar Reeko.


“Itu nanti saja.” Jawab Kak Axton.


“Pasti gara-gara kamu!” Kata Reeko sambil menyenggol bahu Rezon.

__ADS_1


“HA??” Rezon tidak terima.


Axton tersenyum kecil, hampir tidak tampak dan memalingkan mukanya.


“Kak Axton makan saja…, aku bisa makan sendiri!!” Ujar Rezon sambil mendorong Kakaknya yang sama sekali tidak bergerak.


Tangan Kak Axton bergerak membelai rambut adiknya, Rezon pun terdiam. Arna dan Reeko ikut terdiam. Arna teringat sang kakak, Kak Rabka yang amat mengasihinya, tak jauh berbeda dengan Kak Axton. Arna tersenyum hampa.


“Axton…!!” Lagi-lagi ada orang yang menyerukan nama Kak Axton di ambang pintu aula asrama.


Remaja laki-laki berambut pirang agak cokelat menghampirinya sambil membawa dua bungkus makanan.


“Axton, lagi-lagi kau tidak mau makan!” Ujarnya.


“Yeah, Kak Olio..” Ujar Reeko gembira.


“Kau tidak kembali ke aula asrama senior, ada banyak yang mau dengan senang hati merebut jatahmu!” Lanjut Remaja lelaki itu yang tidak lain adalah Kak Olio.


“Suka-suka mereka, aku juga tidak lapar.” Jawab Kak Axton.


“Hmm.., ini makananmu!” Kak Olio menyerahkan satu dari bungkusan yang dia bawa tadi.


Kak Axton terdiam lalu memandang Rezon, datar tapi terlihat memikirkan sesuatu.


“Rezon, setelah ini langsung pergi ke kamarmu!” Kata Kak Axton dengan serius.


“Disini tidak ada jam malam.” Ujar Rezon sambil melahap makanan.


Ekspresi Kak Olio berubah seketika.


 “Tapi kau harus menaggung akibatnya kalau besok mengantuk saat latihan.” Timpal Kak Olio.


“Ya!” seru Reeko.


“Tapi…ini jauh lebih menyenangkan tanpa jam malam kan? Dengan begitu kita bisa bebas pergi kemana pun dan kapan pun!” ujar Rezon santai.


“Ya!” Jawab Reeko.


“Hmh, jadi…itu sebabnya kau sering mengantuk saat pelajaran materi ya? Kau keluyuran saat malam.” Kata Kak Axton tiba-tiba.


“Ya!”jawab Reeko lagi, wajah Rezon memerah.


“Tidak kok…” sangkal Rezon menyembunyikan wajah.


“Ya!”


“Huh…, sudah ku duga! Baru saja aku pindah ke lantai lain, kau sudah berulah!” Sesal Kak Axton mengingat sebelumnya Ia adalah pengawas asrama ini dan baru minggu kemarin guru menugaskan orang lain karena guru dan kawan-kawannya menilai dia bekerja terlalu keras.


Kak Axton sangat dipercaya oleh semuanya, dalam usia semuda ini dia sudah menjadi prajurit (diatas senior) sekaligus tangan kanan guru. Tapi dia punya kebiasaan yang selalu membuat kawannya khawatir yaitu kalau sudah bekerja dia tidak bisa beristirahat.


“Ya!”


“Eh…,tidak-tidak! Bukan begitu…” kata Rezon.


“Ya!”


“Lalu apa?” tanya Kak Axton tegas.


“Ya!” Kata Reeko untuk kesekian kalinya. 


Seketika kedua anak itu menoleh pada Reeko. 


“Ups.., maaf!” Ujar Reeko sambil bersembunyi di bahu Arna.


Arna dan Kak Olio hanya nyengir melihat Rezon dan Kak Axton tampak serius dengan perdebatan mereka yang berasal dari topik nyasar.


“Huh…, baiklah. Setelah makan langsung pergi ke kamar Arna, setelah itu kembali ke kamar masing-masing!!” kata Kak Axton.


“Okkee!!!” seru mereka bertiga.


“Dan kau Axton.., Ayo makan!” Sambung Kak Olio.


“Ya, kita makan di luar saja.” Jawab Axton.


“Dan khusus untukmu, aku akan mengawasimu!” Ancam Kak Axton sambil memandang Rezon lekat-lekat.


Rezon menelan ludah. 

__ADS_1


__ADS_2