
Arna dan Ryan, mereka memang baru-baru ini kenal semenjak Rezon dan Reeko lebih suka berdiam diri di asrama karena kejadian waktu itu, sehingga Arna tidak memiliki teman latihan. Untunglah dia segera datang menawarkan secangkir pertemanan hangat. Namanya adalah Ryan Negano, ia adalah seorang anak yatim piatu yang terlantar dan pada usianya yang ke enam tahun, Ia dipungut oleh organisasi ini. Bagi Ryan, ini adalah rumah dan keluarganya.
Tinggal lima anak tangga menuju aula, dengan niat jahil yang teramat jahil Ryan menendang kaki Arna sampai kehilangan pijkannya.
“A..aku jatuh, jatuh…!!” Ujar Arna dengan suara lantang, kedua tangannya menggapai udara berharap ada benda kuat yang dapat menyangga tubuhnya.
Suara tawa Ryan terdengar sangat dekat mungkin tepat di belakang, tapi dia sama sekali tidak berinisiatif untuk menolong Arna. Dengan segenap usaha Arna mencondongkan badan ke belakang dan memperkuat kuda-kuda, tubuhnya yang semula hampir roboh kembali pada posisi aman.
“Untungnya selama satu bulan penuh aku telah terbiasa beradu fisik dengan kawan-kawan.” Lantai bawah dan anak tangga beikutnya terlihat seperti tebing curam di matanya.
“Ryan jangan tertawa terlalu keras, ini sudah malam!” Kata Arna bersungut-sungut kaena kejahilan kawannya itu.
“Ini tidak semalam itu, belum ada yang tertidur sekarang.” Jawab Ryan dengan entengnya.
“Siapa yang kalah dalam pertandingan kali ini harus mengantre saat senior membagikan makan malam.” Kata Ryan memasang taruhan tanpa meminta persetujuan Arna.
“Ryan, kau keterlaluan!!” Ujar Arna dengan kepalan tangan pada kawannya yang langsung melompat melewati kepalanya langsung menuju aula sisi kiri.
“Hey!!” Seru Arna berusaha menangkap kaki si kurang ajar itu.
“Dasar, apa dia tidak pernah diajari tentang etika?” gerutu Arna walau dia tahu Ryan tidaka akan mengengar apabila Ia berbicara sekecil ini.
Arna berlari menuruni tangga dan segera menyusul Ryan di aula asrama sebelah kiri, sekrang posisi mereka saling bertatap muka.
“Cobalah yang ini!” Ryan melesatkan tinjunya tanpa peringatan.
“Curang!” Protesnya sambil menangkis serangan sebisa mungkin.
Tapi ternyata dengan menangkis serangan saja Ryan sudah hampir terjungkal, untung saja dia dapat mengimbangi beban tubuhnya dengan melakukan salto. Rupanya serangan pertama tadi hanyalah iseng, alias tidak disertai persiapan cukup.
“Cih!” Ujarnya sementara tangannya sudah menegang bersiap meluncurkan serangan gelombang dua.
Ryan berlari ke depan sambil menyepakkan tendangan pada pinggang Arna dengan kaki kanannya, namun ternyata lawannya juga sudah bersedia menneima serangan. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan Arna menangkap dan menarik kakinya, Ia tidak menduga serangannya ditangani dengan begitu mudah oleh lawannya sehingga Ia hampir terjatuh ke lantai. Ajaran dari para senior tentang mengambil kesempatan ternyata sangat meresap di otaknya,
“Karena Arna menarik kakiku mungkin dia tidak akan menduga kalau aku melakukan gerakan tiba-tiba. Jadi…”
Dengan memanfaatkan satu kaki yang tersisa Ia berniat mengunci kaki Arna agar mereka terjatuh bersama.
“Argh!” Arna mengangkat kaki depan sesegera mungkin tanpa melepas kaki kanan Ryan.
__ADS_1
Ryan jatuh berdebam di lantai aula.
“Usaha yang bagus Ryan, tapi untungnya ku masih punya cukup keberuntungan.” Kata Arna dengan senyuman puas.
“Jangan puas dulu kalau belum menjatuhkanku dua kali!” Jawab Ryan juga ikut tersenyum kemudian kedua tangannya berpindah ke belakang membentuk sudut siku-siku tepat di samping telinga.
Badannya mulai terangkat bersangga pada sudut yang dibentuk oleh kedua tangannya, hal yang terjadi berikutnya adalah kaki Ryan bergerak cepat ke atas seperti melompat sendiri hampir mengenai dagu bagian bawahnya, untung saja Arna sempat melangkah mundur. Hanya ujung sepatu Ryan saja yang berhasil membuat dagunya sedikit merah.
“Seribu satu taktik ya?” Ujar Arna sambil menyeka bekas sepatu Ryan di dagunya.
Seringai tergambar di wajah Ryan yang telah berada dua meter dari posisi mereka tadi, sementara di tangannya dua buah cakram telah siap diluncurkan. Ryan menyerang, lemparan cakram besinya itu tidak bisa diremehkan lagi, bahkan suara gesekan angin dari sana terdengar sangat jelas. Biasanya Ryan melatih kecepatan lemparannya di hutan masih kawaasan lapangan tembak. Arna pernah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri sekitar seminggu lalu, lemparan itu dapat membelah batang kayu menjadi dua meski dalam jarak 25meter sekalipun.
Tapi rupanya dua orang bocah ini memiliki ide serupa, memamerkan kelihaiannnya dalam permainan senjata, memang tak ada laranagan dari siapapun untuk menggunakan senjata. Apalagi, mereka memang sedang latihan sekaligus berlomba saling mengalahkan. Sebuah lompatan kecil dan koproll beberapa kali dapat menyelamatkannya dari serangan cakram Ryan, sebelum itu dia sudah merasakan panasnya gesekan angin di sekitar cakram yang nyaris mengenai tangannya.
(Huh, tak dapat dibayangkan bagaimana kalau cakram itu sanpai mengenai tangan Arna)
Tapi bukan wajah ketakutan yang nampak pada Arna sekarang, malah wajah penuh ambisi gila yang sedang unjuk gigi. Sebenarnya itu adalah wajah, karena sudah lama Ia telah menahan keinginan untuk menandingi kehebatan cakram Ryan. Ternyata setelah mengalaminya sendiri itu bahkan lebih hebat. Dengan napsu menggebu Ia berbicara dalam hati:
“Bukankah sudah kubilang akan membeimu pelajaran Ryan?” sementara itu tangan kanannya merogoh saku mengambil sebuah pisau kecil, dan berdiri bersiap menerima serangan dengan kuda-kuda kuat.
Cakram telah kembali berada di tangan pemiliknya dan telah siap dilontarkan untuk menebus kegagalannya barusan.
“Hadapi ini Arna!!”
Ia merendahkan tubuh, kakinya bergeser ke kanan sementara pisau kecilnya telah terlontar saat cakram melaju di sisnya. Dua senjata itu beradu bunga api mewarnai kesan persaingan tersebut dengan merah menyala, suara dan bau gesekan besi semerbak memenuhi udara di sekitar mereka.
“Ini pelajarannya!” Ujar Arna sambil melayangkan tendangan keras ke tubuh Ryan.
Suara itu benturan itu bahkan lebih keras dari pada suara kedua senjata mereka. Ryan sama sekali tidak menyangka Arna berpindah posisi ke belakangnya bahkan sebelum cakram kembali ke tangannya, tentu saja Ia tidak bisa mengelak.
“Sejak kapan??” Pikiran Ryan melayang menandingi tubuhnya yang juga sedang melayang di udara akibat tendangan tadi.
Ryan terlempar jauh dan terguling di lantai, namun tak lama dia segera bangkit memegangi punggungnya yang terasa nyeri.
“Hmh…, kali ini siapa anak baru yang jadi pemenangnya?” Tanya Ana sengaja menyombong untuk bahan candaan.
Ryan tersenyum meringis lalu menyimpan cakram kembarnya.
“Baiklah… hari ini aku yang mengantre untuk mendapatkan makan malam besok!”
__ADS_1
“Yuhuu!” seru Arna sambil mendekat pada Ryan dan mereka berdua berjalan beriringan keluar aula.
“hmm…apa kau tidak merasa ada yang mengawasi?” tanya Ryan yang tiba-tiba merasa enggan.
“Ah sudahlah! Tidak ada apa-apa, aula memang diperuntukkan sebagai tempat latihan, jadi wajar kalau kau merasa diawasi. Mungkin tadi memang ada yang lewat dan menonton latihan tadi.” Jawab Arna dengan entengnya.
“Benar juga!” Ujar Ryan, dan mereka berdua berlalu menjauhi Aula dengan mempercepat langkah sedikit karena malam makin larut.
Sementara itu…
“Hey, Ree! Kau pikir tidak apa-apa kita bersantai-santai di sini? kita sudah lama tidak berlatih, apakah tidak akan dimarahi oleh guru atau Kak Axton” Tanya Rezon saambil duduk di kursi empuk berwarna oranye muda.
“Tidak apa-apa, aku tinggal cari alasan pada Ayah.” Ujar Reeko yang sedang tidur-tiduran di kasur.
“Tapi…”
“Ah, sudahlah…! Lagi pula, siapa yang akan berani masuk sembaranagn ke kamar malaikat maut?” Serobot Reeko dengan nada seram.
“Benar juga!” pikir Rezon mengingat bahwa ia sedang berada di kamar Reeko, malaikat maut organisasi True Shadaow sekaligus putri tungggal Guru yang sanagat disegani.
“Aku pemenang!” Ujar Rezon sambil mengacungkan kartu terakhirnya.
“Sialan!!” Seru Reeko sambil melemparkan kartunya ke langit-langit dan berrtebaran di sekeliling mereka.
“Ini sudah malam, sudah lebih dari jam tujuh. Aku akan kembali ke kamarku!” Kata Rezon sambil meregangkan tubuhnya.
“Eh, eh.., tunggu dulu!” Langkah Rezon yang sudah berada di depan pintu terhenti.
“Apa?” Ia membalikkan badan.
“Bantu aku mengemas mainan kita!” Perintah Reeko seperti tuan putrid an Rezon memutar bola matanya.
“Kalau saja kau mau bermain di luar, kita tidak akan repot memberishkan bekas permainan kita!” Protes Rezon sementara tangannya sudah penuh dengan kartu poker.
“Jangan lupa kata-kata ayahku lima tahun lalu!” Jawab Reeko sambil nyengir jahil.
Rezon yang mendengarnya langsung memanas .
“Itu gara-gara Kak Axton!” Teriak Rezon yang segera dibungkam oleh tangan Reeko.
__ADS_1
“Mmm, mmm!” Rezon masih bersikeras untuk berrpidato panjang lebar.
Sebenarnya, dari kecil Reeko dan Rezon adalah teman bermain, hal itu dikarenakan petemuan tidak sengaja yang dimanfaatkan guru untuk membuat putri kecilnya memiliki teman bermain yang dapat mengantikannya saat sedang bekerja. Kebetulan itu dimulai saat guru tertarik pada kemampuan kak Axton pada usianya yang kesebelas tahun. Mulai hari itu, guru sering mengajak Kak Axton dan beberapa anak lain ke kantornya untuk diajarkan berbagai macam hal. Karena kesepian Rezon sering membuntuti Kak Axton kemanapun dia pergi, tak terkecuali latihannya dengan guru. Saat itulah dia bertemu dengan Reeko, putri manja dari guru yang selalu menuntut agar ayahnya ikut bermain dengan dirinya.